Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 darah kayu besi dan angin malam
Hutan Pinus Berbisik membentang bagaikan lautan jarum hijau tua yang menelan cahaya matahari. Sektor Utara dari wilayah ini dikenal sebagai zona merah bagi murid pelataran luar. Pepohonan di sini tumbuh tidak beraturan, akar-akarnya yang sebesar pilar rumah mencuat ke permukaan tanah, membentuk labirin alami yang menyesatkan. Angin dingin bertiup tiada henti melewati celah-celah tebing, menciptakan suara desisan panjang yang terdengar seperti bisikan arwah penasaran. Itulah asal muasal nama hutan ini.
Lin Chen tiba di pos penjagaannya menjelang tengah hari. Tempat bernaungnya selama sebulan ke depan hanyalah sebuah menara pengawas kayu yang setengah lapuk, berdiri reyot di atas dahan pohon pinus raksasa. Tidak ada tembok pelindung, tidak ada formasi pertahanan energi spiritual. Keselamatannya murni bergantung pada kewaspadaan dan kekuatan kepalan tangannya.
Menginjakkan kaki di lantai kayu menara yang berderit ngeri, pemuda itu meletakkan buntalan bekalnya. Matanya yang tajam langsung menyapu area sekitar. Jejak cakaran panjang pada kulit pohon di bawah menara menunjukkan bahwa tempat ini sering dijadikan arena bermain oleh binatang buas. Bau apak bulu basah dan sisa darah kering masih tercium samar di udara.
Tugas utamanya adalah mengumpulkan lima tanduk Serigala Angin, hewan iblis tingkat satu yang terkenal dengan kecepatan geraknya. Bagi praktisi Tahap Kondensasi Qi tingkat dua seperti dirinya, memburu satu ekor Serigala Angin sendirian adalah tantangan hidup dan mati. Mengumpulkan lima ekor dalam sebulan menuntut lebih dari sekadar keberuntungan; itu membutuhkan strategi dan eksekusi yang sempurna.
Lin Chen tidak langsung bergegas masuk ke dalam hutan mencari mangsa. Kesombongan adalah cara tercepat untuk mati muda di jalur kultivasi. Dia duduk bersila di tengah menara pengawas, menutup mata, dan memanggil informasi dari lautan spiritualnya.
Fragmen *Tinju Pemecah Batu* bersinar redup di dalam benaknya.
Seni bela diri tingkat fana kelas menengah ini tidak utuh. Panduan yang diberikan oleh Sistem Pilihan Takdir hanyalah jurus pembuka yang disebut 'Batu Tumbuk'. Metodenya terdengar sangat primitif: mengumpulkan Qi pada tulang-tulang kepalan tangan, memadatkannya hingga setebal lapisan batu, lalu melepaskannya dalam satu hentakan garis lurus yang mematikan.
Kenyataannya, memadatkan energi spiritual pada area sekecil buku jari tanpa membuat pembuluh darah meledak adalah teknik yang sangat menyiksa.
Lin Chen menarik napas panjang, mengaktifkan *Napas Karang Esensi*. Dia mulai menarik Qi dari pusaran di Dantiannya, mengalirkannya naik melewati dada, turun ke bahu kanan, melintasi lengan bawah, dan memaksanya berkumpul tepat di buku-buku jarinya.
Sensasi terbakar langsung menyengat. Urat-urat di punggung tangan kanannya menonjol keluar, berkedut hebat seolah ada cacing panas yang menggeliat di bawah kulitnya. Keringat dingin seketika membasahi dahi Lin Chen. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan Qi yang memberontak agar tidak bubar. Lapisan tipis energi kemerahan mulai menyelimuti kepalan tangannya, memberikan ilusi bahwa tangannya terbuat dari besi yang baru dipanaskan di atas tungku.
Pemuda itu membuka mata. Dia berdiri tegak, melompat turun dari menara pengawas, dan mendarat ringan di atas tumpukan daun pinus kering. Sasarannya adalah sebatang pohon Pinus Kayu Besi di dekatnya, jenis pohon yang batangnya sekeras batu granit.
Dengan raungan tertahan, Lin Chen melontarkan tinju kanannya ke depan. Otot bahu, punggung, dan pinggangnya bergerak selaras, menyalurkan tenaga kinetik murni yang berpadu dengan Qi.
*BAM!*
Suara benturan keras bergema memecah kesunyian hutan.
Pohon Pinus Kayu Besi itu bergetar hebat. Daun-daun jarum berguguran bagai hujan. Kulit batangnya yang keras meninggalkan lekukan sedalam dua sentimeter.
Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi praktisi tingkat dua. Sayangnya, harga yang harus dibayar sama sekali tidak murah.
Lin Chen menarik mundur tangannya. Napasnya tersengal. Lapisan kulit di buku-buku jarinya terkelupas total, memperlihatkan daging merah yang berdarah. Tulang jarinya berdenyut nyeri seakan mau retak. Pantulan energi dari batang pohon tersebut mengalir balik ke lengannya, membuat otot bicepnya mati rasa selama beberapa tarikan napas.
"Energinya terlalu menyebar," gumam Lin Chen, menganalisis rasa sakitnya dengan kepala dingin. "Batu Tumbuk mengharuskan Qi memusat pada satu titik fokus terkecil. Jika hanya melapisi permukaan tangan seperti sarung tinju, dampaknya akan melukaiku sendiri saat menghantam benda yang lebih keras."
Bukan mencari jalan pintas, dia justru kembali duduk bersila di atas tanah yang kotor. *Napas Karang Esensi* kembali diputar. Energi dari alam diserap perlahan, diarahkan untuk menyembuhkan luka robek di kulit tangannya. Proses penyembuhan ini memakan waktu satu jam penuh, menghabiskan nyaris separuh cadangan stamina fisiknya.
Begitu lukanya mengering, Lin Chen berdiri lagi. Dia memusatkan Qi ke kepalan tangannya untuk kedua kalinya. Kali ini, dia mencoba menekan aliran energi itu lebih dalam, menyatukannya dengan sumsum tulangnya, bukan hanya di bawah kulit.
*BAM!*
Tulangnya kembali ngilu. Kulitnya kembali robek.
Lin Chen menyembuhkan dirinya lagi. Dia berdiri lagi. Meninju lagi.
Siklus penyiksaan diri ini berlangsung sepanjang sore. Hutan Pinus Berbisik menjadi saksi bisu dari kekerasan hati seorang pemuda yang menolak menjadi mangsa takdir. Kulit di tangan kanannya hancur, sembuh, lalu hancur lagi, perlahan membentuk lapisan kapalan yang tebal dan berwarna kemerahan. Lekukan di batang pohon Pinus Kayu Besi semakin lama semakin dalam, menunjukkan peningkatan daya hancur yang perlahan presisi.
Ketika langit berubah menjadi kanvas berwarna jingga keunguan, Lin Chen akhirnya menghentikan latihannya. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Lengan kanannya gemetar ringan akibat kelelahan otot yang ekstrem. Kendati demikian, matanya menyala terang. Dia telah menangkap inti pergerakan dari jurus 'Batu Tumbuk'.
Malam tiba menutupi hutan dengan selimut kegelapan absolut. Hawa dingin turun drastis hingga napas yang dihembuskan berubah menjadi uap putih tipis.
Lolong panjang yang mengerikan membelah udara malam dari arah utara. Suara itu disusul oleh lolongan kedua dan ketiga.
Lin Chen yang sedang duduk beristirahat di atas dahan pohon besar segera membuka mata. Indranya yang dipertajam oleh tingkat kedua Kondensasi Qi menangkap suara gesekan daun kering yang bergerak terlalu cepat untuk ukuran angin biasa.
Makhluk itu sedang berburu.
Pemuda itu menekan seluruh hawa keberadaannya, mengoleskan lumpur basah ke pakaiannya untuk menyembunyikan bau keringat, lalu merangkak senyap di sepanjang dahan pohon. Dia memposisikan dirinya di atas sebuah persimpangan jalan setapak tempat para hewan biasanya melintas menuju sumber air.
Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Kesabaran Lin Chen setara dengan pemburu veteran. Dia tidak menggerakkan satu otot pun meskipun nyamuk hutan menghisap darah di lehernya.
Akhirnya, sesosok bayangan kelabu melesat keluar dari semak belukar.
Makhluk itu adalah seekor Serigala Angin. Ukurannya setara dengan anak sapi kecil. Bulunya abu-abu lebat, dengan corak garis perak memanjang dari leher hingga ekor. Di tengah kepalanya, tepat di antara kedua telinga, mencuat sebuah tanduk kecil melengkung yang memancarkan aura angin tipis. Mata kuning makhluk itu menyala buas, air liur menetes dari rahangnya yang dipenuhi taring setajam belati.
Udara di sekitar kaki serigala itu berputar membentuk pusaran kecil, membuatnya seolah melangkah di atas angin, tidak menimbulkan suara sedikit pun saat cakarnya menyentuh tanah. Tingkat kecepatannya jelas melampaui kemampuan lari Lin Chen.
Tepat saat Lin Chen bersiap mengunci targetnya, layar biru yang familiar berpendar di tengah kegelapan matanya.
**[Situasi Perburuan Terdeteksi.]**
**[Target: Serigala Angin Muda (Setara dengan Tahap Kondensasi Qi Tingkat 2 Puncak). Memiliki elemen angin bawaan.]**
**[Silakan tentukan metode penyerangan:]**
**[Pilihan 1: Melompat dari atas dahan, melakukan serangan mendadak menggunakan 'Batu Tumbuk' tepat ke kepalanya.
Hadiah: Penyelesaian instan jika berhasil. Risiko 80% serangan meleset karena insting angin serigala. Jika meleset, kedua kaki Anda akan patah akibat jatuh, berakhir menjadi santapan.]**
**[Pilihan 2: Menggunakan sisa lima keping koin perak di saku sebagai proyektil, melemparnya untuk membutakan mata serigala dari jarak jauh.
Hadiah: Kehilangan seluruh uang Anda. Kesempatan selamat 50%.]**
**[Pilihan 3: Turun secara diam-diam, menjauh sejauh lima puluh meter. Lempar batu berlumur darah ke arah barisan batu sempit di sebelah kiri untuk memancingnya masuk ke area tertutup.
Hadiah: Pemahaman Taktik Geografis meningkat. 1 Inti Angin Lemah.]**
Sistem selalu mengukur risiko dengan kejam. Pilihan pertama menggiurkan karena menawarkan akhir yang cepat, melupakan fakta bahwa Serigala Angin memiliki insting spasial yang luar biasa terhadap bahaya dari atas. Mempertaruhkan nyawa pada persentase kecil adalah tindakan seorang penjudi, bukan kultivator sejati.
Pilihan ketiga menuntut kesabaran ekstra dan pertarungan jarak dekat di medan yang membatasi pergerakan. Menyempitkan ruang gerak adalah satu-satunya cara menetralisir kecepatan angin serigala tersebut.
Tanpa membuang waktu berpikir panjang, Lin Chen membuat keputusannya. Layar biru meredup menghilang.
Pemuda itu mengalirkan Qi ke ujung jari kakinya, menahan beban tubuhnya agar seringan bulu. Dia meluncur turun ke sisi belakang batang pohon, benar-benar buta dari pandangan Serigala Angin. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia bergerak mundur dengan langkah-langkah presisi, menjauh menuju area berbatu yang disebutkan Sistem.
Lokasi itu merupakan celah sempit di antara dua formasi tebing karang berlumut yang saling berhimpitan, membentuk lorong buntu selebar dua meter.
Lin Chen merogoh sakunya, mengeluarkan sebongkah kecil daging kering sisa bekalnya. Dia menggigit pergelangan tangannya sendiri hingga berdarah, lalu melumuri daging kering tersebut dengan darah segarnya sendiri. Darah kultivator adalah candu yang sangat memabukkan bagi hewan iblis tingkat rendah.
Dengan kekuatan penuh, dia melempar daging berdarah itu sejauh mungkin melewati celah karang, membuatnya membentur dinding di ujung lorong buntu tersebut.
Aroma amis darah segar terbawa angin.
Lolong tajam Serigala Angin seketika terdengar. Hanya butuh hitungan detik bagi makhluk itu untuk memutar arah dan melesat menuju sumber bau. Insting binatang buas menutupi akal sehatnya. Serigala itu masuk menerjang ke dalam celah karang yang sempit, mengira itu hanyalah mangsa yang terluka dan terpojok.
Lin Chen melompat keluar dari balik bayangan tebing, memblokir satu-satunya jalan keluar.
Menyadari jalur pelariannya dipotong, Serigala Angin itu mengerem lajunya mendadak. Cakarnya mencakar keras lantai berbatu hingga menimbulkan percikan api. Makhluk itu memutar tubuhnya, menatap Lin Chen dengan mata kuning yang menyala penuh amarah. Mulutnya menggeram rendah, memamerkan deretan taring yang siap merobek leher mangsanya.
Ruang selebar dua meter menghilangkan keuntungan manuver angin makhluk tersebut. Tidak ada tempat untuk menghindar, pertarungan ini murni tentang kekuatan fisik dan ketahanan.
*Wusss!*
Serigala Angin tidak menunggu. Dengan tolakan kaki belakangnya yang sangat kuat, makhluk itu melompat menerkam lurus ke arah dada Lin Chen. Pusaran angin kecil di kakinya berubah menjadi bilah-bilah udara tajam yang menyayat udara di sekitarnya.
Lin Chen memasang kuda-kuda kokoh. Alih-alih menghindar ke belakang yang justru akan memberinya luka sayatan, pemuda itu mengambil langkah maju. Dia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, melindungi organ vitalnya sekaligus mengaktifkan *Napas Karang Esensi* secara maksimal untuk melapisi kulitnya dengan Qi.
*Brak!*
Tubuh berat serigala itu menghantam pertahanan lengan Lin Chen. Daya dorongnya sangat luar biasa, memaksa kaki pemuda itu terseret mundur sejauh tiga langkah di atas tanah berbatu. Kuku-kuku tajam sang serigala merobek kain lengan baju Lin Chen, meninggalkan beberapa garis sayatan dangkal yang langsung mengeluarkan darah.
Rasa sakit tidak membuat Lin Chen panik. Ini adalah medan pertempurannya. Saat rahang besar serigala itu berusaha menggapai lehernya, Lin Chen memutar pinggangnya secara ekstrem, menggunakan momentum dorongan makhluk itu untuk melempar tubuh serigala ke arah kiri, menghantamkannya dengan keras ke dinding tebing karang.
*Gubrak!*
Serigala itu terpelanting, lolong kesakitannya bergema. Makhluk buas itu sangat tangguh; ia segera bangkit berdiri hanya dalam hitungan detik.
Namun, sedetik adalah waktu yang sangat berharga bagi seorang kultivator.
Lin Chen tidak membiarkan serigala itu mendapatkan kembali keseimbangannya. Dia melesat maju menipiskan jarak. Qi di dalam Dantiannya ditarik keluar bagai air bah, disalurkan seluruhnya menuju bahu, lengan bawah, dan memusat kuat di tulang kepalan tangan kanannya.
Latihan penyiksaan diri sepanjang sore kini menunjukkan hasilnya. Energi kemerahan memadat dengan sempurna di buku-buku jarinya, tidak lagi menyebar, melainkan membentuk lapisan setebal batu karang transparan.
Serigala Angin, didorong oleh insting bertahan hidup, membuka rahangnya lebar-lebar dan menembakkan sebuah bilah angin seukuran telapak tangan tepat ke arah wajah Lin Chen. Ini adalah serangan ajaib khas hewan iblis.
Mata Lin Chen memicing. Dia menundukkan kepalanya dalam gerakan refleks yang nyaris tidak masuk akal. Bilah angin itu berdesing memotong beberapa helai rambutnya, menabrak tebing di belakangnya dan meninggalkan sayatan dalam pada batu.
Kehilangan postur atasnya tidak menghentikan serangan Lin Chen. Dari posisi merendah, dia melontarkan *Tinju Pemecah Batu* ke atas, mengarah langsung ke bagian paling rapuh dari anatomi serigala yang sedang berdiri dengan dua kaki belakangnya—tulang rusuk bagian bawah.
"Hancur!" raung Lin Chen parau.
Tinju kanannya menghantam ulu hati Serigala Angin bagai meriam yang ditembakkan dari jarak dekat.
Suara retakan tulang yang sangat keras terdengar menjijikkan. Energi *Batu Tumbuk* merangsek masuk menembus pertahanan bulu dan kulit tebal makhluk itu, menghancurkan tulang rusuknya menjadi serpihan, dan meledakkan organ dalam sang serigala akibat gelombang kejut energi spiritual.
Serigala Angin terlempar ke udara, memuntahkan darah hitam bercampur serpihan organ dari mulutnya, sebelum akhirnya jatuh menabrak tanah tak bernyawa. Kedua matanya mendelik kosong.
Lin Chen mempertahankan kuda-kudanya selama beberapa detik, memastikan makhluk itu benar-benar mati. Begitu hawa kehidupan dari tubuh serigala itu lenyap, pemuda itu ambruk bertumpu pada satu lututnya. Dadanya naik turun seperti puputan pandai besi.
Lengan kanannya mati rasa secara total. Seluruh Qi di tubuhnya terkuras nyaris tak bersisa. Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang lemas. Pertarungan itu berlangsung kurang dari sepuluh kali tarikan napas, energi mental dan fisik yang terbakar sangat masif.
**[Pilihan 3 diselesaikan.]**
**[Hadiah: Pemahaman Taktik Geografis meningkat (Pasif). 1 Inti Angin Lemah didistribusikan ke dalam genggaman Anda.]**
Sebuah batu bundar berukuran sebesar kelereng, berwarna biru pucat transparan, tiba-tiba muncul di telapak tangan kiri Lin Chen. Batu itu memancarkan hawa dingin dan aliran energi elemen angin yang murni. Berbeda dengan inti iblis biasa yang berbau amis, benda ini adalah hadiah penyaringan Sistem, murni tanpa residu racun.
Lin Chen menyimpannya dengan hati-hati ke dalam sakunya. Mengambil sebilah belati kecil dari sabuknya, dia berjalan tertatih menghampiri bangkai Serigala Angin. Dengan gerakan terampil, dia membedah pangkal kepala serigala tersebut, memisahkan tanduk melengkung kecil itu dari tulang tengkoraknya, lalu menyeka darahnya dan memasukkannya ke dalam kantong tugas.
Satu dari lima misi bulanannya telah terpenuhi.
Dia tidak berani berlama-lama di tempat kejadian. Bau darah serigala ini akan segera menarik predator lain yang jauh lebih kuat. Lin Chen menyeret tubuhnya kembali ke pohon tempat menara pengawasnya berada, memanjat naik dengan susah payah, dan segera duduk bersila menetralkan laju pernapasannya.
Malam itu dihabiskan dengan memulihkan Qi yang kosong. Latihan keras dan pertarungan mempertaruhkan nyawa membuat dinding pembatas menuju Tahap Kondensasi Qi tingkat ketiga mulai menunjukkan retakan kecil. Kultivasi sejati memang tidak pernah lahir dari meditasi damai di dalam kamar yang hangat.
Fajar menyingsing lambat laun. Cahaya kebiruan menyapu cakrawala, menembus rimbunnya hutan pinus.
Tepat saat Lin Chen hendak membuka matanya, sebuah fluktuasi energi yang sangat mengerikan melanda hutan bagaikan gempa bumi tak kasat mata.
Daun-daun pinus rontok serempak. Burung-burung gagak beterbangan panik ke langit. Tekanan aura ini begitu kuat hingga membuat organ dalam Lin Chen bergetar menyakitkan, memaksanya menekan tenggorokan agar tidak memuntahkan darah segar.
Itu bukan sekadar aura hewan buas; ada energi pedang yang sangat tajam menyertai tekanan tersebut.
Lin Chen merayap perlahan mendekati ujung menara pengawas, mengintip melalui celah dedaunan.
Di kejauhan, sekitar satu mil dari posisinya, pepohonan raksasa tumbang berguguran seperti rumput liar yang diinjak raksasa. Sesosok Beruang Lapis Baja Hitam, hewan iblis tingkat dua puncak yang kekuatannya setara dengan murid luar tingkat tujuh, sedang berlari terbirit-birit menabrak segala rintangan di depannya. Makhluk setinggi tiga meter itu memancarkan keputusasaan yang nyata. Punggung besinya dipenuhi luka bakar dan sayatan yang dalam.
Di belakang beruang itu, membelah udara dengan kecepatan luar biasa, sesosok manusia melayang di atas sebilah pedang terbang yang memancarkan cahaya keemasan.
Orang itu adalah seorang wanita muda. Jubahnya putih bersih bak salju, berkibar elegan melawan angin kencang. Wajahnya tidak terlihat jelas dari jarak sejauh ini, postur tubuhnya memancarkan kedinginan mutlak yang membuat udara pagi terasa membekukan tulang. Keberadaannya mengabaikan hukum gravitasi. Mampu menggunakan senjata spiritual untuk terbang berarti kultivasinya setidaknya berada di batas Tahap Inti Emas—sebuah eksistensi dari pelataran dalam sekte, atau bahkan seorang tetua muda.
Beruang Lapis Baja Hitam itu mengaum marah, berbalik dan menembakkan gelombang tanah yang tajam dari cakar raksasanya ke arah udara.
Wanita berjubah putih itu bahkan tidak menghentikan lajunya. Dia sekadar menjentikkan jari telunjuk dan tengahnya.
Bilah cahaya keemasan setipis helaian rambut melesat membelah ruang. Dalam kedipan mata, gelombang tanah sang beruang terbelah dua. Cahaya itu terus melaju tanpa hambatan, menembus tepat di tengah dahi Beruang Lapis Baja Hitam.
Makhluk raksasa itu membeku. Sesaat kemudian, tubuh besarnya ambruk menghantam tanah menimbulkan suara dentuman keras. Mati hanya dengan satu jentikan jari santai.
Lin Chen menahan napasnya di atas menara pengawas. Pemandangan itu membakar matanya. Itulah kekuatan sejati. Jika dibandingkan dengan perkelahian berdarahnya melawan serigala tingkat satu semalam, wanita ini baru saja memusnahkan ancaman mematikan seolah membuang sampah.
Wanita itu turun dari langit, kakinya menyentuh tanah di samping bangkai beruang dengan ringan tanpa menimbulkan suara. Dengan ayunan pedang yang anggun, dia membelah dada beruang itu dan mengambil sebuah inti iblis sebesar kepalan tangan yang memancarkan cahaya kuning pekat.
Selesai dengan urusannya, wanita itu berbalik. Secara tidak sengaja, atau mungkin didorong oleh persepsi spiritual tingkat tingginya, matanya menatap tepat ke arah rimbunnya pohon tempat Lin Chen bersembunyi sejauh satu mil jauhnya.
Mata wanita itu sedingin bintang di ujung langit. Tatapan itu seolah mampu menembus kayu dan tulang, menguliti rahasia sekecil apa pun.
Lin Chen merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dia tidak bergerak sama sekali.
Hanya sedetik wanita itu menatap ke arahnya. Sedetik yang terasa seperti selamanya. Bagi eksistensi sepertinya, kultivator tingkat dua yang bersembunyi di atas pohon tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang melintas. Tidak ada ancaman, tidak ada nilai untuk diperhatikan lebih jauh.
Wanita berjubah putih itu kembali melompat ke atas pedang terbangnya, melesat membubung tinggi ke arah puncak pegunungan, menghilang tertelan awan tebal dalam hitungan detik. Kepergiannya meninggalkan kesunyian memekakkan di hutan yang hancur.
Lin Chen perlahan menurunkan pandangannya, menatap telapak tangannya sendiri yang masih berbalut darah kering dan luka akibat latihan semalam. Kesenjangan ini terlalu jauh. Tahap Inti Emas baru berada di pertengahan Alam Fana. Betapa mengerikannya kekuatan di ujung Alam Fana? Bagaimana dengan Dunia Tengah para Immortal? Bagaimana dengan Alam Dewa yang melegenda?
Alih-alih merasa putus asa, sebuah senyuman tipis dan keras mengembang di sudut bibir pemuda itu.
"Semut hari ini," bisik Lin Chen pada angin pagi yang dingin. "Satu langkah, satu retakan. Tidak peduli seberapa tinggi langitnya, aku akan memanjatnya."
Pemuda itu mengabaikan rasa lelahnya. Dia meraih fragmen *Tinju Pemecah Batu* dalam ingatannya, melompat turun dari menara, dan kembali mengarahkan kepalan tangannya yang berdarah menuju batang kayu terkeras yang bisa dia temukan. Jalan panjang menuju puncak dimulai dari ribuan kepalan tangan yang menghantam batu takdir, hari demi hari, tanpa jeda.