NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Siapa Dia Aksa ?

Damian berjalan menuju pintu penghubung balkon, lalu berbalik sekilas untuk memberikan tatapan terakhirnya yang teramat dingin dan sarat akan siksaan batin yang baru.

"Tapi ingat ini baik-baik, Valerian... mulai malam ini, kau tidak lebih dari sekadar tawanan bisnis di dalam rumah ini. Aku menolak menyentuh tubuhmu lagi karena janin yang tidak jelas itu membuatku muak, namun aku juga melarangmu melangkah satu senti pun di luar rumah tanpa pengawasanku. Aku akan berpura-pura menjadi ayah dari anak itu di depan publik, hanya demi memastikan bahwa kau dan Aksa akan selamanya hidup dalam neraka penyesalan yang kuciptakan!"

Matahari pagi belum sepenuhnya naik, namun kamar utama kediaman Wardhana sudah terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap bagi Valerian. Damian benar-benar membuktikan ucapannya semalam.

Sejak fajar menyingsing, pria itu telah berangkat ke kantor pusat untuk mengunci rapat-rapat kasus video Clarissa di brankas pribadinya, sekaligus memperketat penjagaan di sekitar rumah. Dua orang pengawal baru tampak berdiri di dekat gerbang depan, sebuah gestur posesif terselubung yang sengaja Damian pasang untuk membatasi ruang gerak istrinya.

Di dalam kamar, Damian memperlakukan Valerian dengan sikap acuh tak acuh yang dipenuhi rasa jijik. Saat bersiap-siap tadi pagi, ia bahkan sengaja membuang muka ketika Valerian mencoba menata dasinya.

Bagi Damian, kehamilan minggu keempat ini telah merusak fantasi kepemilikannya. Tubuh Valerian yang sedang berbadan dua dianggapnya tidak akan bisa lagi memuaskan dahaga gairah kasarnya, dan kecurigaan bahwa janin itu adalah benih milik Aksa membuat Damian enggan berada di dekat istrinya. Siksaan mental berupa penolakan fisik dan tatapan dingin menjadi makanan baru bagi Valerian di bawah atap tirani suaminya.

Siang harinya, saat Nyonya Zen pergi menghadiri arisan sosial dan para pengawal lengah di lantai bawah, pintu ruang pakaian luar di kamar utama perlahan terbuka tanpa suara. Valerian yang sedang duduk termenung di tepi ranjang seketika menoleh, jantungnya berdegup kencang karena mengira itu adalah kepulangan Damian yang mendadak.

Namun, sosok yang muncul dari balik pintu penghubung rahasia balkon adalah Aksa.

Tanpa banyak bicara, Aksa melangkah lebar, memotong jarak, dan langsung menarik tubuh ramping Valerian ke dalam dekapan lengan kekarnya yang hangat intens.

"Aksa... kau nekat sekali, Damian bisa tahu—" kalimat Valerian langsung terputus saat Aksa membekap bibirnya dengan sebuah kecupan yang teramat dalam, liar, namun sarat akan kelembutan yang memabukkan. Aksa menciumnya seolah sedang menghapus setiap sisa rasa perih, hinaan, dan ketakutan yang ditinggalkan oleh Damian semalam.

Valerian melenguh pelan, meremas bahu bidang Aksa dengan erat. Di dalam pelukan hangat adik iparnya, seluruh pertahanan ketegasan yang ia bangun di depan Damian runtuh, berganti menjadi kepasrahan total. Air matanya menetes di dada bidang Aksa, menumpahkan segala kepedihan batinnya seutuhnya.

"Damian tahu tentang kita, Aksa... dia memegang video dari Clarissa," bisik Valerian parau di sela pagutan mereka. "Dia menolak menceraikanku karena egonya, tapi dia memperlakukanku dengan jijik. Dia billing tubuhku tidak lagi menarik karena kehamilan ini..."

Mendengar penuturan itu, rahang tegas Aksa mengeras rapat hingga urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang luar biasa pekat pada kakaknya.

Namun, sedetik kemudian, tatapan mata Aksa melunak, berubah menjadi begitu hangat dan penuh pemujaan mutlak saat ia menunduk, menatap lurus ke dalam netra indah Valerian.

Dia pria bodoh yang tidak tahu cara menghargai mahakarya, Valerian," desis Aksa parau, suaranya yang berat bergetar oleh emosi yang mendalam.

Jemari jangkungnya yang hangat perlahan merayap naik, mengusap air mata di pipi Valerian dengan kelembutan yang intens. "Bagi pria berengsek seperti dia, kehamilan mungkin sebuah batasan yang merusak gairahnya. Tapi bagiku... justru wanita yang sedang mengandung sepertimu terlihat teramat sangat seksi, cantik, dan menarik. Kau memancarkan aura keindahan yang membuatku kian gila dan tidak akan pernah sudi melepaskanmu pada siapa pun."

Aksa membawa tubuh seksi Valerian ke atas ranjang besar, mengabaikan fakta bahwa ini adalah ranjang utama milik kakaknya sendiri. Aksa memperlakukan tubuh Valerian dengan penuh ketelatenan.

Jemari jangkungnya yang hangat perlahan merayap ke balik gaun Valerian, dengan lembut membantu memijat dan meremas kedua buah dada Valerian yang mulai terasa sensitif dan mengencang akibat perubahan hormon kehamilan awal.

Aku yang akan merawat tubuh indah ini setiap hari, ratuku," bisik Aksa parau tepat di ceruk leher Valerian, napasnya yang hangat berembus ritmis memicu sensasi nikmat yang membuat Valerian terengah pelan. "Sentuhan dan pijatan lembut seperti ini sangat baik untuk merangsang kelenjar susu, agar aliran ASI-mu nanti bisa berjalan dengan sangat lancar saat waktunya tiba.

Foto fisik itu.

Bayangan selembar foto usang dirinya yang sedang tersenyum begitu bahagia bersama Dave—sahabat kuliahnya yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi setelah kelulusan—kembali berputar gila di dalam kepalanya. Mengapa foto itu bisa tersimpan dengan sangat rapi di dalam laci terdalam lemari pakaian Aksa? Dari mana Aksa mendapatkan dokumentasi masa lalu yang bahkan belum pernah ia ceritakan pada pria itu? Batinnya.

Didorong oleh gejolak rasa ingin tahu yang teramat sangat menyiksa dan membakar batinnya, Valerian tidak bisa lagi menahan diri. Persetan dengan Damian, persetan dengan risiko tertangkap basah. Ia harus mendapatkan jawaban sekarang juga.

Dengan langkah tergesa-gesa, Valerian bangkit dari ranjang, merapikan gaunnya yang sedikit kusut, lalu melangkah lebar menerobos pintu penghubung balkon ia ingin menemui Aksa yang tadi sudah meninggalkanya saat terlelap ketika Aksa memijat buah dadanya ,sebab Aksa takut mengganggu istirahat wanitanya itu .

Ia berjalan cepat menyusuri koridor luar, mengabaikan embusan angin sore, dan langsung membuka pintu kamar pribadi Aksa tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Brak!

Aksa yang sedang mengancingkan kemeja bersihnya seketika berbalik. Sepasang netra gelapnya sedikit melebar, terkejut melihat Valerian kembali ke kamarnya dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang mengeras penuh tuntutan.

"Valerian? Ada apa? Mengapa kau ke—"

Jelaskan padaku, Aksa!" potong Valerian dengan nada suara yang tegas, bergetar oleh emosi yang membuncah. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga tatapan mata mereka saling mengunci dengan intens.

"Jangan menyembunyikannya lagi dariku. Aku melihat foto itu kemarin sore sebelum aku pingsan. Foto diriku bersama Dave!"

Mengapa foto masa kuliahku bersama Dave bisa ada di dalam lemarimu, Aksa?!" cecar Valerian lagi, menyudutkan pria itu dengan tatapan matanya yang menuntut kejujuran seutuhnya.

Air matanya mulai menggenang di sudut mata. "Siapa sebenarnya Dave bagimu? Dan siapa... siapa dirimu yang sesungguhnya di masa laluku?!"

Aksa membuka sepasang bibirnya, suaranya terdengar begitu parau dan bergetar samar saat ia mulai mengeluarkan jawaban yang menggantung di udara.

Valerian... ada beberapa hal di dunia ini yang jika kau ketahui kebenarannya sekarang, hanya akan menghancurkan hatimu jauh lebih hancur daripada tirani Damian," bisik Aksa rendah, tatapan matanya mendadak berubah begitu sayu dan penuh misteri yang pekat. "Tentang foto itu... tentang pria yang kau sebut Dave itu..."

Aksa menjeda kalimatnya, mencengkeram bahu Valerian dengan genggaman yang erat namun terasa begitu rapuh.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!