Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK MUNGKIN
"Nona, para investor sudah saya infokan kalau rapat ditunda besok pagi, mereka bisa mengerti, katanya yang penting kesehatan Anda dulu," lapor Siska dengan suara pelan, takut salah bicara lagi seperti tadi.
Naya hanya mengangguk samar tanpa ekspresi, berjalan melewati Siska begitu saja dan langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Baguslah kalau mereka nggak tersinggung. Sekarang kamu tolong belikan saya sesuatu ke apotek dekat sini," perintah Naya sambil menatap Siska dengan tatapan matanya yang tajam dan dingin.
Siska langsung menegakkan posisinya, siap menerima perintah.
"Baik, Non. Mau dibelikan obat masuk angin atau vitamin apa?" tanya Siska cepat.
Naya sempat terdiam selama beberapa detik, dia meremas jemarinya di bawah meja, mencoba menguatkan hatinya yang sebenarnya sedang dilanda kebingungan.
Ego tingginya sempat menolak, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.
"Belikan saya testpack, merek apa saja, yang paling akurat," ucap Naya dengan nada se datar mungkin.
Mata Siska langsung membelalak, dia hampir saja menjatuhkan bolpoin yang dipegangnya karena terlalu terkejut dengan permintaan sang bos.
"Hah? Test... testpack, Nona?" beo Siska memastikan pendengarannya tidak salah tangkap.
"Nggak usah pasang muka bodoh begitu, Siska. Kamu sendiri yang bilang tadi gejala saya mirip orang hamil, kan? Saya cuma mau membuktikan kalau omongan kamu itu salah besar dan nggak masuk akal," ucap Naya ketus, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ah, i-iya, Bu! Maaf. Saya jalan sekarang ke apotek seberang jalan," jawab Siska panik.
Siska langsung berbalik dan setengah berlari keluar dari ruangan Naya, dia tahu betul kalau bosnya itu paling tidak suka dibantah atau ditanyai macam-macam saat suasana hatinya sedang buruk.
Setelah Siska pergi, Naya menyandarkan punggungnya ke kursi kerja nya, dia memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pening.
Otaknya yang cerdas dan selalu mengandalkan logika kini sedang berputar keras, mencoba mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Nggak mungkin aku hamil, aku bahkan nggak pernah pacaran, apalagi tidur sama laki-laki. Menyentuh tangan laki-laki selain urusan bisnis saja hampir nggak pernah," gumam Naya pada keheningan ruangannya.
Naya lalu teringat lagi pada mimpi-mimpi panasnya setiap malam bersama pria bernama Alexander itu.
Sentuhan tangannya, bisikan suaranya yang serak, hingga rasa lelah yang luar biasa setiap pagi saat terbangun, semua itu terlalu nyata untuk sebuah bunga tidur.
"Apa mungkin aku berjalan sambil tidur? Atau ada orang yang menyelinap ke apartemenku?" Naya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan itu.
Naya segera meraih ponselnya dan membuka aplikasi keamanan yang tersambung langsung dengan CCTV di mansion nya.
Dengan teliti, Naya memeriksa rekaman video dari satu minggu terakhir, terutama pada jam-jam malam saat ia sedang tertidur.
Hasilnya? Nihil. Tidak ada satu pun tanda-tanda pintu atau jendela kamar nya terbuka, rekaman di seluruh mansion nya pun bersih, hanya ada para pekerja nya yang lewat pada jam-jam tertentu.
Di dalam kamarnya sendiri, kamera CCTV memang sengaja tidak dia pasang demi menjaga privasi.
"Semua aman, nggak ada orang asing yang masuk, jadi semua gejala ini murni karena aku stres kerja," ucap Naya dengan napas lega, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya kembali di buka dengan pelan.
Siska masuk dengan napas yang terengah-engah, membawa sebuah kantong plastik putih kecil di tangannya.
"Ini, Nona, saya belikan tiga merek yang berbeda sekalian, biar hasilnya benar-benar pasti," ucap Siska sambil meletakkan kantong plastik itu di atas meja kerja Naya dengan sangat hati-hati.
Naya melirik kantong plastik itu dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa enggan, tapi juga ada rasa penasaran yang mendesak di dalam dada nya.
"Terima kasih, Siska, sekarang kamu keluar, dan jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan saya sampai saya sendiri yang panggil," perintah Naya tegas.
"Baik, Nona. Saya akan jaga di depan," jawab Siska patuh, lalu segera melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Naya mengambil kantong plastik itu, lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju toilet pribadi yang ada di dalam ruang kerjanya.
Jantungnya berdegup sangat kencang, jauh lebih kencang daripada saat dia harus mempresentasikan proyek triliunan rupiah di hadapan para petinggi perusahaan.
Di dalam toilet, Naya membaca petunjuk penggunaan alat tersebut dengan saksama.
Sebagai wanita yang cerdas, dia tahu persis bagaimana cara menggunakannya meski ini adalah pengalaman pertama sepanjang hidupnya.
Naya meletakkan ketiga alat uji kehamilan itu secara berjejer di atas meja wastafel marmer, membalikkan tubuhnya, membelakangi alat-alat tersebut karena tidak sanggup melihat hasil nya.
"Satu menit, aku cuma perlu tunggu satu menit untuk membuktikan kalau ini semua cuma salah paham," bisik Naya pada dirinya sendiri sambil menatap jam tangan Rolex miliknya.
Detik demi detik terasa berjalan sangat lambat, kamar mandi yang mewah itu mendadak terasa sangat pengap bagi Naya. Setelah satu menit penuh berlalu, Naya menarik napas dalam-dalam, mengembuskan nya perlahan, lalu membalikkan badannya kembali menghadap wastafel.
Deg
"T-tidak mungkin..." bisik Naya, bergetar.
Tubuhnya bergetar hebat, dan wajahnya berubah pucat pasi, jauh lebih pucat daripada saat ia mual-mual tadi pagi.
Di atas meja wastafel, ketiga testpack dari merek yang berbeda itu menunjukkan hasil yang sama persis.
Dua garis merah yang sangat tebal dan jelas.
"N-nggak... ini nggak mungkin..." ucap Naya menggelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya perlahan menggenang di sudut mata karena rasa syok yang teramat sangat.
Dengan tangan gemetaran, Naya meraih salah satu alat tersebut, menyentuh garis merah kedua yang menandakan bahwa ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di dalam rahimnya saat ini.
"Bagaimana bisa? Aku hamil anak siapa?!" teriak Naya frustrasi dengan suara yang tertahan, menolak untuk mempercayai hasil yang terpampang nyata di depan matanya sendiri.
"Ini pasti rusak, alat-alat ini pasti kedaluwarsa atau cacat produksi," gumam Naya dengan suara bergetar, mencoba mencari pembenaran.
Naya mengambil ketiga testpack itu dengan ujung jarinya yang dingin, lalu melemparnya kasar ke dalam tempat sampah.
"Bagaimana bisa aku hamil sedangkan aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana pun?" tanya Naya pelan.
Naya membuka pintu toilet dan melangkah kembali ke meja kerjanya dengan langkah yang sengaja dibuat setegas mungkin, meskipun lututnya masih terasa agak lemas, dia menekan tombol di meja kerjanya untuk memanggil sang sekretaris.
"Siska, masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Naya dengan nada suara yang kembali dingin dan tanpa ekspresi.
"Baik, Nona," jawab suara Siska dari seberang interkom.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai pintu ruangan kerja Naya terbuka.
Siska masuk dengan langkah hati-hati, matanya langsung tertuju pada wajah bosnya yang tampak sangat tegang.