"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Cahaya matahari pagi yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah-celah gorden jendela penthouse, membentuk garis-garis keemasan di atas ranjang mewah.
Luna menggeliat kecil, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya.
Tidurnya semalam ternyata jauh lebih nyenyak dari yang ia duga, seolah semua beban berat yang menghantamnya kemarin menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang asing.
Luna membuka matanya perlahan dan hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok suaminya yang sudah berdiri tegap di samping ranjang.
Mahendra tampak begitu segar dan tampan dengan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku, menunjukkan jam tangan mewahnya serta aura matang yang selalu melekat padanya.
"Selamat pagi, Istriku," ucap Mahendra lembut. Suara baritonnya yang khas di pagi hari terdengar begitu seksi di telinga Luna.
Bersamaan dengan kalimat itu, Mahendra mengulurkan seikat bunga mawar merah segar yang kelopaknya masih berhias titik-titik embun.
Aroma harum mawar langsung menyeruak, menenangkan saraf-saraf Luna yang mendadak menegang karena terkejut.
Luna mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya utuh.
Ia bangkit dan bersandar pada kepala ranjang, lalu menerima bunga mawar itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Selamat pagi, Pa, maaf. Selamat pagi, Mas," sahut Luna terbata-bata.
Wajahnya mendadak terasa panas. Semburat merah muda langsung menjalar di kedua pipinya karena lagi-lagi hampir salah memanggil pria berusia 50 tahun di hadapannya itu dengan sebutan 'Papa'.
Melihat kecanggungan istri kecilnya, Mahendra tersenyum kecil.
Lengkungan tipis di sudut bibirnya memancarkan pesona maskulin seorang pria yang begitu memaklumi proses adaptasi wanita di depannya.
Ia mengulurkan tangan, mengusap sekilas puncak kepala Luna sebelum beralih menunjuk ke arah sebuah kotak besar bermerek terkenal yang terletak di atas sofa kamar.
"Aku sudah membelikan gaun untukmu. Lekaslah mandi, aku tunggu di luar," titah Mahendra dengan nada suara yang tenang namun penuh perhatian.
Luna menatap kotak pakaian itu, lalu beralih menatap suaminya kembali.
Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Mahendra sejak semalam perlahan mulai mengikis rasa takut dan cemas yang sempat menguasai hatinya.
Pria yang dicap sebagai Don Juan yang dingin ini ternyata memiliki sisi protektif yang begitu luar biasa.
"I-iya, Mas," jawab Luna lirih.
Luna menganggukkan kepalanya dan segera menyibak selimut tebalnya.
Dengan langkah tergesa-gesa, ia menyambar kotak gaun tersebut dan langsung melesat menuju ke kamar mandi demi menyembunyikan pipinya yang kian memerah padam.
Di balik pintu kamar mandi yang tertutup, Luna memegang dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa hari baru telah dimulai, dan badai dunia luar kini siap ia hadapi bersama pria matang yang statusnya telah resmi menjadi suaminya itu.
Setelah selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, Luna menatap kotak besar yang diletakkan di atas meja wastafel.
Dengan perlahan, ia membuka tutup kotak tersebut dan mengeluarkan sepotong gaun yang ada di dalamnya.
Gaun berbahan brokat premium berwarna krem lembut dengan potongan yang sangat elegan dan berkelas.
Luna memandangi gaun itu dengan binar mata kagum.
Selera Mahendra memang tidak perlu diragukan lagi. Namun, begitu ia membalik gaun tersebut, Luna menggigit bibir bawahnya.
Ada ritsleting panjang di bagian belakang gaun yang rasanya mustahil bisa ia jangkau sendiri tanpa bantuan orang lain.
Sambil memegangi gaun itu di depan dadanya, Luna membuka pintu kamar mandi sedikit.
Ia bermaksud meminta bantuan pelayan hotel atau bersusah payah mencobanya sendiri. Namun, begitu pintu terbuka, sosok Mahendra rupanya sudah berdiri menunggunya di sana.
Pria itu tampak begitu gagah dengan setelan kemeja baru yang senada dengan warna gaun Luna.
"Luna, biar aku yang memakaikannya," ucap Mahendra, suaranya yang berat mengejutkan Luna.
"Tapi, Mas..." Luna terbata, langkahnya otomatis mundur satu pijakan.
Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Mahendra tidak mendengarkan protes kecil istrinya.
Dengan langkah tegap yang tenang, pria berusia setengah abad itu merangsek maju ke dalam kamar mandi yang luas tersebut. Aura dominannya seketika mengurung Luna.
Dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh kepastian, jemari kekar Mahendra meraih simpul tali kimono handuk yang melilit pinggang ramping Luna.
Ia melepaskan kimono handuk itu dengan perlahan, membiarkannya luruh hingga batas bahu Luna.
Luna langsung memejamkan matanya rapat-rapat karena malu yang luar biasa.
Wajah hingga seluruh lehernya memerah padam. Ia bisa merasakan embusan napas hangat Mahendra yang menerpa kulit tengkuknya yang polos, memberikan sensasi desiran aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Mahendra tersenyum tipis melihat reaksi menggemaskan dari istri kecilnya.
Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat seorang pria matang, ia membantu Luna mengenakan gaun indah itu ke tubuh istrinya.
Jemarinya yang hangat bergerak perlahan menarik ritsleting di punggung Luna ke atas hingga tertutup sempurna.
Setelah selesai, Mahendra membalik tubuh Luna agar menghadap ke cermin besar di hadapan mereka.
Ia berdiri di belakang Luna, melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang sang istri, lalu bertumpu dagu di bahu Luna.
"Cantik sekali kamu, Sayang..." bisik Mahendra rendah, menatap pantulan wajah Luna di cermin dengan sorot mata yang penuh kekaguman dan gairah yang tertahan.
"T-terima kasih, Mas," jawab Luna dengan suara yang hampir habis.
Ia menundukkan kepala, benar-benar tidak sanggup menatap mata suaminya melalui cermin.
Mahendra terkekeh rendah, mengecup sekilas bahu Luna sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Ayo, sekarang kita pulang ke rumah. Pelayan sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu."
Luna menoleh cepat dengan raut wajah heran saat mendengar perkataan dari suaminya.
"Papa tahu makanan kesukaan Luna? Maksudku, Mas tahu?"
Mahendra tersenyum misterius, seulas senyuman khas Don Juan yang penuh pesona maskulin.
Ia mengusap pipi Luna yang masih terasa hangat dengan ibu jarinya.
"Tentu saja aku tahu, Sayang. Tidak ada satu pun hal tentangmu yang tidak aku ketahui."
Luna menganggukkan kepalanya pasrah. Ia tidak tahu dari mana Mahendra bisa mengetahui detail-detail kecil tentang dirinya, tetapi perhatian itu sukses membuat hatinya yang kemarin hancur perlahan mulai merasa utuh kembali.
Sementara itu, di tempat lain, deru mesin mobil sport membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.
Fauzan sedang melajukan mobilnya menuju ke kediaman utama keluarga Dirgantara.
Wajah pemuda itu tampak begitu jemawa, mencerminkan rasa percaya diri yang meluap-luap setelah berhasil mempermainkan Luna dan menikahi wanita pilihannya.
Di kursi penumpang di sampingnya, Mila sedang sibuk berkaca. Hari ini, ia berdandan sangat menor sekali.
Lipstik merah menyala membungkus bibirnya, dipadukan dengan riasan mata yang sangat tebal dan gaun bermerek yang sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.
Mila tersenyum sinis menatap pantulan dirinya di cermin kecil.
Ia sengaja berdandan berlebihan hari ini karena memiliki misi khusus. Ia ingin Mahendra terpesona melihat kalau ia sudah menjadi istri putra satu-satunya.
Di dalam otak piciknya, sebagai seorang Don Juan yang menyukai wanita-wanita modis dan seksi, Mahendra pasti akan langsung menerima dan memujinya sebagai menantu baru di keluarga Dirgantara.
"Mas, kamu yakin Papa tidak akan marah?" tanya Mila sambil merapikan tatanan rambutnya.
Fauzan tertawa meremehkan sambil memutar setir.
"Marah paling cuma sebentar, Sayang. Papa itu sangat menyayangiku. Lagipula, siapa lagi pewaris tunggal kekayaan Dirgantara Group kalau bukan aku? Jadi, kamu tenang saja. Nikmati saja posisimu sebagai calon Nyonya Besar nanti."
Mila tersenyum puas, membayangkan kemewahan yang sudah di depan mata.
Pasangan muda yang egois itu sama sekali tidak menyadari, bahwa kepulangan mereka ke rumah hari ini bukan untuk disambut sebagai pengantin baru, melainkan untuk menghadapi kenyataan paling mengerikan yang akan menghancurkan kesombongan mereka selamanya.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi