NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

...~Pagi Yang Sibuk~...

Pagi itu, rumah Naira sudah cukup berisik. Ibunya bahkan telah pergi ke pasar semenjak subuh, dan kini suara peralatan dapur yang beradu terdengar nyaring ke mana-mana. Beberapa kali terdengar suara baskom kosong terjatuh, disusul celetukan ringan sang ibu yang tengah mengobrol dengan para tetangga yang datang membantu.

​"Naira beneran mau nikah ya, Bu?" tanya salah seorang tetangga penasaran.

​Ibu Naira tersenyum bangga. Tangannya masih sibuk mengulek bumbu di cobek batu saat menyahuti celotehan tersebut.

​"Benar, Bu. Rasanya baru kemarin saya gendong-gendong, sekarang sudah mau diambil orang saja," ucap ibunya dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

​Kaki Naira baru saja melangkah ke ambang pintu dapur ketika hidungnya langsung disambut aroma kuat perpaduan antara santan, tumisan cabai, kaldu rebusan ayam, serta asap tipis dari tungku kayu yang membuat matanya agak perih.

​Begitu sosoknya muncul, beberapa pasang mata di dapur serempak menengok ke arahnya.

​"Wah, calon istri perwira baru bangun, nih!" celetuk salah seorang tetangga yang sibuk di depan tungku kayu. Tangannya memegang kipas bambu di satu tangan dan sendok sayur di tangan lain, sibuk mengaduk sambal goreng krecek berwarna kemerahan di dalam wajan besar.

​Naira hanya bisa tersenyum samar, merasa agak jengah sekaligus malu. Ia mulai mendekat ke dipan di sisi dapur, tempat beberapa ikat sayuran segar tergeletak pasrah menunggu dipotong.

​"Waduh, Nduk. Tidak usah ikut bantuin di sini," potong seorang tetangga lainnya yang tengah sibuk mengupas bawang merah. Perempuan paruh baya itu menyingkirkan tangan Naira dari keranjang sayur dengan lembut.

​"Kamu mending istirahat saja di kamar, atau beres-beres kamar sana," lanjut perempuan itu lagi.

​Naira tersenyum kecut. Pemikirannya sederhana, memangnya tamunya nanti mau diajak mengobrol di dalam kamar?

​"Iya, Nduk. Kalau memang kamu mau bantuin, beliin Ibu minyak goreng saja di warung depan sana." Ibunya lebih dulu menimpali, memotong jalan sebelum Naira sempat memprotes. Sang ibu langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke tangan putrinya—seolah memberi perintah mutlak yang tidak boleh ditolak.

​Gadis itu menerima uang tersebut dengan senyum kecutnya. Ia segera keluar sesuai arahan perintah ibunya menuju warung kelontong—tempat terakhir ia bertemu dengan pria pengganggu dan ditolong oleh Arka.

​Ketika ia berjalan di jalanan polesan semen dan batu, beberapa tetangga mulai menyapanya. Sebagian bertanya mengenai kebenaran berita lamaran itu, sedangkan yang lainnya hanya menyapa dan mempertanyakan ibu Naira yang pagi-pagi sekali sudah belanja sangat banyak sampai harus naik andong. Dan gadis itu hanya menjawab seperlunya.

​Perlu sedikit usaha untuk sampai ke warung, tempat di mana ia kembali mengingat momen di malam itu. Ketika Arka menolongnya dari si anak carik yang kurang ajar. Bagaimana tubuh tingginya menjadi tameng, serta telapak besar nan kasar pria itu mengusap lengannya yang habis dicengkeram Santoso.

​Rasa kesalnya karena diusir dari dapur seolah sirna, tergantikan debaran halus mengingat kejadian yang membuatnya merasa klik dengan Arka.

​"Mbak, minyak satu liter," ucapnya setelah sampai di warung.

​Penjaga warung tersenyum pada Naira. "Nai, kudengar kamu mau nikah."

​Naira mengangguk dengan rona wajah yang mulai merayap memerah. "Benar, Mbak."

​"Sama Mas Arka?"

​"I-iya."

​"Bagus, dia bisa jagain kamu dari Santoso," celetuk wanita itu sambil mendorong minyak goreng pesanan Naira.

​Naira tersenyum kikuk, memberikan uang yang tadi diberikan ibunya.

​"Kemarin aku segera menutup warung, takut Santoso ngamuk karena kalah dari Mas Arka."

​Gadis itu masih tersenyum kikuk. Kejadian malam itu seolah belum sirna sepenuhnya dari ingatan orang-orang.

​"Eh, itu bukannya calonmu?" tunjuk penjaga warung ke arah luar.

​Sebuah mobil Kijang merah tampak terparkir di sana. Arka baru saja turun dengan pakaian rumahannya yang santai. Menyadari hal itu, Naira spontan menundukkan pandangannya dalam-dalam. Berharap calon suaminya tidak melihat dirinya, ia bahkan berusaha menutup wajahnya dengan tangan dan helaian rambut.

​Sebab, Naira baru sadar kalau dirinya bahkan belum mandi sama sekali pagi ini!

​"Mbak, air dingin ada?" tanya pria itu sesampainya di depan penjual. Naira otomatis bergeser beberapa langkah menjauh.

​Penjaga warung itu tersenyum penuh arti sembari melirik ke arah Naira, sebelum akhirnya pindah ke sisi mesin pendingin di pojok toko.

​"Kamu kenapa nutupin muka, Nai?"

​Naira meneguk ludahnya pelan. Sial, Arka ternyata sudah tahu. Tangan gadis itu turun perlahan, mendapati tatapan calon suaminya yang berdiri tegap membelakangi sumber cahaya di pintu.

​"Mas Arka dari mana?" tanyanya pelan, berusaha bersikap biasa saja.

​"Jemput rombongan keluarga kakakku. Baru sampai."

​"Oh..."

​"Kamu keluar sendirian?"

​"I-iya, Mas. Disuruh Ibu beli minyak."

​"Bareng saja."

​Naira segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Masih malu jika dirinya harus bertemu rombongan keluarga Arka dalam kondisi kucel begini. "Gak usah, Mas. Cuma dekat kok."

​Gadis itu segera melangkah keluar dengan gerakan agak terburu-buru. Di belakangnya, Arka hanya mengangkat sudut bibirnya tipis, mengulum senyum geli tepat saat penjaga warung menyerahkan minuman pesanannya.

​Arka segera menyusul dengan mobil Kijang merahnya. Mesin tua itu berderu agak berisik, tetapi sengaja dijalankan sangat pelan tepat di belakang Naira yang melangkah mepet sampai ke pinggir jalan.

​Naira bisa merasakan jantungnya berdegub jauh lebih kencang, terutama karena beberapa kali mobil di belakangnya itu sengaja memberikan klakson pendek. Tin!

​Naira sampai harus minggir beberapa kali, bahkan hampir terperosok ke dalam selokan saking salah tingkahnya. Akhirnya karena tidak tahan lagi dikerjai, gadis itu menyerah. Ia menyeret langkahnya lebih cepat, lalu setengah berlari menuju rumahnya dengan napas terengah-engah dan jantung yang seolah habis diajak senam malam.

​"Kamu kenapa sih, Nduk?!" tegur ibunya heran, melihat Naira yang tampak kelimpungan saat menyerahkan minyak goreng pesanan tadi.

​Tanpa menjawab, Naira bergegas menuju kamarnya sendiri. Hanya butuh waktu beberapa menit sebelum gadis itu kembali keluar sambil membawa pakaian ganti, lalu lari tunggang-langgang menuju kamar mandi.

...----------------...

​Selepas bakda Magrib, ruang tengah rumah Naira telah disulap sepenuhnya. Tikar-tikar anyaman telah digelar memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu penerangan sengaja diganti dengan yang jauh lebih terang dari biasanya. Suara riuh rendah dari sanak keluarga yang mulai berdatangan terdengar saling bersahutan di luar.

​Sementara itu di dalam kamar, Naira tengah duduk membisu di depan meja riasnya yang kecil. Matanya lekat mematut bayangan wajahnya sendiri di depan cermin. Sebuah kebaya berwarna merah maroon melekat pas di tubuh rampingnya. Rambut hitamnya sengaja digelungkan rapi oleh sang ibu beberapa saat lalu, menyisakan kilau alami akibat sapuan minyak kemiri yang dioleskan tipis-tipis.

​Wajahnya hanya dipoles sedikit alas bedak dan bedak tabur tipis. Alisnya digambar samar, mengikuti bentuk aslinya, dengan polesan warna merah tua di bibirnya yang tipis. Naira memicingkan mata, menyadari ada sedikit perbedaan di sana. Biasanya ia hanya tampak segar dengan wajah polos, tetapi malam ini, pantulan di cermin itu menunjukkan sosok yang jauh lebih dewasa. Sosok seorang calon istri.

​Ketukan di pintu kamarnya terdengar samar, sebelum akhirnya daun pintu itu dibuka oleh ibunya.

​"Nai, rombongan Mas Arka sudah mau datang. Kemarin janjian selepas Magrib. Ayahmu semangat di depan menyambut tamu dari tadi," ucap sang ibu memberikan laporan.

​Jantung Naira berdegup kencang mendengarnya. Desiran aneh kembali hadir di dadanya, membuat telapak tangannya mendadak terasa sedingin es.

​Ibunya melangkah mendekat ke arah Naira. "Ibu yakin, Mas Arka itu pria yang baik buat kamu," ucap Ibu Naira pelan. Wanita itu menepuk lembut pundak Naira sembari menatap pantulan wajah putrinya di cermin.

​Sesaat, wanita paruh baya itu tampak mengusap ujung matanya yang sedikit berair. Melihat itu, hati Naira mendadak mencelos haru. "Ibu..."

​"Ibu cuma tidak menyangka saja, Nai."

​"Tidak menyangka apa?" tanya Naira, suaranya agak serak karena ikut terharu.

​Ibunya langsung tersenyum lebar tanpa beban. "Misi Ibu akhirnya berhasil total!"

​Naira seketika langsung mencebikkan bibirnya kesal. Rasa haru yang baru saja membubung tinggi di dadanya menguap begitu saja dalam sedetik. Ia langsung teringat bagaimana gigih dan ajaibnya taktik sang ibu seminggu belakangan ini demi menjodohkan dirinya dengan tentara lempeng seperti Arka.

​"Ibu ih! Malah bercanda!" gerutu Naira setengah berbisik, berusaha menahan senyumnya agar lipstik merah tuanya tidak berantakan.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!