"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
happy reading guys
------------------------------
Bab 18: Aliansi sang Penguasa
Anastasia Wijaya tidak membuang waktu sepeser pun setelah mendengar laporan darurat dari Sekretaris Hendra.
Rasa ragu dan canggung yang sempat membentengi hatinya seketika menguap, digantikan oleh naluri protektif seorang ibu yang membara hebat.
Langkah kakinya yang jenjang bergegas kembali mendekati pintu elektronik ruang ICU.
Klik.
Pintu bergeser terbuka dengan sentakan cepat.
Kedatangan Anastasia yang tiba-tiba dengan raut wajah penuh ketegangan membuat Devan Mahendra perlahan mengalihkan pandangannya dari Alta dan Arka.
Netra elang sang CEO yang masih tampak tirus itu menyipit tajam, langsung menangkap gelagat bahaya dari sikap mantan istrinya.
"Hendra, bawa anak-anak keluar ke ruang tunggu VIP bersama para pengawal sekarang juga," perintah Anastasia, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
"Mami... ada apa?" Arka mendongak dengan wajah polosnya yang bingung.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ganti pakaian kalian dahulu bersama Paman Hendra ya. Mami dan Ayah ada urusan bisnis yang harus diselesaikan," jawab Anastasia sembari memaksakan seulas senyum lembut demi menenangkan putra bungsunya.
Alta yang peka hanya menatap Devan sekilas, seolah memberikan isyarat tak kasat mata, sebelum akhirnya menggandeng tangan Arka untuk melangkah keluar ruangan.
Setelah pintu kembali tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, Anastasia melangkah lebar menuju sisi ranjang Devan.
Ia meletakkan komputer tablet milik Hendra tepat di atas pangkuan Devan dengan ketukan yang tegas.
"Samuel Amalia tidak melarikan diri ke Swiss," desis Anastasia, sepasang netra indahnya berkilat memancarkan kemurkaan.
"Pria itu baru saja melakukan likuidasi paksa terhadap seluruh saham Mahendra Group yang berisi utang busuk dari Swiss. Dan bajingan itu berhasil menemukan celah dalam dokumen dana perwalian (Trust Fund) yang kamu tanda tangani tiga minggu lalu."
Devan mengernyitkan dahinya menahan rasa perih di perut kirinya saat ia berusaha menegakkan sedikit punggungnya di atas bantal rumah sakit.
Jemarinya yang masih kaku bergerak lincah menyusuri barisan kode hukum dan angka audit internasional di layar tablet tersebut.
Dalam hitungan detik, otak bisnis Devan yang genius langsung menangkap titik serangan Samuel.
"Dia menyerang domisili hukum anak-anak..." suara bariton Devan terdengar begitu dalam dan dingin, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Dokumen perwalian yang kubuat mencantumkan alamat rumah tinggal rahasia Alta dan Arka di Jakarta sebagai pemilik sah aset bersih. Samuel sengaja mengalihkan seluruh gugatan pailit internasional dari bank-bank sekunder Eropa langsung ke alamat tersebut malam ini. Besok pagi pukul sembilan, pengadilan bursa efek akan menerbitkan surat sita jaminan jika kita tidak bisa membuktikan bahwa dana perwalian tersebut bebas dari tuntutan utang."
"Jika surat sita jaminan itu terbit, nama Alta dan Arka akan terdaftar dalam sejarah hitam bursa saham internasional sebagai pemilik aset yang pailit seumur hidup mereka," Anastasia mengepalkan tinjunya hingga memutih.
"Aku tidak akan membiarkan masa depan putra-putraku dinodai oleh Keluarga Amalia!"
Devan meletakkan kembali tablet tersebut di atas nakas medis, lalu menatap Anastasia dengan tatapan mata yang tajam, dingin, namun sarat akan ketetapan hati yang jujur.
"Kita satukan kekuatan kita malam ini, Anastasia."
Anastasia tertegun sejenak mendengar ucapan Devan.
Ini adalah pertama kalinya setelah lima tahun mereka berdiri sejajar sebagai sesama penguasa bisnis tingkat tinggi, bukan lagi sebagai suami yang angkuh dan istri rumah tangga yang penurut.
"Maksudmu?" tanya Anastasia penuh kalkulasi.
"Samuel mengira dia bisa bermain di area abu-abu menggunakan hukum bursa saham Swiss untuk menekan kita di Jakarta," Devan menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin, sebuah ekspresi singa bisnis yang siap mencabik mangsanya.
"Dia melupakan satu hal. Likuidasi paksa yang dia lakukan dari Swiss membutuhkan waktu kliring internasional selama dua belas jam sebelum asetnya resmi diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia."
Devan menatap langsung ke dalam manik mata Anastasia.
"Kerahkan seluruh tim hukum internasional dari Wijaya Corps untuk melakukan gugatan intervensi darurat ke bursa efek Swiss malam ini juga. Gunakan bukti digital kasus pemerasan dan fitnah Siska yang baru saja kamu dapatkan dari apartemennya sebagai dasar bahwa seluruh transaksi saham yang dibeli Samuel adalah hasil dari aliran dana kejahatan korporasi (money laun dering)."
Mendengar strategi Devan, sepasang mata Anastasia seketika berbinar cerdas.
Otak bisnisnya langsung menyambungkan benang merah taktis tersebut.
"Dan sementara tim hukum Wijaya Corps membekukan akun cangkang Samuel di Swiss... kamu akan menggunakan sisa pengaruhmu di Mahendra Group untuk memindahkan domisili hukum dana perwalian anak-anak ke dalam yurisdiksi perlindungan diplomatik milik yayasan kakekku?"
"Tepat,"
Devan mengangguk tegas, tatapan bangganya pada kecerdasan Anastasia tidak lagi disembunyikan.
"Jika domisili hukumnya berpindah ke bawah yayasan Keluarga Wijaya sebelum pukul tujuh pagi esok, maka surat gugatan sita jaminan milik Samuel besok pagi otomatis akan menjadi selembar kertas sampah yang tidak sah secara hukum tata negara. Samuel tidak hanya akan gagal menyita aset anak-anak, tetapi seluruh sisa kekayaan pribadinya di Swiss akan disita oleh interpol atas tuduhan pencucian uang."
Anastasia menarik napas panjang, menatap mantan suaminya dengan pandangan yang kompleks.
Kebencian masa lalu mereka kini harus dikesampingkan demi sebuah aliansi taktis berskala raksasa untuk melindungi darah daging mereka sendiri.
"Hendra! Masuk!" panggil Anastasia dengan lantang.
Pintu elektronik terbuka dan Sekretaris Hendra masuk dengan sigap.
Anastasia menunjuk ke arah Devan yang kini sudah memegang ponsel darurat milik Rian.
"Hubungi seluruh jajaran pengacara papan atas Wijaya Corps di Eropa sekarang juga. Instruksikan mereka untuk bekerja sama dengan tim intelijen Mahendra Group di bawah arahan Devan. Kita lakukan serangan balik siber global malam ini juga."
"Baik, dimengerti, Nona Anastasia!" Hendra membungkuk hormat penuh patuh sebelum bergegas keluar untuk melaksanakan titah.
Malam itu, ruang ICU yang sunyi di Rumah Sakit Pusat Jakarta mendadak berubah menjadi pusat komando tempur finansial internasional.
Devan yang masih lemah di atas ranjang dengan sisa tenaganya terus melakukan panggilan video rahasia menuju bursa efek Swiss, sementara Anastasia duduk di kursi samping ranjangnya, jemarinya bergerak lincah di atas laptop pribadinya untuk mengalirkan modal darurat Wijaya Corps demi membentengi aset si kembar.
Perpaduan antara otak genius Devan Mahendra dan kekuasaan mutlak Anastasia Wijaya menciptakan sebuah aliansi penguasa yang teramat mengerikan bagi siapa pun yang berani menjadi lawan mereka.
Di sudut lain kota, Samuel Amalia yang sedang duduk di dalam ruang kerja rahasianya sembari menatap layar monitor bursa saham dengan senyum kemenangan,
sama sekali tidak menyadari bahwa fondasi kerajaannya di Swiss sedang digempur habis-habisan dari balik bayang-bayang rumah sakit.
Namun, tepat pada pukul empat dini hari, di tengah jalannya pertempuran siber yang menegangkan tersebut, layar laptop Anastasia mendadak berkedip merah secara konstan.
Sebuah dokumen transaksi rahasia yang tidak terduga mendadak muncul di dalam sistem enkripsi Swiss milik Samuel,
memicu sebuah kejutan besar baru yang membuat Devan dan Anastasia seketika menahan napas bersamaan karena melihat nama asing lain yang ternyata menjadi investor rahasia di balik pergerakan Samuel selama ini.
------------------------------
Bersambung