NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Suasana di dalam kabin SUV hitam itu mendadak menjadi sangat tegang. Suara deru mesin mobil yang halus seolah tenggelam oleh suara napas Haura yang semakin pendek dan berat. Marco yang fokus membelah jalanan Menteng sesekali melirik ke samping, menyadari bahwa kondisi wanita di sebelahnya ini sudah jauh dari kata baik-baik saja. Wajah Haura yang semula seputih porselen kini tampak pias, dengan keringat dingin yang semakin deras membasahi kening dan pelipisnya.

Haura mencengkeram sabuk pengamannya dengan sangat erat, kuku-kukunya yang dipulas kuteks merah gelap sampai memutih karena tekanan yang ia berikan. Detik berikutnya, badannya menegang, dan ia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan yang gemetar.

"Marco..." panggil Haura, suaranya teredam, nyaris berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan.

"Kenapa, Tan? Tahan sebentar ya, ini di depan ada apotek, gue beliin obat sekarang," sahut Marco, mencoba menenangkan sambil mempercepat laju mobilnya sedikit.

"Berhenti..." Haura menggelengkan kepalanya dengan panik, matanya melebar menatap jalanan di depan.

"Tanggung, Tan, bentar lagi sampe apotek—"

"Berhenti, Marco! Saya mau muntah!" teriak Haura akhirnya, suaranya naik satu oktav, penuh dengan keputusasaan yang tidak bisa ditahan lagi.

Mendengar itu, Marco tidak berpikir dua kali. Dengan refleks yang cepat, ia langsung memutar kemudi ke arah kiri, menginjak rem dengan cukup tegas hingga ban mobil berdecit tipis di atas aspal bahu jalan yang agak sepi. Belum sempat mobil itu berhenti dengan sempurna, Haura sudah dengan panik membuka pintu penumpang.

HOEKKK!

Haura langsung mencengkeram pinggiran pintu mobil, tubuhnya condong ke luar, memuntahkan cairan asam lambung yang sedari tadi menyiksa perutnya. Karena perutnya kosong sejak siang, tidak ada makanan yang keluar, melainkan hanya cairan bening kekuningan yang terasa sangat membakar tenggorokannya. Tubuhnya bergetar hebat, dan air mata perlahan menetes dari sudut matanya karena rasa sakit yang luar biasa melilit di ulu hatinya.

Marco dengan cepat mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengamannya, dan langsung keluar. Ia memutari kap mobil dengan langkah lebar, menghampiri Haura yang masih menunduk sambil terbatuk-batuk lemas di sisi jalan.

Tanpa banyak bicara, Marco berlutut di sebelah kursi Haura. Tangannya yang besar dan hangat bergerak naik, memijat tengkuk Haura dengan gerakan yang lembut namun penuh penekanan yang pas untuk meredakan rasa mual. Tangan satunya lagi menahan rambut Haura yang tersanggul rapi namun kini beberapa helainya mulai berantakan, agar tidak terkena kotoran.

"Keluarkan aja semuanya, Tan. Jangan ditahan," ucap Marco, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen tengil atau sombong yang biasanya ia gunakan untuk memprovokasi wanita itu.

"Hookk... uhuk!" Haura terbatuk lagi, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Rasa hangat dari telapak tangan Marco di tengkuknya entah mengapa memberikan sensasi nyaman yang aneh, membuat rasa mual yang tadinya menghentak perlahan-lahan mulai mereda.

Setelah beberapa saat hanya terdengar suara napas Haura yang terengah-engah, wanita itu akhirnya menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi. Ia benar-benar lemas, seluruh energinya seolah terkuras habis bersama muntahannya tadi. Ia memejamkan mata, membiarkan kepalanya terkulai lemas di sandaran jok.

Marco berdiri, meraih sebotol air mineral yang masih segel dari cup holder di pintu mobil, lalu membukanya. Ia juga mengambil beberapa lembar tisu dari laci dasbor.

"Nih, buat kumur-kumur dulu. Jangan ditelan," kata Marco, menyodorkan botol air itu tepat di depan wajah Haura.

Haura membuka matanya perlahan, menatap botol itu, lalu menatap Marco. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menerima botol tersebut. "Makasih..." bisiknya sangat lirih, hampir tidak terdengar. Setelah berkumur dan membersihkan mulutnya dengan tisu yang diberikan Marco, Haura merasa sedikit lebih baik, meskipun rasa perih di lambungnya masih ada.

Marco mengambil kembali botol air dari tangan Haura, lalu menggunakan sisa airnya untuk menyiram bekas muntahan Haura di aspal jalan, sebelum menutup kembali pintu mobil dengan rapat. Ia kembali masuk ke kursi kemudi, menutup kaca jendela, dan menyalakan AC dengan suhu yang lebih hangat.

Suasana di dalam kabin mobil kembali hening, hanya diisi oleh suara embusan AC. Haura memalingkan wajahnya ke arah jendela kiri, enggan menatap Marco. Harga dirinya sebagai seorang wanita dewasa, sebagai seorang bos yang disegani, rasanya runtuh berkeping-keping malam ini di depan seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun yang baru ia kenal kemarin.

"Kamu... kenapa nggak pergi aja tadi?" tanya Haura tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya terdengar serak dan sangat rapuh, jauh dari kesan Boss Lady yang angkuh. "Harusnya kamu ikut Arlo sama Kevin balik. Nggak usah ngurusin saya sampai kayak gini."

Marco yang sedang memasang sabuk pengamannya kembali, terdiam sejenak. Ia menoleh, menatap profil samping wajah Haura yang tampak sangat lelah di bawah temaramnya lampu jalanan Jakarta.

"Kalau gue pergi, siapa yang mau nyetir mobil segede ini dalam keadaan lo mau pingsan, Tan?" jawab Marco tenang, menyandarkan kedua tangannya di atas kemudi. "Lagian, gue bukan tipe cowok yang bakal ninggalin cewek sendirian di pinggir jalan dalam kondisi kayak begini. Mau lo se-galak atau se-menyebalkan apa pun, lo tetep cewek yang butuh dibantu malam ini."

Haura menarik napas pendek, matanya masih menatap deretan ruko yang tutup di luar sana. "Saya biasa ngurus semuanya sendiri, Marco. Sakit kayak gini udah biasa buat saya. Saya nggak butuh dikasihanin sama anak kecil kayak kamu."

Marco mendengus sebal, namun ada nada geli di suaranya. "Anak kecil? Tante, anak kecil yang lo maksud ini baru aja mijetin tengkuk lo pas lo muntah-muntah, loh. Dan anak kecil ini juga yang sekarang megang kendali mobil lo biar lo bisa pulang dengan selamat." Marco mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Haura. "Bisa nggak, singkirkan dulu gengsi lo itu? Di sini nggak ada klien jastip lo, nggak ada Om Anggara, dan nggak ada Arlo. Cuma ada gue sama lo. Nggak usah sok kuat."

Mendengar nama papanya disebut, sudut mata Haura kembali memanas. Kalimat Marco entah mengapa menghantam bagian paling sensitif di hatinya. Di depan papanya, ia harus selalu menjadi anak yang penurut dan sempurna. Di depan Emilia dan karyawannya, ia harus menjadi bos yang tangguh dan tidak boleh gagal. Baru kali ini, di dalam mobil ini, ada seseorang yang menyuruhnya untuk berhenti menjadi kuat.

"Saya cuma nggak suka terlihat lemah di depan orang lain," bisik Haura, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangan.

Marco melihat air mata itu. Sisi liarnya yang biasa meledak-ledak mendadak padam, digantikan oleh rasa ingin melindungi yang sangat kuat. Ia meraih satu lembar tisu lagi, lalu tanpa permisi, tangan kirinya bergerak menyentuh dagu Haura, memutar wajah wanita itu agar menatapnya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Marco mengusap sisa air mata di pipi Haura menggunakan tisu.

Haura tertegun, matanya membelalak menatap manik mata cokelat gelap Marco yang kini memancarkan ketulusan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena marah, melainkan karena perlakuan lembut yang tak terduga ini.

"Gue bukan orang lain, Haura," ucap Marco rendah, untuk pertama kalinya ia memanggil nama wanita itu tanpa embel-embel 'Tante' atau nada mengejek. "Mulai malam ini, anggap gue sebagai pengecualian di hidup lo. Kalau lo capek jadi kuat di depan semua orang, lo bisa kelihatan lemah di depan gue. Gue nggak bakal nge-judge lo."

Haura terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan Marco. Keangkuhannya yang setinggi langit seolah menguap begitu saja, menyisakan ruang kosong yang perlahan mulai diisi oleh kehadiran pemuda di depannya ini.

Marco menjauhkan tangannya kembali, lalu menyalakan mesin mobil. "Sekarang, kita ke apotek dulu beli obat, habis itu gue anter lo pulang ke mansion. Nggak ada bantahan lagi," tegas Marco, kali ini dengan nada protektif yang membuat Haura hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan Marco Permana mengambil alih kendali atas dirinya malam itu.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!