NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: EFEK SAMPING KEWARASAN MUTLAK

Sinar matahari pagi menembus celah gorden paviliun, mengenai wajah Axel. Pemuda itu mengerjap pelan, mengumpulkan kesadarannya. Secara refleks, dia meregangkan kedua lengannya, bersiap merasakan kram otot karena biasanya Reynarda dan Elysia akan menempel padanya seperti koala.

Namun, lengannya bebas. Kasurnya kosong. Tidak ada napas berat di ceruk lehernya atau rambut perak yang menutupi wajahnya.

Axel langsung terbangun dan duduk dengan panik. "Apakah mereka diculik? Atau mereka lepas kendali dan sedang membakar kota?!"

"Tenanglah, Host. Detak jantung Anda bisa memicu alarm militer Nona Ksatria," suara AI yang santai dan sarkas langsung bergema di kepalanya. Teks hijau terang melayang di depan matanya, menampilkan pemandangan yang membuat rahang Axel nyaris jatuh.

> [ STATUS MONITORING TERBARU ]

> Reynarda Vance: Kewarasan 92% (Sangat Sehat - Mode Perlindungan Aktif)

> Elysia Whisperwind: Kewarasan 90% (Sangat Sehat - Mode Fokus Aktif)

> Valeria Crowley: Kewarasan 88% (Sangat Sehat - Mode Kewaspadaan Taktis)

> Catatan AI: Parasit hancur. Ketergantungan patologis telah berevolusi menjadi kesetiaan absolut.

Axel turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar tidur dengan langkah hati-hati.

Di ruang makan, pemandangan yang tersaji membuat Axel merasa sedang berada di dimensi lain. Reynarda mengenakan apron putih di atas pakaian kasualnya, membalik pancake di wajan dengan presisi seorang ksatria yang sedang membedah formasi musuh. Elysia duduk anggun di meja, menggunakan sihir angin kecil untuk mendinginkan teh panas di cangkir Axel. Sementara Valeria bersandar di dekat pintu masuk, mengasah belati bayangannya dengan mata awas memantau setiap sudut pekarangan.

Mereka bertiga tidak lagi memancarkan aura membunuh yang tidak stabil. Mereka tenang, terkendali, dan mematikan dengan cara yang jauh lebih efisien.

"Selamat pagi, Tuanku," ucap Elysia dengan senyum tipis yang tulus, sebuah ekspresi yang tidak pernah diperlihatkan sang peri kepada manusia mana pun selama ratusan tahun.

Reynarda meletakkan piring berisi sarapan sempurna di atas meja. "Makanlah, Axel. Aku sudah mengecek seluruh bahan makanan ini dengan sihir pemurni. Tidak ada racun. Hari ini aku akan mengawalmu ke gedung logistik."

"Dan jika ada serangga yang mencoba mendekatimu dalam radius lima meter," Valeria menyeringai tipis, "aku akan memotong urat ketingnya dari dalam bayangan."

Axel menelan ludah, duduk di kursinya dengan kaku. Jika sebelumnya ia adalah perawat di bangsal psikiatri, sekarang ia merasa seperti bos mafia yang dikawal oleh tiga bodyguard elit paling berbahaya di dunia.

"Lihat sisi positifnya, Host," AI terkekeh di dalam pikiran Axel. "Dulu Anda harus waspada agar mereka tidak membunuh satu sama lain. Sekarang, Anda harus waspada agar mereka tidak membunuh orang yang tak sengaja menyenggol bahu Anda."

"Kalian bertiga," Axel berdehem, mencoba mengambil kendali situasi. "Kita tidak bisa bertingkah mencolok seperti ini. Kalau kalian terus mengawalku dengan formasi tempur, seluruh akademi akan tahu ada yang tidak beres."

"Mereka yang berani menaruh curiga akan kubungkam," sahut Valeria enteng.

"Tidak ada pembungkaman!" Axel memijat pelipisnya. "Dengar, musuh yang mengirimkan parasit itu—Uskup Agung dan Dewan Tetua—pasti sudah tahu kalau sihir mereka hancur. Jika kita langsung menunjukkan perlawanan terbuka, mereka akan memobilisasi seluruh pasukan kekaisaran dan mencap kita sebagai pengkhianat."

Reynarda mengangguk setuju, naluri taktisnya sebagai jenderal perang telah kembali sepenuhnya. "Axel benar. Kita butuh bukti konkret kejahatan mereka sebelum mengambil tindakan. Untuk saat ini, kita harus bermain seolah-olah kita belum menyadari konspirasi mereka."

"Lalu, apa perintahmu untuk kami hari ini, Axel?" tanya Elysia, matanya yang hijau zamrud menatap Axel dengan pemujaan yang dalam.

"Berperilakulah seperti biasa. Rey, jalankan patroli rutinmu tapi jangan terlalu jauh. Elysia, kembalilah ke menara sihir. Valeria, perintahkan bawahanmu di dunia bawah untuk mengumpulkan informasi pergerakan Gereja dan Menara Sihir, tapi tetaplah bersembunyi di bayanganku."

Ketiga wanita itu mengangguk patuh secara serempak. Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi rengekan cemburu. Mereka bergerak sebagai satu unit pembunuh yang sangat terkoordinasi, dengan Axel sebagai komandan tertinggi mereka.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Akademi Pentagon.

Di dalam Katedral Suci Ibu Kota, seorang pria tua berjubah putih bersih dengan hiasan emas berdiri di depan sebuah altar. Uskup Agung Kekaisaran. Tangannya yang keriput mencengkeram sebuah bola kristal yang kini retak dan menghitam.

Di belakangnya, seorang pria berjubah ungu dari Dewan Tetua Menara Sihir melangkah maju dari dalam portal dimensi.

"Uskup," ucap tetua penyihir itu dengan nada tegang. "Apakah lencana Ksatria Suci juga..."

"Hancur," desis Uskup Agung, matanya berkilat penuh amarah yang disembunyikan di balik topeng kesucian. "Mata dewa kita telah dibutakan. Reynarda dan Elysia telah terbebas dari rantai takdir yang kita rajut."

"Bagaimana mungkin? Parasit itu tidak bisa dihancurkan kecuali oleh energi murni yang tidak memiliki afiliasi sihir apa pun!"

Uskup Agung membalikkan badannya, menatap tetua penyihir itu dengan dingin. "Itulah masalahnya. Informanku di dalam akademi melaporkan keberadaan sebuah anomali. Seorang pemuda tanpa mana, yang tidak tersentuh oleh hukum sihir, dan yang entah bagaimana berhasil menjadikan dua monster itu sebagai hewan peliharaannya. Axel."

Sang Uskup mengangkat tangannya. Tiga sosok berjubah perak dengan topeng tanpa wajah muncul dari balik bayangan pilar katedral. Mereka adalah Inquisitor—pembunuh rahasia elit milik gereja yang tidak pernah gagal menjalankan misi.

"Rencana pembersihan benua tidak boleh tertunda hanya karena satu ekor tikus tanpa sihir," perintah Uskup Agung dengan suara berat. "Bawa pemuda bernama Axel itu ke katedral bawah tanah. Jangan bunuh dia. Aku ingin membedah kepalanya dan melihat apa yang membuatnya kebal terhadap energi kita. Dan jika Reynarda mencoba menghalangi..."

Uskup Agung menyeringai kejam. "...gunakan dekrit penyesatan. Kita akan mencapnya sebagai Fallen Knight yang dicuci otaknya oleh penyihir gelap."

Perang dingin telah resmi dimulai, dan tanpa disadari, Axel kini berdiri tepat di garis depan sebagai target utama perburuan.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!