.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJARAN LIN YUE'ER
Sementara kereta mewah Ji Huang meluncur ke arah utara dengan keheningan yang agung, atmosfer di Ibu Kota Utama Kekaisaran Nan Gong justru sedang membara. Di depan gerbang Penginapan Awan Surgawi, seekor kuda putih berbulu sehalus salju berhenti dengan sentakan kencang, meringkik keras hingga memecah keheningan jalanan.
Di atas punggung kuda tersebut, duduk sesosok gadis remaja dengan jubah berburu warna merah marun yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang atletis namun tetap anggun. Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi model ekor kuda, bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Sepasang mata indahnya yang jernih menatap nanar ke arah paviliun penginapan yang sebagian dindingnya masih dalam proses perbaikan.
Gadis itu adalah Lin Yue'er.
Nona Muda dari Keluarga Lin yang legendaris, sekaligus tunangan resmi Ji Huang yang beberapa waktu lalu hampir saja membatalkan perjodohan karena mengira pemuda itu adalah sampah pemalas tak berbakat. Mari kita bedah biodata resmi dari si cantik yang sedang dilanda badai penasaran ini:
BIODATA RESMI NONA MUDA PERKASA
Nama Lengkap: Lin Yue'er (林月儿).
Umur: 19 Tahun (Sebaya dengan Ji Huang).
Ranah Kultivasi: Foundation Establishment Tingkat 1 (Jenius langka yang diakui oleh sekte besar di wilayah barat).
Status Kontrak: Tunangan resmi Ji Huang (dan saat ini memegang status sebagai "Kreditor Penasaran Nomor Satu").
Senjata Andalan: Pedang Bulan Sabit Merah (Senjata tingkat tinggi yang dialiri elemen api spiritual).
Kelebihan Eksklusif:
Deteksi Energi Akurat: Memiliki kompas spiritual warisan leluhur yang sanggup melacak sisa-sisa energi pedang murni dalam radius lima kilometer.
Harga Diri Setinggi Langit: Memiliki sifat keras kepala yang luar biasa. Baginya, diabaikan oleh seorang pria jauh lebih menyakitkan daripada terkena tebasan pedang musuh.
Kelemahan Tersembunyi: Gampang panik jika menghadapi situasi yang tidak masuk akal atau tidak logis menurut buku panduan kultivasi kuno.
Lin Yue'er melompat turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat lincah. Dia mengabaikan tatapan memuja dari para kultivator muda di sekitar jalanan, lalu melangkah lebar memasuki area paviliun yang hancur. Di dalam ruangan yang kosong itu, dia hanya menemukan beberapa pekerja bangunan fana yang sedang sibuk memasang kayu atap yang baru.
"Permisi," Lin Yue'er mencegat salah satu pekerja dengan wajah serius yang menawan. "Di mana pemuda yang menempati kamar ini kemarin? Tuan Muda Ji Huang?"
Pekerja itu langsung gemetaran, mengira gadis berbaju merah ini adalah musuh baru Ji Huang. "A-Anu, Nona... Tuan Muda Ji Huang sudah pergi sejak subuh tadi bersama pelayan perempuannya. Katanya... katanya mereka mau pergi ke wilayah utara untuk mencari angsa."
"Mencari angsa?!" Alis indah Lin Yue'er bertaut tajam. Alasan macam apa itu? Seorang pakar agung yang ditakuti seluruh kekaisaran pergi ke utara yang ekstrem hanya untuk mencari unggas fana?!
Yue'er berjalan menuju sudut ruangan yang belum dibersihkan. Di atas lantai marmer yang retak, matanya menangkap sesuatu yang berkilau kecil. Dia membungkuk, mengambil benda itu, dan seketika tubuh indahnya menegang sempurna.
Itu adalah sepotong tulang rawan bebek sisa makanan Ji Huang semalam.
Meskipun ukurannya sangat kecil dan tampak menjijikkan bagi nona muda bangsawan, Lin Yue'er bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa di dalam serat tulang kecil itu, masih tertinggal sisa-sisa Maksud Pedang yang teramat sangat padat, dingin, dan berwibawa—sebuah energi konseptual yang sanggup membuat Pedang Bulan Sabit Merah di pinggangnya bergetar ketakutan seolah-olah sedang menyembah rajanya.
"B-Benar... rumor itu benar..." Lin Yue'er bergumam dengan bibir yang sedikit bergetar, wajah cantiknya dipenuhi oleh rasa syok yang tak terbendung. "Dia mematahkan pedang pusaka Zhao Feng hanya dengan menyemburkan tulang sisa makanan ini... Bagaimana mungkin seseorang yang selama ini tidur belasan jam sehari di mansion kuno bisa memiliki tingkat Maksud Pedang setingkat Leluhur Purba?!"
Rasa penasaran yang selama ini bersarang di dadanya kini meledak menjadi obsesi yang membakar ego kejeniusannya. Lin Yue'er merasa seperti orang bodoh yang telah ditipu mentah-mentah. Selama ini dia mengira dirinya adalah pihak yang superior dalam hubungan perjodohan ini, namun kenyataannya, Ji Huang justru menganggap dirinya tidak lebih dari sekadar gangguan fana yang mengusik waktu tidurnya.
"Ji Huang... kamu benar-benar keterlaluan!" Lin Yue'er mengepalkan tangan halusnya, wajah cantiknya merona merah karena campuran rasa kesal dan gengsi yang luar biasa. "Berpura-pura menjadi sampah di depanku, lalu pergi bersenang-senang ke utara bersama pelayan perempuanmu itu?! Jangan harap kamu bisa kabur dariku!"
Lin Yue'er membalikkan badannya dengan cepat, jubah merahnya berkibar indah di udara. Dia melompat kembali ke atas punggung kuda putihnya, mengeluarkan sebuah kompas spiritual berbentuk rembulan dari dalam kantong penyimpanannya. Begitu kompas itu didekatkan ke sisa tulang bebek, jarum giok di dalamnya langsung berputar cepat, menunjuk lurus ke arah jalur perbatasan utara.
"Hyaaa!"
Yue'er memacu kudanya dengan kecepatan maksimal, membelah gerbang utara Ibu Kota bagaikan kilat merah. Nona Muda yang biasanya anggun dan tenang ini kini bertingkah seperti seorang detektif yang kehilangan buruannya. Dia bertekad bulat untuk mengejar kereta kuda Ji Huang, menuntut penjelasan langsung dari mulut pemuda pemalas itu, dan jika perlu... dia akan ikut menumpang di dalam kereta tersebut untuk memastikan bahwa janji perjodohan di antara mereka tidak dianggap angin lalu begitu saja oleh sang 'Kaisar Pedang Pemalas'.