Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Malam semakin larut.
Lampu gerai Ayam Geprek Cinta tinggal menyisakan cahaya kuning redup di bagian depan ruko. Jalanan mulai sepi. Hanya sesekali motor melintas cepat.
Celsi masih berdiri di dekat pintu.
Tatapan Aska belum juga lepas dari wajahnya.
"Kayaknya susah langgeng kalau belum mulai hubungan dulu ya?"
Kalimat itu masih menggantung di udara.
Celsi langsung memalingkan wajah sambil tertawa kecil canggung.
"Hah? Maksudnya apa?"
Aska memasukkan tangan ke saku celana. Senyumnya tipis.
"Kamu paham kok."
"Enggak."
"Celsi."
Nada suara Aska turun pelan. Hangat. Tidak memaksa.
Namun justru itu yang membuat dada Celsi makin tidak tenang.
Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Udah malam, Ko. Nanti Tante Ayu nungguin."
Aska menghembuskan napas pelan.
Dia tahu.
Celsi sengaja menghindar.
Perempuan itu bukan tidak mengerti. Dia hanya takut membuka pintu yang pernah menghancurkannya sendiri.
Aska menatap wajah Celsi cukup lama.
Ada luka yang belum selesai di sana.
Dan dia bisa melihatnya dengan jelas.
Bukan lewat air mata.
Bukan lewat cerita.
Tapi dari cara Celsi selalu menjaga jarak saat suasana mulai terasa terlalu dekat.
Aska tersenyum kecil.
"Ya udah. Aku pulang."
Celsi mengangguk cepat.
"Iya. Hati-hati."
Aska membuka pintu mobil, lalu berhenti lagi.
"Si."
"Hm?"
"Aku nggak bercanda tadi."
Jantung Celsi langsung terasa jatuh pelan.
Aska melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku tahu kamu takut."
Tatapan Celsi perlahan berubah.
Aska tersenyum tipis.
"Tapi aku nggak buru-buru."
Lalu dia masuk ke mobil dan pergi.
Meninggalkan Celsi yang masih berdiri mematung di depan gerai.
Angin malam meniup pelan rambut di sisi wajahnya.
Dan anehnya...
Hatinya justru terasa makin ribut.
---
Hari-hari berlalu.
Aska tidak pernah memaksa.
Tidak pernah menuntut jawaban.
Namun kehadirannya terasa semakin nyata dalam hidup Celsi.
Kadang pria itu datang pagi-pagi hanya untuk mengantar kopi.
Kadang membantu mengecek stok.
Kadang duduk diam menemani Celsi menyusun laporan tanpa banyak bicara.
Aska seperti sengaja memberi ruang.
Dan justru itu yang membuat Celsi bingung.
Karena semakin nyaman seseorang hadir...
Semakin besar rasa takut kehilangan.
Celsi mulai sadar dirinya perlahan terbiasa.
Terbiasa mendengar suara Aska.
Terbiasa melihat mobil pria itu berhenti di depan gerai.
Terbiasa merasa tenang saat Aska ada di dekatnya.
Namun setiap kali hatinya mulai bergerak terlalu jauh...
Bayangan masa lalu langsung datang.
Kalimat-kalimat lama kembali terdengar.
"Kamu perempuan tapi nggak bisa kasih anak."
"Rumah tangga tuh percuma kalau nggak ada keturunan."
"Kamu egois."
Dadanya selalu sesak setiap mengingat itu.
Karena luka paling menyakitkan bukan hanya tentang ditinggalkan.
Tapi tentang merasa gagal menjadi perempuan yang utuh.
Dan Celsi belum siap membuka semua itu pada siapa pun.
Termasuk Aska.
---
Pagi itu gerai sedang ramai.
Celsi berdiri di dekat meja kasir sambil memeriksa daftar bahan.
"Cabai tinggal sedikit?" gumamnya.
Salah satu pegawai mengangguk.
"Iya Teh. Supplier biasa lagi naik harganya."
Celsi berpikir sebentar.
Lalu membuka ponsel.
Kemarin malam ia mendapat nomor petani cabai dari kenalan pasar.
Harganya jauh lebih murah.
Namun lokasinya cukup jauh dari kota.
Celsi langsung menghubungi nomor itu.
Setelah berbicara cukup lama, akhirnya mereka sepakat bertemu siang ini.
"Aska tahu?" tanya pegawainya.
Celsi langsung menggeleng.
"Enggak usah. Aku bisa sendiri."
"Jauh loh Teh."
"Nggak apa-apa."
Ia tersenyum kecil.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Celsi sengaja membatasi diri.
Karena semakin baik Aska padanya...
Semakin takut ia bergantung.
---
Menjelang siang, Celsi berangkat memakai motor.
Langit cukup cerah.
Namun semakin jauh dari kota, jalanan mulai berubah sepi.
Rumah-rumah semakin jarang.
Aspal mulai rusak di beberapa bagian.
Kanan kiri hanya kebun dan ladang panjang.
Celsi sempat melihat peta di ponsel beberapa kali.
"Masih jauh ternyata..." gumamnya.
Angin terasa lebih dingin saat ia masuk ke jalur sempit di antara perkebunan.
Perasaannya mulai tidak nyaman.
Tapi ia mencoba tenang.
Saat akhirnya tiba, tempat itu ternyata hanya gudang sederhana di pinggir kebun cabai.
Seorang pria kurus menyambutnya.
"Teh Celsi?"
"Iya Pak."
"Mari lihat barang dulu."
Celsi mengikuti sambil tetap waspada.
Gudang itu cukup sepi.
Hanya ada dua orang pekerja lain di dalam.
Karung-karung cabai merah tersusun tinggi.
Celsi jongkok memeriksa kualitas cabai.
Masih segar.
Warnanya bagus.
Ia mulai menawar harga cukup lama.
Pria itu akhirnya tertawa kecil.
"Teh ini pinter nawarnya."
Celsi ikut tersenyum tipis.
"Kalau nggak nawar nanti saya rugi."
Akhirnya mereka sepakat.
Celsi membeli cukup banyak.
Cabai dimasukkan ke dalam beberapa karung kecil agar mudah dibawa motor.
Saat semuanya selesai, langit mulai berubah mendung.
Celsi buru-buru pamit.
"Terima kasih ya Pak."
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
Celsi langsung memakai helm dan menyalakan motor.
Awalnya perjalanan terasa biasa saja.
Namun semakin jauh meninggalkan gudang tadi...
Perasaan tidak nyaman itu muncul lagi.
Jalanan sangat sepi.
Tidak ada kendaraan lain.
Hanya suara motor dan angin sore.
Celsi sempat melirik kaca spion.
Kosong.
Ia mencoba menghela napas lega.
Namun tiba-tiba...
Sebuah motor muncul cepat dari belakang.
Lalu satu lagi.
Celsi langsung menegang.
Motor itu berjalan terlalu dekat.
Sangat dekat.
Dadanya mulai berdebar keras.
Ia mempercepat laju motor.
Namun dua motor itu ikut mempercepat.
Salah satu pengendara tertawa keras.
"Sendirian aja, Mbak?"
Tangan Celsi langsung dingin.
Ia tidak menjawab.
Motor di sebelah kirinya makin mendekat.
"Mau ke mana buru-buru?"
Celsi panik.
Tangannya gemetar memegang setang.
Ia mencoba fokus ke jalan.
Jangan panik.
Jangan panik.
Namun suara mereka makin membuatnya takut.
"Berhenti dulu dong."
"Takut ya?"
Salah satu pria tiba-tiba mencoba menyentuh karung di belakang motor Celsi.
Celsi refleks menghindar.
Motornya oleng sedikit.
"Nah bahaya tuh kalau jatuh..." suara pria itu tertawa.
Napas Celsi mulai tidak teratur.
Jalanan di depan masih panjang dan sepi.
Tidak ada rumah.
Tidak ada warung.
Tidak ada siapa-siapa.
Air matanya mulai turun tanpa sadar.
Ia benar-benar ketakutan.
Lalu tiba-tiba...
Salah satu motor memotong jalannya dari depan.
Celsi langsung mengerem mendadak.
Ban motornya hampir tergelincir.
Jantungnya terasa mau lepas.
Dua pria itu turun sambil tersenyum menyeramkan.