Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Rencana pernikahan paksa
Kesadaran Vina perlahan kembali seiring dengan rasa pening yang hebat yang menyerang kepalanya. Saat kelopak matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit bambu kamar gubuknya yang sudah sangat familiar. Tubuhnya terasa lemas dan keringat dingin membasahi pakaiannya.
Ingatan Vina mendadak berputar ke malam mendebarkan di tengah badai hutan. Dengan panik, ia langsung bangkit duduk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang sepi.
"Di mana... di mana perwira itu?" gumam Vina dengan suara serak yang hampir habis. Ia mengusap keningnya yang masih terasa hangat karena sisa demam. "Apa dia selamat? Bagaimana dengan luka di perutnya?"
Brakk!
Pintu kamar anyaman bambu itu mendadak didobrak kasar dari luar hingga menghantam dinding. Vina tersentak kaget. Di ambang pintu, ibu tirinya berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah yang sudah memuncak sejak fajar, ditemani oleh Nisa yang berdiri di belakangnya dengan senyum sinis.
"Oh, bagus! Akhirnya si anak sialan ini sadar juga!" pekik ibu tirinya, suaranya melengking tinggi memenuhi gubuk kecil mereka. Ia melangkah maju dan langsung mencengkeram lengan Vina dengan kasar.
"Tante, sakit..." rintih Vina, mencoba melepaskan cengkeraman tangan ibu tirinya yang begitu kuat. "Ada apa ini? Kenapa Tante marah-marah?"
"Kenapa saya marah? Kau masih berani bertanya, hah?!" sahut Nisa memotong cepat dengan nada mengejek. Gadis itu melipat tangan di dada sembari menatap Vina dengan pandangan jijik. "Kau itu benar-benar tidak tahu diri, Vina! Kau pamit naik ke gunung katanya mau mencari ayam liar untuk ayahmu. Tapi apa yang kau bawa pulang? Kau turun tidak membawa apa-apa, malah membawa masalah baru dan mempermalukan keluarga kita di depan seluruh warga kampung!"
Vina mengernyitkan dahi, kepalanya semakin berdenyut nyeri karena kebingungan. "Masalah apa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun di atas gunung!"
"Jangan berbohong!" bentak ibu tirinya, cengkeramannya di lengan Vina semakin mengerat hingga menyisakan bekas kemerahan. "Kau bermalam dengan laki-laki asing di gubuk hutan sampai fajar! Gara-gara kelakuan murahanmu itu, seluruh warga menuduhku yang tidak-tidak! Kau sudah menghancurkan nama baikku, Vina!"
"Aku bersumpah aku tidak melakukan apa pun, Tante! Laki-laki itu terluka parah dan terjebak badai kabut. Aku hanya menolongnya agar dia tidak mati!" bela Vina dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan rasa sakit di lengan dan hatinya.
Ibu tirinya mendengus hambar, sama sekali tidak memedulikan air mata putri tirinya. "Tante tidak peduli dengan alasan busukmu itu! Yang jelas, gara-gara kehebohan yang kau buat bersama perwira itu, rencana saya jadi hampir berantakan! Untungnya, janji pernikahan dengan Juragan Tejo kemarin masih tetap berlaku sampai kau sadar hari ini!"
Mendengar nama Juragan Tejo disebut, jantung Vina seolah berhenti berdetak. Ia tahu siapa lelaki tua bangka bertubuh tambun yang terkenal suka bermain perempuan itu. "Pernikahan? Pernikahan apa, Tante? Aku tidak mau menikah dengan orang itu!"
"Kau tidak punya hak untuk menolak!" seru ibu tirinya kejam. Ia berbalik dan menyambar sepotong kebaya pengantin berwarna putih lusuh yang sudah disiapkan di atas kursi kayu. "Pakai baju ini sekarang juga! Aku sudah menerima uang muka dari Juragan Tejo, dan hari ini juga kau harus angkat kaki dari rumah ini untuk menjadi istrinya!"
"Tidak! Aku tidak mau! Tolong jangan paksa aku, Tante!" jerit Vina, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang pucat. Ia berusaha mundur ke sudut dipan, menjauh dari pakaian pengantin yang diulurkan.
Mila yang melihat kakaknya berontak, langsung merengsek maju dan ikut mencengkeram kaki Vina agar tidak bisa kabur. "Ibu, cepat pakaikan bajunya! Jangan biarkan dia banyak tingkah! Juragan Tejo sudah menunggu di ujung jalan desa!"
"Lepaskan aku, Mila! Tante, tolong pikirkan Ayah yang sedang sakit! Kenapa Tante dan Mila tega melakukan ini padaku?!" teriak Vina, tenaganya yang baru pulih dari demam tidak sebanding dengan paksaan brutal dari kedua orang di hadapannya.
"Diam kau anak tidak tahu diuntung!" maki ibu tirinya.
Tanpa belas kesihan, ibu tiri dan Mila bekerja sama mencengkeram tubuh Vina secara paksa. Meskipun Vina terus berontak, menangis, dan memohon, kedua wanita berhati iblis itu dengan kejam melucuti pakaian lusuh Vina dan memaksakan pengantin putih itu masuk ke tubuhnya. Mereka bahkan tidak memedulikan rambut Vina yang berantakan karena ditarik paksa.
Setelah berhasil memakaikan baju pengantin tersebut, ibu tirinya mencengkeram rahang Vina dengan kuat, memaksa gadis itu menatap matanya yang berkilat kejam. "Dengar ya, Vina. Mulai detik ini, kau adalah milik Juragan Tejo. Jangan harap kau bisa kembali ke rumah ini lagi!"
"Jalan cepat!" sentak Mila, mendorong punggung Vina dengan kasar dari belakang hingga gadis itu terhuyung keluar dari kamar gubuk mereka.
Vina berjalan terisak dengan langkah gontai, kedua lengannya diapit erat oleh ibu tiri dan Mila di kanan dan kiri. Pakaian pengantin yang melekat di tubuhnya terasa bagai kain kafan yang siap mengubur masa depannya hidup-hidup. Air matanya terus mengalir deras, meratapi kemalangan nasibnya yang tidak berdaya.
Namun, baru saja langkah kaki mereka melewati halaman depan rumah dan hendak menuju ke arah jalan utama desa, sebuah deru mesin mobil militer yang sangat bising mendadak memecah keheningan sore itu.
Ckiiiiitttt!
Sebuah mobil jip militer berwarna hijau tua mengerem mendadak tepat di depan gerbang halaman rumah gubuk mereka, menimbulkan kepulan debu yang cukup tebal. Langkah kaki ibu tiri, Mila, dan Vina seketika terhenti di tempat.
Pintu mobil jip itu terbuka dengan hentakan tegas. Dari dalam sana, melangkah turun seorang pria bertubuh tegap dan jangkung yang mengenakan seragam dinas militer lengkap yang sangat rapi dan gagah. Lencana perwira di dadanya berkilat di bawah sapuan sinar matahari sore. Pria itu adalah Radit.
Radit berdiri tegak, membusungkan dadanya yang bidang dengan tatapan mata elang yang sedalam jurang, langsung mengunci pandangannya pada sosok Vina yang tengah menangis dengan pakaian pengantin. Aura kepemimpinan dan wibawa yang memancar dari tubuh sang perwira begitu kuat, seketika membekukan udara di sekitar tempat itu.
Ibu tiri dan Mila mendadak terdiam seribu bahasa, tubuh mereka kaku bergeming seperti patung. Sepasang mata mereka membelalak horor dengan rahang yang jatuh terbuka karena terenyak tidak percaya. Mereka benar-benar terdiam terpaku melihat Radit datang kembali ke desa terpencil ini dengan membawa rombongan pasukannya, tepat sesuai dengan janji dan pesan mutlak yang disampaikan oleh kepala desa kemarin.