Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pagi mulai menyingsing di ufuk timur, perlahan mengusir sisa kegelapan malam yang dingin. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra kamar utama kediaman Salvatore.
Di atas ranjang, Isabella melenguh pelan. Kelopak matanya bergerak sedikit sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan dada bidang suaminya dan aroma maskulin khas Dominic yang selalu menenangkannya. Ia mendongak, mendapati wajah tampan Dominic yang sedang menatapnya dengan senyuman paling lembut, seolah pria itu tidak pernah beranjak dari ranjang sepanjang malam.
"Pagi Dom.."bisik Isabella dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, mempererat pelukannya di pinggang Dominic.
"Pagi juga, Sayang," jawab Dominic lembut. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di kening Isabella, lalu beralih ke bibir istrinya dalam sebuah kecupan singkat yang penuh kasih.
Namun, saat Isabella menggeser tubuhnya untuk bersandar lebih erat, tangan kanannya tidak sengaja menyentuh bahu kiri Dominic. Gerakan itu seketika membuat Dominic refleks menegangkan rahangnya, menahan denyutan nyeri yang luar biasa dari luka jahitan semalam yang mendadak tertekan.
Isabella, dengan insting nya yang peka, merasakan ketegangan sesaat pada tubuh suaminya. Ia mendongak kembali, menatap Dominic dengan kening berkerut.
"Ada apa? Kamu sakit?" tanya Isabella.
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya sedikit pegal karena posisi tidur yang salah semalam," bohong Dominic dengan senyuman yang sangat natural, sama sekali tidak menampilkan gurat kesakitan di wajahnya. Tangan kanannya dengan cepat mengusap pipi Isabella, mengalihkan perhatian istrinya dari bahu kirinya.
"Benarkah? Akhir-akhir ini kamu pasti terlalu lelah mengurus bisnis ekspor-impor itu," ucap Isabella dengan nada cemas, tanpa tahu bahwa "bisnis" yang dimaksud suaminya semalam melibatkan pembantaian berdarah dan penjarahan 25 ton logistik ilegal milik Antonio.
"Aku selalu baik-baik saja selama ada kamu dan Damian di sisiku," bisik Dominic, suaranya terdengar sangat tulus.
Tepat pada saat itu, pintu kamar mereka diketuk dengan pelan dari luar. Suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa terdengar mendekat.
"Daddy! Mommy!"
"Damian?" Isabella tersenyum manis, berusaha bangun dari dekapan suaminya.
Tapi sebelum Isabella bisa duduk tegak, Damian sudah menyela dengan suara yang sangat tenang namun penuh otoritas. "Mommy, aku sudah memberikan waktu tiga hari bagi Daddy untuk memonopoli waktumu. Tapi hari ini, aku memiliki rencana untuk kita sarapan bersama. Tanpa gangguan orang dewasa yang posesif."
Dominic yang masih setengah sadar langsung tersentak. Ia menarik Isabella lebih dekat, seolah memberi pesan tanpa kata bahwa wanita ini adalah miliknya.
"Damian," suara Dominic bariton, rendah, dan dingin. "Kau baru saja belajar cara merangkai kalimat dengan benar, jangan gunakan itu untuk mengusir Daddymu dari istrinya sendiri. Kita baru menikah tiga hari, biarkan aku menikmati pagi ini bersama dengan Mommy mu"
Damian tidak bergeming. Ia melipat tangannya, matanya menatap Dominic dengan sorot mata yang begitu mirip—dingin, tajam, dan mematikan.
"Status pernikahan hanyalah formalitas administratif, Dad. Ikatan darah antara aku dan Mommy tidak akan pernah bisa didelegasikan. Kau sudah memilikinya sepanjang malam, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang, lepaskan tanganmu dari pinggang Mommy sebelum aku memanggil Paman Darius untuk membawakan dokumen pembatalan sarapanmu."
Dominic membelalakkan matanya, tertegun. Sial, batinnya, bocah ini benar-benar belajar dari cara musuh-musuhku menegosiasikan wilayah.
Isabella yang berada di antara mereka hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan tawa melihat Dominic Salvatore—pria yang ditakuti seluruh dunia bawah—kini tampak frustrasi hanya karena debat dengan bocah berumur beberapa tahun.
"Damian," Dominic mendengus, rasa cemburu mulai membakar dadanya. Ia tidak suka istrinya diperebutkan, bahkan oleh anak kandungnya sendiri. "Kau belajar dari siapa sikap tidak sopan ini? Apa kau pikir karena kau anakku, kau bisa seenaknya mengatur jadwal istriku?"
"Aku hanya belajar efisiensi darimu, Dad," jawab Damian datar. "Bukankah kau yang bilang bahwa di dunia ini, siapa yang cepat dia yang dapat? Aku sudah memesan meja di taman, dan aku sudah memberi tahu pelayan untuk tidak menyajikan kopi untukmu. Hanya teh herbal untuk Mommy dan aku."
Dominic menoleh ke arah Isabella, menatap istrinya dengan tatapan meminta pembelaan. "Sayang, katakan pada anak kecil ini siapa kepala rumah tangga di sini."
Isabella akhirnya tertawa renyah, suara tawanya memecah ketegangan. Ia mengecup pipi Dominic yang kesal, lalu beralih mengusap rambut Damian. "Kalian berdua ini... kenapa pagi-pagi sudah bertengkar? Dominic, dia hanya ingin sarapan denganku. Damian, jangan terlalu keras pada Daddy-mu, dia baru saja... bekerja sangat keras semalam."
Dominic menatap Damian dengan smirk kemenangan tipis, menganggap dirinya menang karena Isabella membelanya. Namun, Damian hanya menghela napas panjang, menatap Dominic dengan tatapan yang seolah berkata: Kau hanya menang sementara, Dad.
"Baiklah, aku akan memberi kalian waktu 10 menit untuk bersiap," Damian berbalik dan berjalan keluar dengan langkah yang sangat teratur. "Setelah itu, Mommy adalah milikku."
Dominic menatap punggung kecil itu dengan perasaan campur aduk: kesal karena cemburu, tapi juga bangga melihat putranya memiliki keberanian yang sama seperti dirinya. Ia kembali menatap Isabella, lalu berbisik di telinganya, "Aku akan memastikan Damian tahu bahwa meski aku membagikan waktumu dengannya, kau tetap milikku sepenuhnya, setiap malam."
Begitu pintu kamar kembali tertutup rapat setelah kepergian Damian, keheningan yang intim langsung menyelimuti ruangan. Dominic mengembuskan napas panjang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Isabella sembari memeluk pinggang istrinya erat-rakat dari belakang.
"Anak itu benar-benar titisan iblis," gumam Dominic, suaranya terdengar serak, berat, dan sangat manja—sisi tersembunyi yang hanya diketahui oleh dinding kamar ini dan Isabella. "Baru tiga hari kita menikah, dia sudah bertingkah seolah aku ini selingkuhanmu."
Padahal kemarin kemarin Damian sangat dewasa. Tapi sekarang sudah terlihat sisi ke kanak-kanakan nya.
"Dia itu persis seperti kamu. Posesif, keras kepala, dan tidak mau kalah," goda Isabella dengan senyuman manis yang sanggup meluluhkan seluruh kerisauan di hati Dominic.
Mendengar ucapan manis istrinya, sepasang mata elang Dominic seketika menggelap, dipenuhi oleh binar cinta dan gairah yang mendalam. Sebuah smirk tampan terukir di bibirnya.
Mengabaikan denyutan perih di bahu kirinya yang terbalut perban di balik gaun tidur satinnya, Dominic memajukan wajahnya.
Ia mengecup dahi Isabella dengan lembut, turun ke kedua kelopak matanya, sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di atas bibir lembut Isabella. Ciuman itu dimulai dengan sangat perlahan, penuh kehati-hatian seolah Isabella adalah permata paling rapuh di dunia, sebelum berubah menjadi ciuman yang dalam, menuntut, dan sarat akan rasa kepemilikan yang mutlak.
Isabella mendesah pelan di sela ciuman mereka, mengalungkan kedua tangannya di leher Dominic, mempererat kedekatan tubuh mereka yang hanya dibatasi oleh kain satin tipis. Kehangatan tubuh Isabella menjadi obat penawar paling mujarab bagi Dominic setelah malam berdarah yang melelahkan di pelabuhan.