NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sia-Siakan

Istri Yang Kau Sia-Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Nikahmuda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Alesha

ANANTA CORPORATION

Alesha berdiri di depan gedung tinggi dan mewah itu untuk pertama kalinya.

Selama ini, Alesha hanya melihat gedung itu dari foto dan berita di media sosial. Kini, ia benar-benar berdiri di depannya, sesuatu yang bahkan tak pernah berani ia bayangkan sebelumnya.

Tangan Alesha sedikit bergetar saat memegang berkas yang dibawanya.

Ia menatap sekeliling dengan gugup.

Beberapa orang yang lalu-lalang tampak melirik ke arahnya, membuat Alesha semakin tidak nyaman.

Alesha mengembuskan napas pelan untuk menenangkan dirinya, lalu mulai melangkah masuk ke dalam perusahaan megah tersebut.

Begitu kakinya memasuki lobi, aroma parfum mahal langsung tercium di hidungnya.

Kemewahan lobi itu membuat langkah Alesha sedikit kaku. Semua terlihat begitu berbeda dari dunia yang selama ini ia kenal.

Namun, ia tetap memberanikan diri melangkah menuju meja resepsionis.

"Permisi," ucapnya sopan.

Resepsionis itu menoleh lalu menatap Alesha dari atas sampai bawah.

"Ada apa?" jawabnya dengan ketus.

"Saya diminta Tuan Kevin kemari," jawab Alesha.

Resepsionis itu mengerutkan kening.

Jelas terlihat ia tidak percaya dengan ucapan Alesha.

"Kamu yakin? Tuan Kevin bukan orang yang mudah ditemui," balas resepsionis itu dengan wajah yang masih sinis, menatap rendah Alesha.

Alesha menggenggam berkas di tangannya sedikit lebih erat, lalu segera mengeluarkan kartu nama dari dalam map.

"Beliau yang meminta saya datang."

Resepsionis itu langsung terkejut saat melihat kartu yang diberikan Alesha.

Ia mengenali kartu itu.

Kartu tersebut hanya dimiliki oleh para pemimpin perusahaan.

Lalu bagaimana wanita yang berdiri di depannya ini bisa mendapatkannya?

"Tuan Kevin nggak ada," balas resepsionis itu.

Alesha menggenggam map di tangannya sedikit lebih erat.

"Kalau begitu, apa saya bisa menunggu?" tanyanya dengan sopan.

Resepsionis itu tampak tidak senang.

"Tuan Kevin sibuk. Lagipula saya nggak dapat informasi kalau ada jadwal bertemu dengan kamu."

Alesha terdiam sesaat.

Ia memang tidak memiliki janji resmi.

Kevin hanya memberinya kartu nama dan memintanya datang ketika kondisinya sudah pulih.

"Kalau begitu saya titip lamaran kerja saya saja," ucap Alesha pelan.

Resepsionis itu menatap pakaian Alesha dari atas sampai bawah.

Tatapannya penuh penilaian.

"Lowongan di sini nggak sembarangan."

Alesha menunduk sebentar.

Alesha menahan napas pelan. Ucapan seperti itu seharusnya sudah biasa ia dengar, tetapi tetap saja menusuk.

"Tapi saya diminta datang ke sini."

"Semua orang juga bisa bilang begitu."

Alesha terdiam.

Ia bisa merasakan tatapan para karyawan yang ada di sekitar mulai mengarah kepadanya.

Beberapa orang melirik dengan tatapan meremehkan, sementara yang lain tampak berbisik pelan seolah sedang membicarakannya.

Jemari Alesha menggenggam berkas yang dibawanya sedikit lebih erat.

Rasa tidak nyaman perlahan memenuhi dadanya.

"Apa yang lagi kamu tunggu? Pergi sana!" usir resepsionis itu dengan nada ketus.

Alesha menundukkan kepala pelan.

"Baik, Mbak," jawabnya lirih.

Perlahan, ia pun berbalik untuk pergi.

Namun baru beberapa langkah berjalan, suara resepsionis itu kembali terdengar.

"Dasar wanita kampung. Dia pikir dia pantas di sini, apa?"

Alesha menundukkan kepalanya.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Tangannya menggenggam map lamaran itu sedikit lebih erat sebelum akhirnya melangkah menuju pintu keluar.

Bisikan-bisikan pelan terdengar dari beberapa karyawan.

Meski tidak semuanya jelas, Alesha tahu mereka sedang membicarakannya.

Namun ia memilih diam.

Ia sudah terlalu sering dipandang rendah oleh orang lain.

Ia sudah terlalu sering dipandang rendah hingga nyaris kebal terhadap perlakuan seperti itu.

Pintu kaca perusahaan terbuka.

Alesha melangkah keluar dengan perasaan kecewa.

Mungkin memang dirinya terlalu berharap.

Baru beberapa langkah berjalan, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan lobi perusahaan.

Alesha tidak terlalu memperhatikannya.

Ia terus berjalan sambil menunduk.

Di sisi lain, pintu mobil terbuka.

Kevin keluar lebih dulu.

Disusul Lea yang berjalan di sampingnya.

"Kak, nanti siang jangan lupa rapat dengan tim proyek Solvara Timur," ucap Lea.

Kevin mengangguk singkat.

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.

Tatapannya tertuju pada sosok yang sedang berjalan menjauh dari gedung perusahaan.

"Alesha?"

Lea spontan menoleh.

Matanya langsung membesar.

"Sha?"

Alesha menghentikan langkahnya.

Ia menoleh perlahan.

"Lea?"

Lea langsung berjalan cepat menghampirinya.

"Kamu sudah datang?"

Alesha tersenyum tipis.

"Iya."

"Terus kenapa kamu di luar?"

Alesha tampak ragu menjawab.

"Oh... aku hanya mau pulang."

"Pulang?" Lea mengernyit.

"Kamu belum masuk?"

Alesha terdiam beberapa saat.

Melihat reaksi itu, senyum Lea perlahan memudar.

"Alesha?"

"Katanya Tuan Kevin nggak ada, jadi aku pikir mungkin aku datang di waktu yang salah."

Lea langsung menoleh ke arah gedung perusahaan.

Wajahnya berubah serius.

Sementara Kevin yang berdiri tidak jauh dari sana sudah bisa menebak apa yang terjadi.

"Kamu sudah bilang kalau aku yang memintamu datang?" tanya Kevin.

Alesha mengangguk pelan.

"Saya sudah bilang."

"Dan menunjukkan kartu yang saya berikan?"

"Iya."

Wajah Kevin langsung kehilangan senyumnya.

Sorot matanya berubah tajam.

"Dia mengusirmu?"

Alesha terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan.

Lea langsung mengepalkan tangannya.

Wajahnya mulai kesal.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat.

"Lea..." panggil Kevin.

"Aku cuma mau bicara sebentar."

Nada suaranya terdengar sangat dingin.

Alesha menelan ludah.

Lea melangkah masuk ke dalam gedung dengan wajah dingin.

Kevin dan Alesha mengikuti dari belakang.

Begitu sampai di meja resepsionis, resepsionis yang bernama Dela itu langsung berdiri.

"Nona Lea..." ucap Dela sambil menundukkan kepala dengan hormat.

Lea tidak langsung menjawab.

Dengan gerakan tenang namun tegas, ia meletakkan kartu khusus pemimpin perusahaan di atas meja resepsionis dengan sedikit keras.

Brak.

Suara itu membuat Dela refleks menegang.

"Apa kamu tahu siapa pemilik kartu ini?" tanya Lea dengan nada dingin.

Dela mengangguk pelan.

"Iya, Nona."

"Sebutkan."

"Para pemimpin perusahaan ANANTA CORPORATION," jawab Dela.

Tatapan Lea semakin tajam.

"Menurutmu, apa arti kartu ini jika berada di tangan seorang tamu?"

Wajah Dela langsung pucat.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

"JAWAB!"

"Mereka adalah tamu khusus para pemimpin perusahaan, Nona," jawab Dela dengan suara gugup.

Lea menyipitkan matanya.

"Kalau tahu, kenapa kamu mengusir tamu dari Kak Kevin hah?!"

Dela langsung terdiam.

Keringat dingin mulai muncul di dahinya.

Lea menatapnya tajam.

"Dela, tugas resepsionis itu menyambut dan membantu tamu, bukan menghakimi mereka dari penampilan."

"Saya minta maaf, Nona..."

"Kamu bahkan tidak melakukan konfirmasi terlebih dahulu."

Dela menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Sekali lagi saya minta maaf, Nona."

Lea menghela napas pelan.

"Lain kali, siapa pun yang datang ke perusahaan ini harus tetap dihargai. Apalagi kalau mereka membawa kartu khusus dari pimpinan. Jangan pernah menilai seseorang dari pakaian atau penampilannya."

"Baik, Nona. Saya mengerti."

Lea mengangguk singkat.

"Lalu sekarang, minta maaf pada Alesha."

Dela langsung menoleh ke arah Alesha.

Wajahnya terlihat sangat malu.

"Saya minta maaf, Mbak Alesha. Saya sudah bersikap tidak sopan dan meremehkan Mbak."

Alesha sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka semua ini akan menjadi sebesar ini.

"Tidak apa-apa," jawabnya pelan.

"Tapi..."

Alesha tersenyum tipis.

"Saya sudah memaafkan Mbak."

Sikap Alesha yang tetap ramah justru membuat rasa bersalah Dela semakin menekan dadanya.

Sementara itu, Kevin tetap berdiri diam.

Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Namun tatapan tajamnya membuat Dela semakin gugup.

Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya.

"Sudah cukup," ucap Kevin akhirnya.

Suaranya tenang.

Tetapi justru terdengar lebih menekan.

Dela langsung mengangguk cepat.

"Baik, Tuan."

Lea kemudian meraih lengan Alesha dengan lembut.

"Ayo, Sha."

Alesha menoleh.

"Kita ke atas."

Lea tersenyum.

"Kali ini nggak ada yang boleh menghalangi kamu lagi."

Alesha ikut tersenyum kecil.

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju area lift.

Namun bukan lift yang biasa digunakan karyawan.

Mereka berhenti di depan lift khusus pimpinan.

Pintu lift berwarna hitam itu terbuka otomatis saat Kevin mendekat.

Beberapa pasang mata terus mengikuti langkah Alesha hingga pintu lift tertutup.

"Itu lift khusus direksi..."

"Siapa wanita itu?"

"Kok bisa masuk bareng Nona Lea?"

Bisikan-bisikan mulai terdengar dari berbagai arah.

Beberapa orang bahkan menatap Alesha dengan iri.

Sementara Alesha sendiri hanya berdiri canggung.

Ia merasa semua mata sedang memperhatikannya.

Lea tersenyum kecil melihat ekspresi itu.

"Masuk, Sha."

Alesha mengangguk pelan lalu melangkah masuk ke dalam lift bersama Lea dan Kevin.

Tak lama kemudian, pintu lift tertutup perlahan.

Meninggalkan para karyawan yang masih menatap ke arah lift dengan rasa penasaran dan iri yang tidak bisa mereka sembunyikan.

Tiba di lantai 14, pintu lift terbuka perlahan.

Kevin terlebih dahulu keluar, lalu diikuti Lea yang menggandeng tangan Alesha.

"Kita langsung ke ruangan Leon," ucap Kevin sambil melirik Lea sekilas.

Lea mengangguk paham.

"Leon," batin Alesha.

Entah kenapa nama itu terasa begitu familiar di telinganya.

Seolah ia pernah mendengarnya dari seseorang.

Mereka terus melangkah menyusuri koridor yang terlihat megah dan tenang.

Hingga akhirnya Kevin menghentikan langkah di depan sebuah ruangan besar yang bertuliskan CEO.

Pintu besar dengan desain elegan itu langsung memberi kesan berbeda dibanding ruangan lain di lantai tersebut.

Kevin menekan sebuah tombol yang berada di samping pintu yang menjulang tinggi itu.

Tak lama kemudian, pintu terbuka secara otomatis.

"Ayo," ajak Lea pada Alesha.

Alesha mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.

Entah kenapa, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Perasaan gugup yang tak bisa ia jelaskan perlahan memenuhi dadanya.

"Leon," ucap Kevin.

Leon menoleh perlahan.

Tatapannya menyapu Kevin dan Lea sebelum berhenti pada wanita yang berdiri di belakang mereka.

Untuk pertama kalinya, ekspresi Leon berubah.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Namun cukup untuk membuat Kevin menyadarinya.

Wanita itu terlihat menundukkan kepala dengan gugup.

"Siapa dia?" tanyanya dengan suara dingin khasnya.

Kevin menatap sahabatnya sejenak.

Lalu menjawab singkat.

"Dia Alesha."

Deg.

1
Ma Em
Leon sdh menemukan gadis teman masa kecilnya semoga benar Alesha reman masa kecil Leon dan berjodoh Alesha dgn Leon , Aldo sdh menikah dgn wanita pilihan nya apakah benar anak yg dikandung Risa adalah anaknya Aldo .
Hatnah Batulicin
peran Alesha org nya terlalu lemah dan letoy 😝😝😝
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Hatnah Batulicin
terlalu bnyk KTA "hah"disetiap dialog nya
Anonim: awokawok emang lawak awokawok blok
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjut Thor bikin cerita yg bikin tensi naik🤣🤣🤣🤣🤣
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
yookkk gelud yookkk Mak, sini biar saya smackdown

😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
dome🌬️🌀🌀🌀
haduuhhhhh... Jagan lembek laahhh kau wahai wanita. sudah dihina diremehkan ga dihargai sekarang disakiti secara verbal dan fisik apalagi yg kau harapkan dari si biyawak suamimu. gila digampar masih bisa ngarep dibela. digampar yaa neng digampar.. udah kayak ga ada harga diri lagi lu. ngapain masih ngarep laki percaya sama kamu
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhhhhh.... Mak lampir, itu bukan tanggung jawab mantumu yaa buat nafkahi kluarga kalian. setres kan kalian. coba brobat dl sapa tau gila.
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
dome🌬️🌀🌀🌀
kenapaaa,, kok berasa dunia mu yg runtuh Alesha dipecat. ga ada sumber pendapatan yaa yg bisa kau ambil dari Alesha lagi. makin lah kluarga suaminya semakin merendahkan Alesha... cereeeee ajaaaaaa laahhh Gedeg udah akuuuhhh😄😄😄😄
dome🌬️🌀🌀🌀
ihhhhh.... jengkelnya. kalau sudah tau tak dihargai dirumah yg kau anggap kluarga lebih baik pisaaahhhhhj... tinggalkan kluarga yg ga bisa menghargai mu itu Alesha. sudah dinafkahi seadanya banyak dituntut ini itu ga dihargai. parahnya udah kayak babu luar negri aja.
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
dome🌬️🌀🌀🌀
lanjuuutttt lah.. gaskeuunnnn🤗💪💪
dome🌬️🌀🌀🌀
haduhhhh,,,, baru awal bab dan baru paragraf pertama baca sudah membuat aku punya darah tinggi dadakan😤😤😤

Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁
Ma Em
Semoga Alesha sukses setelah berpisah dgn Aldo , Aldo pasti menyesal karena sdh menyia nyiakan istri sebaik dan sesabar seperti Alesha , semoga Alesha jadi orang yg sukses dan semakin bersinar .
Nona Jmn: Aamin😊
total 1 replies
Ma Em
Alesha kenapa kamu mau memenuhi kebutuhan Aldo dan ibunya sedangkan kerja kerasmu tdk pernah dihargai , lawan mereka Alesha jgn cuma nangis lbh baik tinggalkan suamimu yg tdk pernah menganggap mu istri tapi kamu cuma dianggap pembantu gratisan .
Nona Jmn: Pantau terus Alesha ya, kak🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!