Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan lagi rumah
"Beneran nggak mau nginap aja? Babynya pasti kangen sama Buna," ujar Alya ketika mengantar Adrina ke depan kontrakan.
Mantan adik iparnya tersebut berpamitan untuk kembali ke Jakarta, padahal rasanya Alya masih ingin berlama-lama dengan gadis manja tersebut.
"Besok ada kelas, Jemian juga masuk kerja Mbak," jawabnya dengan sudut bibir melengkuk ke bawah. "Kangen mah masih, apalagi babynya gemesin."
"Nanti mampir lagi kalau ada waktu Mbak. Dan semoga mampirnya pas acara gitu deh," celetuk Jemian menyengol lengan masnya.
"Ya sudah hati-hati di jalan, dan mbak minta tolong banget ya soal yang tadi itu."
"Aman Mbak, aku nggak mungkin bocor kok." Adrina menaikkan jempolnya sebelum masuk ke mobil.
Alya menghela napas panjang setelah mobil Jemian menghilang dari pandangannya. Dia melirik Dipta yang masih setia berdiri tepat di sampingnya.
"Tadi sempat bicarain nama ya buat bayi kamu? Udah dapat?"
"Iya, dikasih saran nama Aryan Ardana, sama Adrina. Menurut mas bagaimana?"
"Aduh jadi merasa penting ditanyain babynya." Dipta mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, bahkan telinganya sampai memerah padahal Alya hanya meminta pendapat, bukan menerima cintanya.
"Bagus, Aryan bukannya singkatan Adrian-Alya ya? Ardana marga mantan suami kamu."
Benar, Alya baru ngeh nama yang disarankan oleh Adrina adalah singkatan untuknya dan dia baru teringat satu hal.
Alya langsung merogoh saku dasternya dan melihat chat dari mantan suaminya.
Selamat untuk lahirnya bayi kita. Maaf karena nggak bisa menemanimu, karena mas tahu keberadaan mas hanya akan menyakitimu.
Kamu berhak atas bayi kita, tapi apakah mas bisa memberi saran nama untukmu?
Aryan Ardana, seenggaknya masih ada nama mas.
Alya mengerjap pelan membaca pesan yang sudah lewat beberapa hari itu.
"Saya akan menamainya Aryan, tapi nggak mau pakai marganya," guman Alya.
"Ya sudah pakai Nugraha saja dibelakangnya, siapa tau kan ayah sambungnya punya marga Nugraha," celetuk Dipta.
"Bukannya itu marganya mas?" Alya menatap Pradipta, sungguh lehernya sering kali sakit ketika dia dan Dipta berdekatan.
Alya yang selalu berbicara sambil menatap mata lawan bicaranya, kesusahan jika bersama Dipta yang tingginya bisa dikatakan lumayan. Dia hanya sebatas dada pria itu.
"Leher kamu sakit?"
"Huh?"
Dipta mengulas senyum, sepertinya dia berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Segera dia melebarkan kakinya hingga tingginya sama dengan Alya.
"Kalau begini sudah aman?"
"Mas ngejek saya pendek?"
"Nggak."
"Saya nggak pendek, saya kurang tinggi aja."
Dan lepas juga tawa yang sejak tadi Dipta tahan melihat wajah ditekuk Alya. Wanita yang baru saja melahirkan itu semakin tampak mengemaskan dimatanya.
"Iya saya tahu," balas Dipta dengan sisa tawanya.
"Dek." Dipta meraih tangan Alya yang hendak meninggalkan parkiran kontrakan. "Ibumu serius nggak suka sama saya?"
"Ibu bukan nggak suka Mas, tapi ibu takut apa yang terjadi pada saya terulang lagi."
"Kalau kamu gimana?"
"Apanya?" tanya Alya.
"Kamu takut memulai lagi?"
"Iya."
Dan Dipta pun melepaskan cekalan tangannya. Ternyata benar kata Arkana, meluluhkan wanita yang hatinya berantakan itu sangat sulit.
Dengan cara apalagi dia bisa meluluhkan hati Alya? Meyakinkan bahwa tidak semua pria sama. Dia berbeda dan dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat wanita itu menangis lagi.
***
Sejak lahirnya sang putra, mood Adrian tidak pernah baik jika berbicara dengan Safira. Apalagi jika wanita itu terus membicarakan soal kehamilan atau menuntutnya ini itu agar segera memiliki anak.
"Berhenti membuatku muak Safira! Kalau memang nggak bisa hamil nggak usah terlalu dipaksakan!" bentak Adrian yang sudah hilang kesebaran.
Setiap pulang kerja, dia disambut dengan ocehan Safira yang memekakkan telinga. Keluhan dirumah akan sikap keluarganya, mempersalahkan dirinya yang kadang lupa mengabari atau menuduhkan selingkuh, hanya karena teman-temannya melihat Adrian bersama wanita di restoran atau cafe.
Padahal sesimpel, Safira bertanya baik-baik ... kenapa dia bisa bersama seorang wanita tidak akan membuatnya marah.
"Tapi papa terus mendesakku untuk segera hamil. Katanya aku harus hamil tahun ini."
"Lalu kau mau apa? Mendahului kehendak Tuhan demi obsesimu itu? Nggak bisakah kita hidup tenang tanpa adanya pembahasan anak dan anak?" Jujur saja, Adrian benar-benar muak.
Sejak menikah dengan Safira, dia tidak pernah menemukan bahagianya lagi di rumah. Semuanya seolah neraka. Dia bahkan kadang enggang pulang meski tidak punya pekerjaan di kantor.
.
.
.
Hari ini upnya dikit dulu ya.
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya