Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 5 Roh Bulan Yang Telah Bebas
Mobil itu masih berhenti di pinggir jalan yang sepi. Lampu jalan di atas mereka berkedip pelan, sementara suara kendaraan dari kejauhan terdengar samar bercampur angin malam yang dingin. Di dalam mobil, suasana terasa aneh dan menyesakkan.
Ravin menatap wanita di kursi belakang itu dengan emosi yang mulai bercampur antara takut, bingung, dan kesal. Setelah keterkejutannya perlahan mereda, pikirannya mulai dipenuhi rasa curiga.
“Jadi ini semua gara-gara kamu?” ucapnya tajam. “Kamu pikir ini lucu?”
Wanita itu hanya diam memperhatikannya.
Ravin tertawa pendek penuh frustrasi sambil mengusap rambutnya kasar.
“Aku hampir gila gara-gara kejadian tadi. Kalau sampai ada masalah dengan kuil itu bagaimana?” napasnya memburu. “Aku bahkan bisa dipenjara.”
Namun wanita itu tetap terlihat tenang, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
“Aku akan menepati janjiku.”
Ravin mengernyit kesal. “Janji apa lagi?”
“Aku akan membantumu bersama wanita yang kau sukai,” ucap roh bulan lembut. “Karena kau telah membebaskanku.”
Beberapa detik Ravin hanya diam sebelum akhirnya tertawa sinis tidak percaya.
“Omong kosong...” katanya pelan. “Kamu benar-benar wanita gila.”
Tatapan Ravin perlahan berubah kosong. Bahunya turun lemas seolah kelelahan menahan semuanya sekaligus.
“Aku sudah capek soal Dewi...” gumamnya lirih sambil menatap jalan kosong di depan mobil. “Aku bahkan sudah mulai nyerah.”
Bayangan Dewi bersama Juna kembali muncul di pikirannya membuat dadanya terasa sesak. Kini hidupnya justru bertambah kacau karena wanita misterius yang tiba-tiba muncul di mobilnya.
Ravin menoleh tajam ke belakang.
“Sebenarnya kamu ini siapa?”
Roh bulan terdiam.
Tatapannya perlahan turun, seolah pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat ragu.
“Aku...” bibirnya bergerak pelan namun berhenti.
Keheningan memenuhi mobil.
Ravin mulai kehilangan kesabaran. “Jangan bilang kamu sendiri juga gak jelas siapa dirimu.”
Wanita itu tetap diam membuat Ravin menghembuskan napas keras penuh frustrasi.
“Hebat...” katanya sambil tertawa hambar. “Aku sekarang satu mobil sama wanita misterius yang muncul tiba-tiba, ngomong aneh, lalu bahkan gak bisa jelasin dirinya sendiri.”
Hawa dingin kembali terasa memenuhi mobil. Rambut panjang wanita itu bergerak pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Kemudian roh bulan mengangkat tangannya perlahan. Sebuah kalung kecil muncul di telapak tangannya. Liontin berbentuk bulan sabit berwarna perak pucat itu memantulkan cahaya samar yang indah namun terasa asing.
“Kalung ini akan membantumu.”
Ravin langsung curiga. “Aku gak mau benda aneh darimu.”
Namun wanita itu tiba-tiba bergerak mendekat.
Ravin membelalakkan mata kaget saat tubuh wanita itu sudah berada sangat dekat di samping kursinya tanpa ia sadar kapan berpindah tempat. Aroma lembut seperti bunga malam bercampur hawa dingin langsung memenuhi inderanya.
“ tunggu”
Dengan tenang roh bulan memasangkan kalung itu ke leher Ravin.
Jari dinginnya menyentuh kulit Ravin sesaat membuat tubuh Ravin menegang. Dadanya langsung terasa berdenyut aneh begitu liontin bulan sabit itu menyentuh tubuhnya.
Cahaya tipis muncul sepersekian detik dari kalung tersebut sebelum menghilang.
Ravin refleks memegang kalung itu dengan wajah terkejut.
“Apa yang kau lakukan?!”
Roh bulan menatapnya dalam diam beberapa saat.
“Sekarang ikatan itu sudah terbentuk.”
Ucapan itu membuat suasana dalam mobil terasa semakin dingin.
Ravin mendadak merasakan sesuatu aneh menjalar di tubuhnya. Bukan rasa sakit, namun seperti ada hawa asing yang perlahan menyatu ke dalam dirinya.
Dan entah kenapa... untuk pertama kalinya sejak wanita itu muncul, roh bulan terlihat sedikit lega.
.....................
Malam semakin larut di villa yang berdiri di daerah pegunungan itu. Udara dingin mulai memenuhi halaman, sementara suara musik dan tawa dari dalam villa perlahan tidak seramai tadi. teman Dewi sudah mulai beristirahat.
Namun Dewi justru berdiri sendirian di balkon lantai dua sambil memegang ponselnya erat. Angin malam meniup rambutnya pelan, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.
Sejak tadi Ravin tidak memberi kabar.
Pesannya hanya centang satu. Teleponnya bahkan tidak aktif.
Awalnya Dewi kesal karena mengira Ravin sengaja tidak datang. Tapi semakin malam, perasaan kesalnya perlahan berubah menjadi rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Dewi mencoba menghubungi nomor rumah Ravin.
Beberapa saat kemudian panggilan tersambung, namun suara yang terdengar justru suara kecil mengantuk milik adik Ravin.
“Halo...?”
Dewi sedikit terkejut. “Eh, maaf ganggu. Kakakmu ada?”
“Hm... kak Ravin belum pulang...” suara anak itu terdengar lemah karena mengantuk. “Aku mau tidur lagi...”
Panggilan lalu berpindah setelah terdengar suara wanita dewasa dari kejauhan.
“Ini ibu Ravin.”
Dewi langsung berdiri lebih tegak. “Maaf tante malam-malam mengganggu.”
“Oh Dewi?” suara ibu Ravin terdengar hangat. “Selamat ulang tahun ya nak.”
Dewi tersenyum kecil meski pikirannya masih kacau. “Makasih tante.”
“Ravin jadi datang ke villa kan?” lanjut ibunya santai. “Tadi dia bilang mau pergi ke sana.”
Kalimat itu membuat senyum Dewi perlahan hilang.
Matanya langsung menatap kosong ke halaman villa yang gelap.
“Ravin... belum sampai tante.”
“Hah?” suara ibunya terdengar bingung. “Belum sampai? Padahal dia pergi dari tadi.”
Dewi mulai merasa tidak enak.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ibu Ravin kembali berbicara ringan.
“Oh iya, kalau ketemu Ravin bilang sekalian beli kue kesukaan adiknya ya. Yang bulan lalu dia beli waktu dari daerah puncak dekat villa kamu itu.”
Dewi langsung teringat Ravin pernah membawa kotak kue kecil sambil mengeluh karena harus antre lama. Waktu itu Ravin bahkan tetap membelinya hanya karena adiknya menyukai rasa cokelatnya.
“Iya tante...” jawab Dewi pelan. “Nanti aku bilang.”
“Kalau begitu tante tenang deh. Mungkin dia masih di jalan.”
Dewi hanya tersenyum tipis sebelum mengakhiri telepon.
Namun setelah layar ponselnya mati, wajahnya justru semakin gelisah.
Udara malam terasa makin dingin.
Ravin tidak ada di rumah.
Dan dia juga tidak ada di villa.
Lalu sebenarnya... Ravin pergi ke mana?
Dewi menatap jalan menurun di depan villa yang gelap dan berkabut. Entah kenapa dadanya mulai terasa tidak nyaman sejak mendengar Ravin menghilang tanpa kabar.
Sementara dari dalam villa terdengar suara Juna memanggil namanya.
“Dewi? Kamu di luar terus dari tadi?”
Dewi menoleh pelan, tetapi pikirannya masih dipenuhi bayangan Ravin seorang diri di suatu tempat malam-malam seperti ini.
Kabut malam mulai turun semakin tebal di sepanjang jalan pegunungan. Lampu mobil Ravin memantul samar di aspal basah sementara suasana di dalam mobil masih dipenuhi hawa dingin yang tidak biasa. Kalung bulan sabit di leher Ravin terasa berat meski bentuknya kecil.
Ravin menghembuskan napas panjang penuh lelah lalu memijat pelipisnya.
“Aku benar-benar gak ngerti kenapa semua ini bisa terjadi...” gumamnya pelan.
Ia lalu menoleh ke arah wanita di sampingnya dengan wajah kesal bercampur pasrah.
“Dengar, siapa pun kamu... aku harus pergi sekarang. Jadi turunlah dari mobilku.”
Wanita itu menatap Ravin tenang tanpa marah sedikit pun. Rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka.
“Aku akan kembali lagi.”
Ravin mengernyit. “Untuk apa lagi?”
“Mengambil kalung itu,” jawab wanita tersebut lirih sambil menatap liontin bulan sabit di leher Ravin. “Aku tidak bisa meninggalkannya pada manusia terlalu lama.”
Ravin langsung tertawa kecil penuh kelelahan.
“Kalung aneh, roh bulan, hukuman dewa...” ia menggeleng frustrasi. “Semakin lama omonganmu makin gak masuk akal.”
Namun entah kenapa, setelah semua yang terjadi malam ini, Ravin sudah terlalu lelah untuk terus panik.
Ia akhirnya menyandarkan tubuh ke kursi sambil memandang jalan kosong di depan mobil.
“Baiklah...” katanya pelan. “Kalau memang omonganmu benar, kita taruhan saja.”
Tatapan wanita itu sedikit berubah penasaran.
“Taruhan?”
Ravin tersenyum tipis hambar.
“Kalau aku benar-benar bisa mendapatkan Dewi...” suaranya mengecil seolah dirinya sendiri tidak percaya, “aku akan berterima kasih padamu. Dan kalau suatu hari kau butuh bantuan, aku akan membantumu.”
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Lalu untuk pertama kalinya, wanita itu tersenyum samar. Senyum kecil yang terlihat cantik namun menyimpan kesedihan aneh.
“Aku setuju.”
Ravin menatapnya sekilas. “Kalau begitu setidaknya beri tahu namamu.”
Wanita itu memandang cahaya bulan yang mulai muncul samar di balik awan.
“Arum.”
Nama itu terdengar lembut di telinga Ravin.
Namun sebelum Ravin sempat mengatakan sesuatu lagi, hawa dingin di dalam mobil perlahan menghilang. Saat ia menoleh, wanita itu sudah tidak ada.
Ravin langsung terdiam.
Kursi penumpang di sampingnya kosong.
Hanya tersisa aroma bunga malam yang samar dan kalung bulan sabit di lehernya.
Subuh mulai datang saat Ravin akhirnya tiba di villa Dewi.
Langit masih berwarna biru gelap dengan kabut tipis menyelimuti area pegunungan. Lampu-lampu villa masih menyala redup, sementara udara dingin menusuk kulit begitu Ravin turun dari mobilnya.
Tubuhnya terasa lelah luar biasa setelah malam yang kacau itu.
Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat seseorang berdiri di depan villa.
Dewi.
Wanita itu masih mengenakan sweater tebal sambil memeluk dirinya sendiri menahan dingin. Wajahnya terlihat lelah seperti tidak tidur semalaman.
Begitu melihat Ravin turun dari mobil, mata Dewi langsung berubah lega.
“Ravin!”
Dewi segera berlari kecil menghampirinya.
“Kamu dari mana sih?! Aku khawatir tahu!”
Sebelum Ravin sempat menjawab, Dewi langsung memeluknya erat.
Tubuh Ravin membeku seketika.
Jantungnya berdetak keras.
Aroma lembut rambut Dewi, hangat tubuhnya di tengah udara dingin subuh, dan suara napasnya yang sedikit gemetar membuat pikiran Ravin kosong beberapa detik.
Perempuan yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh...
Kini memeluknya erat dengan penuh khawatir.
Tangan Ravin perlahan terangkat ragu sebelum akhirnya membalas pelukan itu pelan. Dadanya bergetar hebat sampai ia sendiri sulit percaya ini benar-benar terjadi.
“meski terlambat selamat ulang tahun dewi...” ucapnya lirih.
Di kejauhan, di balik kabut dan pepohonan pinus dekat jalan masuk villa, sosok Arum berdiri diam memperhatikan mereka.
Tatapannya tertuju pada Ravin yang sedang dipeluk Dewi.
Angin subuh meniup rambut panjangnya perlahan. Wajah cantiknya tetap tenang, namun matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan.
Setelah beberapa saat, Arum menundukkan pandangan.
Lalu perlahan berbalik pergi masuk ke dalam kabut pagi, menghilang tanpa suara.