NovelToon NovelToon
REVOLUSI ERA

REVOLUSI ERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:90
Nilai: 5
Nama Author: amatir author

Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.

Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.

Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.

Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.

Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.

Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pembukaan

Seorang anak sederhana dengan pakaian sederhana berusia 12 tahun duduk di depan rumah sambil main kelereng (gundu)seorang diri.

Anak laki-laki itu bernama Asep Setiawan, siswa SMP suka tani kelas 1 semester 2.

Seorang ibunya keluar dari dalam rumah menghampiri anaknya membawa sapu di tangannya.

"Nak makan, lalu mandi. selesai mandi belikan ibu minyak tanah di warung bi Wina!"

Dia bernama Bu Asri Selly, perempuan berumur 35 tahun dan seorang janda di tinggal mati oleh suaminya 12 tahun lalu setelah Asep lahir

Dia seorang single mom menafkahi anaknya seorang diri sebagai buruh tani.

"Iya bu." jawabnya.

Membereskan kelerengnya (gundu) beranjak berdiri menatap ibunya penuh perasaan sedih dan kasihan.

"Sini uangnya! Nanti Asep belikan setelah makan. Minyak tanah lentera di kamar Asep juga sudah habis."

Dia menyodorkan tangan kecilnya meminta uang.

"Iya Bu, Andai saja Asep kaya, bisa renovasi rumah dan beli mesin genset lampu biar rumah terang seperti rumah pak kades." Guman Asep.

"Sudahlah sep, hidup kita adalah takdir dari tuhan. Jangan di sesali. Semua itu sudah ada takarannya masing masing."

Bu asri mengambil uang 500 perak sawit, menyerahkan ke Asep.

"Ini uangnya, nanti kamu beli seperempat liter saja, sisa uangnya buat Asep."

"Iya Bu, Asep paham soal itu. Tapi Bu tidak ada salahnya berhayal, siapa tahu menjadi nyata."

Asep menerima uang itu dengan tata Krama baik, mengambil dengan tangan kanan.

"ya sudah, Ibu berangkat kerja dulu, setelah dapat minyak tanahnya taruh di tempat biasa. Nanti ibu isi lentera rumah kita yang sudah habis."

"Tidak usah Bu, biar Asep saja yang isi. Asep makan dulu."

"Ya sudah, ibu berangkat. Jangan lupa pintu di kunci jika ingin pergi."

"wassalamu'alaikum.."

Bu asri melangkah pergi dengan riang gembira, tidak ada raut wajah tertekan sama sekali.

"Walikumsalam.."

" hati hati di jalan bu!"

Seru Asep menatap punggung ibunya semakin menjauh.

"Iya sep!" Jawabnya tanpa menoleh terus melangkah kakinya

Sudah memastikan punggung ibunya tidak terlihat lagi dengan matanya, Asep segera masuk untuk sarapan dan Mandi.

Setelah itu keluar lagi, menutup pintu. memakai sendal jepitnya melangkah pergi sedikit berlari.

Langkah kaki terlihat bersemangat walaupun dengan sendal sepit lusuh tipisnya beda merk melewati jalanan berbatu dan berlumpur.

Orang berlalu lalang lewat dari dua arah melewatinya, terkadang ada delman dan sepeda ontel lewat.

Langkahnya melambat, kedua mata tegasnya menatap anak kecil perempuan duduk di delman dengan tenang. Anak perempuan yang dia kenal.

"Huh...

"Selly, hidupnya enak. Dia terlahir kaya. Bisa naik delman saat berpergian, berangkat sekolah juga naik delman." Gumannya.

Anak perempuan itu teman sekaligus rivalnya di sekolah. Anak itu bernama Selly Septianti anak dari juragan bawang.

Selly selalu menghina setiap mereka bertemu dengan asep, saat sekolah maupun di luar sekolah.

Namun,

"Berhenti!" Seru Selly.

Kusir sigap menarik tali pengendali kuda, delman berhenti.

Selly menatap dengan tersenyum menghina, masih duduk di atas delmannya.

"Cih..

"Dasar anak miskin, rasakan itu. Pasti kamu kepanasan."

"Ha ha...

"Makanya menjadi orang kaya, punya kendaraan seperti ku, Tidak jalan kaki seperti mu. baju bolong lusuh di pakai, sendal beda warna,"

"Tubuh hitam, dengkil dan bau. Ihh najis sekali." Ucapnya menatap dengan tatapan jijik.

"Kamu..

Asep hanya bisa meng guman menatap lekat teman sekolahnya dengan tatapan muram. Sambil menahan emosinya saja mencengkram uang logam 500 perak di tangannya.

"Jangan marah, itu kenyataan. kamu orang miskin sangat bau, Pantas di hina!"

Ucap Selly menatap hina Asep.

Kusir hanya tersenyum sinis menghina sambil melirik Asep di sampingnya.

"Ha ha...

"Ayo jalan, jangan berlama-lama dekat dengan orang miskin ini. Nanti tertular miskinnya!"

"Baik non."

Kusir menjalankan delmannya kembali.

"Bye bye orang miskin!"

Selly melambaikan tangannya dengan tatapan sombong dan hina.

"Huh...

"Sabar kan hati, tegarkan hatiku, astaghfirullah.."

Gumannya.

Melangkah kaki kecilnya, terus melangkah melewati jalanan berbatu. dalam waktu beberapa menit sampai di warung Bu Wina.

"Bu beli!"

Seru Asep memanggil sambil berdiri di depan warung Bu Wina.

Bu Wina menghampiri, menatap dengan tatapan tidak suka seperti ada hal yang membuatnya terusik.

"Kamu, jangan bilang ingin hutang. Disini tidak menerima itu. Jika tidak punya uang sebanyak pergi!" Ucapnya dengan bahasa kasar dan tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!