Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.Malam Pembersihan
Jeritan histeris memecah kesunyian malam di hutan mati Perbatasan Barat. Sabetan horizontal yang dilepaskan Ren memotong zirah mewah sang tetua bangsawan semudah memotong lembaran kertas. Darah segar menyembur ke udara, menguap menjadi partikel energi merah yang langsung tersedot masuk ke dalam bilah pedang besi milik Ren.
"E-Monster! Dia monster dari perbatasan!" teriak salah satu pengawal bangsawan sisa yang ketakutan, menjatuhkan tameng bajanya dan mencoba berlari mundur ke arah kabut.
Namun, di depan seorang predator puncak ras vampir kuno, melarikan diri adalah ilusi yang menggelikan.
Ren bahkan tidak menoleh. Cerdas seperti biasa, tangan kirinya bergerak dengan jentikan jari yang sangat santai namun presisi.
*TAP!*
Mengikuti perintah mentalnya, tiga sesosok *Blood Golem* berzirah hitam legam melompat turun dari atas tebing batu. Mata mereka yang menyala merah membelah kegelapan kabut. Hanya dalam hitungan detik, tombak-tombak hitam mereka telah menembus dada para pengawal yang tersisa, membersihkan seluruh rombongan tanpa menyisakan satu pun saksi hidup.
### Penjarahan Logistik
Kabut merah perlahan menipis, menyisakan keheningan malam yang dingin dan genangan darah yang pekat di atas tanah berbatu. Lyra melangkah maju dari balik bayangan pohon mati, memegang sebuah daftar inventaris sihir yang ia ambil dari dalam kereta utama bangsawan.
"Mereka benar-benar berniat menguras habis sisa anggaran militer perbatasan sebelum kabur, Ren," Lyra tersenyum sinis, menendang salah satu peti kayu yang terbuka, memperlihatkan tumpukan batuan *Lumina* kualitas tinggi dan tumpukan koin emas Kekaisaran. "Semua pasokan ini... bisa membiayai operasional faksi bawah dan pengembangan senjata di Gorgona selama dua tahun ke depan."
Ren menyarungkan kembali pedang besi standarnya dengan satu gerakan lambat yang elegan. Sisa-sisa energi streaks merah di sekitar bilahnya meredup, kembali terkunci rapat berkat kendali mutlak *Blood Circulation*.
Wajah tampannya tertekuk dalam seulas *smug* dingin yang penuh kemenangan. "Bawa semua logistik ini ke dalam lapisan kedua Gorgona. Gunakan batu *Lumina* itu sebagai bahan bakar konversi untuk mematangkan *Blood Core*."
**"Hahaha! Kerja bagus, Bocah! Jiwa-jiwa ketakutan para bangsawan tadi benar-benar membuat Crimson bergetar puas!"** Crimson berseru riang dari dalam benak Ren, tato di lengan bawahnya memancarkan pendaran hangat. **"Sekarang, tidak ada lagi tikus yang mengganggumu di wilayah ini. Kau adalah raja tanpa mahkota di Perbatasan Barat!"**
### Surat Tantangan dari Ibu Kota
Tepat ketika para murid divisi ketiga mulai mengangkut peti-peti logistik, seekor burung merpati sihir mekanis berlambang Ordo Ksatria Perak terbang menembus kabut malam, mendarat tepat di atas pundak kereta yang hancur. Burung besi itu melepaskan selembar surat perkamen emas yang memancarkan Mana suci redup.
Ren mendekat, mengambil surat tersebut, dan membacanya di bawah temaram cahaya bulan.
> *"Kepada Perwakilan Juara Global, Ren dari Perbatasan Barat.*
> *Kemenanganmu di Kota Baja telah diakui oleh Dewan Tertinggi. Namun, atas tuduhan penggunaan metode sihir tidak sah dan keterlibatan dalam hilangnya Grandmaster Kaelen Vance, Pengadilan Suci Ibu Kota memanggilmu untuk menghadiri Sidang Klarifikasi dan Penyerahan Hak Kelola Gorgona di Istana Putih Elisia dalam waktu tiga minggu.*
> *Ketidakhadiran akan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan murni terhadap Kekaisaran."*
>
Membaca isi surat penuh ancaman politik tersebut, Lyra yang mengintip dari samping mendengus jijik. "Sidang Klarifikasi? Itu hanya istilah halus untuk jebakan eksekusi di depan publik. Mereka tahu mereka tidak bisa merebut Gorgona secara militer, jadi mereka menggunakan hukum Kekaisaran untuk menyeretmu ke wilayah mereka."
Ren meremas surat perkamen emas itu di tangan kanannya. Melalui sedikit hentakan energi kompresi murni, surat itu seketika hancur menjadi serpihan debu tak berbekas.
Satu mata crimson Ren berkilat intens di balik poni rambut perak abu-abunya, melepaskan guratan energi streaks merah yang sangat tajam membelah kegelapan malam. Sebuah *dangerous smirk* yang begitu dingin dan penuh antisipasi terukir di wajah tampannya.
"Memanggilku ke jantung Kekaisaran?" Ren berbisik halus, suaranya sarat akan aura pembantaian yang mencekik. "Kalau begitu, aku akan datang... dan memastikan Istana Putih mereka berubah warna menjadi merah darah."