NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Hari Pertama

Meskipun sudah melewati beberapa hari orientasi dan mulai mengenal sebagian rekan kerjanya, Maya tetap menganggap minggu pertamanya di Aruna Kreasi sebagai awal yang sesungguhnya.

Semua masih terasa baru.

Meja kerja baru.

Sistem kerja baru.

Rutinitas baru.

Bahkan suasana pagi yang biasanya ia habiskan di rumah kini berubah menjadi perjalanan menuju kantor setelah mengantar Dika ke sekolah.

Pada pagi itu, Maya kembali tiba lebih awal.

Udara masih terasa segar ketika ia memasuki gedung Aruna Kreasi.

Beberapa karyawan belum datang.

Koridor kantor masih relatif sepi.

Ia menyukai suasana seperti itu.

Tenang.

Tidak terburu-buru.

Memberinya waktu untuk mempersiapkan diri sebelum kesibukan dimulai.

Sesampainya di meja kerja, Maya langsung menyalakan komputer.

Ia membuka catatan-catatan yang dibuatnya selama beberapa hari terakhir.

Hampir setiap penjelasan yang diberikan rekan kerja ia tulis dengan rapi.

Mulai dari prosedur administrasi, alur pengarsipan dokumen, hingga berbagai istilah yang sering digunakan di perusahaan.

Maya tahu dirinya sudah lama meninggalkan dunia kerja kantor.

Karena itu, ia tidak ingin terlalu percaya diri.

Ia memilih belajar sebanyak mungkin.

Tidak malu bertanya.

Dan berusaha memahami semuanya secara perlahan.

Beberapa menit kemudian, Dina datang sambil membawa segelas kopi.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi," jawab Maya sambil tersenyum.

Dina melirik catatan yang memenuhi meja.

"Kamu rajin sekali."

Maya tertawa kecil.

"Aku cuma takut lupa."

"Percayalah, sebagian besar pegawai baru tidak serapi itu."

Maya hanya tersenyum.

Sebenarnya bukan karena rajin.

Ia hanya tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri.

Kesempatan bekerja di perusahaan ini terlalu berharga untuk disia-siakan.

Tak lama kemudian, kantor mulai ramai.

Satu per satu karyawan datang.

Suara percakapan mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Telepon mulai berdering.

Komputer-komputer mulai menyala.

Suasana kerja yang sesungguhnya pun dimulai.

Pagi itu Maya mendapatkan tugas untuk membantu memeriksa dan memperbarui data beberapa klien perusahaan.

Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi.

Kesalahan kecil bisa menyebabkan data menjadi tidak akurat.

Awalnya Maya cukup gugup.

Ia membaca setiap dokumen berulang kali sebelum memasukkan informasi ke dalam sistem.

Sesekali ia berhenti untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Karena terlalu berhati-hati, pekerjaannya menjadi sedikit lebih lambat dibanding rekan-rekan lain.

Hal itu membuatnya khawatir.

Bagaimana jika mereka menganggapnya tidak kompeten?

Bagaimana jika ia justru menjadi beban bagi tim?

Pikiran-pikiran seperti itu mulai muncul lagi.

Pikiran yang selama ini selalu menghantuinya.

Namun kali ini Maya mencoba mengendalikannya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian kembali fokus pada layar komputer.

Satu data.

Satu dokumen.

Satu pekerjaan dalam satu waktu.

Begitulah caranya mengatasi rasa gugup.

Menjelang siang, sebuah kesalahan kecil akhirnya terjadi.

Maya tanpa sengaja memasukkan kode klien yang salah ke dalam sistem.

Untungnya kesalahan itu segera diketahui sebelum data diproses lebih lanjut.

Namun tetap saja, wajah Maya langsung pucat.

"Aduh..."

Dina yang duduk tidak jauh darinya menoleh.

"Ada apa?"

"Aku salah memasukkan kode."

Dina melihat layar komputer.

Lalu tersenyum santai.

"Hanya itu?"

"Maaf."

"Kamu tidak perlu minta maaf padaku."

"Aku ceroboh."

Dina terkekeh.

"Maya."

"Iya?"

"Semua orang pernah salah."

Maya terdiam.

"Termasuk aku."

"Tapi..."

"Bahkan Pak Arga sekalipun pasti pernah melakukan kesalahan."

Maya tersenyum tipis.

Meski sulit dipercaya membayangkan Arga berbuat salah, ucapan Dina cukup menenangkannya.

Kesalahan itu akhirnya diperbaiki tanpa masalah berarti.

Namun pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting.

Bahwa beradaptasi bukan berarti harus langsung sempurna.

Menjadi pegawai baru berarti belajar.

Dan belajar selalu melibatkan kesalahan-kesalahan kecil.

Saat jam makan siang tiba, Dina mengajak Maya makan bersama beberapa rekan kerja lainnya.

Awalnya Maya sempat ragu.

Ia masih merasa sebagai orang baru.

Namun akhirnya ia ikut.

Mereka duduk di kantin kecil yang berada di lantai bawah gedung.

Suasananya hangat dan santai.

Berbeda jauh dengan suasana formal yang sering terlihat selama jam kerja.

Bagas menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Seperti biasa, ia berhasil membuat semua orang tertawa.

Maya yang awalnya hanya mendengarkan perlahan mulai ikut terlibat dalam percakapan.

Mereka membicarakan banyak hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang pengalaman lucu selama bekerja.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Aruna Kreasi, Maya merasa dirinya benar-benar menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

Bukan sekadar pegawai baru yang sedang menyesuaikan diri.

Melainkan seseorang yang diterima.

Perasaan itu sederhana.

Namun sangat berarti.

Sebab selama beberapa tahun terakhir, hidup Maya lebih banyak dihabiskan sendirian.

Bekerja dari rumah membuat interaksi sosialnya terbatas.

Kini ia kembali merasakan bagaimana rasanya memiliki rekan kerja yang bisa diajak berbicara setiap hari.

Sore harinya, sebuah rapat kecil diadakan untuk membahas perkembangan beberapa proyek perusahaan.

Maya hanya bertugas mencatat hasil rapat.

Namun rasa gugup kembali muncul ketika mengetahui bahwa Arga akan memimpin rapat tersebut.

Meski sudah beberapa kali bertemu, kehadiran pria itu tetap membuatnya tegang.

Arga memasuki ruangan tepat waktu.

Tidak terlambat satu menit pun.

Seperti biasa.

Semua peserta rapat langsung memusatkan perhatian.

Selama rapat berlangsung, Maya memperhatikan cara Arga memimpin.

Ia berbicara dengan jelas.

Tidak bertele-tele.

Setiap keputusan memiliki alasan yang logis.

Dan setiap masalah dibahas dengan fokus pada solusi.

Tidak ada waktu yang terbuang untuk menyalahkan orang lain.

Hal itu membuat Maya semakin memahami mengapa perusahaan tersebut berkembang cukup pesat.

Di balik kesuksesan Aruna Kreasi, ada pemimpin yang benar-benar bekerja keras.

Di tengah rapat, Arga tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan mengenai data administrasi yang baru diperbarui.

Beberapa orang saling berpandangan.

Maya menyadari bahwa data tersebut adalah bagian yang sedang ia kerjakan.

Jantungnya langsung berdebar.

Ia tahu jawabannya.

Tetapi ia ragu untuk berbicara.

Bagaimana jika salah?

Bagaimana jika jawabannya tidak tepat?

Namun sebelum ia sempat memutuskan, Arga sudah menoleh ke arahnya.

"Bu Maya?"

Maya menelan ludah.

"Iya, Pak?"

"Data itu sedang Anda tangani, bukan?"

"Iya."

"Bagaimana perkembangannya?"

Puluhan pasang mata langsung tertuju kepadanya.

Rasa gugup yang tadi hanya kecil kini terasa jauh lebih besar.

Tetapi Maya berusaha tetap tenang.

Ia menjelaskan perkembangan pekerjaan tersebut sejelas mungkin.

Awalnya suaranya sedikit bergetar.

Namun semakin lama, ia mulai lebih percaya diri.

Karena ia memang memahami apa yang sedang dikerjakannya.

Setelah selesai menjelaskan, ruangan menjadi hening beberapa detik.

Maya khawatir ada yang salah.

Namun Arga hanya mengangguk.

"Baik."

Satu kata sederhana.

Tetapi cukup membuat Maya menghela napas lega.

Rapat pun berlanjut.

Setelah selesai, Dina langsung menghampirinya.

"Kamu hebat."

Maya tersenyum malu.

"Aku hampir tidak bisa bernapas tadi."

"Itu wajar."

"Pak Arga membuatku gugup."

Dina tertawa.

"Kamu tidak sendirian."

Maya ikut tertawa.

Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa demikian.

Hari demi hari berlalu.

Perlahan rasa gugup mulai berkurang.

Tidak hilang sepenuhnya.

Tetapi jauh lebih ringan dibanding saat pertama datang.

Maya mulai memahami ritme kerja timnya.

Mulai mengenali karakter masing-masing rekan kerja.

Mulai merasa nyaman berada di lingkungan baru.

Di rumah pun semuanya berjalan cukup baik.

Meski jadwalnya kini lebih padat, ia tetap berusaha memberikan waktu terbaik untuk Dika.

Malam hari sering menjadi momen favorit mereka.

Saat semua pekerjaan selesai.

Saat mereka bisa makan malam bersama.

Saat Dika bercerita tentang sekolahnya dan Maya bercerita tentang kantor.

Suatu malam, Dika tiba-tiba bertanya,

"Ibu senang bekerja di sana?"

Maya berpikir sejenak.

Kemudian tersenyum.

"Iya."

"Karena teman-temannya baik?"

"Itu salah satunya."

"Kalau yang lainnya?"

Maya menatap putranya.

"Lingkungan baru membuat Ibu belajar banyak hal."

Dika mengangguk seolah mengerti.

Padahal mungkin belum sepenuhnya memahami maksudnya.

Namun Maya sendiri tahu apa yang ia rasakan.

Pekerjaan ini bukan hanya memberinya penghasilan yang lebih stabil.

Pekerjaan ini juga mengembalikan sesuatu yang hampir hilang.

Rasa percaya diri.

Keyakinan bahwa dirinya masih mampu berkembang.

Bahwa statusnya sebagai seorang janda bukanlah akhir dari segalanya.

Bahwa hidup masih terus berjalan.

Dan ia berhak memiliki masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, di kantor, nama Maya mulai semakin dikenal karena kinerjanya yang konsisten.

Bukan karena ia paling menonjol.

Bukan karena ia paling pintar.

Melainkan karena ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Hal tersebut perlahan menarik perhatian beberapa orang.

Termasuk Arga.

Suatu sore, ketika sebagian besar karyawan sudah pulang, Arga kembali melihat laporan pekerjaan mingguan yang baru diserahkan kepadanya.

Di antara berbagai dokumen, ada satu laporan yang tersusun sangat rapi.

Mudah dipahami.

Dan minim kesalahan.

Arga membaca nama yang tertera di bagian bawah halaman.

Maya.

Pria itu terdiam beberapa saat.

Kemudian menutup dokumen tersebut dengan tenang.

Di luar sana, Maya mungkin masih menganggap dirinya hanyalah pegawai baru yang sedang berusaha menyesuaikan diri.

Namun tanpa disadarinya, langkah-langkah kecil yang ia lakukan setiap hari mulai meninggalkan kesan yang cukup kuat.

Dan seiring berjalannya waktu, hubungan profesional antara dirinya dan Arga perlahan akan berkembang ke arah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Untuk saat ini, Maya hanya fokus menjalani hari-harinya.

Belajar.

Beradaptasi.

Dan terus melangkah maju.

Tetapi kehidupan sering kali berubah ketika seseorang mulai merasa semuanya berjalan normal.

Dan tanpa diketahui Maya, perubahan berikutnya sudah menunggu tidak jauh di depan.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!