Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK TERDUGA
Pagi itu berjalan tenang seperti biasanya. Kirana baru saja menuang segelas air putih ketika Mbak Siti keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah potong segar.
"Nduk Kirana, nanti sore jangan lupa ya," ucap Mbak Siti sembari menata piring di meja.
Kirana mengangkat kepala dari gelasnya. "Lupa apa, Mbak?"
"Makan malam di rumah utama."
"Oh." Kirana langsung ingat. Beberapa hari lalu Bu Rini memang sempat mengirim pesan di grup keluarga, mengundang mereka makan malam bersama. Namun karena beberapa hari terakhir cukup sibuk dengan kegiatan yayasan, ia hampir melupakannya. "Ada acara khusus, Mbak?"
Mbak Siti tersenyum ramah. "Nggak tahu pasti, Nduk. Katanya ada tamu yang baru pulang dari luar negeri."
Sebelum Kirana sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah tangga. Danendra turun dengan setelan kerja yang sudah rapi.
"Mas, nanti makan malam di rumah Ayah dan Ibu, kan?" tanya Kirana saat suaminya mendekati meja.
Danendra mengangguk pendek. "Iya."
"Kata Mbak Siti ada tamu."
Danendra tampak berpikir sebentar, memperbaiki letak jam tangannya. "Risa pulang."
Kirana mengernyitkan alisnya samar. "Risa?"
"Teman lama."
Jawaban itu singkat sekali. Danendra memang seperti itu. Kalau ditanya satu kalimat, jawabannya sering kali tidak lebih dari dua atau tiga kata.
"Teman kuliah?" tanya Kirana lagi.
"Bisa dibilang begitu." Pria itu kemudian mengambil kunci mobilnya di atas bufet. "Aku berangkat dulu."
Kirana hanya mengangguk pelan. Ia melepas kepergian suaminya meski rasa penasaran di dalam hatinya belum terjawab seutuhnya. Teman lama. Entah kenapa, jawaban sesingkat itu justru membuatnya semakin ingin tahu.
Sore harinya, mereka berangkat bersama menuju rumah utama keluarga Adipati. Rumah besar yang sudah sangat akrab bagi Kirana itu terlihat jauh lebih ramai dibanding biasanya. Beberapa mobil mewah sudah terparkir rapi di halaman depan.
Begitu melangkah masuk ke dalam lobi, suara tawa yang lepas langsung terdengar dari arah ruang keluarga. Bu Rini menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan mereka.
"Nah, akhirnya datang juga."
Kirana mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. "Maaf agak terlambat, Bu."
"Ngak terlambat kok, Sayang. Orang yang ditunggu juga baru saja bersiap di dalam."
Belum sempat Kirana bertanya, sebuah suara perempuan terdengar dari arah belakang sekat ruangan. "Tante, ini yang namanya Kirana?"
Kirana spontan menoleh ke arah sumber suara. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah di belakang Bu Rini. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dari Danendra. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana panjang berwarna krem. Tidak ada yang mencolok dari penampilannya, tetapi ada sesuatu dalam senyumnya yang membuat orang mudah merasa nyaman.
"Risa," kata Bu Rini sembari tersenyum melebar.
"Oh." Perempuan itu langsung mendekat dengan langkah ringan, mengulurkan tangan kanannya. "Halo. Aku Risa."
"Kirana," sahut Kirana, menyambut jabatan tangan tersebut.
"Senang akhirnya bisa ketemu langsung." Risa menjabat tangannya dengan ramah dan tulus. "Percaya nggak, aku sudah sering dengar nama kamu bahkan sebelum aku resmi pulang ke Indonesia."
Kirana ikut tersenyum tanpa sadar. Sulit bersikap tidak suka pada seseorang yang baru datang beberapa menit lalu tetapi sudah membuat seluruh ruangan terasa lebih hangat. "Dari Ibu?"
"Tentu saja," kekeh Risa santai.
"Risa!" Bu Rini langsung memprotes dengan wajah memerah, membuat Risa justru tertawa semakin keras. Suasana yang tadinya terasa sedikit canggung di antara dua perempuan itu langsung mencair dengan cepat.
Sekarin sepuluh menit kemudian, suara pintu depan kembali terdengar terbuka. Risa yang sedang asyik bercerita di sofa langsung menoleh ke arah pintu. Danendra baru saja masuk bersama Pak Adipati yang rupanya masih menyelesaikan panggilan telepon bisnis di pelataran luar.
Langkah kaki Danendra sempat terhenti sesaat ketika melihat keberadaan Risa di ruang tamu. Lalu, seulas senyum kecil yang samar terbit di wajah tegapnya.
"Risa."
Perempuan itu langsung bangkit berdiri dari sofa. "Danendra."
Mereka tidak terlihat canggung. Tidak juga terlalu antusias seperti orang yang lama tidak bertemu. Seolah lima tahun bukan jarak yang cukup jauh untuk membuat hubungan mereka terasa asing bagi satu sama lain.
"Baru sampai siang?" tanya Danendra, melangkah mendekat.
"Kemarin malam sebenarnya."
"Lalu kenapa baru muncul sekarang?"
Risa mengangkat kedua bahunya kasual. "Aku tidur hampir seharian."
"Item namanya pingsan, bukan tidur," sahut Danendra lempeng.
Risa langsung tertawa renyah, menepuk lengan Danendra akrab. "Kamu masih menyebalkan ternyata ya."
Danendra hanya menggelengkan kepala pasrah. Kirana memperhatikan seluruh percakapan mereka secara diam-diam dari kursinya. Cara mereka melempar kalimat terasa begitu ringan. Seolah tidak ada jarak lima tahun yang pernah memisahkan mereka.
Makan malam berlangsung dengan sangat hangat. Sebagian besar obrolan di meja makan dipenuhi oleh kilas balik cerita lama yang sama sekali tidak dipahami oleh Kirana; tentang masa kuliah mereka di luar negeri, tentang perjalanan organisasi, hingga tentang teman-teman lama yang kini tinggal menetap di berbagai negara. Sesekali Kirana ikut menanggapi seperlunya, tetapi ia lebih sering memilih menjadi pendengar yang baik.
"Tante, Danendra masih suka kopi pahit?" tanya Risa tiba-tiba di sela makan mereka.
Bu Rini langsung menjawab lebih dulu sambil tersenyum. "Masih, Risa. Nggak berubah."
Risa langsung tertawa menoleh ke arah Danendra. "Aku sudah bilang. Kamu masih ingat saja kebiasaan itu."
"Itu karena kamu pernah marah-marah gila gara-gara kopi kantin tidak sengaja dikasih gula sama penjaganya," goda Risa lepas.
Danendra menghentikan gerakan sendoknya sejenak, menghela napas pendek. "Itu fitnah, Risa."
"Danendra," sela Risa memicingkan mata, menuntut pengakuan.
"Itu benar-benar fitnah," sahut Danendra datar tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
Risa langsung tertawa renyah mendengar jawaban itu. Ia kembali menyuap makanannya sebelum melayangkan pertanyaan baru. "Masih simpan kebiasaan begadang juga?"
Danendra menghentikan gerakan sendoknya sejenak, menghela napas pendek. "Risa."
"Apa? Aku cuma tanya," tawa Risa lepas.
"Kamu terlalu banyak tahu," sahut Danendra lempeng.
Kirana diam-diam memperhatikan interaksi itu dari posisinya. Bu Rini ikut menceritakan masa kuliah mereka di luar negeri, sementara Pak Adipati beberapa kali tersenyum menanggapi obrolan.
Sementara itu, Kirana hanya duduk mendengarkan di kursinya. Sesekali ia tersenyum, sesekali mengangguk sopan untuk menanggapi obrolan. Namun, fokus matanya lebih sering mengamati diam-diam. Karena untuk pertama kali selama setahun menikah, hal itu mulai mengganggunya.
Risa mengenal banyak sekali sisi manusiawi Danendra yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Hal-hal kecil, kebiasaan remeh, hingga potongan cerita lama yang terjadi jauh sebelum Kirana hadir mengisi posisi di rumah mereka.
Bukan karena Risa melakukan sesuatu yang salah. Perempuan itu sangat ramah, menyenangkan, bahkan tidak pernah sekali pun menunjukkan sikap yang membuat Kirana merasa dikesampingkan atau tidak dihargai sebagai istri.
Mungkin akan lebih mudah kalau Risa adalah orang yang menyebalkan. Nyatanya tidak. Dan justru itu yang membuat Kirana semakin tidak nyaman dengan pikirannya sendiri. Karena untuk pertama kalinya selama setahun menikah, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.
Sedekat apa sebenarnya hubungan mereka dulu?
Kirana langsung menundukkan kepalanya, menatap piring makannya sendiri untuk menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mendadak merayap di dadanya. Ia berusaha keras memusatkan perhatian pada sisa makanan di piring. Namun hingga mobil mereka bergerak pulang membelah malam Jakarta, pertanyaan tersebut tetap tinggal di kepalanya. Dan anehnya, semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin sering nama Risa Prameswari muncul di kepalanya.