Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genderang Perang
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan didalam mobil, Ethan yang tampak fokus menyetir dan Clarissa yang menikmati pemandangan jalanan, lampu penerang tampak indah dipadukan dengan malam.
Di pinggir jalan yang dilengkapi warung kecil tampak muda-mudi yang menikmati malam dengan menikmati makanan khas yang dijajakan warung kecil.
Atau di lampu merah dengan beberapa orang yang menjajakan barang atau sekedar menyumbang suara demi menyambung hidup.
Melihat hal itu semua menambah ras syukur dihati Clarissa bahwa hidupnya tak seberat orang lain, dan dia tak berjuang sendiri di bumi ini.
Mereka tiba di rumah tepat tengah malam, kondisi malam bertemankan angin yang berhembus pelan namun berhasil menusuk kulit.
Ethan masuk terlebih dahulu dan disusul Clarissa setelah mengunci gerbang dan pintu.
Setibanya dikamar mendapati Ethan yang masih bersiap mengganti pakaiannya.
"Kamu sadar gak bikin Mama sedih?" sahut Ethan yang melirik Clarissa masih duduk di meja rias.
"Maksud Mas?" sahut Clarissa Denga air muka bingung.
"Mama sudah lama mendambakan cucu, kenapa tidak kamu iyakan saja untuk menyenangkan hati Mama"
Clarissa diam sejenak dan mengingat obrolan mereka di meja makan.
"Apa kamu gak mau punya anak?" pertanyaan itu terdengar menyakitkan ditelinga Clarissa.
"Tentu aku mau, selama ini aku juga berusaha" Balas Clarissa dengan nada datar mengingat perjuangannya mencoba makanan sehat dan konsultasi ke dokter sendirian karena Ethan tidak mau ikut dengan alasan sibuk.
"Kalau mau, dengar saja saran Mama" balas Ethan sedikit membentak.
"Kenapa kamu tidak mendukungku saat Mama bilang begitu, kamu tau sendiri perjuanganku, melihat sendiri usahaku" balas Clarissa dengan menaikkan nada suaranya karena cukup kecewa karena selalu disalahkan karena belum bisa memberikan keturunan.
"Justru karena itu kamu harusnya mendengarkan Mama" Emosi Ethan meledak karena merasa tak terima ibu yang disayanginya terlihat sedih selama acara keluarga berlangsung.
"Kalau mau kita berdua yang konsultasi ke dokter, dulu dokter pernah bilang kita berdua harus di cek"
Terdengar suara botol yang dibanding hingga pecah berkeping-keping, Ethan mendekat dan mencengkeram wajah istrinya.
"Jadi maksud kamu, aku penyebabnya?"
"Bu...Bukan begitu Mas" sahut Clarissa yang susah payah berbicara dan sedikit merinding.
"Kamu seharusnya bersyukur karena keluarga ku menerima dan menyayangi kamu dengan tulus" Balas Ethan sembari melepas cengkeramannya dengan kasar.
Emosinya kian naik hingga sabuk yang dilepasnya tadi menghujam tubuh Clarissa, terdengar jeritan minta ampun dan sakit.
Ethan kian membabi buta kerna kesal dengan jawaban istrinya. Dia merasa tak ada yang salah darinya sehingga untuk apa ikut ke dokter.
Clarissa tampak ringkih beralaskan lantai yang dingin, angin sejuk yang mengisi ruangan itu tampak ikut memberikan nyeri pada luka baru di punggungnya. Bahkan kepalanya ikut berdenyut karena terkena cambukan ketika memberontak.
"Besok kamu telepon Mama dan bilang mau membuat janji konsultasi" Balas Ethan dengan helaan nafas kasar lalu bergegas merebahkan diri diatas ranjang.
Clarissa tak mengeluarkan suara tangisan lagi, hanya air mata yang mengalir lebih deras dan rasa nyeri kian menyeruak. Harus mengadu dan mendapat dukungan dari siapa?, tidak ada satu orang pun yang dirasa tepat untuk bercerita bahkan dengan Mamanya. Tidak ingin menambah beban keluarga, tidak ingin membuat Mama dan Papanya menjadi khawatir dan mendatangi kota ini.
Sering kali tangisnya tertahan hingga nadanya menjadi berbeda kala mengobrol dengan keluarga melalui panggilan video. Baginya masalah rumah tangganya tidak perlu diumbar kemanapun termasuk ke keluarga inti sekalipun.
Hampir setengah jam dia duduk dilantai memandangi lantai dan serpihan kaca yang harus segera dibersihkan. Dinginnya udara ikut menyiksa tubuhnya yang masih enggan bangkit. Namun kesadarannya kembali karena buat apa menyiksa diri dan menambah luka yang pada akhirnya diobati sendiri
Dia bangkit berdiri dan membersihkan serpihan kaca, kemudian membersihkan diri di kamar mandi. Cukup lama dia melakukan semua sebelum akhirnya siap bergabung untuk merebahkan tubuhnya. Sementara sosok yang memberinya luka sudah terlelap entah di menit ke berapa.