DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: awal keberhasilan
**
Seminggu setelah tim baru kiriman Dimas resmi turun ke lapangan, proyek mal Bekasi berubah drastis. Bukan cuma karena tenaga kerjanya lebih disiplin, tapi karena mandor baru yang memimpin lapangan, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Joko, punya semangat kerja yang luar biasa, walau ada satu masalah kecil yang bikin David harus menahan pusing setiap hari.
Pak Joko baru sebulan merantau dari kampungnya di Wonogiri, dan lidahnya masih belum lentur betul berbahasa Indonesia, apalagi harus berhadapan dengan David yang sehari-hari otaknya otomatis nyambung ke logat Sunda kalau lagi kebingungan.
Pagi itu, David datang meninjau proyek dengan semangat tinggi, soalnya laporan progres menunjukkan pembangunan sudah mencapai lima puluh persen, dua minggu lebih cepat dari target yang dikejar.
"Mandor, proyek beres dua minggu lebih cepat. Mantap! Saya mau kasih bonus."
Pak Joko, yang baru turun dari motor butut sambil masih mengelap peluh, langsung menunduk hormat, "Matur suwun, Pak. Kula dereng biasa basa Indonesia."
David mengerjap, "Hah? Artinya apa?"
"Kulo dereng biasa basa Indonesia," Pak Joko mengulang dengan ekspresi yang sama polosnya.
David menoleh ke arah Anto yang berdiri di sampingnya, "Tot, apa dia bilang?"
Anto, yang kebetulan punya nenek dari Solo jadi sedikit paham, menjelaskan sambil menahan senyum, "Oh, belum terbiasa bahasa Indonesia ya?"
"Nggeh, Pak," Pak Joko menjawab cepat.
"Ya sudah, pelan-pelan aja," David menyahut, walau dalam hati sudah mulai merasa hari ini akan jadi hari yang panjang.
Benar saja, belum sampai sejam kemudian, Pak Joko datang lagi dengan wajah panik, "Pak, tukange ambruk!"
David langsung berdiri tegang, "Siapa yang mabuk?!"
"Bukan mabuk, ambruk."
"Tobrut? Pak Joko ini ada-ada aja, udah tua suka tobrut, tobat, Pak, dunia mau kiamat nih!"
Pak Joko menggeleng cepat, mencoba menjelaskan lebih perlahan, "Tembok belakang roboh, Pak."
"Oalah," David akhirnya mengerti, mengusap dahinya, "kenapa gak dari awal bilang roboh aja, Pak."
"Lha saya belum lancar, Pak," Pak Joko menjawab dengan nada yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali, tapi entah kenapa setiap jawabannya selalu membuat David makin bingung.
Siangnya, Pak Joko datang lagi, kali ini dengan wajah lebih serius, "Pak, pasir entek."
"Entek siapa lagi?!" David langsung waspada, mengira ada nama orang baru yang bermasalah.
"Pasir habis, Pak."
"Oh," David menarik napas panjang, mencoba menyesuaikan diri dengan pola komunikasi yang ternyata jauh lebih melelahkan dari yang dia kira.
Belum sempat dia benar-benar tenang, Pak Joko muncul lagi dengan wajah tegang, "Pak, kuli podo mlayu."
David langsung berdiri dari kursinya, "APA?! Kuli podol Melayu?! Kenapa jadi suku bangsa segala?!"
"Bukan, Pak. Mlayu itu lari," Pak Joko menjelaskan dengan ekspresi heran melihat reaksi David yang berlebihan.
"Ya ngomong lari dong, gimana sih, Pak Joko!" David setengah berteriak, sudah mulai gerah dengan teka-teki bahasa yang tidak berkesudahan.
"Lha saya belum biasa bahasa Indonesia," Pak Joko menjawab tenang, tidak merasa ada yang salah dengan caranya berbicara.
Sore harinya, ketika David mengira hari sudah akan berakhir damai, Pak Joko datang sekali lagi, "Pak, cor-coran mau diurug."
"DIURUG?!" David melompat dari kursi, "itu penyakit apa lagi?!"
"Nggeh," Pak Joko mengangguk serius.
"Itu ditimbun, Pak," Anto menyela cepat, sudah hafal pola kebingungan sahabatnya.
David mulai pusing, memegangi kepalanya sendiri, dan saat Pak Joko membuka mulut lagi, "Pak, menawi saged..."
"STOP!" David memotong cepat, tangannya terangkat seperti menghentikan lalu lintas.
"Lho?" Pak Joko bingung.
"Dari pagi pasir entek, tukang mabuk, suka tobrut, kuli Melayu, eh, mlayu, sekarang menawi, sekalian aja Asnawi biar bisa jadi pemain bola tim nas Indonesia! Saya kerja di proyek atau lagi ngisi teka-teki silang?!"
Pak Joko terkekeh, sedikit menunduk, "Hehe, maaf, Pak. Saya memang belum lancar bahasa Indonesia."
David, yang sudah kehabisan kesabaran, refleks malah membalas pakai bahasa yang justru lebih membingungkan lagi, "Kuma sia we kehed! Besok kalau ngomong pakai bahasa Indonesia!"
Pak Joko mengerjap, sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan David, "Nyuwun sewu, Pak?"
"Itu lagi, si Sewu siapa lagi sekarang?!" David hampir menjerit, sementara Anto dan Camelia yang berdiri di belakang sudah tidak bisa lagi menahan tawa, terbahak sampai memegangi perut masing-masing.
Rambo, yang sejak tadi ikut menyaksikan dari pinggir lapangan, malah ikut tertawa sambil berkomentar, "Tuan, ini lucu banget. Dua orang sama-sama gak ngerti, tapi sama-sama keras kepala."
Walau penuh kebingungan bahasa yang berulang setiap hari, anehnya kerja sama mereka justru berjalan solid. Pak Joko, walau lidahnya medok, ternyata punya pengalaman puluhan tahun di lapangan, dan setiap instruksi teknis yang dia berikan selalu tepat sasaran begitu diterjemahkan oleh Anto yang sudah mulai hafal pola bahasanya.
Hasilnya, proyek yang sebelumnya hampir gagal total karena sabotase, sekarang justru melaju lebih cepat dari target, kualitas bahan terjaga karena tim baru benar-benar bekerja jujur, dan setiap kali David datang meninjau, senyumnya semakin lebar melihat progres yang terus bertambah.
***
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk proyek yang justru semakin maju, Reza sedang duduk di sudut VIP sebuah klub malam paling mahal di Jakarta, lampu-lampu warna-warni berkedip liar mengikuti irama musik yang menggelegar.
"Jedak jedur dor dor dor jedak jedur, nu botak dicukur jetak jedur dur dur," begitulah dentuman musik itu memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana harus berteriak kalau mau bicara.
Reza, dengan gelas wiski di tangan yang sudah entah gelas ke berapa, duduk dikelilingi beberapa perempuan yang sengaja dia bayar untuk menemani malamnya, merasa di atas dunia, yakin penuh bahwa sabotase keduanya pasti berhasil menghancurkan reputasi David sekali untuk selamanya.
"Gue menang," dia bergumam sendiri sambil terkekeh, suaranya sudah mulai meleret-leret karena alkohol, "David pasti udah dilaporin ke KPK sekarang. Bye-bye, pewaris."
Tapi di tengah euforia itu, ponselnya bergetar, notifikasi pesan dari Surya masuk, "Kak, gawat. Tim baru di proyek David kerja sempurna. Progresnya malah lebih cepet dari target. Orang-orang yang kita tanam udah dipecat semua."
Reza membaca pesan itu berulang-ulang, matanya yang sudah sayu karena mabuk perlahan melebar, tangannya yang memegang gelas mulai gemetar.
"Gak, gak mungkin," dia bergumam, suaranya makin kacau, "ini gak mungkin, gue udah bayar mahal, gue udah atur semua, kenapa, kenapa bisa gagal..."
Amarahnya meledak seketika, dia berdiri sempoyongan, membanting gelas wiski ke lantai hingga pecah berkeping-keping, lalu berteriak ke arah perempuan-perempuan yang mengelilinginya, "PERGI! PERGI SEMUA KALIAN! GUE GAK BUTUH KALIAN LAGI!"
"Tapi, Kak, bayaran kita—"
"GAK ADA BAYARAN! PERGI SEBELUM GUE TAMBAH MARAH!"
Suara keributan itu menarik perhatian seluruh ruangan VIP, dan tidak lama, dua orang petugas keamanan klub datang menghampiri, mencoba menenangkan, tapi Reza yang sudah kehilangan kendali malah semakin mengacau, mendorong salah satu satpam sambil berteriak tidak jelas.
"Lo semua gak tau siapa gue! Gue Reza Wijayakusuma! Gue yang bakal jadi CEO, bukan David si anak haram itu!"
Karena sudah terlalu membuat onar, pihak keamanan klub akhirnya mengusirnya secara paksa, menyeretnya keluar dari pintu belakang tanpa peduli protes yang terus dia teriakkan sepanjang jalan, badannya terhuyung-huyung, langkahnya tidak beraturan, mulutnya masih terus menggumam kata-kata yang tidak jelas antara amarah dan keputusasaan.
"Gue... gue harus... harus cari cara lain," dia bergumam sendiri di trotoar yang basah, duduk bersandar di dinding klub yang masih berdentum musik dari dalam, "Dimas sialan, kenapa lo bisa dikalahin sama bocah itu... atau, atau jangan-jangan... David emang bukan David yang dulu..."
Kalimat itu menggantung di udara malam yang dingin, terucap dalam keadaan setengah sadar, tanpa Reza sendiri benar-benar memahami betapa dekatnya dia, dalam kemabukannya yang paling kacau sekalipun, dengan kebenaran yang selama ini tersembunyi rapat di balik tubuh adik tirinya.
*(bersambung)*