Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Mendengar kekhawatiran istrinya, rahang Dominic sempat mengeras sekilas. Namun, ia segera mengendurkannya agar tidak membuat Isabella semakin tegang. Ia mengecup pucuk kepala Isabella dengan penuh penegasan.
"Dengarkan aku," ucap Dominic, suaranya berat dan berwibawa. "Victoria mungkin seorang matriark faksi tua di Eropa, tapi di sini, di bawah kekuasaanku, dia tidak lebih dari seorang asing. Aku sudah memerintahkan seluruh tim keamanan untuk memperketat penjagaan di setiap sudut. Bahkan seekor lalat pun tidak akan bisa mendekatimu atau Damian tanpa izin dariku."
Dominic menangkup dagu Isabella, memaksanya mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang berkilat penuh keyakinan.
"Aku adalah perisaimu, Isabella. Siapa pun yang berani menyentuh keluargaku—termasuk ibuku sendiri—harus melangkah melewati mayatku terlebih dahulu. Jadi, jangan pikirkan apa pun lagi selain kesehatanmu dan calon bayi kita, mengerti?"
Isabella menatap ketulusan dan kekuatan di mata suaminya. Pada detik itu, sebuah kelegaan yang luar biasa besar merayap dan memenuhi seluruh rongga dadanya. Ketakutan yang sempat menghantui pikirannya menguap seketika, digantikan oleh rasa aman yang mutlak.
Di dalam hatinya, Isabella menyadari satu hal yang teramat berharga. Dunia luar mungkin penuh dengan kekejaman, ancaman dari mertua yang berkuasa, atau intrik klan mafia yang mematikan. Namun, dunia akan selalu baik-baik saja jika suami selalu berpihak kepada kita. Keberpihakan Dominic malam ini bukan hanya menjadi perisai fisik bagi Isabella, melainkan juga jangkar yang membuat jiwanya tetap kokoh menghadapi badai apa pun di depan sana.
"Iya, aku mengerti, Dominic," jawab Isabella dengan senyuman tulus yang kini memancarkan ketenangan.
Tepat saat atmosfer di antara mereka berdua semakin intim, pintu kamar yang besar perlahan terbuka sedikit demi sedikit tanpa suara.
Sesosok bocah kecil dengan piyama sutra hitam bermotif senada dengan milik Dominic melangkah masuk dengan santai. Damian tidak membawa mainan, melainkan memegang sebuah tablet pintar berlogo Salvatore Corp di tangan kecilnya.
"Sangat tidak mengejutkan melihat pemandangan sentimental ini di jam istirahat," cetus Damian lempeng sembari berjalan menuju tepi ranjang.
Dominic mengembuskan napas panjang, melirik putranya dengan dahi berkerut. "Damian, ini sudah lewat jam tidurmu. Kenapa kau belum berada di kamarmu?"
Damian melompat naik ke atas kasur dengan gerakan yang sangat rapi, lalu duduk bersila di ujung kaki mereka. Ia membetulkan letak tabletnya sebelum menatap Dominic dan Isabella bergantian dengan mata elang kecilnya yang super serius.
"Aku baru saja selesai meninjau ulang sistem keamanan siber rumah ini, Dad," ucap Damian tanpa ekspresi, seolah hal itu adalah aktivitas biasa bagi bocah berusia lima tahun sebelum tidur.
"Dan aku menemukan ada lonjakan aktivitas pelacakan data dari beberapa server anonim di Eropa yang mencoba mengakses riwayat medis Mommy dalam enam tahun terakhir. Kurasa, jaringan faksi tua milik Nyonya Victoria sudah mulai bergerak secara taktis."
Mendengar laporan dari mulut anak kecil itu, atmosfer di dalam kamar mendadak berubah serius dalam sekejap. Dominic menyipitkan matanya, menyadari bahwa putranya tidak sedang membual. Kebijaksanaan dan kemampuan Damian dalam membaca situasi siber memang jauh melampaui usianya.
"Kau berhasil memblokirnya?" tanya Dominic dengan nada ketat.
"Tentu saja," sahut Damian bangga dengan smirk kecil yang terukir di bibirnya. "Aku memasang umpan data palsu yang akan membuat pencarian mereka berakhir di klinik hewan di pinggiran Paris. Tapi, ini membuktikan bahwa musuh kita tidak akan tinggal diam, Dad. Jadi, berhentilah bersikap terlalu santai hanya karena Mommy sedang hamil. Kita harus bersiap untuk serangan balik yang lebih sistematis."
Dominic mengusap bahu Isabella dengan lembut sebelum kembali menatap Damian dengan tatapan mengintimidasi namun bangga.
"Kerja bagus, Damian," ucap Dominic, suaranya berat dan penuh wibawa. "Tapi tugasmu malam ini sudah selesai. Biar Daddy yang mengurus sisa jaringan Marcus dan Victoria di Eropa. Sekarang, matikan tabletmu dan tidur."
Damian menatap Dominic selama beberapa detik, seolah sedang menguji otoritas ayahnya, sebelum akhirnya menghela napas pasrah. Ia memaktikan layar tablet pintarnya.
"Baiklah. Gencatan senjata malam ini diterima," kata Damian lempeng. Bocah itu kemudian merangkak mendekati Isabella, mengecup pipi ibunya sekilas. "Selamat malam, Mommy. Jaga kesehatan calon bawahanku."
"Selamat malam, jagoan Mommy," balas Isabella dengan senyum paling manis yang ia miliki.
Damian kemudian melirik Dominic dengan tatapan datar andalannya. "Selamat malam, Dad. Jangan biarkan emosimu mengacaukan strategi pertahanan kita besok pagi."
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya, bocah cilik itu melompat turun dari ranjang dengan anggun dan melangkah keluar kamar, menutup pintu ganda dengan sangat rapat.
Kamar utama itu kembali diselimuti keheningan yang intim. Dominic menunduk, mengecup kening Isabella dengan penuh perasaan, lalu membisikkan janji yang mengunci semua rasa aman di hati istrinya.
"Tidurlah, Sayang. Selama aku masih bernapas, tempat ini akan selalu menjadi tempat paling aman untukmu dan anak-anak kita. Aku selalu ada di pihakmu."