Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Ratu Strategi
Sementara itu di 'Madam Mia Night Club Priority'.
Suasana di dalam Bar malam itu terasa jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada dentuman musik yang menggema, tidak ada tawa para tamu kelas atas, dan lampu-lampu hias yang dulu mempesona–kini terasa redup dan suram. Madam Mia mondar-mandir di balik meja kantornya, dengan wajah pucat, dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Alasannya adalah, karena sudah tiga hari berturut-turut usahanya terasa seperti dihantam badai besar.
Pertama, pemasok utama minuman beralkoholnya—yang sudah bekerja sama belasan tahun, tiba-tiba membatalkan kontrak sepihak. Alasan mereka kaku: "Ada aturan baru dari pusat, kami tidak boleh lagi mengirim barang ke tempat Ibu." Dia tahu betul ini bukan kebijakan pemasok itu sendiri. Ada tangan besar yang menarik benang di balik layar.
"Sial! Sial!" dengusnya sembari melempar barang-barang di atas mejanya.
Bruk!
Brakh!
Hiasan dinding, lampu duduk, menjadi korban pelampiasannya. Dengan perasaan gelisah, ia menggigiti kuku jarinya.
"Ini belum pernah kejadian lagi sejak lima tahun terakhir," gumamnya.
Namun belum hilang rasa pusing soal pasokan yang tiba-tiba terputus itu, petugas kepolisian dan inspeksi sosial datang berbondong-bondong pagi tadi. Mereka membawa berkas tebal berisi tuduhan berat. Madam Mia hampir pingsan saat membaca isi laporan itu. Ia diduga mengelola tempat prostitusi, mempekerjakan wanita asing ilegal, dan yang paling mematikan: mempekerjakan pekerja seks di bawah umur.
"Itu fitnah! Itu semua bohong!" teriak Madam Mia saat itu, namun petugas hanya menunjukkan dokumen kontrak dan data identitas yang tercetak rapi, lengkap dengan cap stempel dan tanda tangan yang sangat mirip miliknya. Dokumen itu sah, benar adanya. Bahkan pekerja di bawah umur itu sendiri yang menjadi saksi dan membenarkan semuanya.
"Brengsek! Harusnya bocah sialan itu ngga di terima waktu memohon masuk padahal badannya aja kurus kerempeng! Ah! Apa dia kiriman pesaing bisnis? Argh! Masa bodoh! Semuanya kacau! Kacau!" teriaknya frustrasi.
Saat dirinya sedang tenggelam dalam kekalutan yang tak kunjung mereda, tiba-tiba ... Pintu ruang kerjanya terbuka perlahan tanpa ketukan.
Seorang wanita melangkah masuk. Gaun berwarna hitam legam membalut tubuh rampingnya, diikuti suara langkah sepatu yang berirama pelan namun menggetarkan hati. Di belakangnya berdiri Bani, pria tegap yang selalu setia mengawal.
Madam Mia menegang. Dia kenal wajah itu. Wajah yang dulu pernah dia puji sebagai permata imut. Wajah yang dulu polos namun tajam menilai kekurangan tempat usahanya. Wajah yang baru saja terlintas di pikirannya dengan harapan meminta bantuannya lagi menata ulang bisnisnya yang hampir gulung tikar itu. Kini, wajah yang sama berdiri di sana, dingin, berwibawa, dan berkilau dengan kekuasaan mutlak. Namun bukan untuk memberi uluran tangan, melainkan untuk tujuan lain yang lebih kelam dari sekedar mimpi buruknya.
"Ka-kamu...." bisik Madam Mia, suaranya bergetar.
"I-iyakan? Kamu kan?" gagap Madam Mia sembari mengangkat telunjuknya.
Zevana berhenti tepat di depan meja, menatap wanita yang memeluknya dengan antusias lima tahun silam itu. Zevana tersenyum tipis, ia duduk santai di kursi tamu, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Masih ingat saya, Madam Mia? Saya sudah janji ya sebelumnya. Di pertemuan berikutnya, saya akan memperkenalkan diri dengan formal," ucapnya sembari mengedarkan pandangan.
"Perkenalkan, nama saya Zevana Ardhani. CEO GZ Corporation. Saya lihat sepertinya Madam sedang kesulitan ya?" tanya Zevana sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Madam bertanya-tanya kenapa pasokan terhenti? Kenapa polisi datang membawa tuduhan yang sangat sulit dibantah itu? Kenapa nama Madam sekarang terancam masuk daftar hitam dan usahanya tinggal menunggu waktu ditutup permanen?"
Madam Mia seketika jatuh bersimpuh di atas lantai, matanya membelalak menyadari sesuatu. "Kamu ... Kamu yang melakukan ini semua? Kamu yang atur pemasok berhenti? Yang menyiapkan dokumen itu? Ah ... gadis itu? Kamu ... yang mengirimnya?"
"Hahaha!"
Zevana tertawa kecil, suara renyah itu terdengar mengerikan di telinga Madam Mia.
"Dokumen itu benar kan? Saya jadi sedih mendengar tuduhan dari Madam, padahal saya hanya berniat membantu. Lagi pula ... Bukannya Madam memang suka gadis muda yang imut seperti saya dulu?" kekeh Zevana sambil menutup mulutnya.
Desiran sensasi euforia seketika memuncak saat ia melihat Madam Mia berlutut dengan wajah pucat pasi.
Zevana mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya menajam, aura dinginnya memenuhi ruangan itu.
"Madam pintar, Madam Mia. Madam tahu betul cara kerja dunia ini. Selama lima tahun ini, Madam tetap setia di bawah satu naungan. Mengambil keuntungan, menikmati perlindungannya. Tapi Madam lupa satu hal penting...."
Zevana mengangkat satu jarinya, menggerak-gerakkannya pelan di udara.
"....Bahwa perlindungan itu bisa berubah menjadi jerat, saat pelindungnya sendiri mulai kehilangan kekuasaannya." Zevana melirik Madam Mia diam-diam lalu menunggu responnya.
Madam Mia gemetar hebat. Dia sadar, gadis yang dulu dia anggap berpotensi itu, kini sudah menjadi wanita yang mengerikan.
"Kau mau apa?" tanya Madam Mia lirih. "Uang? Bagian keuntungan? Aku berikan, Zevana. Semuanya."
Zevana menggeleng pelan, senyumnya makin melebar, namun matanya makin dingin.
"Saya tidak butuh uang receh dari tempat ini. Saya punya segalanya."
Zevana berdiri kembali, berjalan memutari meja hingga berdiri tepat di samping Madam Mia yang sudah lemas ketakutan.