Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 6 BANDUNG
Aline menarik napasnya dalam-dalam berusaha menahan gejolak sesak dalam dadanya. Setelah cukup merasa tenang ia menghampiri ayahnya dan juga adik tirinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Hari ini, keluarganya akan pergi bersama menuju bandung. Untuk melihat kantor milik ayahnya yang sedang berjalan di sana.
"Malah bengong, cepetan masuk!" sinis Sinta yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Aline melangkah masuk ke dalam mobil, kini mereka mulai menunjukkan ketidak sukaan padanya secara terbuka. Bahkan di hadapan ayahnya pun mereka tidak hentinya memojokkan dirinya.
"Jadi orang kok lelet banget, sih!" gerutu Nana yang kini duduk di samping Aline. Ia menatap Aline dengan sinis. "Kita tuh nunggu kamu dari tadi, berasa kaya tuan putri aja."
Aline berusaha menenangkan hatinya, ia memilih diam dan tidak peduli dengan kehadiran mereka. Ia berbalik dan menatap ke arah jendela saat mobil itu mulai melaju membelah kota jakarta.
Selama perjalanan sikap adik tirinya semakin menjadi-jadi, ia selalu menarik perhatian ayahnya seolah sedang menegaskan padanya bahwa dia lah yang paling disayang ayahnya.
"Ayah ini pertama kalinya aku akan memegang perusahan Ayah. Aku rasanya seneng banget." ucap Nana dengan girang, diam-diam ujung matanya melirik Aline yang tampak tidak terusik sama sekali.
"Iya, Sayang! Ayah harap kedepannya kamu harus banyak belajar." jawab Dimas dengan nada lembut, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. Ia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan putrinya sendiri.
Nana mengangguk dengan dagu terangkat, matanya berkilat tajam saat tanpa sengaja bersitatap dengan kakak tirinya.
Sakit, satu kata itulah yang Aline rasakan. Ia ingin tidak perduli dengan kehadiran mereka tapi tetap saja telinga dan perasaannya tidak bisa dibohongi. Ia mendengar setiap kalimat lembut ayahnya yang nyatanya sekarang hanya tertuju pada keluarga barunya.
"Ya Allah! Kuatkan Aku." isaknya dalam diam. Ia mencengkram tas selempangnya dengan erat guna menyalurkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Tidak membutuhkan waktu lama. Setelah tiga jam berlalu, akhirnya mereka tiba di sebuah villa yang tampak tidak terlalu mewah. Mobil itu terparkir di depan halaman villa tersebut.
Aline langsung turun dari mobil, seketika suasana sejuk berkabut menyambutnya membuatnya sedikit bernapas lega. Disekelilingnya hutan pinus menjadi pemandangan yang memanjakan mata, untuk sejenak ia melupakan tentang masalah yang terjadi dalam hidupnya.
Namun, ketengan itu tidak berlangsung lama ketika Nana berteriak memanggilnya. Tidak ada sapaan lembut atau panggilan kakak lagi untuknya, semua yang terjadi tampak seperti sandiwara yang sudah mereka rencanakan untuk menjerat kepercayaan ayahnya dan dirinya.
"Aline! Sekalian bawakan tas-ku awas jangan sampai ada yang tertinggal!" perintah Nana seperti menyuruh seorang asisten rumah tangga.
Kali ini, Aline tidak ingin diam diperlakukan seperti itu, kesabarannya seolah sudah terkikis.
"Aku bukan pembantumu, kamu punya tangan bawa saja sendiri!"
"Ayah! Kak Aline nggak mau membawakan tas milikku, padahalkan sekalian. Ayah sendiri tau. Aku nggak terbiasa perjalanan yang jauh dan langsung nggak enak badan." keluh Nana dengan nada lemah yang dibuat-buat.
Dimas yang kebetulan sedang membawa beberapa barang miliknya dan istrinya, seketika menoleh ke arah putrinya. "Bantu adikmu, Aline! Hanya membawakan tas saja. Kenapa harus ribut?"
"Ayah! Nana, bukan sekedar memintaku membawakan barang-barangnya. Tapi dia sedang memerintahku seolah aku ini pembantunya, apa Ayah tidak melihat itu?"
"Aline! Sudah berani kamu membantah Ayah?!" bentak Dimas spontan yang tidak tahan lagi dengan keributan kecil kedua putrinya itu.
Aline menatap ayahnya dengan pandangan kecewa. Sekali lagi ayahnya menghancurkan hatinya karena membela tindakkan adik tirinya yang sudah sangat keterlaluan padanya.
Tidak mengatakan sepatah kata pun lagi, Aline memilih masuk ke dalam villa tersebut meninggal ayah, ibu dan adik tirinya begitu saja .
Di sisi lain, Sinta dan Nana seperti sedang menahan tawa gembira mereka saat melihat pertengkaran ayah dan anak itu terjadi lagi.
Diam-diam, Sinta memuji putrinya yang sudah mendapatkan kepercayaan suami barunya.
"Kamu lihat sendiri, Mas! Dia mulai membangkang sama kamu. Kami juga tau kalau kami hanya orang asing bagi putrimu, tapi dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri." Suara Sinta terdengar lembut, namun tersimpan sarat akan tipu muslihat dan provokasi di dalamnya.
"Biarkan aku yang menegurnya nanti, agar tidak bersikap seperti itu lagi."
Mereka pun mulai memasukki villa tersebut.
Di dalam kamar, Aline memandangi hamparan kebun teh dari balik jendela, tatapannya menerawang jauh. Terbayang pada kejadian malam di mana hidupnya mulai berubah.
"Semuanya sudah nggak sama lagi!" bisiknya pada dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak mengetahui wajah pria asing itu dan hanya berdo'a semoga ia bisa melanjutkan cita-citanya kembali.
"Kehilangan sesuatu, bukan berarti menghentikan langkahku untuk mengejar mimpiku kembali." tatapan Aline penuh tekad.
Ia bermimpi mengabdi sebagai seorang guru, semenjak kedatangan kedua wanita itu. Aline harus terpaksa menghentikan mimpinya lantaran ia harus fokus pada perusahaan milik ayahnya. Namun, sekarang Nana sudah menggantikan dirinya dan ia bisa memulai kembali dari awal.
Malam itu, Aline tidak tidur semalaman suntuk. Ia fokus mengerjakan pekerjaan ayahnya yang akan di ambil alih oleh adik tirinya. Ia juga mulai mencari-cari website resmi (PPG) untuk seleksi penerimaan calon sebagai guru.
Aline membuka laptop pribadinya, setelah menemukan laman website itu. Ia mulai mengetik dan mengisi data-data miliknya. lalu langsung mengirimnya.
"Tinggal menunggu sampai lamaranku diterima." gumam Aline yang mulai menata masa depannya kembali. Seulas senyum manis terbit di bibir merahnya.
"Ya Allah, lancarkan lah niat baikku ini." Aline tidak hentinya berdo'a dalam hatinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aline melihat hamparan kebun teh yang berselimut embun pagi dari jendelanya. Ia tidak tahan ingin menghirup udara segar itu, akhirnya ia memutuskan untuk lari pagi di sekitar kebun teh.
Aline mulai bersiap. Ia mengenakan setelan jaket fleece untuk menghalau rasa dingin, rambutnya diikat ekor kuda tinggi-tinggi, lalu memakai sepatu sneaker.
"Sudah selesai, saatnya menjelajahi kota bandung di pagi hari. Sebelum kembali sibuk menghadapi drama mereka." bisik Aline sambil melangkah keluar dari kamarnya.
Saat tiba di luar villa, udara dingin langsung menyambutnya, aroma khas tanah tercium yang sangat menenangkan. Alin mulai berlari mengelilingi area kebun teh yang tidak jauh dari villa milik ayahnya.
Ia melihat beberapa pekerja yang sudah mulai memetik daun teh tersebut dan dengan ramah menyapanya.
"Masyaallah cantik pisan. Lagi lari pagi! Neng?" sapa Wanita paruh baya yang masih terlihat muda, matanya berbinar-binar mengagumi sosok Aline.
Aline tersenyum ramah sambil mengangguk kecil. "Iya, Bu! Kebetulan lihat suasananya bagus. Jadi pengen lihat-lihat daerah sini."
"Owalah, jadi begitu! Ibu kira mau mampir ke rumah Ibu, kebetulan Ibu punya anak laki-laki yang masih bujangan." jelas wanita paruh baya itu setengah bercanda, namun terlihat jelas niatnya sedang mempromosikan putranya.
Seketika Aline terkekeh kecil dengan perkataan wanita tersebut. "Ibu, bisa aja. Kalau begitu semangat kerjanya Bu, saya permisi dulu, mau lanjut lari pagi lagi." pamit Aline dengan sopan.
Wanita paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum ramah. "Silahkan, Neng." ucapnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
Aline mulai melanjutkan langkahnya. Namun, tidak lama kemudian ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Heii! Kamu... tunggu."
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣