NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan bersalah yang mulai memudar

Drrt... Drrt...

​Ponsel Tyas yang diletakkan di dasbor mobil mendadak bergetar kencang, memecah keheningan kabin. Tyas melirik sekilas dengan jantung yang langsung berdesir hebat saat melihat nama 'Mbak Rani' berkedip di layar.

​Tyas menepikan mobilnya sejenak ke bahu jalan yang agak sepi. Ia mengatur napasnya yang masih memburu, mencoba meredakan rasa syok akibat insiden pencekikan di basemen mall tadi. Setelah berdeham beberapa kali agar suaranya tidak terdengar bergetar, Tyas menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

​"Halo, Mbak Rani," sapa Tyas, berusaha sekuat tenaga terdengar ceria dan biasa saja.

​"Halo, Tyas! Kamu lagi di mana, Dek? Kedengarannya kok agak bising?" suara Rani terdengar renyah dan penuh perhatian dari seberang telepon.

​"Ini... Tyas lagi di jalan mau pulang ke rumah, Mbak. Tadi habis dari mall sebentar, beli beberapa perlengkapan buat persiapan kuliah nanti," jawab Tyas berbohong. Tangannya yang bebas meraba lehernya sendiri yang masih terasa perih.

​"Oh, syukurlah kalau kamu sudah bisa jalan-jalan. Gimana perutmu? Tadi Mas Angga bilang kamu sudah baikan, tapi Mbak masih kepikiran terus dari siang," tanya Rani dengan nada cemas seorang kakak yang begitu tulus. "Uang yang Mbak titip ke Mas Angga sudah ditransfer, kan? Cukup enggak buat belanja?"

​Mendengar perhatian kakaknya yang begitu besar, rasa bersalah yang sempat terkikis kini kembali menghantam dada Tyas dengan telak. Mbak Rani begitu tulus menyayanginya, sementara dia baru saja mengkhianati kakaknya di ranjang rumah mereka sendiri.

​Tyas menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. "S-sudah kok, Mbak. Uangnya lebih dari cukup. Perut Tyas juga sudah enggak apa-apa, sudah sembuh."

​"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut-ngebut pakai mobil Mbak. Mas Angga sudah di rumah belum? Tadi Mbak telepon dia tapi nomornya lagi sibuk terus."

​Pertanyaan itu membuat Tyas membeku sejenak. "Mungkin Mas Angga masih di bank, Mbak. Tadi pamitnya ada urusan kerjaan sebentar."

​"Oh, ya sudah. Nanti kalau kamu sudah sampai rumah dan Mas Angga sudah pulang, jangan lupa kunci pintu pagar ya. Lusa Mbak sudah pulang kok, jangan kangen ya! Mbak tutup dulu, mau masuk ruang rapat lagi. Bye Tyas sayang!"

​"Iya, Mbak... bye," bisik Tyas lirih sebelum sambungan telepon itu terputus.

​Tyas menurunkan ponselnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi dengan lemas. Air mata bersalah kembali mengalir dari sudut matanya. Di satu sisi, dia merasa sangat berdosa pada Mbak Rani yang begitu baik. Namun di sisi lain, bayangan lehernya yang dicekik Satya dan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh Angga membuat Tyas sadar, dia sudah terjerumus terlalu dalam ke dalam lingkaran setan ini.

​Dengan tekad yang bulat namun pahit, Tyas kembali menginjak pedal gas, melajukan mobilnya pulang untuk menemui pria yang kini menjadi pelindung sekaligus penghancur moralitasnya.

Mobil SUV putih milik Mbak Rani perlahan memasuki pekarangan rumah. Begitu mesin dimatikan, Tyas mengedarkan pandangan ke garasi. Kosong. Ternyata Mas Angga belum pulang dari bank.

​Rasa cemas kembali merayapi dada Tyas. Bayangan wajah kalap Satya di basemen mall tadi terus berputar di kepalanya. Tanpa membuang waktu, Tyas langsung turun dari mobil, membawa kantong belanjaannya, lalu bergegas menutup gerbang besi rumah rapat-rapat dan menggemboknya dari dalam.

​Ia berlari kecil menuju pintu utama, masuk ke dalam rumah, dan segera memutar kunci pintu dua kali hingga terdengar suara klik yang mantap. Tidak lupa, ia juga memeriksa seluruh selot jendela di lantai bawah. Tyas benar-benar ketakutan jika Satya nekat membuntutinya hingga ke rumah ini.

​Setelah merasa kondisi rumah cukup aman, Tyas berjalan menuju kamarnya. Ia meletakkan barang belanjaan di atas kasur, lalu mengempaskan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Lehernya masih terasa sedikit perih, dan perutnya mendadak terasa keroncongan karena ketegangan yang menguras energinya sejak siang.

​Tyas meraih ponselnya. Melihat rumah yang sepi, ia merasa sangat membutuhkan kehadiran Angga. Untuk mencairkan suasana sekaligus memanjakan dirinya yang baru saja mengalami kejadian traumatis, Tyas membuka ruang obrolannya dengan sang kakak ipar.

​Dengan jemari yang kini sudah lebih tenang, ia mengetikkan pesan:

​"Mas Angga, masih di bank ya? Nanti kalau pulang, Tyas boleh nitip mie ayam sama martabak manis enggak? Sama sekalian cokelat batangan ya Mas di minimarket depan, lagi pengen yang manis-manis nih hehe. Makasih Mas, hati-hati di jalan ya."

​Tyas menekan tombol kirim. Ia sengaja menyelipkan nada manja dalam pesannya, mencoba mencari perhatian dari pria dewasa yang kini menjadi pelindungnya. Sembari menunggu balasan dari Angga, Tyas beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, bersiap menyambut kepulangan pria yang kini menguasai hati dan tubuhnya itu.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!