NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 menuju tempat acara

Bab 19 menuju tempat acara

Prof. Hengki memandang jam digital di dinding dengan tenang, tetapi hatinya mulai gelisah. Nadia tak kunjung datang. Siska mondar-mandir di depan Prof. Hengki sambil terus mencoba menghubungi Nadia. Jarinya berkali-kali menekan layar ponsel dengan gugup.

“kemana anak itu kenapa ga bisa di hubungi” gerutunya.

Dia melirik ke balik jendela kaca. Hampir semua peserta sudah datang dan duduk di tempat masing-masing.

“sudahlah jangan bulak balik terus pusing aku lihat kamu” ucap Prof. Hengki.

Sementara itu, Yulia duduk dengan tenang di kursinya. Namun, jauh di dalam hati, dia dipenuhi kegembiraan. Orang-orang yang dia kerahkan untuk menghadang Nadia sudah bergerak. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan gangster dunia bawah yang terbiasa dengan kekerasan. Bahkan ada bantuan dari sosok misterius yang selama ini bekerja di balik layar.

Rina dan Rini saja tidak pernah berpikir untuk mencelakai Nadia sebrutal itu. Mereka memang membenci Nadia, tetapi tak pernah terpikir untuk membunuhnya.

“hari ini kamu mampus nadia” gumam Yulia.

Yulia menggenggam pensilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Beberapa hari terakhir Nadia terus lolos dari semua skenarionya. Lebih parah lagi, Nadia beberapa kali menyebut dirinya sebagai ratu drama idiot.

Dada Yulia terasa panas menahan amarah. Namun, semua itu harus dia sembunyikan. Topeng malaikat yang selama ini melekat padanya tidak boleh retak.

Sementara itu, Nadia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Angin pagi menerpa wajahnya saat dia melintasi jalan yang mulai sepi.

Tiba-tiba.

Tiga mobil van muncul dan menutup jalan di depannya. Dari belakang, beberapa motor trail meraung keras dan ikut mengepung.

“hmmm” Nadia hanya bergumam.

Kini dia benar-benar terkepung. Dua mobil van berjajar di depan, sementara sekitar enam motor trail menutup jalur belakang.

“aih sialan merepotkan sekali” gumam Nadia.

Nadia tidak turun dari motornya. Dia justru meraung-raungkan mesin motor. Suara knalpot memecah kesunyian jalan.

Tangannya memutar gas hingga penuh.

Asap mengepul dari ban belakang.

Detik berikutnya, Nadia melesat ke arah motor-motor yang menghadangnya.

“apa dia gila?!” teriak salah satu pengejar.

Motor Nadia melompat melewati salah satu penghalang.

“BRAK!”

Ban menghantam aspal dengan keras. Motor bergoyang hebat. Namun, Nadia tetap stabil. Tubuhnya bergerak mengikuti keseimbangan motor seolah itu hal biasa.

Dia kembali memacu kendaraan dengan cepat, tetapi sengaja tidak terlalu jauh. Nadia memastikan mereka tetap mengejarnya.

Alih-alih menuju tempat ramai, Nadia malah membawa mereka ke arah yang semakin sepi.

“kejar terus saking paniknya malah di bawa ke tempat sepi” ujar seorang pengejar di dalam mobil van sambil tertawa.

Nadia terus melaju hingga akhirnya memasuki kawasan perbukitan taman kota yang dipenuhi pohon-pohon besar.

Sesampainya di sana, Nadia langsung turun dari motor dan berlari masuk ke dalam hutan taman kota. Jalan setapak yang curam membuat mobil dan motor tidak bisa mengejarnya.

Daun-daun kering berderak di bawah langkah kakinya.

Nadia terus berlari sampai akhirnya tiba di sebuah bukit.

Tidak ada jalan lagi untuk lari.

Para pengejar mulai bermunculan dari balik pepohonan.

Satu per satu sosok mereka keluar dari bayangan hutan.

Nadia malah melepaskan helmnya dengan santai.

Semua orang terperangah.

Target mereka ternyata hanya seorang remaja perempuan yang wajahnya cukup cantik.

“dasar sampah kalau berani duel jangan keroyokan...” ujar Nadia santai sambil meletakkan helmnya di tanah.

“aku kira target seorang jagoan ternyata cuma anak cewek ingusan… tapi boleh juga lu bawa motornya... untuk ukuran anak kecil kaya lu itu udah luar biasa”

“jangan banyak bacot kalau berani sini maju lu... duel sama gue... kalau ga berani mending pulang sana lu... kelonan sama emak lu” tantang Nadia.

Urat di leher beberapa pria langsung menegang menahan emosi.

“bos biar gue hajar saja anak ini...” ucap salah seorang pria sambil menatap Nadia penuh kekesalan.

“maju dan hajar dia” perintahnya.

Seorang lelaki tinggi besar maju ke depan. Bahunya lebar dan tubuhnya penuh otot.

“sayang sekali lu jadi target kalau enggak jadi target mendingan jadi pacar gue aja”

“mimpi aja lu... kalau berani maju jangan banyak bacot” Nadia mengacungkan jari tengah.

Wajah lelaki itu langsung memerah.

“kurang ajar!”

Dia menerjang Nadia dengan amarah.

Namun Nadia tetap tenang.

Setiap pukulan yang mengarah ke wajahnya berhasil dia hindari dengan gerakan kecil. Kepalanya sedikit miring, tubuhnya bergeser setengah langkah, dan semua serangan lewat begitu saja.

Seolah gerakan lawannya terlihat lambat di matanya.

“jangan hanya menghindar” ucapnya.

“baiklah” ucap Nadia.

Nadia maju.

Tangannya bergerak seolah hendak memukul wajah lelaki itu.

Refleks, pria tersebut langsung menutup bagian atas tubuhnya.

Namun itu hanya tipuan.

“BUG!”

Tendangan keras Nadia menghantam selangkangannya.

Mata lelaki itu langsung membelalak.

Tubuhnya membungkuk lalu ambruk ke tanah sambil memegang bagian yang terkena serangan.

“AAAARGH!”

“kurang ajar... serang bareng-bareng” perintah seorang pria.

Nadia sama sekali tidak gentar.

Dia malah bersiul keras.

Suara siulan itu menggema di antara pepohonan.

Detik berikutnya...

Puluhan anak STM keluar dari balik pohon dan semak-semak.

Mereka ternyata sudah bersembunyi sejak tadi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Wajah para gangster langsung berubah.

Dua puluh orang melawan lima puluh orang.

Jelas bukan pertarungan yang seimbang.

Walaupun para gangster terlatih, menghadapi anak-anak STM yang terbiasa tawuran membuat mereka kewalahan.

Taman kota yang tadinya sunyi berubah menjadi medan perang.

Teriakan, suara pukulan, dan suara orang berlari bercampur jadi satu.

Sebagian gangster berusaha kabur.

Sebagian lainnya langsung jadi bulan-bulanan.

Seorang pria kekar yang sudah terkapar di tanah diinjak punggungnya oleh Aldo hingga wajahnya menempel ke tanah.

“kalian pengecut beraninya keroyokan”

“yang pengecut itu lu... udah tua bangka beraninya sama anak kecil, keroyokan lagi... kalau kami wajar keroyokan kami ini masih pelajar” ujar Dino sambil mendecih.

“nad kita cuma punya waktu 20 menit untuk sampai ke lokasi” Lusi mengingatkan.

Sebenarnya mereka masih ingin bermain-main dengan orang-orang yang berani mencelakai Nadia. Namun waktu terus berjalan, dan olimpiade sudah hampir dimulai

“naik nad,” ucap Aldo sambil menyuruh Nadia naik ke motornya.

“motor lu perlu servis tuh,” ucapnya lagi.

Nadia menoleh ke motornya yang terparkir di pinggir jalan. Kondisinya memang sudah memprihatinkan. Mesin masih bisa dipaksa jalan, tetapi suara kasarnya terdengar jelas. Setelah tadi dipakai menerobos kepungan dan melompat melewati penghalang, motor itu jelas butuh perbaikan.

Tanpa banyak bicara, Nadia akhirnya naik ke motor Aldo.

Sementara itu, suasana di lokasi olimpiade semakin tegang.

“acara akan segera di mulai peserta yang tak datang di anggap mengundurkan diri,” ucap seorang MC melalui pengeras suara.

Prof. Hengki mengembuskan napas berat. Wajahnya tetap tenang, tetapi rahangnya terlihat mengeras. Sepertinya Nadia benar-benar akan gugur sebelum sempat bertanding.

Di sisi lain, Yulia duduk dengan tenang. Namun di dalam hati, dia sedang bersorak kegirangan. Semua berjalan sesuai rencananya.

“3 menit lagi acara akan segera di mulai para peserta harap duduk di kursi dan meja yang sudah di sedikan.”

Senyum Yulia makin lebar. Dia duduk di barisan paling depan. Saat menoleh ke belakang, pandangannya langsung tertuju pada meja Nadia yang masih kosong.

“Mampus kamu Nadia,” batinnya puas.

“yah sepertinya dia ga akan datang,” ujar Siska kesal.

Dia menggigit bibirnya sendiri sambil terus melirik pintu masuk, berharap keajaiban terjadi dalam tiga menit terakhir.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!