NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

TAMAT
DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Ratu Strategi

Sementara itu, di Nyonya Mia–Tempat Hiburan Malam "Prioritas".

Suasana di dalam tempat hiburan malam itu terasa jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada dentuman musik yang menggema, tidak ada tawa para tamu dari kalangan atas, dan lampu-lampu hias yang dulu terlihat memukau—kini tampak redup dan suram. Nyonya Mia berjalan mondar-mandir di balik meja kerjanya, dengan wajah pucat serta keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Penyebabnya adalah, karena selama tiga hari berturut-turut, usahanya seolah dihantam badai besar.

Pertama, pemasok utama minuman beralkoholnya—yang sudah bekerja sama selama belasan tahun—tiba-tiba membatalkan perjanjian secara sepihak. Alasan yang mereka sampaikan kaku, yaitu “Ada peraturan baru dari kantor pusat, kami tidak boleh lagi mengirim barang ke tempat Ibu.” Ia tahu betul, ini bukan kebijakan yang datang dari pihak pemasok itu sendiri. Ada tangan besar yang mengatur segala sesuatunya dari balik layar.

“Sial! Sial!” desahnya sembari melemparkan barang-barang yang ada di atas meja.

Bruk!

Brak!

Hiasan dinding dan lampu meja menjadi sasaran kemarahannya. Dengan perasaan gelisah, ia menggigit kuku jari-jarinya.

“Hal seperti ini tidak pernah terjadi sejak lima tahun terakhir,” gumamnya pelan.

Namun sebelum rasa pusing karena terputusnya pasokan itu hilang, petugas kepolisian dan pengawas sosial datang berbondong-bondong sejak pagi tadi. Mereka membawa berkas tebal berisi tuduhan yang sangat berat. Nyonya Mia hampir pingsan saat membaca isinya. Ia diduga mengelola tempat prostitusi, mempekerjakan wanita asing tanpa izin resmi, dan yang paling mencelakakan adalah karena mempekerjakan anak di bawah umur.

“Itu fitnah! Semuanya bohong!” seru Nyonya Mia saat itu, namun para petugas hanya memperlihatkan dokumen perjanjian dan data identitas yang tersusun rapi, lengkap dengan cap stempel serta tanda tangan yang sangat mirip miliknya. Secara hukum, dokumen itu sah dan berlaku. Bahkan anak yang dikatakan bekerja di tempat itu pun bersedia menjadi saksi dan membenarkan semua keterangan yang tertulis.

“Siapa yang berani menanamkan bukti palsu begitu rapi? Selama ini aku selalu berhati-hati, tidak pernah melanggar aturan sepuluh persen pun demi menjaga kepercayaan Bos Garda! Kenapa tiba-tiba berbalik memusuhiku?” batinnya hancur, lututnya terasa lemas seolah tulang-tulangnya ditarik keluar satu per satu. Ia tahu, siapa pun yang melakukan ini memiliki kekuasaan jauh di atas dirinya—bahkan mungkin berani bermain dengan hukum itu sendiri.

“Brengsek! Seharusnya gadis sialan itu tidak aku terima saat memohon bekerja, padahal tubuhnya saja kurus kering! Ah! Apa jangan-jangan dia dikirim pesaing bisnis? Argh! Mau apa pun itu, semuanya kacau! Benar-benar kacau!” teriaknya dengan perasaan frustrasi.

Saat pikirannya sedang kacau balau tanpa henti, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya terbuka perlahan tanpa diketuk terlebih dahulu.

Seorang wanita melangkah masuk. Gaun berwarna hitam pekat membungkus tubuh rampingnya, disertai suara langkah sepatu yang teratur, pelan, namun terasa menekan hati siapa pun yang mendengarnya. Di belakangnya berdiri Bani, pria berperawakan tegap yang selalu setia mendampingi.

Nyonya Mia menegang. Ia mengenali wajah itu. Wajah yang dulu pernah dipujinya sebagai permata berharga. Wajah yang terlihat polos namun tajam saat menilai kekurangan usahanya. Wajah yang baru saja terlintas di pikirannya, sempat membuatnya berharap bisa meminta bantuan lagi untuk memulihkan usahanya yang hampir bangkrut itu. Kini, wajah yang sama berdiri di hadapannya—dingin, berwibawa, dan memancarkan kekuasaan mutlak. Namun kedatangannya bukan untuk memberi uluran tangan, melainkan membawa maksud yang jauh lebih kelam dari sekadar mimpi buruk.

“Ka—kamu....” bisik Nyonya Mia, suaranya bergetar hebat.

“I—iya? Kamu kan orang yang itu?” tanyanya terbata-bata sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.

Zevana berhenti tepat di depan meja, lalu menatap wanita yang dulu pernah memeluknya dengan antusias lima tahun silam itu. Ia tersenyum tipis, kemudian duduk santai di kursi tamu sambil menyilangkan kakinya dengan gerakan yang anggun.

“Masih ingat saya, Nyonya Mia? Dulu saya pernah berjanji, bukan? Di pertemuan berikutnya, saya akan memperkenalkan diri secara resmi,” ucapnya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Perkenalkan, nama saya Zevana Ardhani. Direktur Utama sekaligus Kepala Eksekutif di GZ Corporation. Saya perhatikan, sepertinya Nyonya sedang menghadapi banyak kesulitan, ya?” tanya Zevana seraya mengangkat sebelah alisnya.

“Nyonya pasti bertanya-tanya, bukan? Mengapa pasokan barang terhenti? Mengapa petugas datang membawa tuduhan yang sangat sulit dibantah itu? Mengapa nama Nyonya kini terancam masuk daftar hitam dan usaha ini hanya tinggal menunggu waktu untuk ditutup secara permanen?”

Mendengar itu, Nyonya Mia seketika jatuh berlutut di lantai, matanya membelalak lebar tanda mulai menyadari kenyataan pahit. “Kamu ... Kamu yang mengatur semua ini? Kamu yang membuat pemasok berhenti mengirim barang? Kamu juga yang menyiapkan dokumen-dokumen itu? Ah ... gadis itu? Kamu yang mengirimnya ke sini?”

"Hahaha!"

Zevana tertawa pelan, namun suara renyah itu justru terdengar mengerikan di telinga Nyonya Mia.

“Dulu Nyonya dengan santai bertanya berapa harga saya untuk satu malam, bukan?” ucap Zevana pelan, namun setiap kata terasa seperti paku yang menghunjam dada wanita itu. “Nyonya menilai saya seperti barang dagangan yang bisa dibeli dan dimiliki siapa saja. Nyonya lupa, hal yang dianggap paling murah di mata orang lain, bisa berubah menjadi senjata paling tajam yang akan menghancurkan segalanya.”

“Dokumen-dokumen itu sah, bukan? Saya jadi sedih mendengar tuduhan Nyonya. Padahal saya hanya bermaksud membantu. Lagi pula ... Bukankah Nyonya memang menyukai gadis muda yang polos dan menarik seperti saya di masa lalu?” goda Zevana sambil menutup mulutnya menahan tawa.

Rasa puas yang meluap-luap terasa memuncak saat ia melihat Nyonya Mia berlutut dengan wajah yang sudah pucat pasi. Dopamin yang meluap itu terasa manis, jauh lebih nikmat daripada kemenangan kecil apa pun. Ini adalah balasan untuk setiap tatapan merendahkan, setiap kata yang menyakitkan, dan setiap anggapan bahwa wanita lemah hanyalah barang mainan.

Zevana mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya semakin tajam, dan hawa dingin yang terpancar dari dirinya seolah memenuhi seluruh ruangan.

“Nyonya orang yang cerdas, Nyonya Mia. Nyonya sudah sangat paham bagaimana cara kerja dunia ini. Selama lima tahun terakhir, Nyonya tetap bertahan di bawah satu naungan yang sama, mengambil keuntungan dan menikmati perlindungan yang diberikan. Namun Nyonya lupa satu hal yang sangat penting ....”

Zevana mengangkat satu jari, lalu menggerak-gerakkannya perlahan di udara.

“... Bahwa perlindungan itu bisa berubah menjadi jerat yang mencekik, saat orang yang memberi perlindungan itu sendiri mulai kehilangan kekuasaannya.”

Zevana melirik sekilas ke arah Nyonya Mia, lalu menunggu reaksi wanita itu.

Nyonya Mia gemetar hebat. Ia baru sadar sepenuhnya, bahwa gadis yang dulu dianggapnya hanya berpotensi itu, kini telah berubah menjadi sosok wanita yang sangat berbahaya.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Nyonya Mia dengan suara lirih. “Uang? Atau sebagian keuntungan usaha ini? Semua akan aku berikan, Zevana. Semuanya.”

Zevana menggeleng perlahan, senyumnya makin melebar, namun tatapan matanya terasa semakin dingin dan tak berperasaan.

“Saya tidak butuh uang receh dari tempat ini. Saya sudah memiliki segalanya.”

Zevana berdiri kembali, lalu berjalan mengelilingi meja hingga berdiri tepat di sisi Nyonya Mia yang sudah lemas karena ketakutan.

“Saya hanya ingin Nyonya merasakan apa rasanya—ketika semua pintu harapan tertutup rapat, ketika semua orang yang kau percaya berpaling, dan ketika kau sadar bahwa harga diri yang kau injak dulu, kini menjadi harga yang harus kau bayar dengan segalanya,” bisik Zevana tepat di telinga Nyonya Mia, sebelum kembali berdiri tegak dan memberi isyarat kepada Bani untuk melangkah keluar.

1
yah udah kelewat😄
udah pasti si Reno🤨
diam-diam beliau sedang mengasah pisau🤭
lampunya kristal tapi gak dikasih alas tidur sekalipun ...
mana gak dikasih makan lagi, hamdeuh ...
malaikat jatuh kali🤭
bilang aja takut 🤣
beliau sedang mengumpulkan amunisi buat membalas💪 btw Susi gede omong doang🤭
nyalang itu apa kak?
namanya juga ortu, pasti bela terus anaknya, mana anaknya pinter maen belakang lagi🤣
Mami kamu cuma mau ngelampiasin emosi no🤣
si Reno baik gak?
emang kerabat kalo ortunya udah gak ada ya suka gitu, apalagi kalo soal mau rebut warisan ...
beliau sedang menciptakan monster💪
sadis bangey ya si Susi ini🤨
emang sengaja mau menghakimi aja nih bu Susi🤨
puitis banget bahasanya🤭
aku mampir kak🤭
Huda Talitha
😭 Pembuka yang mengandung bawang
Huda Talitha
Keren kak , berasa lagi baca film barat genre2 aksi darkromance gereget gimana gitu. Seru pokoknya, rekomended, lanjutkan 🤩🥰🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!