Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Usai makan malam yang penuh ketegangan itu, kediaman utama keluarga Wirajaya diselimuti keheningan yang terasa ganjil. Tak ada lagi percakapan hangat ataupun suara senda gurau. Setiap sudut rumah seolah dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban, sementara masing-masing penghuni tenggelam dalam pikiran dan kegelisahan mereka sendiri.
Tuan Zayan Wirajaya, pria yang selama ini dikenal tenang namun berwibawa, hanya mengangkat satu tangan sebagai isyarat. Tanpa perlu mengucapkan banyak kata, perintahnya langsung dipahami oleh semua orang yang berada di ruangan itu.
"Hubungi dokter keluarga segera. Aku ingin dia datang secepat mungkin."
Nada bicaranya terdengar tegas dan penuh kewibawaan, tidak memberi ruang untuk bantahan. Sang pelayan segera menundukkan kepala sebagai tanda patuh, lalu berlari cepat meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah tersebut.
Di lantai atas, Rayan sebenarnya hanya ingin merebahkan diri dan menghindari siapa pun. Namun, ketukan lembut di pintu kamarnya memecah keheningan. Tak lama kemudian, suara Nayla terdengar dari balik pintu.
"Kak, Dokter Zaki sudah sampai. Boleh luangkan waktu sebentar untuk diperiksa? Kami cuma ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja."
Awalnya Rayan menolak keras. Ia tetap bersikeras bahwa kondisinya baik-baik saja, hanya kelelahan akibat padatnya pekerjaan dan tekanan yang menumpuk selama beberapa waktu terakhir. Namun, setelah menerima desakan dan bujukan tanpa henti dari ayahnya serta Nayla, perlahan pertahanannya mulai goyah hingga akhirnya ia mengalah dan bersedia diperiksa.
Beberapa menit kemudian, Dokter Zaki seorang pria yang telah menginjak usia enam puluhan dengan penampilan rapi, kacamata membingkai matanya, dan sikap yang tenang mulai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap Rayan. Dengan teliti, ia memeriksa kondisi fisik pemuda itu satu per satu, sementara suasana di dalam kamar tetap hening dan penuh perhatian.
Setelah memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Rayan, serta mendengarkan penjelasannya mengenai rasa mual yang terus muncul selama beberapa hari terakhir, Dokter Zaki perlahan menarik kursi dan duduk. Raut wajahnya berubah lebih serius, seolah ada sesuatu yang perlu disampaikan dengan hati-hati kepada keluarga yang menunggu hasil pemeriksaan itu.
"Keluhan yang Anda sampaikan menunjukkan pola yang cukup jelas. Rasa mual muncul berulang, terutama pada pagi dan menjelang malam hari. Ditambah lagi adanya kepekaan terhadap bau tertentu, perubahan emosi yang lebih cepat dari biasanya, serta beberapa kali muntah."
"Jadi menurut Dokter, ini hanya masalah pada lambung saya?" tanya Rayan dengan suara pelan.
Dokter Zaki memberikan gelengan pelan sebagai jawaban. Sesaat kemudian, ia menarik napas panjang, seolah sedang menyiapkan kata-kata yang tepat sebelum menyampaikan sesuatu yang penting.
"Tidak juga. Dari gejala yang muncul, kondisinya justru lebih mirip dengan morning sickness, yaitu keluhan yang sering dialami wanita pada awal masa kehamilan."
Seketika, suasana di dalam ruangan berubah hening. Nayla membelalak dengan mulut sedikit terbuka, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Rayan hanya terpaku di tempatnya, menatap lurus ke depan tanpa kata. Di saat yang sama, Nyonya Salsabila yang baru memasuki kamar bersama Tuan Zayan menghentikan langkahnya, lalu menyilangkan tangan di dada sambil memperhatikan dokter dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Dok, tunggu sebentar..." Nayla menatap Dokter Zaki dengan bingung. "Apa saya tidak salah dengar? Anda bilang Rayan mengalami morning sickness?" tanyanya dengan tawa kecil yang terdengar lebih panik daripada lucu.
Dokter Zaki menatap satu per satu wajah yang masih dipenuhi kebingungan itu. Ekspresinya tetap tenang saat ia mulai menjelaskan.
"Secara medis, pria memang tidak mungkin mengalami kehamilan," ujarnya perlahan.
"Namun, yang saya maksud bukanlah kehamilan itu sendiri. Dalam beberapa kasus yang sangat jarang, seseorang bisa mengalami respons hormonal atau psikosomatis yang menimbulkan gejala mirip kehamilan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kondisi ini biasanya dipicu oleh tekanan emosional yang kuat atau keterikatan psikologis yang mendalam dengan seseorang yang sedang hamil. Akibatnya, tubuh bereaksi seolah-olah ikut merasakan perubahan yang dialami orang tersebut. Mual, muntah, perubahan nafsu makan, bahkan perubahan suasana hati bisa saja muncul."
"Psikologis?" ulang Tuan Zayan pelan. Dahinya berkerut dalam, sementara tatapannya tertuju lurus pada Dokter Zaki.
Tubuh Salsabila seketika menegang. Sorot matanya berubah tajam, seolah sedang mencoba menyusun kepingan-kepingan jawaban yang selama ini hilang. Perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arah Rayan, menelitinya dengan tatapan penuh curiga dan pertanyaan yang belum terucap.
"Jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan Zahra..." ujar Salsabila pelan, suaranya dipenuhi kecurigaan. Ia menatap Rayan tanpa berkedip sebelum melanjutkan, "Apa mungkin Zahra sedang mengandung?"
Nayla meraih lengan Rayan dengan hati-hati, seolah takut menekan terlalu keras. Wajahnya dipenuhi kebingungan dan rasa penasaran.
"Kak..." panggilnya lirih. "Jujur saja sama kami. Apa ada sesuatu yang belum Kakak ceritakan? Apakah Zahra memang sedang hamil?"
Namun, Rayan sama sekali tidak memberikan jawaban. Bibirnya tetap terkatup rapat, sementara dirinya tenggelam dalam keheningan yang terasa semakin menyesakkan. Tatapannya lurus ke arah dinding di seberang ruangan, kosong dan sulit ditebak, seolah pikirannya sedang melayang jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.
Namun yang memenuhi benak Rayan saat itu sama sekali bukan Zahra. Nama perempuan itu bahkan tidak muncul dalam pikirannya. Ada sosok lain yang terus berkelebat di kepalanya, mengusik kesadarannya dan membuat dadanya terasa semakin sesak.
Malam itu kembali berputar di dalam ingatan Rayan seperti potongan film yang tak pernah benar-benar hilang. Bayangan samar memenuhi benaknya, memaksanya mengingat setiap detail yang selama ini berusaha ia abaikan.
Ia masih ingat bagaimana mobilnya berhenti di sebuah sudut jalan yang sepi. Dengan kesadaran yang sudah kabur, ia memarkir kendaraan itu asal-asalan di dekat sebuah minimarket yang hampir tutup. Suasana malam terasa lengang, hanya ditemani cahaya lampu jalan yang redup dan deru angin yang sesekali melintas.
Saat itu, tubuhnya terasa tidak nyaman. Kepalanya berat, pandangannya berkunang-kunang, dan panas yang menjalar membuat pikirannya semakin sulit fokus. Pengaruh alkohol yang berlebihan telah mengacaukan kesadarannya, membuatnya kehilangan kendali atas diri sendiri dan tak mampu mengingat semuanya dengan jelas.
Yang tersisa dalam ingatan Rayan hanyalah serpihan-serpihan kenangan yang muncul sesaat lalu menghilang. Tidak ada gambaran utuh, hanya kilasan-kilasan singkat yang berkelebat di benaknya, seperti pecahan puzzle yang belum berhasil disusun menjadi sebuah cerita lengkap.
Di antara serpihan ingatan yang kabur itu, muncul bayangan seorang gadis muda yang tidak pernah ia kenali sebelumnya. Wajahnya asing, namun entah mengapa begitu membekas dalam benak Rayan. Sepasang matanya menyimpan ketakutan yang jelas terlihat, tetapi di saat yang sama ada kepasrahan yang membuat pemandangan itu terasa semakin menyayat hati.
Tangan gadis itu bergetar hebat saat Rayan, yang saat itu nyaris kehilangan kesadaran, menggenggam lengannya dan membawanya menuju mobil. Yang tersisa dalam ingatannya hanyalah potongan-potongan samar aroma parfum yang lembut, suara napas yang tertahan, dan sosok yang duduk membeku dalam ketakutan. Tubuh gadis itu tampak gemetar, namun ia memilih diam, seolah tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Sosok itu bukan Zahra. Bukan pula perempuan mana pun yang pernah hadir dalam lingkaran kehidupannya. Wajah tersebut terasa asing, seolah berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal, namun entah mengapa bayangannya terus menghantui ingatan Rayan hingga saat ini.
Begitu kenangan itu kembali menyusup ke dalam pikirannya, gelombang tidak nyaman langsung menghantam tubuhnya. Perut Rayan mendadak terasa bergejolak, membuat rasa mual yang sempat mereda kembali muncul dengan lebih kuat.
Rasa mual itu bukan muncul karena makanan yang dikonsumsinya atau kondisi fisiknya semata. Ada sesuatu yang jauh lebih berat menekan dirinya. Perasaan bersalah yang selama ini ia pendam perlahan mencengkeram dadanya, membuat napasnya terasa sesak dan pikirannya semakin kacau.
Ucapan Dokter Zaki tentang Rayan yang mengalami morning sickness seperti wanita hamil masih terus terngiang di benaknya. Kalimat itu seolah meninggalkan jejak yang sulit dihapus, menggantung di pikirannya bagaikan kabut pekat yang tak kunjung tersibak.
Salsabila Wirajaya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha merangkai logika yang terasa berantakan di kepalanya.
"Sepertinya aku mulai mengerti," ujarnya sambil mengernyit. "Kalau Zahra benar-benar hamil, mungkin itu yang memicu semua ini. Barangkali naluri seorang calon ayah bekerja dengan caranya sendiri."
Nayla mengerutkan dahi. "Tapi Kak Rayan nggak pernah cerita apa-apa soal itu, kan?"
"Sudah." Suara Rayan terdengar rendah, namun tegas, mengandung tekanan yang membuat siapa pun enggan membantah. Seolah sebuah keputusan telah dijatuhkan tanpa ruang untuk perdebatan lagi. Dalam sekejap, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Tatapannya menyapu mereka satu per satu, tajam dan sulit diterka. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kelelahan yang dalam, tergambar jelas dari sorot matanya yang redup dan penuh beban.
Tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menanggapi, Rayan bangkit dari tempatnya. Langkahnya panjang dan cepat menuju pintu, tubuhnya tampak tegang seolah menahan gejolak yang berkecamuk di dalam dada. Sesaat kemudian, suara pintu yang dibuka lalu dibanting tertutup menggema di seluruh rumah. Bunyi itu terdengar begitu keras dan final, seakan menegaskan bahwa ia benar-benar memilih pergi meninggalkan semuanya.
Berikut versi dengan kalimat yang berbeda dan nuansa lebih dewasa:
Mobil itu melesat meninggalkan halaman rumah, menembus jalanan Kota Semarang yang masih hidup meski malam kian larut. Deretan lampu jalan dan gemerlap kota yang membentang di sepanjang perjalanan tak mampu meredakan gejolak dalam benaknya.
Di balik kemudi, tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Rahangnya mengeras, sementara napas yang keluar terasa berat dan panjang. Segala yang terjadi malam ini berputar tanpa henti di kepalanya, menciptakan kekacauan yang sulit ia uraikan satu per satu.
Setibanya di apartemen, Rayan melangkah masuk tanpa banyak suara. Kunci mobil yang masih berada di tangannya dilempar begitu saja ke atas meja dekat pintu. Setelah itu, ia menjatuhkan diri ke sofa dengan gerakan lelah dan sedikit kasar.
Punggungnya bersandar, sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangan yang remang. Satu tangan menutupi sebagian wajahnya, seolah berusaha menghalangi segala pikiran yang terus berputar di kepalanya.
Sampai akhirnya, Rayan menghela napas panjang lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar yang menyala redup sebelum jemarinya mulai bergerak.
Tanpa keraguan, ia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu berhenti pada satu nama yang sudah begitu akrab dalam hidupnya. Nama yang selama ini selalu menjadi tujuan saat pikirannya sedang kacau dan hatinya tak menemukan ketenangan.
"Arka," panggilnya pelan setelah sambungan terhubung. Suaranya terdengar berat. "Kalau kau tidak sibuk, datanglah ke apartemen. Aku perlu bicara."
Tak sampai beberapa saat, suara di seberang telepon langsung terdengar. Seperti biasanya, Arka menjawab dengan nada tenang, profesional, dan selalu siap menerima perintah darinya.
"Baik, Pak Rayan. Saya akan berangkat sekarang dan segera sampai di sana."
Sambungan telepon itu terputus, tetapi kegelisahan yang menguasai hati Rayan belum juga mereda.
Rayan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa, menatap ruang kosong di hadapannya. Ia sadar, malam ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Terlalu banyak pertanyaan yang menuntut jawaban, dan terlalu banyak kenyataan yang tak bisa lagi ia abaikan.
*****
Beberapa waktu kemudian, suara bel pintu memecah keheningan apartemen. Dari unit yang berada di lantai enam belas lantai paling atas gedung mewah yang menghadap hamparan cahaya Kota Semarang Rayan melangkah menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Arka sudah berdiri di ambang masuk. Asisten pribadinya itu tampak rapi seperti biasa, tetapi sorot matanya menyimpan banyak pertanyaan. Ia menatap Rayan sejenak, seolah mencoba menebak alasan mendadak di balik panggilan malam itu.
Mereka tidak banyak berbicara. Hanya saling bertukar pandang dan anggukan singkat sebelum melangkah masuk ke dalam apartemen. Keheningan di antara keduanya terasa lebih dominan dibanding sapaan apa pun.
Ruang tamu yang luas dan berkelas itu diterangi cahaya lampu berwarna keemasan yang lembut. Pantulannya menciptakan suasana hangat dan menenangkan, berpadu dengan pemandangan gemerlap Kota Semarang yang terlihat jelas dari dinding kaca besar.
Namun ketenangan itu hanya menghiasi ruangan, bukan hati Rayan. Di balik wajahnya yang tampak datar, pikirannya masih dipenuhi kekacauan yang terus berputar tanpa henti.
Arka mengambil tempat di sofa yang berhadapan dengan Rayan. Duduk dengan punggung tegak dan sikap yang tenang, ia menunggu dalam diam, siap menyimak apa pun yang ingin disampaikan atasannya.
"Apakah ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, Tuan?" tanya Arka pelan. Nada suaranya tetap sopan, namun menyiratkan kekhawatiran yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Rayan terdiam beberapa saat. Dadanya naik turun oleh embusan napas yang terasa berat. Ia memejamkan mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan sesuatu yang sejak tadi membebani pikirannya.
"Ada satu hal yang perlu kau cari tahu untukku, Arka," kata Rayan akhirnya. Suaranya rendah, nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan. "Ini berkaitan dengan sebuah malam... sekitar empat bulan yang lalu."
Arka sedikit mengernyit, berusaha mencerna maksud ucapan atasannya. Ia belum sepenuhnya memahami ke mana arah pembicaraan itu, tetapi dari sorot mata Rayan yang suram dan nada bicaranya yang serius, ia tahu bahwa perkara ini jauh dari sekadar tugas biasa.
"Aku masih mengingat malam itu," ujar Rayan pelan. Pandangannya menerawang, seolah kembali pada kejadian yang terus menghantuinya. "Aku pergi ke klub bersama Gibran. Kami minum lebih banyak dari biasanya, dan pada akhirnya aku kehilangan sebagian besar kendali atas diriku sendiri."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Dalam perjalanan pulang, ada sesuatu yang terasa tidak beres. Tubuhku mendadak panas, kepalaku semakin berat, dan kesadaranku mulai kabur. Rasanya berbeda dari sekadar mabuk. Seolah ada sesuatu yang membuat kondisiku semakin tidak terkendali."
Arka yang semula duduk tenang langsung meluruskan punggungnya. Keningnya berkerut dalam, sementara sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Namun, ia tetap menahan diri untuk tidak menyela.
Ia hanya menatap Rayan dengan saksama, membiarkan pria itu melanjutkan ceritanya. Instingnya mengatakan bahwa masih ada bagian penting yang belum terungkap.
"Aku bersama seorang perempuan malam itu, aku melakukannya di dalam mobil. " ucap Rayan pelan, suaranya terdengar berat. "Tapi sampai sekarang, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya."
Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha meredam frustrasi yang kembali menyeruak.
"Yang kuingat hanya potongan-potongan kecil. Wajahnya tidak pernah terlihat jelas dalam ingatanku. Bahkan suaranya pun seperti menghilang begitu saja." Rayan menggeleng pelan. "Semakin keras aku mencoba mengingat, semakin kabur semuanya."
Arka terdiam. Untuk sesaat, ia bahkan lupa memberi respons. Pengakuan itu benar-benar di luar dugaan.
Selama bertahun-tahun bekerja bersama Rayan Wirajaya, ia mengenal pria itu sebagai sosok yang selalu menjaga kendali atas dirinya. Tenang, disiplin, dan nyaris tidak pernah bertindak gegabah. Terlebih dalam urusan pribadi, Rayan termasuk orang yang sangat berhati-hati.
Karena itu, sulit bagi Arka membayangkan cerita seperti ini datang langsung dari mulut atasannya.
Apalagi selama ini ada Zahra di sisi Rayan. Meski hubungan mereka lebih sering terlihat formal dan tidak terlalu menunjukkan kemesraan di depan umum, keduanya selalu dipandang sebagai pasangan yang cocok. Stabil, dewasa, dan jauh dari drama yang biasa mengiringi kehidupan kalangan mereka.
"Maaf jika saya lancang, Pak," ujar Arka pelan.
"Tapi mengapa Anda baru membicarakan hal ini sekarang?"
"Karena selama ini aku mengira itu hanya potongan ingatan yang kacau," gumam Rayan pelan. Tatapannya jatuh ke lantai, penuh kegelisahan. "Aku bahkan tidak yakin semua yang kuingat benar-benar terjadi."
Ia terdiam sesaat sebelum kembali menatap Arka.
"Aku ingin kau menelusuri semuanya. Cari informasi tentang klub malam tempat kami berada malam itu. Periksa siapa saja yang datang, siapa yang keluar, dan apakah masih ada rekaman yang bisa diakses."
Nada suaranya semakin serius.
"Jika memungkinkan, dapatkan seluruh rekaman yang berkaitan dengan malam itu. Bukan hanya dari dalam klub, tapi juga dari area sekitar dan jalur yang kulewati saat pulang. Aku ingin menyusun kembali apa yang sebenarnya terjadi."
Rayan mengepalkan tangannya perlahan.
"Dan yang paling penting, temukan perempuan yang bersamaku malam itu. Siapa pun dia, aku harus mengetahui identitasnya."
Arka menganggukkan kepala pelan. Meski masih terkejut dengan pengakuan yang baru saja didengarnya, ia berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang dan profesional.
"Baik, Pak," jawabnya mantap. "Saya akan mulai menelusurinya secepat mungkin dan mengumpulkan semua informasi yang bisa ditemukan."
Rayan memberi anggukan tipis sebagai tanda mengerti. Setelah itu, ia kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan untuk beberapa saat.