NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tante kok gak manggil gue sayang?

Suasana di dalam kelas agak renggang, hanya diisi oleh beberapa murid yang memilih berteduh dari teriknya lapangan dan beberapa orang tua yang masih menunggu giliran. Wali kelas mereka, Bu Widya, masih sibuk di meja depan, sesekali mengobrol basa-basi dengan salah satu wali murid yang sedang mengambil raport.

Karin mengambil tempat duduk di barisan tengah, dan Arvin tanpa ragu langsung duduk di kursi tepat di sebelahnya. Keheningan di antara mereka mendadak terasa hidup. Di tengah riuhnya suara kipas angin kelas, ponsel Karin di atas meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari cowok di sampingnya.

Arvin: Tante, kok gak manggil gue sayang?

Karin membaca pesan itu dan seketika menoleh ke arah Arvin. Ingatan Karin langsung berputar ke kejadian di pinggir lapangan tadi, saat dia dengan begitu ringannya menyapa Aurel dengan sebutan sayang. Rupanya, Arvin ini diam-diam mencatat kalimat itu dan menaruh cemburu kecil.

Karin menyenggol lengan Arvin pelan dengan sikunya. "Mau?" bisik Karin.

Arvin tidak membalas lewat ketikan lagi. Dia langsung menoleh, menatap Karin lekat-lekat dari jarak dekat. "Ya mau lah," jawab Arvin langsung secara lisan, suaranya berat dan terdengar penuh tuntutan yang samar.

Setelah mengucapkan itu, Arvin kembali menelungkupkan kepalanya ke atas meja, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan seolah menolak kenyataan bahwa dia baru saja meminta hal memalukan seperti itu.

Namun, rasa gengsi Arvin rupanya kalah telak oleh keinginannya untuk mengabadikan momen bersama Karin hari ini. Dengan gerakan tenang namun pasti, Arvin mengeluarkan ponselnya dari saku dan meletakkannya di atas meja kelas secara terang-terangan.

Arvin menyenggol kaki Karin pelan. Begitu Karin menoleh, Arvin langsung mengarahkan kamera depannya ke wajah mereka berdua sembari memberikan kode lewat matanya agar Karin mendekat.

Karin yang paham langsung tersenyum manis. Dia menaruh satu tangannya di dagu dan sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Arvin.

Cekrek.

Tingkah Arvin barusan seketika langsung mengundang perhatian penuh dari beberapa murid yang ada di dalam kelas. Pandangan mereka semua mendadak tertuju pada Arvin dengan tatapan tak percaya. Bagaimana tidak? Arvin, si cowok kaku, dingin, dan paling anti-sosial di angkatannya, baru saja berinisiatif mengeluarkan ponsel untuk mengajak seorang wanita mengambil foto selfie bersama. Kejadian langka yang bahkan belum pernah mereka lihat selama berteman dengan Arvin yang biasanya cuek dan tidak pernah mau diajak berfoto.

"Arvin Alastair Mahendra," panggil Bu Widya dari meja depan, memecah fokus seisi ruangan yang sedang sibuk berbisik-bisik.

Mendengar namanya disebut, Arvin langsung menyimpan kembali ponselnya. Karin pun beranjak berdiri, merapikan blusnya sedikit, lalu melangkah anggun menuju meja guru di depan kelas, sementara Arvin masih duduk di bangkunya.

Bu Widya mendongak, menatap Karin dari atas ke bawah dengan pandangan menilai sebelum memberikan senyuman ramah. "Mari, silakan duduk. Mohon maaf, kalau boleh tahu... Ibu siapanya Arvin, ya?" tanya Bu Widya memastikan, karena wajah Karin sama sekali tidak mirip dengan foto orang tua Arvin di data sekolah.

Karin tersenyum sopan seraya mendudukkan diri di kursi depan meja guru. "Saya Karin, Bu. Saya tantenya Reza, sekaligus hari ini datang buat mewakili orang tua Arvin juga."

Mendengar penjelasan itu, mata Bu Widya sedikit berbinar kagum. "Oh, tantenya Reza? Luar biasa, ternyata tantenya Reza masih muda sekali ya, cantik lagi. Saya pikir tadi kakak Arvin," puji Bu Widya tulus.

Dengar pujian yang cukup menyenangkan itu, Karin meresponsnya dengan tawa kecil yang sopan. "Ah, Ibu bisa saja. Terima kasih banyak, Bu."

"Iya, soalnya biasanya kan mamanya Reza yang selalu datang ke sini buat ngambilin raportnya Arvin sekalian," lanjut Bu Widya sambil membolak-balik tumpukan map di mejanya. Dia kemudian menarik dua buah map raport berlogo sekolah. "Nah, karena kebetulan Mbak Karin yang datang mewakili dua-duanya, jadi raport Reza sama raport Arvin saya serahkan sekalian ke Mbak Karin saja ya."

Karin mengangguk paham. "Iya, Bu. Jadi, gimana ya Bu hasil perkembangan kedua anak ini selama satu semester?" tanya Karin, mulai membuka obrolan serius mengenai nilai keponakan dan keponakan titipannya itu.

Bu Widya menghela napas pendek, lalu memasang wajah serius namun tetap ramah. "Jadi gini, Mbak Karin. Untuk Reza, secara keseluruhan akademiknya cukup stabil, dia anak yang aktif di kelas. Tapi ya itu... kadang terlalu aktif mengobrol sampai suka mengganggu konsentrasi teman di sebelahnya." Bu Widya melirik Arvin sekilas yang duduk tegak tanpa ekspresi.

"Nah, kalau untuk Arvin ini..." Bu Widya menjeda kalimatnya, membuka halaman dalam raport Arvin. "Secara kemampuan akademik, Arvin ini sebenarnya pinter, Mbak. Nilai eksaktanya seperti Matematika dan Fisika selalu berada di urutan atas. Tapi, ada satu catatan besar dari saya dan guru-guru lain."

Karin mencondongkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama. "Catatan apa ya, Bu?"

"Arvin ini terlalu pasif dan tertutup di sekolah. Dia jarang sekali mau bersosialisasi kalau tidak diajak duluan oleh Reza. Dan yang paling krusial... nilai Bahasa Indonesianya semester ini agak merosot dibandingkan semester lalu, padahal tugas-tugas harian lainnya bagus," jelas Bu Widya panjang lebar. "Saya harap di rumah nanti, Mbak Karin bisa bantu sampaikan ke orang tuanya agar Arvin lebih banyak dibimbing lagi, terutama untuk pendekatan emosionalnya di rumah, supaya di sekolah dia bisa lebih terbuka."

Karin mendengarkan setiap bait penjelasan guru tersebut dengan dada yang agak berdenyut. Dia tahu persis alasan di balik sikap tertutup Arvin itu. Karin melirik ke belakang lewat bahunya, menatap Arvin yang masih memasang wajah lempeng, seolah menyembunyikan seluruh badai yang ada di dalam kepalanya.

"Baik, Bu Widya. Terima kasih banyak atas masukannya," jawab Karin dengan senyum tulus, menerima dua map raport tersebut dari tangan sang guru. "Nanti pasti akan saya sampaikan dan saya perhatikan betul-betul.”

Selesai berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Widya, Karin melangkah keluar dari ruang kelas sambil mendekap dua map raport tebal berwarna biru tua di dadanya. Arvin berjalan tegap di sampingnya, menjaga jarak agar bahu mereka sesekali bersentuhan di tengah koridor lantai dua yang kini mulai berangsur sepi.

"Gimana, Tan?" tanya Arvin langsung tanpa basa-basi begitu mereka terbebas dari jangkauan telinga sang guru.

Karin menghentikan langkahnya tepat di dekat pagar pembatas koridor yang menghadap langsung ke arah lapangan upacara di bawah. Dia menoleh, menatap Arvin dengan tatapan yang sengaja dibuat misterius dan penuh selidik.

"Kamu mau tahu laporan dari gurumu tadi?" Karin menaruh satu map di atas pembatas koridor, lalu membukanya perlahan. "Secara akademik, Tante akui kamu emang pinter, Vin. Nilai Matematika sama Fisika kamu hampir sempurna, bikin ranking kamu aman."

Arvin menyunggingkan senyum tipis, merasa di atas angin. "Kan gue udah bilang, Tan."

"Tapi..." Karin menunjuk sebaris nilai dengan kuku jarinya yang rapi, menatap Arvin dengan mata menyipit gemas. "Nilai Bahasa Indonesia kamu di raport beneran dapet angka 7,3. Turun drastis dari semester kemarin. Terus kata gurumu, kamu itu pasif banget di kelas, kayak patung."

Arvin langsung membuang muka, menatap ke arah lapangan bawah di mana Reza dan teman-temannya masih asyik mengobrol. "Gue kan udah bilang, Tan, soalnya jebakan semua. Lagian gurunya kalau nerangin ngebosenin."

Karin mendengus pelan, lalu menutup map raport milik Arvin dengan ketukan tegas. Wanita itu kemudian membuka map milik keponakannya sendiri, Reza. Begitu melihat deretan angka di sana, Karin langsung tertawa renyah.

"Kenapa, Tan?" Arvin ikut melirik.

"Ini si Eja... kebalikan dari kamu banget. Nilai Bahasa Indonesianya dapet 8,8 karena dia hobi banget ngoceh dan presentasi di depan kelas. Tapi liat nih, nilai Matematika sama Kimia-nya pas-pasan banget, mepet KKM," ujar Karin menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan kombinasi dua sahabat ini.

Karin kembali merapikan kedua map tersebut ke dalam dekapannya. Dia menatap lekat-lekat wajah Arvin, menyadari ada binar yang berbeda di matanya hari ini, jauh lebih hidup dibandingkan malam penuh luka tempo hari.

"Sesuai kesepakatan kita di rumah waktu itu," ucap Karin sambil menepuk pelan dada Arvin menggunakan ujung map raport. "Mulai liburan semester ini, kamu punya utang belajar sama Tante. Tante gak mau tahu, pas liburan ini kamu harus sering ke rumah buat Tante bimbing. Paham?"

Mendengar kata belajar saat liburan, raut wajah Arvin yang tadinya manis langsung berubah masam. Dia mendengus pelan dan melipat kedua tangannya di dada, langsung memasang mode penolakan.

"Gak mau, Tan," tolak Arvin mentah-mentah. "Gak mau ada jatah libur buat belajar. Belajarnya nanti aja pas udah masuk sekolah lagi semester depan."

Karin langsung melotot gemas, berkacak pinggang menatap cowok jangkung di depannya. "Loh, kok nawar? Nilai kamu itu udah mepet batas bawah, Arvin! Kalau gak dicuri start dari liburan, kapan mau ngejarnya?"

"Ya pokoknya gak mau," sahut Arvin lempeng tanpa beban. "Masa liburan masih harus pusing mikirin pelajaran. Mending liburannya dipake buat nemenin Tante jalan-jalan atau santai di rumah, gak usah bawa-bawa buku. Urusan belajar, simpen buat semester depan."

Karin menghela napas panjang, meratapi keras kepalanya cowok bermuka tembok ini. 

"Alasan aja kamu ya, bilang aja mau males-malesan," omel Karin, walau nadanya sudah jauh melunak. "Ya udah, terserah kamu. Awas ya kalau semester depan nilai kamu gak naik, Tante coret kamu dari daftar keponakan kesayangan."

Arvin hanya membalas ancaman itu dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan. "Gak bakal, Tan."

"Ya udah, yuk turun ke bawah, kasihan si Eja pasti nungguin."

Mereka berdua pun berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju parkiran, siap menghadapi liburan semester yang tampaknya akan berjalan jauh lebih santai bagi mereka berdua.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!