NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Kuno, Piknik Mewah, dan Korban Salah Sasaran

​Hari yang paling ditakuti Ji Huang akhirnya tiba. Hari di mana dia terpaksa memisahkan punggungnya dari ranjang Giok Es demi sebuah kewajiban akademis yang menyebalkan.

​Lembah Hutan Kuno—wilayah perburuan terlarang yang dikelola akademi—hari ini dipenuhi oleh ribuan murid baru yang memakai zirah perang lengkap, membawa pedang pusaka, dan memasang wajah tegang siap bertaruh nyawa. Atmosfer kompetisi begitu pekat hingga burung-burung spiritual pun enggan melintas.

​Namun, di sudut jalur masuk Sayap Barat, pemandangan absurd menghentikan pergerakan semua orang.

​Ji Huang melangkah lempeng di atas rumput dengan sandal kayu pletag-pletog-nya. Alih-alih memakai baju zirah, dia tetap setia dengan jubah tidur longgar dan selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang melingkar malas di bahu. Di belakangnya, Xiao Mei berjalan anggun sembari menggendong keranjang piknik bambu berukuran raksasa dan menyeret sebuah kursi malas lipat.

​"Ji Huang!" Mu Ning’er yang bertugas sebagai pengawas gerbang hutan langsung menghadang jalan dengan wajah berkedut menahan malu. "Ini Turnamen Berburu Hutan Kuno tempat hidup dan mati! Mengapa pelayanmu membawa keranjang makanan dan... dan apa itu? Kursi lipat?!"

​"Instruktur Mu, turnamen ini berlangsung selama tiga hari," jawab Ji Huang polos, matanya masih merah karena kurang tidur akibat bangun kepagian. "Berjalan mencari binatang spiritual membutuhkan waktu lama. Jika aku lelah dan tidak ada tempat bersandar yang ergonomis untuk tulang belakangku, sirkulasi Qi-ku bisa mengalami depresi. Xiao Mei, ayo cepat masuk, udara di luar sini terlalu bising."

​Tanpa menunggu restu Ning’er, Ji Huang berjalan melewati gerbang pembatas formasi hutan, meninggalkan sang Instruktur Muda yang hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak pening.

​Begitu memasuki area dalam hutan yang lebat, alur turnamen yang bagi orang lain adalah neraka, bagi Ji Huang berubah menjadi liburan musim panas yang santai.

​Saat murid-murid lain sibuk berlari ketakutan dikejar oleh babi hutan bertaring besi atau mengendap-endap di semak-semak, Ji Huang justru memilih sebuah tebing berbatu yang teduh.

​"Xiao Mei, pasang kursinya di bawah pohon itu. Sudut kemiringan mataharinya sangat pas untuk menghalangi silau," perintah Ji Huang lempeng.

​"Baik, Tuan Muda." Dengan cekatan, Xiao Mei menggelar tikar, menyusun kursi lipat, dan mengeluarkan manisan buah persik, teh herbal hangat, serta beberapa lapis roti manis buatan sendiri.

​Ji Huang langsung menjatuhkan tubuh fanya ke kursi malas, menarik selimut bebeknya hingga sebatas dada, dan mulai mengunyah manisan persik dengan damai. "Kultivasi sejati adalah harmoni. Membiarkan orang lain bekerja keras sementara kita menikmati hasil bumi adalah bentuk harmoni tertinggi."

​Namun, kedamaian piknik mewah itu tidak bertahan lama. Hukum alam Hutan Kuno mendikte bahwa bau makanan manis akan memicu kedatangan predator.

​ROAAARRR!

​Semak-semak di depan mereka hancur berantakan. Seekor Beruang Belati Lapis ke-7, binatang spiritual raksasa setinggi tiga meter dengan bulu sekeras pelat baja dan kuku sepanjang pedang, melompat keluar dengan mata merah kelaparan. Air liurnya menetes, menatap lurus ke arah piring manisan persik di dekat tangan Ji Huang.

​Di saat yang sama, dari arah berlawanan, rombongan murid baru dari faksi pendukung Klan Ye yang dipimpin oleh seorang pemuda sombong bernama Gao Peng, kebetulan lewat. Mereka sedang memburu beruang tersebut sejak dua jam lalu.

​"Hahaha! Lihat, ada si cacat pemalas klan Huang sedang piknik di tengah hutan!" Gao Peng tertawa terbahak-bahak melihat posisi Ji Huang yang masih rebahan di kursi malas. "Bagus sekali! Beruang Belati itu akan mencabik-cabik kursinya dan menelan selimut bebek jeleknya itu! Sialan, dia bahkan membawa pelayan cantik untuk melihat kematiannya!"

​"Kakak Gao, apakah kita harus menolongnya?" tanya salah satu anak buahnya.

​"Menolongnya? Jangan bodoh! Biarkan beruang itu mematahkan tulang belakangnya dulu, baru kita maju merebut inti binatangnya. Itu namanya strategi!" Gao Peng tersenyum licik, bersedekap dada menantikan adegan berdarah yang memuaskan.

​Beruang Belati itu meraung sekali lagi, mengangkat cakar raksasanya tinggi-tinggi, siap menghantam kursi malas Ji Huang menjadi serpihan kayu. Angin tekanan dari cakar itu bahkan membuat jubah tidur Ji Huang berkibar.

​Xiao Mei tetap berdiri tenang di samping kursi, sama sekali tidak berniat lari karena dia sudah sangat hafal dengan tabiat tuannya jika waktu bersantainya diusik.

​Ji Huang perlahan membuka satu matanya. Dia menatap cakar beruang yang besar, lalu menatap manisan persiknya yang terancam terkena cipratan air liur hewan tersebut. Sebuah helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi keluar dari mulutnya.

​"Kamu berisik sekali, beruang besar," gumam Ji Huang polos. "Dan air liurmu itu... bisa mengotori rajutan bebek buatan ayahku."

​Ji Huang tidak bangkit dari kursi. Dia bahkan tidak mengeluarkan tangannya dari balik selimut bebek. Dia hanya mengangkat kaki kanannya yang memakai sandal kayu, lalu melakukan satu gerakan tendangan dorong (push kick) yang kelewat santai dan lambat ke arah udara kosong di depannya.

​Tuk.

​Gerakan sesederhana itu memicu letupan Niat Pedang Konseptual yang teramat padat secara fokal. Udara di depan sandal kayu Ji Huang mendadak memadat menjadi distorsi spasial berbentuk ujung pedang raksasa tak kasat mata.

​BOOMMM!

​Tanpa ada percikan darah, Beruang Belati Lapis ke-7 yang memiliki berat dua ton dan zhirah bulu baja itu mendadak melesat mundur ke belakang dengan kecepatan suara, menghantam belasan pohon kuno hingga tumbang beruntun, sebelum akhirnya tertanam sedalam dua meter di dinding tebing batu di kejauhan. Mata beruang itu berputar, lidahnya menjulur keluar, langsung pingsan tak berdaya dengan seluruh tulang sirkulasi Qi-nya terkunci total.

​Dari dada beruang yang pingsan itu, sebuah inti kristal spiritual berwarna hijau murni keluar secara otomatis akibat tekanan energi, lalu melayang jatuh dengan presisi yang mengerikan tepat di atas piring kosong di meja batu Ji Huang.

​Ting.

​Suasana di area tebing seketika menjadi sunyi senyap, sesunyi kuburan kuno.

​Gao Peng dan rombongannya yang tadinya bersedekap dada menantikan tontonan komedi berdarah, kini membeku di tempat dengan rahang yang merosot jatuh hingga hampir menyentuh tanah. Sepasang mata mereka membelalak begitu besar hingga urat-urat darahnya terlihat.

​Satu tendangan santai dari atas kursi malas... menumbangkan monster Lapis ke-7 tanpa perlu bangkit berdiri?!

​Ji Huang mengambil kembali manisan persiknya, mengunyahnya dengan tenang, lalu melirik ke arah Gao Peng yang wajahnya kini sudah berubah pucat pasi seperti kertas pembungkus mayat.

​"Kalian yang berdiri di sana," panggil Ji Huang polos, nadanya sangat ramah namun terasa sedingin es bagi yang mendengar. "Beruang ini mengganggu tidur siangku, jadi kristalnya menjadi milikku sebagai biaya kompensasi kebisingan. Apakah kalian memiliki keberatan matematis mengenai hal ini?"

​Gao Peng menelan ludahnya dengan susah payah. Lututnya gemetar hebat. Dia bisa merasakan bahwa jika dia berani mengeluarkan satu kata protes, sandal kayu di kaki pemuda itu kemungkinan besar akan mengarah ke wajahnya dan mengirimnya terbang menembus tebing yang sama.

​"Ti-Tidak ada! Tidak ada keberatan sama sekali, Senior Huang!" teriak Gao Peng dengan suara melengking ketakutan. "Kami... kami hanya sedang lewat! Kami salah jalan! Mohon lanjutkan piknik Anda!"

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gao Peng dan belasan murid dalam itu langsung berbalik arah dan berlari tunggang-langgang, saling sikut dan jatuh bangun di semak-semak demi menjauh dari radius kursi malas Ji Huang secepat mungkin.

​Ji Huang menarik kembali selimut bebeknya hingga menutupi mata, bersiap melanjutkan tidur siangnya yang sempat tertunda.

​"Xiao Mei, simpan kristal hijau itu ke dalam keranjang. Baru satu jam di hutan ini, kita sudah mendapatkan satu poin tanpa perlu berjalan kaki. Kurasa turnamen ini tidak seburuk yang kubayangkan jika binatang-binatang di sini mau mengantarkan diri mereka sendiri dengan sukarela."

​"Baik, Tuan Muda," jawab Xiao Mei sembari menahan tawa, melanjutkan tugasnya mengipasi sang Dewa Pedang pemalas yang kini telah kembali mendengkur halus di tengah hutan yang gempar.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!