Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ungkapan Cinta
Bab 28
Kedua tangan Eru dengan sigap langsung melingkar erat di pinggang Cinta, menahan punggung gadis itu agar posisinya stabil dan tidak merosot jatuh ke tanah.
Dalam posisi yang sangat dekat ini, Cinta bisa merasakan hangatnya deru napas Eru yang menerpa permukaan wajahnya. Aroma parfum maskulin yang menguar kuat dari tubuh pria itu. Di bawah telapak tangan Cinta, otot bahu Eru terasa mengeras, menopang seluruh berat badannya tanpa kesulitan sedikit pun. Eru tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Ia menatap lekat-lekat mata Cinta.
“Posisinya udah pas. Boleh aku ….”
Eru tidak meneruskan ucapannya. Cinta kembali menelan saliv4, dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, tapi tidak menolak apa lagi berusaha menghindar. Tangan kanan Eru yang awalnya berada di pinggang CInta, perlahan bergerak naik menangkup sisi wajah. Terasa begitu hangat dan jarinya mengusap pipi yang sudah merona merah.
Cinta menahan napas, tubuhnya mendadak kaku saat wajah Eru perlahan bergerak mengikis jarak yang tersisa. Saat bibir Eru menyentuh bibirnya, ia memejamkan mata. Sentuhan itu begitu lembut dan ragu-ragu, hanya sekedar kecup4n. Namun, tidak ada yang menduga berikutnya.
Dekapan tangan kiri Eru di punggung Cinta semakin mengerat, memperdalam ciuman mereka. Setelah beberapa detik yang terasa, Eru perlahan menarik wajahnya. Kening mereka masih saling bertumpu, membuat keduanya bisa mendengar deru napas masing-masing yang memburu.
Cinta membuka matanya perlahan, tatapannya sayu dan nafasnya sedikit terengah. "Ru….” Suaranya nyaris hilang, tangannya meremas kaos yang dikenakan pria itu.
Eru tersenyum, menatap bibir Cinta yang kini tampak sedikit basah lalu kembali mengunci pandangan mereka. Mengecup kening gadis itu dengan lembut sebelum akhirnya melonggarkan dekapan.
“Tadi, first kiss aku.”
“Kalau gitu, seri,” sahut Eru. “Kamu milikku,” ucap Eru lagi. “Aku anggap cium4n tadi ungkapan cinta dan jawaban perasaan kamu.”
Cinta hanya bisa menunduk lalu menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di d4da Eru, tidak berani mendongak lagi karena takut jantungnya benar-benar melompat keluar. Terdengar bel dan ketukan pintu.
“Sarapan kita, geser dulu atau aku gendong ke pintu?”
Cinta gegas melompat ke samping Eru.
***
“Ta, hati-hati. Takut batunya licin,” ucap Umar karena sikap Cinta kadang pecicilan.
“Aman bang, aku udah pake sepatu anti slip.”
Sudah tiba di area tempat mereka syuting. Tempat wisata yang disebut hidden gems oleh penduduk sekitar. Kali ini mereka berada di air terjun Luweng Sampang. (Lokasi yang disebutkan di novel ini benar adanya ya, hasil pencarian di google dan beberapa artikel online. Kisah Cintanya aja yang fiksi).
Asep dan Eru di tempat tiket menyampaikan surat izin mereka. Abil mengeluarkan peralatan. Umar sudah memperkirakan akan mengambil gambar dari mana saja.
“Cinta,” panggil Umar lalu mengarahkan gadis itu, bagian mana yang harus menggunakan drone. Cinta manggut-manggut, sesekali menanggapi dan memberikan usulan. “Nanti lo naik ke sebelah sana, tapi hati-hati.”
“Siap bang, ih seru. Untung bawa ganti, bisa basah-basahan.”
Tidak lama Asep dan Eru kembali, mereka membantu Abil mengkondisikan kamera besar yang akan digunakan Umar. Memastikan tidak jatuh apalagi kena air. Bahkan driver pun ikut turun membantu. Beruntung ini weekdays, jadi tidak ramai pengunjung, tapi proses syuting menjadi perhatian. Para pengunjung malah ikut nimbrung.
“Geser dikit ya, nanti malah nggak bagus di kamera. Ayo bubar aja, nikmati airnya,” seru Asep.
Eru membantu Cinta memasang drone dan mencoba menerbangkannya. “Mas Abil, ini bukan yang biasa ya?”
“Bukan. Yang biasa dipakai tim lain. Tapi aman kok, udah saya coba sebelum kita berangkat.”
Cinta berdiri agak jauh di bawah keteduhan pohon, memegang remote control drone dengan layar monitor yang menampilkan lanskap dari ketinggian.
“Angin dari arah timur agak kencang, Ta. Naikin ke seratus meter dulu baru panning ke kiri," ujar Abil sambil menunjuk arah lalu menghampiri Umar dan Asep.
“Oke. Ini aku coba naikin pelan-pelan," sahut Cinta, jemarinya sedikit gemetar menggerakkan joystick pada remote. Ia masih sedikit gugup, bukan karena menerbangkan drone mahal milik perusahaan, tapi juga karena sosok yang berdiri tepat di sampingnya.
Eru. Pria itu berdiri di sana dengan melipat tangan di dada. Pandangannya bergantian antara menatap layar monitor drone di tangan Cinta dan melirik wajah gadis itu. Kejadian di kamar tadi masih menyisakan kecanggungan yang manis di antara mereka.
"Kamu terlalu teg4ng pegang remote-nya," bisik Eru, suaranya rendah agar tidak terdengar oleh yang lain, juga keriuhan suara gemericik air yang jatuh. Serta teriakan dan keseruan para pengunjung.
"Ih, diem dulu, Ru. Ini drone kantor kalau jatuh, berapa duit buat ganti. Puasa bertahun-tahun kali," keluh Cinta tanpa berani menoleh, meskipun pipinya kembali terasa hangat.
Melihat kepanikan Cinta, Eru tersenyum. Seolah hanya ada mereka berdua di tempat itu, Eru melangkah lebih dekat. Ia mengulurkan tangan kanan dan kirinya dari belakang tubuh Cinta, lalu menyentuh punggung tangan gadis itu yang sedang memegang kendali remote.
Dari tempat berbeda, Asep menoleh ke arah mereka dan ….
“Njirr, emang harus disiram blambir ya tuh anak dua.”
Abil ikut menoleh dan terkekeh. “Mas Yahya lewat, taunya pengen brondong.”
Umar ikut menoleh lalu berdecak dan kembali fokus dengan kameranya. Asep mengabadikan moment itu.
“Woi, k4mprett. Ini jam kerja bukan waktunya kencan,” teriak Asep.
Eru dengan lembut mengarahkan jemari Cinta, menuntun drone di atas sana untuk bergerak memutar, mengambil gambar sempurna dari seluruh area air terjun. Di layar monitor, visual yang dihasilkan tampak sangat stabil dan estetik.
“Iri, bilang bos!” teriak Cinta lalu terbahak.
Sempat terjeda untuk makan siang dan kembali proses rekaman dengan kamera besar, untuk drone sudah diamankan oleh Abil ke mobil. Syuting berikutnya fokus wawancara pengunjung serta merekam adegan para pengunjung yang bermain air. Cinta yang sudah selesai dengan bagiannya, melepas sepatu dan rompi lalu turun ke air.
Eru memisahkan pengunjung dan memberikan arahan apa yang harus disampaikan saat wawancara nanti.
“Oke, rolling action!” ujar Asep.
“Adem banget, Ru ikut turun dong. Kang Asep!” teriak Cinta dan suaranya ikut terekam.
“Cut!” cetus Umar.
“Busyet dah.” Umar menunjuk Cinta dan Eru tergelak.
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga