"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Bidan Kartika
Pintu kayu lapuk sebuah gubuk terpencil berderit pelan saat Savira mengetuknya di bawah rintik hujan.
Hawa dingin merayap naik melalui sol sepatu ketsnya yang basah kuyup. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi melati samar dari balik kerah jaket hitamnya.
Ia mengetuk sekali lagi dengan ketukan yang jauh lebih keras.
"Siapa di luar?" Suara serak dan bergetar terdengar dari dalam gubuk.
"Pasien lama Anda," jawab Savira datar menembus suara gemuruh hujan. "Tujuh belas tahun yang lalu, Bidan Kartika."
Pintu bergeser terbuka beberapa sentimeter. Wajah keriput seorang wanita paruh baya mengintip dengan sorot mata liar dan ketakutan.
"Siapa kamu?" Suara wanita itu bergetar parah, nyaris tenggelam oleh suara badai di atas kepala mereka.
"Saya tahu persis apa yang Anda lakukan malam itu." Savira menatap langsung ke dalam mata wanita itu tanpa berkedip.
Kartika tersentak hebat. Napasnya terputus seketika. Wanita tua itu segera mendorong pintu untuk menutupnya rapat-rapat.
Savira bertindak lebih cepat. Ia mengganjal celah pintu menggunakan ujung sepatu ketsnya dengan tenaga penuh.
"Pergi dari sini!" Ratapan Kartika terdengar memilukan dari balik celah pintu. "Mereka akan membunuhku! Mereka berjanji akan menghabisiku jika aku buka suara!"
Savira mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar. Ia memaksa langkahnya masuk ke dalam gubuk yang gelap dan pengap.
Ruangan sempit ini berbau apak dan dipenuhi feromon yang menguar dari ketakutan. Kartika mundur terhuyung hingga punggungnya membentur dinding anyaman bambu.
"Nyonya Dharma mengancam Anda malam itu." Savira tidak bertanya, ia menyatakan sebuah fakta dingin.
Kartika menutup kedua telinganya dengan telapak tangan yang gemetar. Air mata mulai membasahi pipinya yang keriput.
"Wanita iblis itu datang membawa algojo bayaran." Kartika terisak parah, menyerah pada teror masa lalunya. "Dia memaksa saya menukar gelang nama bayinya dengan bayimu."
Dada Savira bergemuruh sangat keras. Kepastian dari bibir saksi hidup ini bekerja layaknya belati berkarat yang menusuk lambungnya.
"Dia bilang bayinya harus menjadi pewaris utama keluarga Dharma," lanjut Kartika dengan napas tersengal. "Jika saya menolak, mayat saya akan dibuang ke dasar laut malam itu juga."
Savira menggigit bagian dalam pipinya hingga mengecap rasa anyir darah. Keringat dingin merembes dari tengkuknya, membasahi ujung rambutnya yang lengket.
Selama tujuh belas tahun, ia menyiksa dirinya sendiri. Ia mengemis secuil senyum dari Wijaya Dharma, merasa dirinya cacat dan tidak pantas dicintai.
Kenyataannya, ia dibuang ke dalam neraka pengabaian murni karena keserakahan ibu tirinya yang memanipulasi identitas aslinya. Hak hidupnya dirampok bahkan sebelum ia bisa membuka mata.
"Ke mana dokumen registrasi aslinya Anda sembunyikan?" Savira memangkas jarak di antara mereka. Matanya menyala buas di tengah kegelapan gubuk.
Kartika menggeleng panik. "Aku tidak menyimpannya di sini. Terlalu berbahaya. Tolong tinggalkan aku sendiri."
"Mereka akan terus memburumu, Kartika." Nada suara Savira merendah, mendesis seperti bisa ular. "Wijaya Dharma tidak pernah membiarkan saksi hidup bernapas tenang."
Tubuh Kartika merosot lemas ke atas lantai tanah yang dingin. Keputusasaan menelan wanita tua itu bulat-bulat.
"Aku tidak bisa mengambilnya malam ini," bisik Kartika parau. "Dokumen itu ada di tangan kerabatku di seberang kota."
Savira menekan rahangnya kuat-kuat. Otak jeniusnya mulai menyusun ulang jadwal eksekusi di kepalanya dengan kecepatan mesin.
"Berikan saya alamat lengkapnya," tuntut Savira tanpa membuang waktu.
Kartika menyebutkan sebuah nama jalan yang kumuh dengan suara bergetar. Savira merekam informasi rahasia itu secara permanen di dalam ingatannya.
"Besok pagi aku memiliki panggung akademik yang harus aku rebut di universitas." Savira menjatuhkan titahnya tanpa ruang bantahan. "Aku akan membuktikan bahwa aku tidak butuh nama Dharma untuk berdiri di puncak."
Gadis itu merogoh saku jaketnya, mencengkeram jepit rambut melati patah miliknya. Rasa sakit fisik menekan emosinya agar tetap stabil dan tidak meledak.
"Setelah acara itu selesai, aku akan menyita dokumen tersebut dari tangan kerabatmu." Savira menatap Kartika tajam. "Kunci pintu ini rapat-rapat dan jangan bersuara."
Gadis itu memutar tubuhnya untuk pergi. Ia melangkah mendekati jendela kaca buram yang dipenuhi noda lumpur.
Napas Savira mendadak tertahan di kerongkongan.
Matanya memicing tajam menembus tirai hujan di luar sana. Insting pertahanannya berteriak memperingatkan bahaya yang mendekat.
Dari balik kaca jendela gubuk, Savira menangkap sorot lampu sebuah mobil hitam misterius yang terparkir di kejauhan.