NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Bangkrut

Gavin mengatakannya dengan begitu santai, seolah-olah kalimat mengerikan itu hanyalah sebuah lelucon belaka.

Mata Aluna seketika membelalak sempurna. Ia berseru tak percaya, "Gavin, apa kamu sudah gila?!"

"Aku serius." Gavin menyunggingkan senyum sinisnya, menatap Aluna tanpa riak candaan.

Aluna mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk berjuang melepaskan diri dari kukungan pria itu. Begitu cengkeraman Gavin melonggar, ia langsung mundur beberapa langkah, menciptakan jarak yang cukup jauh di antara mereka.

"Jangan mendekat!" ancam Aluna dengan suara bergetar.

Gavin sedikit mengerutkan kening. Ia melepas kacamata yang bertengger di hidungnya, lalu melangkah perlahan mendekati Aluna sembari melempar senyum dingin. "Aluna..."

"Pergi! Jangan panggil namaku!"

Jarak di antara keduanya kembali memendek. Aluna, yang kini punggungnya sudah merapat ke dinding dan tak punya celah lagi untuk mundur, berteriak dalam keputusasaan yang mendalam.

"Pergi?"

Gavin sama sekali tidak merasa terganggu oleh usiran tersebut. Sebaliknya, ia justru mengambil satu langkah mundur, memberi ruang yang tak terduga.

Aluna tertegun sejenak. Dengan sisa keberaniannya, ia berbisik dengan lirih, "Lepaskan aku..."

Gavin terkekeh rendah, suara yang terdengar begitu meremehkan. "Baiklah. Pelayan!" serunya memecah keheningan. "Buka pintunya."

"Baik, Tuan."

Begitu pintu terbuka, Aluna langsung melesat keluar secepat embusan angin. Ia berlari menyusuri koridor megah itu, mengerahkan seluruh sisa energinya. Pada detik-detik terakhir sebelum pintu gerbang tertutup rapat, ia mempercepat langkah dan berhasil menerobos celah sempit yang tersisa.

Brak! Daun pintu besi di belakangnya tertutup dengan keras.

Aluna berlari pontang-panting, mati-matian mengejar mobil kakaknya yang mulai menjauh. Tepat ketika ia hampir kehilangan harapan dan jatuh terduduk, mobil hitam itu tiba-tiba bergerak mundur. Rendra menurunkan kaca jendela mobilnya dengan raut tegang.

"Aluna? Bagaimana bisa kamu keluar?" tanya Rendra dengan nada tak percaya.

Pria itu segera turun dari mobil. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung mencengkeram lengan Aluna dan menarik paksa adiknya kembali menuju gerbang utama vila Gavin.

"Kak Rendra, jangan tarik aku! Aku lebih baik mati daripada harus kembali ke tempat itu!" Aluna meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang semakin memerah.

Wajah Rendra menggelap seketika. Ia justru mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk menyeret adiknya. Apa pun yang terjadi, Aluna harus tetap tinggal di sana.

Melihat kekerasan kepala sang kakak, Aluna bertanya dengan suara lantang dan air mata yang mulai merebak, "Kak, mengapa? Mengapa Kakak tega mengirimku kembali kepada Gavin setelah aku memohon seperti ini? Apa Kakak berniat menjualku kepadanya?!"

Melihat Rendra yang tetap bergeming dan terus melangkah, Aluna berteriak histeris, "Bagaimana bisa Kakak sekejam ini?! Aku akan menemui Ayah dan memintanya menjemputku pulang! Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai kakakku lagi! Aku tidak sudi punya kakak sepertimu!"

Langkah Rendra berhenti seketika. Kalimat tajam Aluna seolah menghantam harga dirinya. Tak kuasa lagi menahan beban batin yang menggelayut, ia berbalik dan menggeram murka, "Aluna!"

"Bisakah kamu berhenti bersikap keras kepala dan egois?!" raung Rendra, napasnya memburu. "Apa kamu tahu seberapa hancurnya rumah kita saat ini? Apa kamu tahu betapa sulitnya bagi kami untuk berpura-pura baik-baik saja di depanmu?!"

Aluna tertegun, lidahnya mendadak terasa kelu melihat kemarahan Rendra yang begitu meledak-ledak.

Rendra kian gelisah, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Tahukah kamu bahwa vila kita sudah disita oleh pengadilan pagi ini? Perusahaan Ayah menghadapi kebangkrutan total! Para penagih utang datang ke rumah setiap hari, mengancam akan menghabisi nyawa kami semua! Ayah dan Ibu hampir gila menghadapi ini, Aluna! Apa kamu tahu semua itu?!"

Aluna tersentak, dunianya seolah runtuh mendengar rentetan kalimat sang kakak. "Bangkrut? Disita? Bagaimana... bagaimana mungkin?"

"Tentu saja kamu tidak tahu!" ucap Rendra dengan mata yang kini memerah akibat menahan tangis. "Mengapa kami memintamu tinggal di sini? Situasi di rumah sudah sangat berbahaya. Kami semua berpikir, dengan mengirimmu ke tempat Gavin, setidaknya kamu akan aman dan tidak ikut menderita.

Lagipula... Gavin berjanji akan membantu melunasi sebagian utang perusahaan, asalkan kamu bersedia tinggal bersamanya."

Suara Rendra semakin memelan di akhir kalimat, menyisakan nada berat yang penuh akan keputusasaan. "Kami sama sekali tidak berniat memberitahumu tentang masalah ini, tapi kamu begitu sulit diatur... Sekarang Pikirkanlah baik-baik."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Rendra menghela napas panjang penuh beban, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Aluna dengan tergesa-gesa.

Tangan dan kaki Aluna seketika terasa sedingin es. Seluruh tubuhnya mendadak kaku bagai manekin. Pikirannya terasa berantakan. Orang tuanya sedang berada di ujung tanduk. Keluarga mereka berada di ambang kehancuran total, dikejar-kejar oleh penagih utang yang tak segan bermain kekerasan.

Aluna terduduk lemas di atas aspal jalanan, tertegun menatap kekosongan, tidak mampu lagi melontarkan sepatah kata pun.

Dari arah dalam gerbang, Gavin berjalan perlahan menghampirinya, lalu berjongkok tepat di hadapan gadis itu.

Kondisi Aluna saat ini tampak begitu

memprihatinkan. Wajahnya sembap dipenuhi air mata, rambut panjangnya acak-abakan, dan pakaiannya kusut masai. Ia duduk di atas tanah dengan lutut ditekuk erat ke dada, pandangannya kosong bergerak gelisah ke segala arah, seolah kehilangan poros hidupnya.

Melihat Aluna yang begitu rapuh, sebuah ekspresi yang sulit diartikan melintas di mata Gavin. Ia tetap diam, mengamati gadis yang kini menyembunyikan wajah di atas lututnya sembari terisak pelan.

"Kamu... kamu sudah tahu apa yang baru saja dikatakan oleh kakakku?" tanya Aluna di sela tangisnya yang tertahan.

"Ya," jawab Gavin singkat tanpa keraguan sedikit pun.

"Mustahil..." gumam Aluna lirih, menolak mempercayai kenyataan pahit ini. Tiba-tiba, ia bergerak impulsif dan meraih lengan kemeja Gavin, menatap pria itu dengan pandangan yang seperti obsesif. "Kalian semua pasti sedang berbohong padaku! Bawa aku pulang sekarang! Aku ingin pulang!"

Tindakan Aluna yang mulai kehilangan kendali diri itu justru membuat tatapan Gavin semakin mendingin. Dengan gerakan tegas, Gavin mencengkeram dagu Aluna, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang tajam. "Baik. Aku akan membawamu ke sana sekarang, agar kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri apakah kamu sedang ditipu atau tidak."

Mobil mewah milik Gavin melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju rumah lama keluarga Aluna.

Namun, sebelum mobil itu sempat memasuki area halaman, kerumunan massa yang padat telah memblokade pintu masuk utama. Atmosfer di sana begitu kacau dan mencekam.

Aluna menurunkan sedikit kaca jendela mobil. Matanya menangkap pemandangan beberapa orang yang membentangkan spanduk putih dengan tulisan merah besar yang mencolok:

"SURYA, KEMBALIKAN UANG KAMI!"

Sekelompok orang itu berteriak dengan beringas dan agresif, menuntut hak mereka. Telur busuk serta sayuran sisa dilemparkan tanpa ampun ke arah teras rumah.

Di ambang pintu, Pak Surya dan Rendra berdiri dengan tubuh meminta maaf berulang kali. Mereka memohon belas kasihan di tengah hujan makian, berteriak parau, "Mohon beri kami sedikit waktu lagi! Kami berjanji akan mengembalikan uang Bapak dan Ibu sekalian!" Namun, teriakan itu justru dibalas dengan umpatan yang kian menjadi-jadi.

"Bayar sekarang juga!"

"Jangan banyak alasan! Kembalikan uangku!"

Menyaksikan kehancuran keluarganya secara langsung, Aluna langsung di landa kepanikan hebat. Ia meraih tuas pintu mobil, berniat turun demi melindungi ayah dan kakaknya yang sedang dihakimi massa.

Namun, belum sempat pintu terbuka, sebuah tangan kekar mencengkeram lengannya dengan kuat. Aluna meronta mati-matian, memohon dengan suara yang pecah karena tangis, "Lepaskan aku, Gavin! Aku mohon lepas, aku harus turun!"

Gavin tetap membisu. Tanpa memedulikan tangisan histeris di sampingnya, ia hanya mempererat cengkeramannya, mengunci Aluna agar tetap aman di dalam pelukannya nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!