Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: SEDIKIT BERMAIN
Malam harinya di dalam ruangan khusus yang dipenuhi perangkat komputer berspesifikasi tinggi, Utara, Selatan, dan Marco mulai bergerak. Jemari lincah si kembar menari dengan sangat cepat di atas papan ketik, melacak seluruh informasi tersembunyi mengenai Clara dan keluarga Seno Bramantio.
“Heh, ternyata kumpulan keluarga yang sangat buruk,” celetuk Utara sembari tersenyum sinis menatap deretan data yang berhasil ia retas dari server pribadi keluarga Seno.
Informasi yang terpampang di layar monitor benar-benar mencengangkan. Mulai dari kasus penggelapan dana miliaran rupiah yang dilakukan oleh Seno, hingga aksi pelecehan seksual terhadap beberapa pekerja wanita di kantornya, bahkan ada korban yang sampai hamil dan berujung bunuh diri karna tak sanggup menutupi rasa malu.
Sedangkan sang istri, Prita, ternyata adalah wanita yang tidak jauh lebih baik dari suaminya. Wanita sosialita itu kerap gonta-ganti pasangan dengan pria yang jauh lebih muda hanya demi memuaskan nafsu pribadinya.
Clara sendiri tercatat sebagai perundung kelas berat di sekolah. Ia kerap menyiksa siswi-siswi lemah yang memiliki latar belakang ekonomi sulit hingga korbannya terpaksa pindah sekolah karena mengalami depresi berat.
Namun, seluruh kelakuan busuk Clara selalu berhasil ditutupi dan dilindungi oleh kepala sekolah lama yang rutin disuap dengan uang pelicin oleh Seno.
“Menjijikan,” desis Marco penuh rasa muak saat ikut membaca rentetan data hitam tersebut.
“Dari mana kita mulai bermain, Bang?” tanya Utara sembari melirik Selatan dan Marco, memberikan pilihan eksekusi.
“Pertama, kita buat karier dan nama baik keluarga mereka hancur sampai ke titik terendah terlebih dahulu. Daddy terlalu baik karena kemarin hanya menarik saham tanpa menghancurkan mereka,” ucap Selatan dingin, yang langsung dihadiahi anggukan setuju dari Marco.
“Baiklah, kita mulai dari kasus istrinya terlebih dahulu. Mari kita lihat berita yang akan meledak besok pagi,” ujar Utara menyunggingkan sebuah seringaian licik yang teramat tajam.
***
Keesokan harinya, hari Minggu pagi di mansion keluarga Wicaksono sudah ramai oleh pekikan kesal Anaya yang sejak tadi terus-menerus dijahili oleh Marco.
“Abanggg! Siniin buku Naya! Naya mau baca dongengnya!” teriak Anaya lantang sembari melompat-lompat kecil di depan Marco, berusaha menggapai buku cerita bergambar yang sengaja diangkat tinggi-tinggi oleh pemuda itu.
“Ambil dong, Cil. Abang kan berdiri di sini, tidak ke mana-mana,” ucap Marco sambil terkekeh puas melihat tubuh mungil adiknya yang kesusahan.
“Ishhh... Naya tidak like Abang banyak-banyak! Naya mau sama Abang Vel saja!” ketus Anaya dengan muka ditekuk lucu.
Ia langsung berbalik arah, mengabaikan Marco yang masih tertawa, lalu berjalan tergesa-gesa mendekati Marvel yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah sembari memegang ponsel di tangannya.
Bruk.
Tanpa aba-aba, Anaya langsung mendudukkan diri begitu saja di atas pangkuan Marvel. Marvel yang sedang fokus menatap layar ponselnya seketika dibuat terkejut oleh pendaratan tiba-tiba dari si bocil.
“Kenapa, hm?” tanya Marvel melembutkan suaranya, tangannya refleks melingkar di pinggang Naya agar tidak terjatuh.
“Naya benci Abang Marco! Abang Marco nakal!” adunya langsung sembari mengerucutkan bibir tembamnya dengan sangat menggemaskan.
Marvel yang melihat raut wajah kesal adiknya hanya bisa terkekeh geli. “Memangnya Abang Marco berbuat apa lagi, Sayang?” tanyanya memancing.
“Abang ambil buku adek, sebelll!” ucap Naya sembari bersedekap dada dan membuang muka, menandakan bahwa ia sedang merajuk tingkat tinggi.
“Adek... ini bukunya Abang kembalikan,” ucap Marco yang tiba-tiba datang menghampiri sofa karena menyadari adik kecilnya itu sudah benar-benar meradang.
“Hemm!” dengus Naya keras, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan mata yang ditutup rapat.
‘Mampus, ngambek beneran nih bocil,’ batin Marco mulai panik sendiri.
“Ini, Abang kembalikan beneran bukunya. Maaf, ya?” bujuk Marco lagi sembari menyodorkan buku dongeng tersebut ke depan wajah Naya.
Namun, Naya tetap pada pendiriannya; ia sama sekali tidak mau memaafkan Marco begitu saja. Melihat Marco yang tidak juga pergi menjauh, Naya bangkit dari pangkuan Marvel, lalu berjalan kecil mendekati sofa utama tempat Oma Silya sedang duduk bersantai.
“Omaaa...” panggil Naya manja, lalu merebahkan kepala mungilnya yang berbau bedak bayi di atas paha Oma Silya, mencari perlindungan ekstra dari kejahilan abangnya.
“Bujuklah Princess, Marco. Itu salahmu karena terus-menerus menjahilinya sejak tadi pagi,” ucap Marvel menatap sepupunya datar.
“Kau tahu sendiri, kan, kalau membujuk Princess yang sedang merajuk itu bukan hal yang mudah?” lanjut Marvel mengingatkan.
Mendengar ucapan Marvel, kedua bahu Marco seketika merosot pasrah. Ia mendadak lemas membayangkan bagaimana caranya agar dimaafkan oleh si bocil kematian.
Namun di saat yang bersamaan, di layar televisi besar ruang tengah serta portal berita internet, sebuah berita menggemparkan mencuat ke permukaan. Berita mengenai skandal seks bebas dan perselingkuhan berulang yang melibatkan Nyonya Prita dari keluarga Bramantio langsung naik menjadi trending topic nomor satu di seluruh Indonesia.
Dampak dari mencuatnya skandal menjijikkan itu seketika membuat nilai harga saham perusahaan Bramantio Group merosot tajam hingga ke titik terendah dalam hitungan menit.
Melihat tayangan berita utama tersebut, para tetua keluarga Wicaksono—Opa Darwin dan Hendra—langsung melirik penuh arti ke arah si kembar dan Marco.
Mereka tahu pasti bahwa ini adalah perbuatan anak-anak muda itu. Bagaimanapun juga, Utara dan Selatan adalah ahli IT tingkat internasional yang kemampuannya tidak boleh diremehkan.
Sangat salah besar jika ada musuh yang nekat membuat masalah dengan keluarga Wicaksono, karena ujung-ujungnya pasti akan dihancurkan tanpa sisa.
***
Di tempat lain, di dalam kediaman keluarga Bramantio. Tuan Seno baru saja mendapatkan laporan darurat dari asisten pribadinya melalui telepon mengenai merosotnya harga saham perusahaan secara drastis akibat skandal menjijikkan sang istri.
Pria paruh baya itu seketika dikuasai oleh kemurkaan yang teramat luar biasa hingga matanya memerah.
Dengan perasaan emosi yang menggebu-gebu, Tuan Seno pulang ke mansion-nya. Dengan langkah kasar, lalu langsung menerobos masuk menemui istrinya yang sedang bersantai di ruang tengah.
“Dasar wanita bodoh! Sudah kukatakan berulang kali untuk selalu berhati-hati jika ingin bermain di luar, hah?!” murka Tuan Seno lantang, suaranya menggelegar dipenuhi urat leher yang menegang.
“Apa sih, Pah?! Datang-datang langsung marah tidak jelas begitu! Bikin pusing saja!” sahut Nyonya Prita ikut terpancing emosi, tidak terima dibentak pagi-pagi.
“Apa katamu?! Apa otakmu itu sudah tidak kau pakai dengan benar, hah?! Apa kau sama sekali belum melihat berita utama hari ini mengenai skandal menjijikkanmu yang bermain gila dengan banyak laki-laki di hotel?!” raung Tuan Seno, melemparkan tablet pintarnya tepat ke atas meja.
Mendengar kata 'skandal' disebut oleh suaminya, Nyonya Prita seketika tersentak kaget bukan main. Ia memang belum sempat membuka ponsel atau melihat berita hari ini karena sejak pagi sudah sibuk mengobrol via telepon dengan teman-teman sosialitanya.
“Apa maksudmu dengan skandal? Berita apa?!” tanya Nyonya Prita menuntut kejelasan dengan wajah yang mulai memucat.
“Kau lihat saja sendiri berita utama di internet! Kelakuan jalangmu itu sungguh membuat nama baikku menjijikkan di mata publik!” maki Tuan Seno kasar.
Nyonya Prita yang melihat foto-foto syurnya terpampang jelas di layar tablet langsung meradang panik.
Namun, rasa angkuhnya menolak untuk disalahkan. “Apa kau tidak berkaca, Pa?! Kau sendiri juga sudah banyak melecehkan karyawan wanitamu di kantor hingga ada yang hamil dan mati bunuh diri! Apa kau lupa, hah?!” teriak Nyonya Prita mengungkit masa lalu suaminya.
“Sekarang apa susahnya kau hapus saja berita tidak bermutu itu dari internet?! Kau kan punya banyak uang! Lakukan saja seperti biasa, bayar orang untuk menutup mulut media!” seru Nyonya Prita dengan sangat tidak tahu dirinya.
Plak!
Suara hantaman tamparan yang teramat keras bergema nyaring di dalam ruang tengah mansion Bramantio. Tamparan kuat dari telapak tangan Tuan Seno mendarat telak di wajah sang istri hingga membuat tubuh Nyonya Prita tersungkur ke atas sofa dengan sudut bibir yang pecah mengeluarkan darah.
“Otakmu itu benar-benar tidak bisa kau gunakan untuk berpikir, hah?! Apa katamu?! Menghapus beritanya dengan menggunakan uang?! Kau pikir itu mudah?!” murka Tuan Seno, napasnya memburu menatap tajam istrinya.
“Uang dari mana lagi yang mau kupakai untuk menutup skandal menjijikkanmu itu, Prita?!”
Nyonya Prita tertegun kaku sembari memegangi pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan barusan.
Rasa syok melingkupi benaknya. Lalu... apa maksud dari perkataan suaminya tadi? Uang dari mana? Apakah bisnis suaminya sedang mengalami kolaps hebat gara-gara skandal dirinya?
Tidak!
Wanita sosialita itu seketika dirundung ketakutan yang luar biasa. Dia tidak akan pernah mau hidup susah, dan dia sama sekali tidak mau jatuh miskin.
“Apa... apa maksudmu dengan uang dari mana, Pa?” tanya Prita dengan suara yang mendadak bergetar ketakutan.
“Kau pikir dengan mencuatnya skandal menjijikkanmu itu tidak akan berdampak pada kelangsungan bisnisku, dasar wanita bodoh?! Seluruh saham kita hancur lebur hari ini!” maki Tuan Seno frustrasi, menjambak rambutnya sendiri karena stres.
“Papa... aku tidak mau hidup miskin! Lakukan apa pun, Pa, agar hidup kita tetap mewah seperti ini! Kalau kita miskin, apa yang akan dikatakan oleh teman-teman sosialitaku nanti? Mau ditaruh di mana mukaku, Pa?!” ucap Prita histeris dengan keegoisan yang teramat tidak tahu diri, sama sekali belum menyadari bahwa badai kehancuran yang sesungguhnya baru saja dimulai oleh pergerakan tiga pemuda Wicaksono.
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 27..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
ayo cil kerjain abangmu ngambek dua hari kalau ga ya satu Minggu 😂
si Utara dan Selatan masa ga ngeh yah dia ahli segala ahli