Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan cinta yang tidak disadari
Berulang kali Safira membuang napasnya dengan kasar sembari memandangi pantulan wajahnya pada cermin kamar mandi yang berada di mall tersebut.
Darahnya mendidih dan dia tidak bisa melampiaskannya pada siapapun sebab Adrian melarangnya mengusik Alya.
"Kenapa sih dia selalu beruntung dalam segala hal?" gerutu Safira yang mulai iri dengan kehidupan Alya.
"Dulu, dia mendapatkan Adrian dengan mudahnya padahal aku yang mencintainya. Sekarang, memiliki hubungan bersama CEO Golden Promise."
Safira terus mengerutu dan mencuci tangannya berulang kali. Dia yang tidak begitu mempunyai nama di industri ini, sangat ingin masuk ke Goldan Promise. Dia pernah melamar disana tetapi ditolak dengan alasan sudah penuh.
Wanita itu merapikan rambutnya dan keluar dari kamar mandi. Berjalan dengan wajah arogan menghampiri Adrian yang sedang berbicara bersama rekan kerja yang kebetulan bertemu.
"Mas lama menungguku?" tanyanya langsung mengamit lengan Adrian dan tersenyum pada kolega bisnis suaminya.
"Pak Adrian kau sungguh berani bermain api," ujar kolega bisnis Adrian dengan senyum jenaka. "Apa nggak takut ketahuan istrimu? Tadi saya melihatnya disekitar sini."
"Kita bicara nanti." Adrian hanya tersenyum dan membawa Safira pergi.
Padahal seharusnya pria itu meluruskan kesalahapaham kolegnya dengan memperkenalkan Safira sebagai istri, bukan terkesan sedang liburan bersama selingkuhan.
Tingkah Adrian jelas membuat senyuman Safira memudar, amarahnya kembali di permainkan tetapi dia tidak berani berdebat setelah apa yang Adrian lalukan dibawah tangga darurat.
Alih-alih jalan-jalan Safira memilih kembali ke kamar hotel dan menghamburkan apa yang ada dihadapannya. Dia kesal karena statusnya masih belum jelas seperti ini.
"Harusnya kamu nggak hamil Alya!" teriaknya dengan mata berkaca-kaca.
Sedangkan yang menjadi penyebab suasana hati Safira buruk, sedang tersenyum bahagia berkat dukungan orang-orang baik di sekitarnya.
"Terimakasih sudah menemani saya berbelanja," ujar Alya ketika Pradipta dan Arkana mengantarkan belanjaan sampai di depan rumah.
"Saya yang berterimakasih sebab mau menemani jalan-jalan. Dan ini untukmu." Dipta memberikan paper bag yang sudah sejak lama dia genggam. "Semoga kamu menyukainya." Setelah mengucapkan itu Dipta dan Arkana akhirnya pulang dengan mobil yang berbeda.
Kini Sena dan Alya mulai sibuk membongkar barang belanjaan setelah istirahat beberapa menit.
"Aku nggak keberatan kalau mbak mau pakai kamar depan untuk bayi mbak nantinya."
"Jangan, itu kamar kamu. Lagian aku juga tidur sendiri kok," ujar Alya. "Semuanya dikamarku saja."
"Oke Mbak."
Sena pun bergegas memindahkan barang ke kamar Alya. Merapikannya entah itu box bayi, pakaian dan perlengkapan lainnya.
"Mbak ini belum dibuka." Sena mengangkat paper bag pemberian Dipta tadi.
"Oh iya aku lupa." Alya kembali duduk dan memeriksa isinya.
Sebuah preserved rose, bunga mawar asli yang diawetkan menggunakan teknik khusus sehingga tetap terlihat segar dan indah dalam waktu yang sangat lama. Dan Dipta memberikannya dalam kubah kaca yang bisa dipandangi setiap hari.
Alya tersenyum, dia suka mawar merah tetapi tidak pernah membelinya dengan alasan, sayang bunga itu akan layu dan dia tidak ingin melihatnya. Dia tidak pernah terpikirkan membeli preserved rose dalam kubah kaca, dimana ia tidak perlu melihat proses layunya dan bisa dipandangi setiap hari.
Dan Alya menemukan kertas nota dalam kotak tersebut.
Saya berharap hadiah kecil ini bisa menemanimu di hari-hari yang sibuk. Terima kasih sudah menjadi seseorang yang selalu membuat saya tersenyum.
"Uwu romantis banget sih pak Dipta. Ngasih bunga yang nggak bakalan layu kayak hatinya," celetuk Sena.
"Apa sih kamu ini." Alya memasukkannya ke paper bag dan meminta tolong pada Sena untuk membereskan bekas barang mereka di ruang tamu.
Dia membawa preserved rose dalam kubah kaca itu ke kamar dan meletakkannya di atas nakas. Lalu mengambil gambar dan mengirimkannya pada Dipta.
Terimakasih untuk preserved rosenya, sangat cantik. Saya nggak pernah kepikiran, tapi mas selalu punya pemikiran yang jauh berbeda.
Sama-sama
Mas sudah sampai rumah
Belum, masih dijalan ini.
Oke kalau begitu mas fokus menyetir saja, terimakasih sekali lagi. Dan saya senang jika kehadiran saya bisa membuat orang lain tersenyum.
Dipta menghela napas membaca pesan terakhir yang Alya kirimkan. Isi kertas note yang dia sampaikan sepertinya belum sampai ke hati Alya sehingga pemikirannya seperti ini.
"Kamu benar nggak menyadarinya atau memang nggak ada rasa sama saya, Al?" gumam Dipta dengan wajah cemberutnya.
Padahal dia sengaja membeli bunga itu untuk Alya. Selain karena tadi melihat Alya memandangi bunga mawar dan tidak kunjung membeli, ia ingin mengatakan bahwa cintanya bisa seperti preserved rose, tidak mudah layu apalagi dirawat dengan baik.
"Sabar Dipta, kata Arka, sulit meluluhkan seseorang yang hatinya berantakan," ujarnya mengelus dada.
Ia membanting setir kemudi memasuki gedung apartemen, memarkir mobilnya dengan rapi.
Di Bandung, Dipta tidak memiliki rumah. Dia hanya punya apartemen yang tidak jauh dari perusahaan yang di bangunnya dari nol. Berumbuh berkat warisan kasih sayang, dukungan dari orang tuanya.
Dipta memiliki rumah di jakarta tetapi untuk orang tuanya.
***
"Aku kangen banget sama kak Alya, tapi nggak tau dia dimana," lirih Adrina yang menyadarkan kepalanya pada sang kekasih. "Aku udah malas pulang ke rumah tuh sejak kak Safira ada di sana."
"Kadang memang apa yang menjadi keinginan kita nggak semuanya berjalan lancar."
"Kangen banget." Adrina melengkungkan sudut bibirnya ke bawah.
"Aku tau dimana kakak iparmu."
"Huh?" Mata Adrina membola. Ada secerca harapan untuknya.
"Aku pernah melihatnya di ponsel seseorang."
"Benarkah? Dimana kamu melihatnya dan ponsel siapa itu?"
"Tapi kamu bisa janji nggak memberitahu siapapun tentang keberadaan Alya? Kata masku, dia sudah cukup menderita karena kehidupan masa lalunya."
"Aku janji nggak akan memberitahu siapapun terumasuk papa dan mas Adrian. Aku nggak sejahat itu membiarkan kak Alya menderita." Adrina tersenyum lebar. Dia langsung memeluk kekasihnya dan mendaratkan kecupan dipipi berulang kali.
"Tapi tunggu, katanya ada di ponsel masmu. Kok bisa?" Adrina menatap penuh curiga pada kekasihnya.
"Mana aku tau Sayang, yang pastinya tuh aku sempat liat fotonya di ponsel masku. Kayaknya mereka dekat." Jemian mengelengkan kepalanya. "Bukan deket kayaknya, tapi masku suka sama iparmu tuh."
"Masmu sekarang dimana? Bukannya kamu anak tunggal ya?"
"Sepupu Sayang, dan sekarang menetap di Bandung, punya usaha di sana."
"Aku mau ke Bandung sekarang. Antar aku pulang." Adrina langsung berdiri tetapi tangannya dicekal oleh Jemian.
"Sabar, besok kamu ujian, jangan ngadi-ngadi deh."
"Ouh iya." Adrina menyengir, dia sampai lupa ada hal yang lebih penting daripada menemui kakak iparnya.
Alhasil, Adrina kembali duduk dan menikmati waktu senggang dengan sang kekasih yang selalu sibuk.
"Masmu baik nggak?"
"Baik."
"Takutnya kak Alya ketemu cowok brsengsek kayak masku lagi."
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
makin besar kepala aja diaa....