"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Hembusan angin siang di area parkir Universitas Los Angeles membawa hawa gerah yang membakar kulit.
Yara melangkah dengan terburu-buru, berniat untuk segera masuk ke dalam sedan sport hitamnya dan meninggalkan atmosfer kampus yang kian hari kian mencekik leher.
Kilatan amarah dari konfrontasinya dengan Maximilian Valerio di ruang kelas tadi masih menyisakan debaran halus di dadanya. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu mobil, sebuah bayangan tinggi mendadak menghalangi langkahnya.
Yara menghentikan gerakan kakinya secara spontan. Ketika dia mendongak, seulas senyum muak langsung terukir di bibirnya yang dipoles tipis.
"Ada apa? Menyingkir dariku!" cetus Yara, suaranya terdengar ketus dan tajam tanpa ada niat untuk berbasa-basi.
Pria di hadapannya adalah David Joseph. Lelaki berusia 24 tahun yang seminggu lalu mengenakan setelan jas pengantin di sisinya, kini berdiri dengan raut wajah yang tampak gusar dan dipenuhi kecemasan. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan seorang pewaris takhta Joseph yang biasa dia pamerkan.
"Bisa kau bilang pada ayahmu untuk memudahkan proses perceraian kita?" David berucap tanpa memedulikan tatapan dingin Yara. "Aku benar-benar ingin menikahi Melanie secara sah, Yara. Kami harus segera mendapatkan marriage license (izin nikah) agar pernikahan kami diakui secara resmi oleh hukum negara. Kumohon, buat urusan ini menjadi mudah."
Yara menatap pria di depannya dengan rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia teringat bagaimana beberapa bulan lalu, pria ini berlutut di hadapannya, mengaku mencintai dirinya dengan tulus, dan bersumpah tidak akan pernah memedulikan nama buruk atau rumor anak haram yang melekat pada dirinya.
Namun kini, dengan wajah tanpa dosa, pria yang sama berdiri di sini hanya untuk memohon agar bisa meresmikan hubungannya dengan wanita lain—Melanie, sahabat Yara sendiri.
"Aku tidak peduli," jawab Yara pendek, suaranya sedingin es.
Dia hendak menggeser tubuhnya untuk membuka pintu mobil, namun David kembali bergeser, menutup ruang geraknya.
"Kau memperumit proses ini karena kau tidak bisa melepaskanku, kan? Kau mencintaiku?" tanya David tiba-tiba dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, seolah dirinya adalah pusat semesta yang tidak mungkin ditolak oleh seorang Amieyara Walker.
Yara terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang sarat akan ejekan. "Aku suka kepercayaan dirimu yang tinggi itu, David. Tapi jangan pernah melupakan satu hal penting. Pernikahan kita kemarin terjadi karena urusan bisnis. Ayahku yang buta karena kebaikannya telah memilih untuk menolong keluargamu dari ambang kebangkrutan investasi."
Yara memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata David dengan tatapan mengintimidasi. "Dan kalau kau sangat menginginkan surat perceraian itu selesai dengan cepat, segera katakan pada semua orang di kampus ini fakta yang sebenarnya. Umumkan pada mereka bahwa bukan kau yang meninggalkanku, melainkan aku yang meninggalkanmu karena kau seorang bajingan."
David seketika terdiam, lidahnya mendadak kelu. Saat ini, di antara teman-teman pergaulan elite dan sekumpulan mahasiswa di universitas, David dijuluki sebagai pria penakluk yang berhasil membuat seorang Amieyara Walker yang angkuh bertekuk lutut dan dicampakkan dalam waktu satu malam.
Jika dia harus mengatakan bahwa dialah yang didepak oleh Yara, harga dirinya sebagai seorang Joseph akan hancur lebur, dan dia akan menjadi bahan tertawaan yang memalukan di tongkrongannya.
David mengepalkan tangannya, menatap Yara dengan sisa-sisa kekesalan, lalu berbalik dan pergi meninggalkan area parkir tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak akan pernah mau mengakui hal itu ke publik.
Yara tersenyum puas melihat punggung mantan suaminya yang kian menjauh. "Hanya seorang pengecut," gumamnya lirih sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, suasana mewah dan menenangkan menyelimuti kediaman megah keluarga Valerio.
Di dalam ruang tengah yang luas dengan furnitur berlapis kulit premium, sang ibu, Audrey Valerio, baru saja melangkah masuk setelah menyelesaikan tugasnya di kantor pengadilan federal.
Sebagai seorang jaksa penuntut umum yang cukup terkenal di Los Angeles, aura ketegasan dan wibawa selalu melekat pada dirinya, namun semua itu mencair seketika saat matanya menangkap sosok putra sulungnya.
Maximilian sedang duduk di sofa panjang sembari membalikkan halaman sebuah buku literatur ekonomi tebal ketika Audrey mendekat.
"Bagaimana hari pertamamu di kampus baru, Max? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Audrey lembut, meletakkan tas kerjanya di atas meja kopi dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di pelipis putranya.
Max mendongak, lalu mengangguk kecil seraya menyunggingkan senyuman tipis yang tulus.
"Semuanya lancar, Mom. Tidak ada masalah yang berarti," jawabnya dengan nada suara yang tenang, sangat berbeda dengan intonasi tajam yang dia gunakan saat berdebat di ruang kuliah beberapa jam lalu.
Dari arah tangga, Ray Murphy, sang adik bungsu yang masih mengenakan seragam, berlari kecil dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Max. "Mommy tidak tahu saja, Kak Max pasti langsung menjadi pusat perhatian di kampus bisnis. Kudengar mahasiswa pindahan dari Harvard selalu dianggap seperti alien di sini," celetuk Ray yang langsung dihadiahi sebuah jitakan pelan di kepalanya oleh Max.
Audrey terkekeh melihat interaksi kedua putranya. Namun, pandangan mata sang jaksa yang jeli tiba-tiba tertuju pada saku jaket kulit Max yang tersampir di sandaran sofa. Sebuah sudut kotak persegi kecil berwarna gelap menyembul dari sana.
Audrey menghela napas panjang, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah saku tersebut.
"Mommy mohon, Max... Bisa jangan pernah merokok di dalam rumah? Kau tahu Mommy sangat menjaga kebersihan udara di sini, dan kau masih dalam masa studi."
Max melirik saku jaketnya, lalu menatap ibunya dengan sorot mata penuh penyesalan seorang anak baik-baik yang tertangkap basah.
"Maafkan aku, Mom. Aku berjanji tidak akan menyalakannya di lingkungan rumah," ucapnya dengan nada tulus, sebuah kepatuhan yang hanya dia tunjukkan di hadapan sang ibu.
Malam harinya, di dalam kamarnya sendiri yang bernuansa modern minimalis dengan dominasi warna abu-abu gelap, Maximilian berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota Los Angeles.
Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Isi kepalanya masih berputar pada raut wajah angkuh, kata-kata tajam, dan aroma tubuh seorang Amieyara Walker yang menantangnya di depan papan tulis siang tadi.
Seorang Valerio dikatakan sebagai 'bocah birahi'? Kata-kata itu terus berdengung, merobek harga diri tingginya sebagai seorang pria.
"Aku tidak akan membuat hidupmu tenang, Yara," desis Max pada kesunyian kamar.
Dia telah menetapkan wanita itu sebagai musuh utamanya, seseorang yang harus dia buat tunduk hingga tidak akan berani lagi menatap matanya dengan pandangan meremehkan.
Max melangkah menuju tempat tidur berukuran king size-nya, menghempaskan tubuhnya secara telentang, lalu merogoh ponsel pintarnya.
Jemarinya dengan cepat membuka aplikasi media sosial. Menggunakan kemampuan analisisnya yang tajam, tidak butuh waktu lama bagi Max untuk menemukan akun pribadi milik sang asisten profesor. Nama akun itu tertulis jelas: Amieyara Walker.
Max menaikkan sebelah alisnya ketika mendapati bahwa akun tersebut sama sekali tidak dikunci.
Dia mulai menggulirkan layarnya ke bawah, meneliti setiap jejak digital yang ditinggalkan oleh wanita yang menjadi target kekesalannya.
Di sana, Max disuguhi pemandangan gaya hidup yang tampak sangat bertolak belakang dengan citra kaku seorang asisten dosen hukum di siang hari.
"Hanya seorang gadis yang suka keluar masuk klub malam," gumam Max lirih saat matanya menyusuri deretan foto.
Sebagian besar unggahan Yara memperlihatkan dirinya berada di sudut-sudut pencahayaan temaram bar kelas atas di Los Angeles, dengan gaun malam yang menonjolkan bentuk tubuh sempurnanya, dan hampir selalu ada segelas wine merah di jemari lentiknya.
"Siapa sebenarnya yang memilih wanita seperti ini menjadi asisten dosen?" cemooh Max lagi, meskipun matanya tidak bisa berbohong bahwa setiap foto yang diunggah memperlihatkan pesona visual yang sangat memikat.
Guliran jarinya terhenti pada sebuah unggahan foto yang diambil sekitar satu minggu yang lalu.
Foto itu hanya memperlihatkan siluet pemandangan malam dari sebuah balkon mansion, namun bagian yang menarik perhatian Max adalah kalimat singkat yang tertulis di kolom keterangan unggahan tersebut.
Keterangan itu berbunyi: “Pria menjijikkan hancur di neraka.”
Max menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan teka-teki saat menatap kalimat itu.
Ingatannya mendadak melayang kembali pada kejadian tak sengaja di kantin kampus tadi pagi. Sentuhan fisik yang tidak direncanakan pada bagian dada Yara kembali terasa nyata di permukaan kulit tangannya.
Mengingat rumor yang disampaikan oleh Carter dan Demon tentang status 'janda satu malam' dan 'gadis panggilan', Max mulai menimbang-nimbang kebenaran di balik semua gosip tersebut.
"Apa benar kau hanyalah seorang gadis panggilan, Yara? Tapi cara berdebatmu siang tadi menunjukkan isi kepala yang tidak murahan," gumam Max pada dirinya sendiri.
Dia menatap lekat foto potret diri Yara yang tampak begitu anggun dengan tatapan mata yang tajam. "Kau memang harus diakui... sempurna secara fisik."
Max berniat untuk menggulirkan layarnya kembali ke atas untuk keluar dari aplikasi.
Namun, karena posisinya yang sedang berbaring telentang dengan ponsel yang dipegang tepat di atas wajah, ujung ibu jarinya tanpa sengaja melakukan ketukan ganda (double tap) tepat di tengah-tengah permukaan foto Yara yang sedang memegang gelas wine.
Sebuah ikon hati berwarna merah berukuran besar mendadak muncul di tengah layar, diikuti oleh perubahan warna ikon suka di pojok kiri bawah menjadi merah menyala.
"Oh, shit!" umpat Max spontan, tubuhnya langsung menegak duduk di atas kasur dengan raut wajah yang dipenuhi rasa frustrasi yang luar biasa.
Max dengan panik segera mengetuk kembali ikon tersebut untuk membatalkan tanda sukanya.
Jantungnya mendadak berdegup kencang karena rasa gengsi yang luar biasa. Seorang Maximilian Valerio, yang baru saja menyatakan perang dingin dengan asisten dosennya beberapa jam lalu, tertangkap basah sedang mengintip dan menyukai unggahan lama wanita tersebut di tengah malam gila ini. Itu adalah sebuah kecerobohan yang sangat amat fatal.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Jaringan internet bergerak jauh lebih cepat daripada kepanikan Max.
Di tempat lain, di dalam kamar tidurnya yang sunyi, Yara sedang duduk di depan meja belajar dengan tumpukan berkas perkara hukum yang harus dia periksa.
Tiba-tiba, layar ponselnya yang tergeletak di samping laptop menyala, memunculkan sebuah bilah notifikasi sistem yang sangat jelas di bagian atas layar.
Maximilian_Valerio menyukai foto Anda.
Yara menghentikan aktivitas membaca berkasnya seketika. Dia meraih ponselnya, menatap layar kunci tersebut dengan sepasang mata yang menyipit tajam.
Meskipun tanda suka itu langsung menghilang dalam hitungan detik karena Max membatalkannya, sistem notifikasi pada ponsel Yara telah mengunci jejak digital tersebut secara permanen.
Seulas senyum sinis yang dipenuhi rasa kemenangan langsung terukir di wajah cantik Amieyara Walker.
"Bocah birahi dari Harvard itu ternyata sedang memata-mataiku," bisik Yara lirih, meletakkan kembali ponselnya dengan ketukan pelan.
Pertandingan di antara mereka tampaknya baru saja mendapatkan babak baru yang jauh lebih menarik.