NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Janji Palsu dan Pintu yang Terbuka

​Hujan sore itu turun bagai tirai abu-abu yang mengurung kediaman Adiwangsa dalam keheningan yang mencekam. Di ruang tamu yang diterangi lampu kristal temaram, Aruna berdiri mematung. Di hadapannya, Adrian melangkah masuk dengan setelan jas basah, namun ia tidak sendirian. Valerie berada di sisinya, berlindung di bawah payung hitam yang sama, dengan tangan yang melingkar posesif di lengan Adrian.

​"Aruna, Valerie akan menginap malam ini," ujar Adrian tanpa basa-basi saat menyerahkan mantelnya kepada salah satu pelayan. "Ada proyek tender krusial yang harus kami kerjakan bersama di ruang kerjaku. Jangan sampai ada yang mengganggu."

​Bagi wanita normal, melihat suaminya membawa selingkuhan ke rumah dengan alasan pekerjaan adalah sebuah penghinaan yang akan memicu badai air mata. Dulu, Aruna mungkin akan berlutut, memohon pada Adrian untuk menjaga perasaannya, atau setidaknya menangis di sudut dapur meratapi nasibnya. Ia dulu sangat memuja Adrian, menganggap pria itu sebagai poros dunianya. Ia rela menelan harga dirinya dan selalu menjadi pihak yang pertama kali meminta maaf hanya agar Adrian tidak meninggalkannya.

​Namun hari ini, wanita yang berdiri di hadapan Adrian itu telah mati. Yang tersisa hanyalah cangkang kosong dengan mata sedingin pualam.

​"Baik, Mas. Apakah kalian butuh kopi atau camilan untuk menemani kerja?" balas Aruna. Nada suaranya sangat datar, nyaris tanpa intonasi. Tidak ada getaran kemarahan, tidak ada kilat kecemburuan di matanya. Ia hanya mengangguk sopan bak seorang pelayan hotel bintang lima yang sedang menerima instruksi dari tamu kehormatan.

​Adrian mengernyit. Ada sesuatu yang salah dengan respons itu. Kesunyian Aruna terasa mengganggu ego kelelakiannya. Ia ingin melihat Aruna hancur; ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih memegang kendali penuh atas emosi istrinya.

​Malam merayap perlahan. Di ruang tengah, Adrian sengaja duduk berdekatan dengan Valerie di sofa kulit. Aruna datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam dan sepiring kecil macaron. Saat Aruna meletakkan cangkir itu di meja, Adrian dengan sengaja menggenggam jemari Valerie di depan mata istrinya.

​"Valerie, Sayang..." Adrian memulai sandiwaranya, suaranya sengaja dikeraskan agar menggema di ruangan itu. "Aku ingin minta maaf soal kejadian di kantor siang tadi."

​Valerie tersenyum menggoda, mengikuti permainan Adrian. "Kejadian yang mana, Adrian? Saat kita merapatkan dokumen, atau... saat kau mengunci pintu pantry?"

​Adrian tertawa kecil, melirik ke arah Aruna yang masih berdiri diam merapikan nampan. "Saat di pantry, tentu saja. Aku benar-benar tidak bisa menahan hasratku ketika melihatmu. Kau tahu kan, kadang sebagai pria, kebutuhanku tidak terpenuhi di rumah. Aruna selalu beralasan kecapean mengurus rumah, padahal dia hanya di rumah saja. Aku butuh wanita yang hidup, yang bergairah sepertimu."

​Kata-kata itu adalah racun yang dirancang khusus untuk membakar hati seorang istri. Adrian memprovokasi, merendahkan martabat Aruna di bawah kaki selingkuhannya, mengkambinghitamkan 'rasa lelah' Aruna atas pengkhianatan yang ia lakukan. Ia menunggu Aruna meledak. Ia menunggu ancaman Komnas HAM itu keluar lagi, atau setidaknya melihat air mata jatuh dari pelupuk mata Aruna.

​Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat darah Adrian berdesir aneh.

​Aruna menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Adrian. Perlahan, ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman sedih, bukan pula senyuman sinis. Itu adalah senyum yang sangat kosong dan dingin. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa sedang ditatap oleh malaikat maut.

​"Silakan diminum kopinya selagi hangat, Mas Adrian, Nyonya Valerie. Semoga energi kalian cukup untuk... bekerja semalaman," ucap Aruna dengan kelembutan yang sangat ganjil. Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, langkah kakinya tidak bergegas, melainkan sangat tenang dan teratur.

​Adrian terpaku menatap punggung istrinya yang menjauh. Tangannya yang menggenggam jari Valerie mendadak terasa kaku. Ada apa dengannya? batin Adrian bergejolak. Di mana wanita lemah yang biasanya menangis memohon ampun itu? Kenapa dia tidak bereaksi? Ego Adrian terluka parah oleh ketidakpedulian Aruna. Sikap dingin itu menggerogoti rasa bangganya. Adrian tidak bisa menerima kenyataan bahwa mainannya tidak lagi menangis saat disakiti. Ia harus membuktikan bahwa Aruna masih memujanya, bahwa wanita itu hanya berpura-pura kuat.

​Setengah jam kemudian, Adrian menyusul Aruna ke kamar mereka. Ia menemukan istrinya sedang melipat pakaian di ujung ranjang. Adrian menutup pintu dan mendekat, memasang kembali topeng manipulatifnya.

​"Aruna," panggilnya lembut.

​Aruna menoleh, wajahnya masih tanpa ekspresi.

​Adrian menyentuh bahu Aruna, menatapnya dengan tatapan memuja yang sering ia gunakan untuk menipu banyak orang. "Aku tahu kau cemburu di bawah sana. Maafkan aku, aku hanya ingin membuat Valerie merasa dihargai karena proyek ini sangat penting bagi kelangsungan nyawa perusahaan ayahmu."

​Aruna tidak menjawab, membiarkan Adrian meracau dengan kebohongannya.

​"Malam ini, biarkan Valerie bekerja sendiri dengan dokumennya. Aku ingin bersamamu," bisik Adrian, suaranya memberat, penuh dengan janji palsu. "Rapikan kamar ini. Mandilah, gunakan parfum yang kubelikan bulan lalu, dan pakailah gaun tidur sutra hitam kesukaanku. Malam ini, aku akan membayarnya padamu. Kita akan bercinta, hanya berdua. Aku akan membuktikan bahwa kau masih satu-satunya ratu di rumah ini."

​Itu adalah janji yang dulu akan membuat Aruna rela menukar nyawanya. Janji yang akan membuat Aruna terbang ke langit ketujuh dan melupakan segala luka yang digoreskan pria itu.

​"Baik, Mas," jawab Aruna pelan.

​Senyum puas mengembang di wajah Adrian. Benar tebakanku, batin Adrian congkak. Dia masih anjing penurut yang sama. Hanya butuh sedikit tulang untuk membuatnya kembali mengibas ekor. Adrian mengecup kening Aruna, lalu keluar dari kamar dengan langkah ringan, kembali ke ruang kerjanya tempat Valerie menunggu.

​Sepeninggal Adrian, Aruna tidak menangis. Ia berjalan ke arah cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya—seorang wanita yang telah hancur lebur berkali-kali hingga tidak ada lagi bagian dari dirinya yang bisa dipatahkan.

​Aruna menuruti perintah Adrian. Ia mandi, membersihkan dirinya dari rasa mual yang sedari tadi mengendap di perutnya. Ia memulas riasan tipis di wajahnya, mengenakan lipstik merah gelap yang menonjolkan kulit pucatnya. Ia mengenakan gaun tidur sutra hitam itu, memastikan setiap lekuk tubuhnya terlihat sempurna, persis seperti yang diinginkan suaminya.

​Lalu, ia duduk di tepi ranjang. Menunggu.

​Jarum jam berdenting merayapi angka-angka di dinding. Pukul sepuluh malam... pukul sebelas... pukul dua belas.

​Suasana rumah telah mati. Hujan di luar tinggal rintik-rintik yang menyedihkan. Ranjang di sebelahnya masih kosong, dingin. Tidak ada Adrian. Tidak ada janji manis. Tidak ada malam penuh cinta. Semua itu hanyalah taktik murahan Adrian untuk menundukkannya, untuk memastikan Aruna tetap menunggunya dengan setia sementara pria itu memuaskan nafsunya di ruangan lain.

​Aruna berdiri. Matanya tidak memancarkan kekecewaan, melainkan sebuah kepastian yang mematikan. Ia berjalan keluar kamar, kakinya yang tanpa alas menyusuri lantai marmer yang dingin, menuju lorong sayap kanan tempat ruang kerja suaminya berada.

​Semakin dekat ia ke ruangan itu, semakin jelas suara yang mengudara. Dari celah bawah pintu kayu jati yang tebal, cahaya temaram merembes keluar, diiringi oleh suara napas yang terengah, rintihan parau, dan bisikan-bisikan kotor.

​“Ah, Adrian… bagaimana jika istrimu yang bodoh itu mencari kita?” suara Valerie terdengar di sela-sela napas beratnya.

​“Peduli setan dengannya. Dia pasti sedang berdandan dan menungguku seperti orang idiot di kamar. Dia tidak akan berani ke mari…”

​Dulu, mendengar kalimat itu akan membuat jantung Aruna berhenti berdetak dan dunianya runtuh seketika. Tapi malam ini, Aruna merasa luar biasa tenang. Denyut nadinya stabil. Ia menyadari satu hal yang membebaskannya: ia tidak lagi mencintai pria di balik pintu ini. Sedikit pun.

​Tanpa keraguan, tanpa tendangan emosional, Aruna memutar kenop pintu perlahan.

​Cklek.

​Pintu terbuka lebar, mengundang embusan angin dingin dari lorong masuk ke dalam ruangan yang panas oleh gairah kotor tersebut.

​Pemandangan di atas sofa kulit mahal peninggalan ayahnya itu begitu menjijikkan. Adrian dan Valerie sedang bergumul, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Berkas-berkas tender berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kebejatan yang berlindung di balik kata 'profesionalisme'.

​Mendengar suara pintu terbuka, gerakan Adrian terhenti seketika. Valerie menjerit tertahan, tergesa-gesa menarik kemeja Adrian yang tergeletak di lantai untuk menutupi dadanya, wajahnya pucat pasi bagai melihat hantu.

​Adrian menoleh, dan matanya membelalak ngeri saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Aruna berdiri di sana, tampak sangat cantik dalam balutan sutra hitam dan riasan sempurna. Namun, wajahnya tidak memancarkan amarah seorang istri yang tersakiti. Wajah itu datar, bagai patung lilin yang tak bernyawa, dengan tatapan yang bisa membekukan lautan.

​Kepanikan absolut menyerang Adrian. Dalam detik-detik singkat itu, otak liciknya langsung memutar skenario terburuk. Pakaian yang dikenakan Aruna, ketenangan yang tak wajar itu—bagaimana jika Aruna merencanakan ini? Bagaimana jika ada kamera tersembunyi? Bagaimana jika Aruna memegang ponsel dan merekam semuanya untuk diserahkan ke Komnas HAM dan Pengadilan Agama?

​"Aruna! Tunggu! Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Adrian merangkak panik, tersandung celananya sendiri, berusaha menutupi tubuhnya sambil mengulurkan tangan ke arah Aruna. "Aku bisa jelaskan! Jangan lakukan apa pun, Aruna! Jangan lapor! Kau sudah janji padaku!"

​Suara Adrian melengking, penuh dengan ketakutan yang menjijikkan. Pria arogan yang beberapa jam lalu merendahkannya kini tampak tak lebih dari seekor tikus got yang tertangkap basah di tengah malam.

​Aruna menatap mereka berdua, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

​Aruna hanya menyunggingkan senyum—senyuman tipis yang sama seperti yang ia berikan di ruang tamu tadi sore. Sebuah senyuman yang menyiratkan kedalaman jurang dendam yang tak terukur.

​Dengan suara yang sangat jernih, tenang, dan tajam bagai silet yang membelah keheningan malam, Aruna berucap, "Lanjutkan saja apa yang kalian suka, Mas Adrian... Valerie."

​Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Adrian yang gemetar ketakutan.

​"Lanjutkan... selama masih ada kesempatan."

​Setelah mengucapkan kalimat pamungkas itu, Aruna menarik kembali tangannya dan menutup pintu ruang kerja itu dengan tarikan yang sangat lembut. Klik.

​Di luar, Aruna berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah seringan angin. Tidak ada lagi beban di pundaknya. Malam ini adalah malam terakhir ia merasa terikat pada keluarga ini.

​Sementara itu, di dalam ruang kerja yang kini terasa sesak dan kehabisan oksigen, Adrian duduk mematung di atas karpet. Gairahnya telah lenyap tak berbekas, digantikan oleh keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Valerie menyentuh bahunya dengan gemetar, namun Adrian menepisnya kasar.

​Kalimat Aruna terus terngiang di telinganya. Selama masih ada kesempatan.

​Kata-kata itu tidak diucapkan oleh seorang istri yang sedang patah hati. Itu bukan rintihan kesedihan. Adrian adalah seorang pebisnis yang handal membaca situasi, dan instingnya malam ini berteriak memperingatkannya. Intonasi Aruna, ketenangannya, dan tatapan matanya... itu adalah sebuah ancaman maut.

​Untuk pertama kalinya dalam lima tahun hidup bersama, Adrian menyadari satu hal yang membuatnya merinding ketakutan. Ia baru saja menyadari bahwa ia sama sekali tidak mengenal siapa sebenarnya wanita yang selama ini ia injak-injak. Apa yang sedang direncanakan wanita lemah itu? Dan seberapa besar kehancuran yang sedang menantinya di ujung jalan?

​Malam itu, tak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata. Badai yang sesungguhnya baru saja bergeser dari hati Aruna, menuju tepat ke atas kepala keluarga Adiwangsa.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!