Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Interseptor di Batas Salju
##
Desau angin musim dingin di perbatasan Belarusia bertiup kian kencang, mengguncang dahan-dahan pinus yang terbebani salju tebal hingga menciptakan guguran putih yang konstan. Di tengah lingkaran senter berburu berdaya tinggi yang memotong kabut malam, keheningan mendadak terasa begitu padat. Uap napas panas dari belasan pasukan taktis faksi utara Rusia membubung kelabu di udara, berpadu dengan aroma mesiu dan minyak senjata yang tajam.
Arunika palsu berdiri tegak di atas gundukan salju, membiarkan mantel bulu serigala pemberian Arsen terbuka sedikit di bagian bahu kiri. Di bawah temaram cahaya senter yang menyilaukan, stempel bulan sabit merah buatan itu tampak berkilat—sebuah simbol kepalsuan yang kini terasa seperti tanda kutukan di tengah hutan yang membeku. Namun, sepasang mata porselennya tidak lagi memancarkan ketakutan. Emosi di dalam dirinya telah diperas habis, menyisakan sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh racun dendam sedingin es Rusia.
Di depannya, berjarak kurang dari sepuluh meter, berdiri bayangan biologisnya yang sempurna. Arunika yang asli. Wanita berpakaian taktis hitam mewah itu menyunggingkan sebuah senyuman kejam penuh kemenangan politik, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan komputer tablet militer yang memancarkan grafik pelacakan satelit berkilat merah.
> "Kau mengira kau bisa berlari dari Haryo Valentino menggunakan parasut milik Arsen, Salinan?" desis Arunika asli, suaranya merdu namun mengandung frekuensi mematikan yang menggema di keheningan hutan. "Kau tidak pernah tahu bahwa koper perak yang kau bawa di dada kakakmu itu... adalah sebuah pemancar sinyal biometrik aktif yang baru saja mengaktifkan seluruh sistem peluru kendali termal Rusia untuk mengunci koordinat hutan ini dalam waktu tiga puluh detik dari sekarang."
Letupan emosi pembaca dipastikan akan naik turun dengan ekstrem di bagian ini. Baru saja mereka lolos dari dekompresi maut di langit, kini mereka dipaksa menghadapi kenyataan bahwa koper perak yang mereka pertahankan mati-matian adalah jangkar kematian yang menuntun peluru kendali langsung ke arah mereka. Skema Haryo Valentino benar-benar berlapis tanpa batas; setiap kemenangan taktis yang diraih Arsen seolah-olah telah diantisipasi di atas meja laboratorium pangkalan utaranya.
Arsen Valentino tidak menunjukkan riak kelumpuhan mental sedikit pun. Rahang tegasnya mengeras, sepasang mata elangnya menyipit tajam menatap gawai tablet di tangan Arunika asli, lalu beralih ke koper perak yang terikat ketat di dada kirinya. Cairan amber Eclipse Omega di dalamnya masih berpendar konstan, memancarkan pendar kehidupan yang kini bertindak sebagai pemantik kiamat kecil di tengah hutan pinus.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seorang produk laboratorium yang merasa dirinya sah, Arunika," suara bariton Arsen menggelegar penuh otoritas, memotong lolongan angin badai. Pria itu menurunkan senapan serbu otomatisnya sedikit, namun jemarinya tetap menempel ketat di atas pelatuk senjata. "Jika peluru kendali itu menghantam tempat ini, kau dan seluruh pasukan taktis Rusiamu juga akan menguap menjadi abu bersama kami. Haryo tidak sedang menyelamatkanmu; dia sedang membersihkan papan caturnya secara menyeluruh."
### Retakan di Atas Hamparan Putih
Kata-kata Arsen memicu riak keraguan samar di antara beberapa pengawal faksi utara Rusia. Sepasang mata cerdik Arunika asli menyipit, senyuman kemenangannya mendadak menegang di bawah siraman cahaya senter. Dia tahu Arsen benar. Di dalam hukum dunia bawah tanah internasional, seorang pencipta yang paranoid tidak akan ragu untuk menumbalkan anak kandungnya sendiri demi menjaga kerahasiaan proyek keabadian.
"Paman Boris telah tiada, dan Valeria palsu telah mati di Zurich," ucap Arunika palsu tiba-tiba, suaranya terdengar begitu luwes, datar, dan sarat akan kematian murni yang membuat atmosfer hutan kian mencekik. Dia melangkah maju setapak demi setapak, sepatu bot taktisnya tenggelam di dalam salju tebal. "Kita berdua adalah sisa-sisa terakhir dari Proyek Eclipse yang dibuang oleh Haryo. Mengapa kita tidak membiarkan peluru kendali itu menghantam tempat ini, Kembaranku? Mari kita lihat siapa di antara kita yang sel tubuhnya benar-benar mampu meregenerasi kematian di bawah suhu nol derajat ini."
Kegilaan dingin dari Arunika palsu membuat Arunika asli refleks melangkah mundur setapak. Rasa enjoy dan dominasi militer yang dia bawa dari fasilitas bawah air internasional mendadak lumpuh di depan keberanian nekat dari sebuah produk gagal yang telah kehilangan seluruh kemanusiaannya.
**00:19… 00:18… 00:17…**
Angka digital merah pelacakan satelit di tablet militer Arunika asli terus melesat turun dengan kejam. Suara gemuruh rendah dari arah langit utara mulai terdengar membelah awan badai—sebuah pertanda bahwa hulu ledak termal Rusia telah memasuki lapisan atmosfer bawah dan sedang meluncur turun menuju koordinat koper perak Arsen.
"Sialan! Tembak mereka dan ambil kopernya! Kita evakuasi lewat jalur terowongan barat!" jerit Arunika asli, kehilangan seluruh ketenangannya saat mendengar deru rudal yang kian mendekat.
Brak! DUAR!
Baku tembak masif seketika pecah di tengah kegelapan hutan pinus perbatasan. Pasukan taktis Rusia memuntahkan rentetan peluru baja dari senapan otomatis mereka, namun Arsen Valentino bergerak dengan Refleks predator tertinggi. Pria itu menyambar pinggang Arunika palsu, melemparkan tubuh mereka berdua berlindung di balik batang pohon pinus raksasa yang tumbang, sementara Marco dan sisa pasukan aliansi barat mendadak muncul dari balik semak-semak salju sektor timur, melepaskan tembakan balasan yang masif menggunakan senapan mesin berat.
Duar! Bang!
Serpihan kayu pinus dan salju berhamburan liar di udara seperti badai kristal yang menyayat wajah. Jeritan kematian para prajurit Rusia yang terkena dampak tembakan aliansi barat berbaur dengan lolongan anjing pelacak yang panik di bawah gempuran senjata api.
Di tengah kekacauan berdarah itu, Arunika palsu tidak tinggal diam di balik perlindungan. Kekosongan emosionalnya kini telah sepenuhnya mengambil alih kontrol motorik tubuhnya. Melalui celah batang pohon yang hancur, dia melihat Arunika asli sedang mencoba berlari menuju ke arah pintu palka besi bunker tersembunyi di bawah tanah yang tersamarkan oleh salju. Koper perak di dada Arsen memancarkan denyut lampu merah yang kian cepat, menandakan jarak hantaman rudal tersisa kurang dari sepuluh detik.
"Arsen! EMP-nya! Hancurkan pemancarnya sekarang!" teriak Arunika palsu.
Arsen Valentino tidak ragu. Dengan satu sentakan kasar, dia mencabut alat pemotong sirkuit elektromagnetik (EMP jammer) berbentuk pulpen perak dari saku tuksedo robeknya, lalu menghujamkannya langsung ke arah panel sirkuit biometrik koper perak di dadanya.
Bzzzt!!!
Sebuah ledakan gelombang elektromagnetik skala mikro meletus pendek, melumpuhkan total sistem pelacak biometrik Haryo di dalam koper. Grafik koordinat di tablet Arunika asli seketika mati eror, memaksa hulu ledak termal Rusia di atas langit kehilangan target kuncinya di detik-detik terakhir sebelum benturan.
BOOOM!!!
Peluru kendali termal itu melesat meleset dari sasaran asli, menghantam area bukit pinus di sektor utara berjarak dua ratus meter dari posisi mereka. Hantaman ledakan masif berskala militer itu memicu gelombang kejut termal yang luar biasa dahsyat, menciptakan badai api jingga yang menguapkan seluruh salju dan menumbangkan ratusan pohon pinus seperti batang korek api dalam radius satu kilometer.
Gelombang kejutnya melemparkan tubuh Arsen, Arunika palsu, dan pasukan Marco terpelanting ke depan, berguling-guling di atas tanah hitam yang mendadak gundul dan berhawa panas membakar.
### Altar yang Tercemar
Suasana di tengah hutan perbatasan berubah menjadi neraka abu yang sunyi. Asap hitam tebal membubung tinggi menembus langit malam, menyelimuti reruntuhan pohon-pohon yang terbakar.
Arunika palsu merangkak bangkit dari atas tanah yang panas, jubah bulu serigalanya telah hangus sebagian, menampilkan pakaian sutra hitamnya yang kini robek-robek penuh noda abu. Dia terbatuk-batuk hebat, menghirup udara beracun sisa ledakan. Ketika dia memandang ke depan, dia melihat pintu palka besi bunker tersembunyi di bawah tanah telah jeblok terbuka akibat dampak gelombang kejut ledakan rudal.
Di ambang pintu palka besi yang hancur itu, Arunika yang asli terkapar dengan tubuh yang dipenuhi luka bakar parah di sisi kanan wajah cantiknya. Pakaian taktis hitam mewahnya telah robek, menyingkap bahu kirinya yang mulus—sebuah bahu murni tanpa ada stempel bulan sabit merah, membuktikan eksistensinya sebagai anak kandung yang sah namun kini telah tercemar oleh api neraka bawah tanah.
Arsen Valentino melangkah tegap menembus asap hitam, koper perak di dadanya kini telah menghitam oleh jelaga namun tiga tabung cairan Eclipse Omega di dalamnya tetap aman berkilau di balik lapisan kaca antipeluru. Sepasang mata elangnya menatap dingin ke arah Arunika asli yang sedang merangkak lemah mencoba masuk ke dalam terowongan bunker.
"Permainan cerminmu selesai, Arunika," ucap Arsen datar, suaranya sedingin es Rusia namun memiliki ketajaman yang mutlak. Pria itu mengarahkan moncong senapan serbunya tepat di antara sepasang mata porselen milik anak kandung Haryo tersebut.
Arunika asli menatap Arsen dengan pandangan penuh kebencian dan rasa sakit yang luar biasa amat dalam. "Kau... kau mengira kau telah memenangkan panggung ini, Arsen Valentino? Kau tidak pernah tahu... mengapa ayahmu membiarkan koper ini terbuka di Zurich..."
Wanita itu terbatuk memuntahkan darah segar ke atas tanah yang hangus, sebuah senyuman manipulatif yang dipenuhi keputusasaan terakhir muncul di bibirnya yang terluka.
> "Cairan amber di dalam koper itu... bukan sekadar sel progenitor Proyek Eclipse... Cairan itu adalah sejenis neurotoksin penidur biometrik yang telah meresap menembus pori-pori kulit tangan istri palsumu saat dia menempelkan telapak tangannya di panel brankas Swiss semenit lalu... Dalam waktu dua puluh menit... seluruh sistem saraf pusatnya akan lumpuh secara permanen jika dia tidak mendapatkan vaksin penawar yang hanya ada di dalam laboratorium pangkalan utara Haryo..."
Letupan emosi pembaca dipastikan akan kembali naik turun ke titik yang paling hancur di bagian ini. Arunika palsu refleks melihat ke arah telapak tangan kirinya yang digunakan untuk membobol brankas Bank Zurich sebelumnya. Di bawah kulit telapak tangannya yang putih, garis-garis urat saraf halus mulai berubah warna menjadi biru keunguan yang tidak wajar, memancar konstan menyebar menuju pergelangan tangannya—sebuah racun biometrik terencana yang ditinggalkan Haryo untuk memastikan wadah eksperimennya tidak akan pernah bisa melarikan diri dari cengkeramannya.
Arsen Valentino tertegun, sepasang mata elangnya melebar menatap telapak tangan Arunika palsu yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan saraf awal. Ego dan dominasi sang raja mafia kembali bergejolak hebat di dalam kepalanya. Aset berharganya, pengantin penggantinya yang memegang kode genetik Eclipse murni, kini sedang berada di ambang kematian dari balik racun ayahnya sendiri.
"Buka terowongan bunkernya, Marco," perintah Arsen, suaranya merendah menjadi desis berbahaya yang mutlak. Pria itu tidak melepaskan tembakannya ke arah Arunika asli; dia justru merenggut kerah pakaian taktis wanita itu dengan kasar, menyeretnya masuk ke dalam pintu palka bawah tanah bersama Arunika palsu yang mulai merasakan persendian tubuhnya kian kaku dan dingin.
Mereka melangkah menembus lorong beton bawah tanah bunker perbatasan yang sempit dan pengap, menyusuri jalur pipa air kuno yang mengarah langsung ke arah stasiun kereta logistik militer rahasia yang terhubung dengan wilayah perbatasan Rusia Utara.
Transformasi psikologis Arunika palsu kini telah mencapai puncaknya yang paling hampa. Dia tidak lagi menangis, tidak lagi mengeluh atas ketidakadilan takdir biologisnya. Sambil melangkah kaku di samping Arsen, dia menatap garis urat keunguan di tangannya dengan seulas senyuman kejam yang luar biasa mematikan. jika Haryo Valentino ingin tubuh replikanya lumpuh untuk dijadikan wadah keabadian, maka dia akan memastikan dirinya menjadi racun terakhir yang akan membusukkan seluruh imperium murni yang dia agungkan selama dua belas tahun kehidupannya yang penuh kepalsuan.
"Bawa aku ke pangkalan utara, Arsen," bisik Arunika palsu, suaranya terdengar begitu luwes, datar, dan sarat akan kematian murni. "Mari kita tunjukkan pada ayah kita bagaimana sebuah produk gagal yang sedang sekarat ini... bisa mencabut seluruh takhta kerajaannya dari dalam neraka yang dia bangun sendiri."
Mereka berhasil mencapai peron stasiun logistik bawah tanah tempat sebuah kereta lokomotif militer lapis baja hitam milik faksi Volkov yang telah disita tampak sudah menyala dengan suara deru mesin diesel raksasa yang bergetar masif. Pintu gerbong kargo terbuka lebar, memancarkan pendar cahaya lampu darurat merah dari dalam.
Arsen Valentino mendorong tubuh Arunika palsu dan menyeret Arunika asli masuk ke dalam kabin gerbong kargo yang steril, mengunci pintu besi masif dari dalam saat kereta lokomotif militer itu mulai bergerak melaju dengan kecepatan tinggi membelah terowongan bawah tanah menuju ke arah koordinat pangkalan utara Murmansk.
Di dalam kabin gerbong kargo yang bergerak membelah kegelapan bumi perbatasan, sistem proyektor layar monitor digital di dinding gerbong mendadak menyala secara otomatis akibat sinyal satelit frekuensi rendah.
Sesosok pria paruh baya dengan pakaian jas wol mewah khas penguasa tertinggi dunia hitam Eropa yang wajahnya **sangat berbeda** dengan wajah Haryo Valentino yang mereka lihat di Zurich atau Saint Petersburg, mendadak muncul di layar monitor tersebut dengan tatapan mata elang yang memancarkan aura dominasi purba yang sesungguhnya.
Pria itu menyunggingkan sebuah seringai kejam yang paling mengerikan yang pernah mereka lihat, lalu mengangkat sebuah dokumen legal kuno dinasti Valentino yang asli di depan lensa kamera.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 30...**
* Siapakah sebenarnya sosok pria paruh baya di layar monitor gerbong kereta yang memiliki wajah berbeda namun memancarkan aura dominasi sah dinasti Valentino yang sesungguhnya?
* Jika Haryo Valentino yang asli ternyata memalsukan seluruh struktur wajahnya melalui operasi rekonstruksi radikal dua belas tahun lalu, rencana ekstrem berskala global apa yang sebenarnya sedang menanti kedatangan mereka di pangkalan utara Murmansk?
* Dan akankah Arunika palsu mampu bertahan dari kelumpuhan racun biometrik sebelum kereta militer membawa mereka masuk ke dalam altar pemurnian genetik terakhir?
Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memanas dan penuh letupan konflik luar biasa di bab berikutnya!