NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Marla Dengan Sikapnya Yang Jahat

Bab 17 - Marla Dengan Sikapnya Yang Jahat

Sore hari perlahan menyelimuti kota, langit berubah menjadi semburat jingga keemasan yang masuk melewati celah jendela rumah. Suasana di dalam rumah terasa lebih tenang, meski Raisa tak bisa sepenuhnya merasa bebas dengan tatapan tajam Marla yang sesekali meliriknya dari sudut ruangan. Ia memilih duduk di teras belakang, memandangi halaman yang sudah tak berubah sejak kecil, seolah ingin menenangkan hatinya yang masih terasa gelisah sejak kejadian tadi pagi.

Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah, disusul langkah kaki yang cepat dan riang mendekati pintu masuk. Pintu terbuka lebar, dan sosok Indri melangkah masuk sambil membawa tas ransel di punggungnya, wajahnya masih berseri meski terlihat lelah setelah seharian berkuliah.

“Papa, aku pulang!” serunya dengan suara lantang, lalu berhenti seketika saat matanya menangkap sosok yang duduk di kursi teras dekat taman.

Raisa yang mendengar suara itu segera berdiri dan berbalik, senyum yang tulus langsung terukir di bibirnya. “Indri…”

Indri membelalakkan matanya seolah tak percaya, lalu tanpa berpikir panjang ia melepaskan tasnya dan berlari mendekat, langsung memeluk tubuh kakaknya erat-erat.

“Kak Raisa! Benarkah ini kamu? Aku kira baru bisa bertemu beberapa hari lagi!” serunya dengan suara bergetar karena senang, kepalanya menempel di bahu Raisa. “Aku sangat merindukanmu, lho!”

Raisa membalas pelukan itu dengan lembut, mengusap punggung adiknya penuh kasih sayang. “Aku juga merindukanmu, Dek. Itu sebabnya aku meminta izin untuk pulang sebentar sebelum hari pernikahan tiba.”

Mereka melepaskan pelukan itu sambil saling menatap, senyum tak lepas dari wajah keduanya. Ardi yang melihat itu ikut tersenyum lega, sedangkan Marla hanya mendengus pelan dan memutar wajah pura-pura sibuk dengan barang-barang di meja.

“Kamu sehat saja kan, Kak? Tinggal di rumah itu nyaman? Tidak ada yang menyusahkanmu?” tanya Indri bertubi-tubi sambil menggandeng tangan Raisa, menariknya masuk duduk di sofa dimana Ardi dan Marla duduk. Matanya memeriksa wajah kakaknya dengan cermat, takut ada perubahan yang tak baik.

“Semua baik, Indri. Jangan khawatir,” jawab Raisa lembut, tak ingin menceritakan kejadian mengancam tadi pagi agar adiknya tidak cemas. “Bagaimana dengan kuliahmu? Masih lancar?”

“Lancar saja, meski kadang tugasnya menumpuk,” jawab Indri sambil tertawa kecil. “Tapi yang paling penting sekarang ada kamu di rumah. Rasanya rumah ini jadi terasa lebih lengkap lagi.”

Percakapan keduanya berlanjut hangat, membicarakan hal-hal ringan, kenangan masa lalu, hingga rencana sederhana yang ingin mereka lakukan selama Raisa tinggal di rumah. Namun ketenangan itu terganggu saat suara Marla terdengar dari arah dapur, nada bicaranya tetap terasa tajam dan menusuk.

“Sudah-sudah, jangan terlalu asyik mengobrol. Ini rumah bukan tempat berkumpul yang tak tahu waktu. Raisa sudah besar, sebentar lagi jadi istri orang, seharusnya lebih tahu diri dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain di sini.”

Suasana seketika hening. Senyum di wajah Indri langsung memudar, ia menatap ibunya dengan tatapan tidak senang. “Mah, bicara apa sih? Ini rumah Kak Raisa juga, dia berhak ada di sini dan mengobrol denganku.”

“Kamu masih muda, belum mengerti apa-apa,” bantah Marla sambil melipat tangannya. “Dia sudah dijodohkan, sudah menjadi tanggungan orang lain. Kalau sudah menikah, dia bukan lagi bagian dari keluarga ini.”

“Cukup, Marla!” Suara Ardi terdengar tegas, membuat Marla terkejut dan menutup mulutnya seketika. “Jangan bicara sembarangan. Raisa tetaplah putriku, dan dia selamanya menjadi bagian dari keluarga ini. Aku tak mau mendengar kata-kata seperti itu lagi selama dia tinggal di sini.”

Marla mendengus kesal, lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya sambil membanting pintu dengan pelan namun cukup terdengar jelas.

Indri menghela napas panjang, lalu kembali menatap Raisa dengan wajah menyesal. “Maafkan dia, Kak. Dia memang selalu begitu. Tapi percayalah, rumah ini tetap tempatmu pulang, kapan pun kamu mau.”

Raisa hanya mengangguk lembut, tersenyum menenangkan adik dan ayahnya. “Aku tahu, Indri. Aku mengerti. Selama aku punya kalian berdua, itu sudah cukup bagiku.”

Namun di dalam hatinya, Raisa merasakan sesuatu yang mengganjal. Sikap Marla yang semakin tajam, menbuatnya semakin tidak tenang tinggal di rumahnya sendiri, namun ia tetap punya alasan untuk kembali karena masih memiliki Ardi dan Indri.

 Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi warna ungu kemerahan, Senopati baru saja menutup semua pekerjaannya di kantor. Ia meninggalkan Gedung Grup Aditama dengan langkah tenang, namun pikirannya tetap melayang pada Raisa dan situasi di rumah keluarganya.

Sesampainya di rumah besarnya, suasana terasa lebih sepi dari biasanya. Bi Lastri sudah menyiapkan makan malam, namun Senopati hanya duduk termenung di meja makan tanpa banyak menyentuh hidangan yang tersaji. Ia mengambil ponselnya, menatap layar seolah ingin menghubungi Raisa, tapi kemudian menyimpannya kembali. Ia tahu ia tak boleh terlalu mengganggu, meski rasa khawatir itu terus menghantui pikirannya.

“Tuan, apakah makanannya kurang enak?” tanya Bi Lastri pelan dari kejauhan.

“Tidak apa-apa, Bi. Hanya sedikit banyak pikiran saja,” jawab Senopati singkat. "Lebih baik Bi Lastri pergi istrahat saja."

“Baik, Tuan.”

Sementara itu, di rumah keluarga Raisa, suasana makan malam berlangsung dalam keheningan yang terasa berat. Di meja makan panjang itu duduk Ardi, Raisa, Indri, dan Marla yang duduk paling ujung dengan wajah masam. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar memecah kesunyian.

Indri berusaha mencairkan suasana dengan membicarakan hal-hal ringan, namun jawaban yang didapat hanya singkat atau bahkan diabaikan oleh Marla. Ardi sesekali melirik ke arah Raisa, merasa lega bisa melihat putrinya lagi, namun hatinya tak tenang mengingat tatapan mengancam Senopati tadi siang.

“Kak, coba ini ikan bakar kesukaanmu, masih hangat,” ucap Indri sambil menyodorkan sepotong daging ikan ke piring Raisa.

“Terima kasih, Dek,” jawab Raisa sambil tersenyum tipis.

Belum sempat Raisa menyantapnya, suara Marla terdengar menyindir dari seberang meja. “Sudah terbiasa makan makanan mewah di rumah besar itu, mungkin rasanya makanan di sini sudah terasa hambar dan tidak layak lagi dimakan.”

Tangan Raisa terhenti sesaat. Ia menurunkan sendoknya perlahan, sebelum sempat menjawab, Indri sudah lebih dulu angkat bicara dengan nada tak senang.

“Mama bicara apa sih? Ini rumah Kak Raisa juga, dan makanan ini tetap enak seperti biasanya. Jangan selalu bicara dengan nada yang menyakitkan hati orang lain,” tegur Indri tegas.

“Kamu mulai berani melawan Mama, ya?” Marla mendengus, lalu menatap tajam ke arah Raisa. “Ingat saja, Raisa. Besok lusa kamu akan resmi menjadi istri orang kaya itu. Jangan sampai membuat malu kami jika nanti terbawa ke lingkungan mereka. Jangan berlagak seperti anak desa yang tidak tahu sopan santun.”

Raisa menarik napas panjang, berusaha menahan emosi. “Saya tidak akan membuat malu keluarga ini, Mah.”

“Cukup, Marla!” Suara Ardi menggelegar memecah ketegangan. Wajahnya terlihat marah, sesuatu yang jarang ia tunjukkan. “Berapa kali harus saya katakan? Selama Raisa ada di rumah ini, dia harus diperlakukan dengan hormat. Kalau kamu tidak bisa menjaga mulutmu, lebih baik kamu pergi ke kamar saja dan tidak perlu makan bersama kami!”

Marla terkejut mendengar bentakan suaminya. Wajahnya memerah menahan amarah, namun ia tak berani melawan lebih lanjut. Dengan kasar ia mendorong kursinya hingga berdecit, lalu berdiri dan berjalan cepat menuju kamar sambil menggerutu pelan.

Suasana kembali hening, namun kali ini terasa lebih lega tanpa kehadiran wanita itu. Ardi menatap Raisa dengan wajah menyesal. “Maafkan sikap mama itu, Nak. Dia memang selalu begitu.”

“Tidak apa-apa, Pa. Raisa sudah terbiasa,” jawab Raisa lembut, meski hatinya terasa perih.

“Jangan dipikirkan, Kak. Kita makan saja. Nanti setelah selesai, kita bisa duduk di taman dan mengobrol panjang lebar, seperti waktu kita masih kecil,” ajak Indri sambil menggenggam tangan kakaknya dengan lembut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!