Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulis Mulai Bersiap
Sejak pertengkaran malam itu, suasana rumah berubah semakin dingin.
Dito dan Rara tidak lagi seramai biasanya.
Kedua anak itu menjadi lebih pendiam.
Terutama ketika Irwan berada di rumah.
Mereka masih menyayangi ayahnya, tetapi ada ketakutan yang mulai tumbuh di hati mereka.
Ketakutan yang tidak seharusnya dirasakan anak-anak seusia mereka.
Sulis melihat perubahan itu setiap hari.
Dan semakin lama, semakin besar rasa khawatir yang menggerogoti hatinya.
Suatu pagi, ketika Dito menolak keluar kamar karena mendengar suara motor Irwan di halaman, Sulis akhirnya mengambil keputusan yang sudah lama ia pertimbangkan.
Ia akan mengirim kedua anaknya tinggal sementara bersama nenek mereka di kampung.
Hanya sementara sampai semuanya membaik.
Bukan karena ingin memisahkan anak-anak dari ayahnya,tapi karena ia ingin mereka berada di tempat yang lebih tenang.
Tempat yang jauh dari pertengkaran.
Jauh dari ketegangan dan konflik orang dewasa yang semakin sulit dikendalikan.
Beberapa hari kemudian, Sulis mengajak Dito dan Rara pergi ke kampung halaman.
Perjalanan berlangsung cukup panjang.
Sepanjang jalan, Rara tertidur di pangkuannya.
Sedangkan Dito lebih banyak diam sambil memandangi pemandangan di luar jendela.
Sesampainya di rumah sang ibu, Sulis langsung disambut hangat.
Ibunya yang sudah lanjut usia segera memeluk cucu-cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Aduh, cucu Nenek datang."
Rara langsung tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa hari.
Sementara Dito mulai terlihat sedikit lebih santai.
Melihat itu, hati Sulis terasa lega.
Malam harinya, ketika anak-anak sudah tidur, ibunya akhirnya bertanya.
"Ada apa sebenarnya, Lis?"
Sulis terdiam.
Ia tidak menceritakan semuanya.
Namun cukup banyak hingga ibunya memahami bahwa rumah tangga putrinya sedang tidak baik-baik saja.
Wajah wanita tua itu tampak sedih.
"Kamu gak kepikiran mau berpisah nak?"
Pertanyaan itu membuat Sulis menunduk.
Jujur saja, pikiran itu pernah muncul.
Bahkan lebih dari sekali.
Namun Sulis belum siap mengambil keputusan sebesar itu.
"Aku belum mau menyerah begitu saja, Bu."
Ibunya mengangguk pelan.
"Karena anak-anak?"
"Bukan hanya itu bu, masih banyak yang harus dipertimbangkan."
Sulis tahu jika ia pergi sekarang tanpa persiapan apa pun, maka masa depan dirinya dan anak-anak bisa menjadi jauh lebih sulit.
Ia juga tidak ingin semua yang selama ini mereka bangun jatuh begitu saja.
Rumah,usaha yang dulu dirintis bersama,aset keluarga,hak anak-anak,semuanya harus dipikirkan dengan matang.
Ia tidak mau mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.
Karena itu, meski hatinya terluka, Sulis memilih bersabar.
Untuk sementara.
Namun bersabar bukan berarti diam tanpa persiapan.
Beberapa bulan terakhir, Sulis diam-diam mulai mengatur keuangannya sendiri.
Uang hasil usaha makanan yang ia sisihkan tidak lagi hanya disimpan sebagai tabungan biasa.
Ia mulai mempelajari cara menyimpan nilai kekayaan dengan lebih aman.
Sebagian uang tunai yang berhasil ia kumpulkan dialihkan ke tabungan yang hanya diketahui dirinya.
Sebagian lagi ia simpan dalam bentuk investasi jangka panjang.
Bukan karena ia ingin menjadi kaya,melainkan karena ia ingin memiliki pegangan jika suatu hari keadaan memaksanya mengambil keputusan besar.
Ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada Irwan,bukan karena ingin berbohong,tapi karena ia sudah tidak lagi merasa aman membicarakan seluruh kondisi keuangannya kepada suami sendiri.
Di rumah, Irwan masih sibuk dengan dunianya.
Masalah usaha,Lastri,dan berbagai persoalan yang terus bertambah.
Ia tidak menyadari bahwa Sulis yang selama ini dianggap hanya diam sebenarnya sedang membangun benteng perlindungan untuk dirinya dan anak-anak.
Benteng yang dibangun dari kesabaran.
Perhitungan,dan pengalaman pahit yang terus mengajarinya untuk tidak bergantung sepenuhnya kepada siapa pun.
Sebelum pulang dari kampung, Sulis memandangi Dito dan Rara yang sedang bermain di halaman rumah nenek mereka.
Tawa mereka kembali terdengar.
Tidak sebebas dulu,tapi jauh lebih ringan dibanding saat berada di rumah.
Melihat itu, Sulis menahan air mata,Ia sadar bahwa keputusan mengirim mereka sementara ke kampung mungkin akan membuatnya kesepian,namun jika itu bisa memberi ketenangan bagi anak-anaknya, maka ia rela melakukannya.
Karena kini tujuan hidupnya bukan lagi mempertahankan rumah tangga,melainkan memastikan bahwa apa pun yang terjadi nanti, anak-anaknya tetap memiliki masa depan yang layak untuk diperjuangkan.
Keesokan paginya, Sulis bersiap kembali ke kota seorang diri,keputusan itu terasa berat.
Seumur hidupnya, ia hampir tidak pernah berpisah lama dengan Dito dan Rara,biasanya ke mana pun ia pergi, kedua anaknya selalu ikut,keadaan sekarang berbeda.
Sebelum berangkat, Sulis memeluk kedua anaknya erat-erat.
"Jadi anak baik ya."
Dito mengangguk pelan.
"Mama kapan jemput?"
"Kalau keadaan sudah lebih baik."
Jawaban itu membuat Sulis sendiri merasa sedih.
Karena ia tidak tahu kapan keadaan itu akan benar-benar membaik.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi berbagai hal.
Tentang anak-anak,Irwan,Lastri,dan tentang masa depan yang terasa semakin tidak pasti,satu hal yang mulai berubah dalam diri Sulis adalah cara ia memandang hidup.
Dulu seluruh dunianya berpusat pada keluarga,pada Irwan,pada rumah tangga yang ia bangun sejak muda.Sekarang ia mulai belajar memikirkan dirinya sendiri.
Bukan egois,melainkan sebagai bentuk perlindungan,karena ia sadar, jika dirinya hancur, maka tidak ada yang akan melindungi anak-anaknya.
Setelah tiba di kota, rumah terasa jauh lebih sunyi.
Tidak ada suara Rara yang cerewet,Dito yang berlarian ke sana kemari.
Hanya ada kesunyian yang membuat dada Sulis terasa sesak,tapi kesunyian itu juga memberinya ruang untuk berpikir lebih jernih.
Beberapa hari kemudian, Sulis mulai lebih serius mengelola keuangannya,Ia mengurangi pengeluaran yang tidak penting.
Mencatat setiap pemasukan dengan rinci,bahkan mulai membaca berbagai informasi tentang pengelolaan aset dan investasi sederhana.
Baginya, uang bukan lagi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,melainkan alat untuk menciptakan pilihan,pilihan yang mungkin suatu hari akan sangat ia butuhkan.
Suatu malam, saat Irwan tertidur, Sulis duduk sendirian di ruang tamu.
Di hadapannya terdapat secangkir teh yang sudah dingin,Ia memandangi rumah yang dulu begitu ia banggakan,rumah yang dibeli dari hasil kerja keras bersama,rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan,dari tawa pertama anak-anak,perjuangan saat masih hidup pas-pasan.
Sampai masa ketika usaha mereka berkembang pesat,semua tersimpan di tempat itu,karena itulah Sulis tidak mau menyerah begitu saja,Ia tidak mau membiarkan semua yang telah diperjuangkan bertahun-tahun jatuh ke tangan orang lain tanpa perlawanan.
Bukan berarti ia ingin membalas dendam,bukan pula karena masih berharap memenangkan persaingan dengan Lastri si pengoda itu,Sulis hanya ingin memastikan satu hal,jika suatu hari rumah tangga ini benar-benar berakhir, maka anak-anaknya tetap mendapatkan hak mereka tanpa harus memikirkan kemana harus pulang.
Karena dalam kondisi seperti sekarang, Sulis mulai memahami bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah keluarga,sambil menatap langit malam dari balik jendela, Sulis berjanji pada dirinya sendiri bahwa apa pun yang akan terjadi nanti, ia tidak akan lagi menghadapi semuanya tanpa persiapan.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .