NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Skenario Halus Umi Untuk Memisahkan Kita

Skenario halus Umi untuk memisahkan kita mendadak terbongkar lewat selembar surat wasiat yayasan lama yang ditemukan Azzam di dalam laci meja kerja ibundanya saat keheningan malam mulai mencengkeram kompleks pesantren. Lembaran kertas yang mulai menguning itu secara nyata mencantumkan klausul pencabutan hak asuh penuh atas pengelolaan asrama putra apabila Azzam tetap mempertahankan wanita kota sebagai pendamping hidupnya. Kenyataan pahit ini seketika membuat dada sang ustaz muda bergemuruh hebat laksana dihantam badai gurun yang sangat kering dan meluluhlantakkan sisa sisa keyakinannya terhadap keadilan sang ibu. Di luar jendela, rintik hujan malam mulai membasahi dedaunan pohon mangga, menciptakan melodi kesunyian yang kian menambah kegetiran batin yang sedang bergejolak hebat.

Azzam mencengkeram pinggiran meja kayu jati dengan jemari tangan yang gemetar, menahan luapan emosi keduniawian yang selama ini ia tekan sedalam dalamnya. "Jadi selama ini seluruh tekanan batin yang menimpa istri saya adalah bagian dari rencana terstruktur untuk menyingkirkannya secara perlahan dari rumah ini."

"Umi melakukan semua itu demi menjaga kemurnian silsilah perjuangan para leluhur surau kita, Azzam," sahut Sarah yang tiba tiba sudah berdiri di ambang pintu masuk dengan sorot mata dingin yang menusuk.

"Perjuangan mulia tidak pernah membutuhkan kelicikan konspirasi untuk menyingkirkan seorang wanita shalihah yang tidak bersalah," tegas Azzam seraya membalikkan tubuhnya dengan tatapan mata yang berkilat tajam.

"Hana tidak akan pernah cocok dengan dunia kita, dia ditakdirkan untuk kemewahan kota yang semu," ketus Sarah sambil melangkah maju mendekati meja kerja.

Sarah mencoba meraih lembaran kertas wasiat tersebut dari tangan Azzam, namun sang ustaz muda dengan gerakan cepat segera menjauhkannya ke dalam saku jubah abu tuanya. Sifat oportunis yang ditunjukkan oleh wanita itu semakin memperjelas peta konflik domestik yang selama ini menggerogoti keharmonisan rumah tangga yang baru berumur jagung tersebut. Azzam memandang Sarah dengan rasa muak yang mendalam, sebuah ekspresi ketegasan yang belum pernah ia perlihatkan selama puluhan tahun menetap di lingkungan suci tersebut. Ketegangan psikologis di dalam ruangan itu kian memuncak sewaktu pengeras suara dari ruang rawat utama ibundanya mendadak berbunyi nyaring menandakan adanya panggilan darurat medis.

Sementara itu, di dalam ruang tengah ruko pertokoan kota besar yang diterangi lampu temaram, Hana sedang duduk bersila menghadapi tumpukan nota keuangan butiknya yang baru. Fokus pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada deretan angka nominal modal usaha, melainkan pada gema ucapan dingin Azzam saat kunjungan mendadak siang tadi di halaman depan. Luka batin yang ditorehkan oleh keluarga besar suaminya terasa kian perih sewaktu ia menyadari bahwa dirinya kini benar benar berjuang sebatang kara tanpa perlindungan seorang lelaki sah. Desau angin malam pertokoan yang menyelinap masuk lewat celah ventilasi udara seolah berbisik mengenai ancaman pemutusan pasokan kain yang sempat dilontarkan oleh santri utusan yayasan.

"Neng Hana, sebaiknya Anda segera beristirahat karena besok pagi kita harus menghadiri pertemuan dengan asosiasi perancang busana muslimah daerah," tegur sang asisten butik yang baru selesai mengunci pintu belakang ruko.

Hana menghela napas panjang, menutup buku laporan bersampul kulit hitam itu dengan gerakan tangan yang tampak sangat lunglai penuh kelelahan. "Saya belum bisa memejamkan mata, Neti, ada rasa cemas yang terus mengganjal di dalam dada saya mengenai kelangsungan bisnis mandiri ini."

"Tuhan tidak akan pernah tidur, Neng, kesabaran Anda selama ini pasti akan membuahkan berkah kesuksesan yang melimpah," hibur Neti seraya meletakkan secangkir teh herbal hangat di atas meja.

"Terima kasih, Neti, kesetiaanmu menemani saya di ruko sepi ini adalah kekuatan terbesar yang saya miliki saat ini," ucap Hana dengan senyuman tulus yang dipaksakan.

Keheningan malam kota besar kembali menyelimuti kamar atas, memaksa Hana untuk kembali merenungi nasib status pernikahannya yang kini terkatung katung tanpa kepastian hukum yang jelas. Ia mengambil gawai digitalnya, memandangi foto profil pernikahan mereka yang sengaja belum ia hapus sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap komitmen masa lalu. Rasa rindu yang sempat tebersit seketika sirna digantikan oleh benteng keangkuhan pertahanan diri yang kokoh sewaktu ingatan tentang tamparan kata kata Umi Kalsum kembali membakar memorinya. Dengan tekad yang sudah bulat laksana karang di lautan luas, Hana meletakkan gawai tersebut lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa berniat mengirimkan pesan apa pun kepada suaminya.

Kembali ke koridor rumah sakit daerah yang diliputi atmosfer kecemasan, Azzam tampak berjalan tergesa gesa mendampingi brankar medis Umi Kalsum yang sedang dipindahkan ke ruang tindakan intensif sekunder. Dokter spesialis jantung yang menangani wanita tua itu menggelengkan kepala prihatin melihat grafik detak nadi yang tertera pada layar monitor digital yang bergerak naik turun tidak stabil. Sarah mengikuti dari belakang dengan raut muka yang dibuat sedih, meskipun isi kepalanya sibuk memikirkan cara agar surat wasiat yayasan tadi tidak tersebar ke pengurus senior lainnya. Azzam merasakan beban moral yang teramat berat menghimpit pundaknya, menyadari bahwa kondisi kritis sang ibu adalah buah dari akumulasi kedengkian hati yang tak kunjung padam.

"Ustaz Azzam, kami membutuhkan persetujuan tindakan medis pembedahan darurat malam ini juga untuk menyelamatkan jiwa ibunda Anda," ujar dokter spesialis itu sambil menyodorkan selembar formulir bermaterai resmi.

Azzam menatap lembaran kertas dokumen medis itu dengan pandangan mata yang berkaca kaca menahan haru sekaligus kebimbangan spiritual yang mendalam. "Lakukan apa saja yang terbaik yang bisa menyembuhkan penderitaan fisik Umi saya, Dokter, saya akan bertanggung jawab penuh atas seluruh biayanya."

"Namun, Ustaz, biaya jaminan deposit untuk ruang tindakan khusus ini harus diselesaikan dalam waktu dua jam ke depan," tambah petugas administrasi yang berdiri di sebelah dokter.

"Gunakan seluruh dana simpanan pribadi saya yang ada di rekening tabungan operasional yayasan untuk keperluan darurat ini," tegas Azzam tanpa keraguan sedikit pun.

Mendengar keputusan Azzam, Sarah mendadak memotong percakapan dengan nada suara panik yang tidak mampu ia sembunyikan lagi di hadapan tim medis rumah sakit. "Azzam, dana yayasan itu sudah dialokasikan sepenuhnya untuk pembelian tanah wakaf baru milik keluarga saya, kamu tidak bisa mengubahnya sepihak."

"Nyawa ibu saya jauh lebih berharga daripada urusan bisnis tanah wakaf yang penuh dengan kebusukan manipulasi modal tersebut, Sarah," bentak Azzam dengan suara rendah namun sarat akan tekanan kemarahan mutlak.

Sarah terdiam seribu bahasa dengan wajah yang memucat seketika, menyadari bahwa pesona manipulasinya kini benar benar sudah kehilangan taring di depan ketegasan sang ustaz muda. Azzam segera menandatangani berkas persetujuan medis tersebut menggunakan pena tinta hitam dengan jemari tangan yang mantap, melepaskan keterikatan batin dari ketakutan akan kehilangan jabatan duniawi. Setelah tim dokter masuk ke dalam ruang bedah yang steril, Azzam duduk bersimpuh di atas lantai ubin rumah sakit yang dingin, melantunkan bait doa memohon keselamatan bagi ibundanya sekaligus petunjuk keadilan bagi rumah tangganya yang retak. Kesendirian malam itu menjadi saksi bisu transformasi batin seorang pemimpin pesantren yang akhirnya berani berdiri tegak di atas kaki sendiri demi menegakkan kebenaran syariat.

Di seberang jalan pertokoan kota, fajar menyembul di balik gedung gedung tinggi, membawa kesibukan baru bagi Hana yang sudah bersiap membuka pintu gerbang besi butiknya. Saat ia melangkah ke area ruang pajang utama, pandangan matanya tertuju pada sesosok wanita anggun berpakaian muslimah hijau mewah yang sudah berdiri menunggu di balik pintu kaca depan. Jantung Hana berdenyut kencang sewaktu mengenali wajah tamu istimewa tersebut yang ternyata adalah Sarah, sang rival utama yang selama ini menjadi duri dalam daging pernikahannya. Kedatangan Sarah yang tanpa pemberitahuan formal ini jelas membawa agenda konspirasi baru yang sengaja dirancang untuk kembali menguji batas maksimal kesabaran sang wanita kota.

Hana membuka kunci pintu kaca perlahan, menatap tamunya dengan tatapan dingin tanpa ada rasa takut sedikit pun terpancar dari wajah ayunya yang tegar.

"Untuk apa lagi Anda datang mengotori halaman toko saya yang tenang ini, Sarah?" tanya Hana dengan nada suara datar yang menusuk kalbu.

Sarah melangkah masuk tanpa diundang, mengedarkan pandangan mata meremehkan ke sekeliling ruangan pamer busana muslimah milik Hana dengan senyuman sinis. "Saya datang untuk mengantarkan kabar gembira bahwa posisi istri sah di pesantren akan segera kosong setelah berkas gugatan cerai Azzam resmi diajukan ke pengadilan agama kota besok pagi."

"Jika hal itu benar terjadi, maka silakan ambil alih posisi tersebut karena saya tidak pernah sudi mempertahankan suami yang lemah," jawab Hana dengan kepala tegak penuh wibawa.

"Jangan berlagak sombong, Hana, karena Umi Kalsum sudah menyiapkan skenario pernikahan agung untuk kami berdua di aula utama yayasan," tantang Sarah seraya mendekatkan wajahnya ke arah Hana.

Pernyataan lugas dari mulut Sarah seketika melahirkan sebuah ketegangan suspense baru yang membuat atmosfer di dalam butik modern itu mendadak terasa sangat mencekam laksana ruang sidang. Hana mengepalkan kedua belah tangan di balik saku gaun panjangnya, mencoba menguasai gejolak amarah yang mulai membakar rongga dadanya akibat kelancangan wanita di hadapannya ini. Ia menyadari bahwa pertempuran harga diri ini tidak boleh ia menangkan dengan air mata kelemahan, melainkan dengan keteguhan sikap seorang pengusaha mandiri yang bermartabat mulia. Sebelum Hana sempat membalas ucapan keji tersebut, sesosok tubuh tegap Azzam mendadak muncul di ambang pintu masuk butik dengan membawa sebuah map berkas hukum bernuansa hukum adat.

Langkah kaki Azzam yang tergesa gesa langsung menghentikan gerakan konfrontasi Sarah yang seketika membalikkan badan dengan wajah yang dipenuhi rasa terkejut luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!