Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 20
Setelah malam yang melelahkan di klub, dengan langkah gontai Nathalie akhirnya pulang ke rumah. Tubuhnya terasa remuk, tapi pikirannya masih terfokus pada ayahnya yang terbaring kritis di rumah sakit. Ia harus membawa baju ganti bersih untuk ayahnya besok pagi. Rumah kecil mereka terasa sepi dan dingin saat ia membuka pintu.
Tanpa membuang waktu, Nathalie langsung menuju kamarnya.
Di dalam kamar yang sederhana, ia mulai melipat baju-baju ayahnya dengan telaten. Setiap lipatan baju kaos dan sarung yang sudah usang itu terasa berat di tangannya. Air mata sempat menggenang lagi saat mengingat kondisi ayahnya. Ia memasukkan pakaian itu satu per satu ke dalam tas travel kecil, berusaha menguatkan hati.
Tiba-tiba…
Brak!
Pintu kamar Nathalie dibuka kasar dari luar. Pintu menghantam dinding dengan suara keras, membuat Nathalie terlonjak kaget hingga tas di tangannya hampir terjatuh.
Ia menoleh dengan jantung berdegup kencang.
"Kenapa, Bu?" tanya Nathalie, suaranya gemetar.
Dyah berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang dan mata merah. Tanpa basa-basi, ibunya langsung masuk dan menarik paksa tangan Nathalie. "Ada tamu di luar. Kamu harus menemuinya sekarang juga!"
"Aku tidak mau, Bu!" berontak Nathalie sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman ibunya. Ia menarik tubuhnya ke belakang, kakinya menapak kuat di lantai. "Lepaskan! Aku capek, Bu…"
"Berhenti memberontak, Nathalie!" sentak Dyah dengan suara tinggi dan kasar. "Kita lakukan ini semua demi ayahmu! Kamu mau ayahmu mati? Kamu mau aku yang harus menanggung semuanya sendirian?"
Nathalie menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air mata sudah menetes deras di pipinya. "Bu… tolong jangan seperti ini" ratapnya, suaranya pecah.
Tapi Dyah tidak peduli. Dengan kekuatan yang muncul karena putus asa, ibunya terus menyeretnya keluar kamar. Nathalie meronta, kakinya terseret di lantai, tapi cengkeraman Dyah terlalu kuat.
Mereka melewati koridor pendek rumah itu hingga sampai ke ruang tamu. Lampu ruangan menyala terang, menerangi sosok seorang pria yang duduk santai di sofa. Nathalie langsung membeku.
"Ini dia, kamu bisa melakukannya di sini" ucap Dyah dengan suara dingin sambil mendorong Nathalie ke depan.
Mata Nathalie terbelalak lebar. Napasnya tertahan di tenggorokan. Belum sempat ia mencerna kata-kata ibunya yang sangat kasar dan mengejutkan itu, ia sudah dibuat terkejut oleh identitas tamu yang duduk di sofa ruang tamu mereka.
"Bapak… Andreas…" lirih Nathalie, suaranya hampir hilang.
Andreas duduk menyilangkan kaki dengan senyum licik yang sama seperti saat ia mengancam Nathalie di kampus. Pria itu mengenakan kemeja rapi, tatapannya penuh nafsu saat memandang tubuh Nathalie dari atas ke bawah. Perlahan dia bangkit, lalu melangkahkan kakinya mendekati wanita itu.
Dyah melepaskan tangan Nathalie, tapi tetap berdiri di sampingnya seperti penjaga. "Andreas bersedia membantu kita dengan uang yang sangat besar, Nat. Tapi kamu harus melayaninya malam ini."
Nathalie mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Rasa jijik, marah, malu, dan putus asa bercampur menjadi satu. "Bu, bagaimana bisa Ibu melakukan ini? Bapak Andreas ini, dia dosenku di kampus! Dia sudah mengancamku sebelumnya!"
Dyah hanya menghela napas berat. Wajahnya keras, tapi ada air mata yang juga menggenang di matanya. "Ibu tidak peduli lagi siapa dia. Yang penting ayahmu bisa dioperasi. Kamu sudah pernah melakukannya dengan orang lain, kan? Sekali lagi tidak akan ada bedanya. Ini demi keluarga kita!"
Andreas tertawa pelan, suaranya rendah dan menyeramkan. "Tenang saja, Nathalie. Aku sudah bilang kan? Aku bisa bayar mahal. Dua ratus juta langsung masuk rekening kalian besok pagi kalau kamu mau menurut malam ini. Bahkan aku bisa tambah kalau kamu memuaskan aku."
Nathalie merasa dunia berputar. Lututnya lemas hingga ia hampir jatuh. Ia memeluk tubuhnya sendiri, air mata mengalir tanpa henti. "Aku tidak mau! Aku bukan barang yang bisa diperjualbelikan seperti ini…" bisiknya parau.
Tapi Dyah malah mendorong punggungnya maju. "Jangan keras kepala Nathalie! Kamu lihat sendiri kondisi ayahmu. Kalau kamu menolak, ayahmu bisa meninggal besok. Kamu mau tanggung jawab hah?"
Ruang tamu yang kecil itu terasa sesak. Andreas semakin mendekat, tangannya terulur ingin menyentuh lengan Nathalie. Aroma parfum mahalnya menyengat hidung gadis itu. Nathalie mundur hingga punggungnya membentur dinding. Matanya penuh ketakutan saat menatap ibunya yang kini terlihat seperti orang asing.
"Bu, tolong, jangan paksa aku…" ratap Nathalie sambil menangis tersedu. Tubuhnya gemetar hebat. Semua pengorbanan yang sudah ia lakukan terasa sia-sia. Malam ini, ibunya sendiri yang mendorongnya ke dalam pelukan pria yang ia benci.
Andreas tersenyum puas, menikmati pemandangan di depannya. "Kamu tidak punya pilihan, Nathalie" ucapnya.
Srettt.......
Bugh.....