NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Pelacakan di Balik Kabut

Pukul dua dini hari. Kamar penthouse suite di Marina Bay Sands itu begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus dari sistem pendingin ruangan central. Nadia berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kawasan pelabuhan Merlion. Di tangannya, layar ponsel masih menyala, menampilkan sebaris pesan pendek yang menyelamatkan rahasianya beberapa jam lalu.

"Hati-hati dengan anggurmu, Kirana. Arthur tahu kau tidak bisa minum alkohol jenis Merlot."

"Siapa sebenarnya kamu?" gumam Nadia, jemarinya mengetuk pelan pinggiran ponsel.

Suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Reynald berjalan menghampirinya tanpa mengenakan jas setelannya, hanya kemeja hitam dengan dua kancing atas yang terbuka. Pria itu menaruh secangkir susu cokelat hangat di meja kecil sebelah Nadia.

"Belum tidur, Chelsea?" tanya Reynald, suara baritonnya yang serak terdengar sangat intim di tengah keheningan malam.

Nadia menoleh, mengembuskan napas pendek. "Bagaimana aku bisa tidur jika ada seseorang yang berkeliaran di sekitarku, mengetahui alergi masa laluku, bahkan memanggilku dengan nama 'Kirana'?"

Reynald menarik kursi, duduk sembari menatap tajam ke arah ponsel di tangan tunangannya. "Barra sudah mencoba melacak nomor itu sejak kita kembali dari jamuan Arthur. Hasilnya nihil. Sinyalnya dienkripsi menggunakan jaringan satelit militer swasta. Nomor itu langsung hangus setelah mengirimkan pesan terakhir."

Nadia menyipitkan matanya. Jaringan militer swasta bukan sesuatu yang bisa diakses oleh sembarang orang, bahkan oleh pebisnis kaya sekalipun. Ini membutuhkan koneksi tingkat tinggi di dunia bawah tanah internasional.

"Arthur Chen tidak mungkin menjadi pengirimnya," analisis Nadia taktis. "Dia yang menuangkan Merlot itu untuk menjebakku. Kalau begitu, ada pihak ketiga. Seseorang yang tahu konspirasi Baskoro, tahu reinkarnasiku, tapi memilih untuk melindungiku dari balik bayangan."

Reynald bangkit, melangkah mendekat hingga tubuh tegapnya mengikis jarak di antara mereka. Ia meraih jemari tangan Nadia yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat dengan kehangatan posesif yang mutlak.

"Siapa pun dia, selama dia membantumu, kita bisa memanfaatkannya untuk sementara waktu," ucap Reynald, matanya berkilat penuh otoritas. "Tapi fokus utama kita besok pagi tidak boleh bergeser. Penyerahan dokumen pradesain proyek Global Logistics Gateway."

Nadia mengangguk tegas, menekan rasa cemasnya ke dasar hati. "Kamu benar. Arthur Chen sengaja memancingku malam ini agar konsentrasiku terpecah saat presentasi besok. Aku tidak akan membiarkan taktik murahannya berhasil."

Keesokan paginya, aula konvensi Singapore Maritime Authority dipenuhi oleh puluhan perwakilan korporasi raksasa dari seluruh penjuru Asia. Suasana di dalam ruangan berlantai karpet tebal itu terasa sangat formal dan kompetitif. Ratusan pasang mata tertuju pada layar proyektor raksasa yang menampilkan urutan presentasi.

Nadia duduk di barisan depan bersama Reynald dan Adrian. Di seberang lorong, Arthur Chen duduk dikelilingi oleh tim pengacara dan analis berbaju hitam. Pria paruh baya itu sempat menoleh ke arah Nadia, memberikan senyuman miring yang sarat akan tantangan tersembunyi.

"Selanjutnya, kami persilakan perwakilan dari Kirana-Latief Group untuk memaparkan proposal pradesain mereka," ucap sang moderator internasional melalui pengeras suara.

Nadia berdiri dengan anggun, merapikan blazer putihnya. Namun, tepat sebelum ia melangkah menuju podium, Adrian yang bertugas menyambungkan laptop ke sistem proyeksi mendadak membelalakkan matanya dengan wajah pucat pasi. Ia menarik ujung blazer Nadia dengan tangan gemetar.

"N-Nona Chelsea... tunggu," bisik Adrian, suaranya tercekat karena panik.

Nadia mengernyitkan dahi. "Ada apa, Adrian? Jangan membuat keributan di sini."

Adrian memutar layar tablet pemantau ke arah Nadia. "Berkas enkripsi proposal kita... seseorang baru saja meretas peladen cadangan kita dua menit lalu. Seluruh data visual dan algoritma 'Distribusi Variabel X' yang akan kita tampilkan... semuanya telah dikunci oleh ransomware pihak asing!"

Nadia tertegun. Layar proyeksi di depan aula sudah menyala, menunggu presentasinya dimulai. Jika ia maju tanpa data visual, proposal mereka akan langsung dianggap cacat dan didiskualifikasi secara sepihak oleh komite tender.

Di seberang ruangan, Arthur Chen menopang dagunya dengan tangan, menatap ke arah panggung dengan senyuman kemenangan yang sangat kentara. Dialah dalang di balik sabotase siber ini.

Nadia mengepalkan tangannya di balik saku blazer. Waktu terus berjalan, dan seluruh petinggi maritim Singapura kini sedang menatap ke arahnya dengan pandangan menuntut. Permainan internasional ini ternyata jauh lebih kotor dan kejam daripada perang saham domestik yang ia hadapi di masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!