Dunia Doni runtuh saat istri tercintanya meninggal dunia sesaat setelah melahirkan putri mereka, Maudi. Di masa rentan itu, masuklah Seina, seorang wanita licik yang ambisius. Demi menguasai harta Doni, Seina melakukan aksi nekat,ia menukar Maudi dengan putri kandungnya sendiri, Eliza.
Sejak saat itu, nasib kedua bocah tersebut berubah 180 derajat. Eliza tumbuh sebagai gadis yang sangat dimanja dan bergelimang kemewahan. Sebaliknya, Maudi yang merupakan anak kandung Doni, justru dianggap sebagai pembawa sial oleh Seina. Selama tujuh tahun, Maudi kecil hidup dalam penderitaan, disiksa secara fisik dan mental oleh Seina tanpa sepengetahuan Doni.
Penderitaan Maudi berakhir ketika sebuah insiden membuatnya terbuang dan akhirnya tumbuh di lingkungan pesantren. Di sinilah mutiara yang terpendam itu mulai bersinar. Maudi ternyata adalah seorang anak yang sangat jenius.
Assalamualaikum...
yuk, ikuti kelanjutan kisahnya ....
semoga suka.... jangan lupa dukungannya ya🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Doni menatap foto almarhumah istrinya " Ambar, eliza menginginkan seorang ibu seperti teman-teman nya di sekolah, apakah aku salah kalau aku menikah lagi, tapi rasa cinta ku padamu sangat besar, namun putri kita juga membutuhkan seorang ibu yang sesungguhnya,bukan seorang perawat , maafkan aku kalau aku harus menikah lagi".
"aku akan menikahi Siena, bukan aku mencintai Siena,tapi aku melihat kasih sayang Siena yang begitu besar pada putri kita, bahkan Seina sering mengabaikan putri kandungnya sendiri agar Eliza tidak menangis".
Keputusan Doni untuk menikahi Seina menjadi puncak kemenangan bagi rencana licik yang telah disusun Seina selama bertahun-tahun. Bagi Doni, ini adalah pengorbanan demi kebahagiaan Eliza, namun bagi Maudi, ini adalah awal dari penderitaan yang lebih dalam di bawah atap yang sama.
Suasana di mansion Daneswara tampak sibuk. Meski bukan pesta besar seperti saat Doni meminang Ambar dulu, namun pernikahan ini tetap menjadi perbincangan hangat. Doni berdiri di depan cermin, menatap foto Ambar yang masih tersimpan di meja kerjanya.
"Maafkan aku, Ambar. Ini demi Eliza. Dia butuh sosok ibu, dan Seina adalah satu-satunya yang dia inginkan," gumam Doni dengan suara berat. Baginya, Seina hanyalah masa lalu yang kebetulan hadir kembali sebagai penolong, rasa sakit hatinya perlahan menghilang karena melihat kasih sayang yang tulus,Seina kepada putri satu-satunya.
Orang tua Ambar juga menyetujui pernikahan Doni dengan Seina , apalagi selama empat tahun ini Eliza tumbuh menjadi balita yang bahagia, sehat juga cantik , Seina Sangat pintar menyembunyikan kebusukan hatinya, bahkan ia selalu menyembunyikan Maudi karena takut, orang tua Ambar curiga, Seina mengatakan kalau Maudi memiliki penyakit gatal yang menular,jadi ia menyembunyikan Maudi di paviliun. Bagi mereka Maudi tidak penting,jadi mereka tidak mau tahu,asal Eliza...cucu pewaris satu-satunya selalu sehat.
Di sisi lain, Seina tersenyum lebar menatap pantulan dirinya yang mengenakan kebaya putih elegan. Ia akhirnya berhasil. Ia bukan lagi sekadar ibu susu atau pengasuh yang tinggal di paviliun. Ia adalah Nyonya Daneswara.
"Mulai hari ini, tidak akan ada yang bisa mengusirku dari sini," bisik Seina pada Eliza yang sedang asyik mencoba mahkota kecil di kepalanya.
"maafkan aku Brama, anak-anak mu butuh sosok papa yang bisa membahagiakan nya, bukan seperti mu yang mati dengan meninggalkan hutang yang banyak, sehingga aku dan putramu sempat merasakan kemiskinan "Seina bergumam dalam hati saat teringat mendiang suaminya yang selalu memanjakan dirinya, ternyata Brama sampai berhutang demi memenuhi ego sang istri.
"Hore! Mama akhirnya jadi mama beneran Eliza sekarang!" teriak Eliza girang, memeluk Seina dengan manja....
"iya sayang, Eliza senang tidak?" tanya Seina dengan lembut.
"Tentu saja senang Mama, Eliza jadi punya dua Mama, satu di syurga,satu lagi di dekat El" jawab Eliza dengan wajah sumringah.
Saat acara akad nikah berlangsung sederhana di ruang tengah, Maudi duduk sendirian di bangku kayu paviliun. Ia mengenakan baju lama yang sudah kekecilan, pemberian Bik Sum. Wajahnya yang penuh ruam merah dan bercak gelap akibat fondasion yang terus-menerus dioleskan Seina membuatnya tampak kontras dengan kemegahan di rumah utama.
Bahkan Maudi sendiri memakai lotion pemberiaan Seina , katanya obat gatal, tapi Maudi kecil terus memakainya karena ia tidak tahu kalau lotion itu kadaluarsa, ia sering melihat mamanya memakaikannya pada Eliza yang kulitnya halus, ia pun mengikuti apa yang dilakukan mamanya.
Saka datang menghampirinya dengan pakaian rapi, sebuah kemeja baru yang dibelikan Doni. Saka menatap adiknya dengan tatapan meremehkan, persis seperti cara Seina menatap Maudi..., padahal Doni sudah membelikan gaun pesta untuk Maudi juga, namun di ambil Seina dengan paksa. Ia tidak mau, kecantikan putrinya tersaingi,meski kulit Maudi sangat jelek.
"Maudi, jangan keluar-keluar ya. Mama bilang kamu bakal malu-maluin kalau tamu lihat wajah kamu yang jelek itu," ucap Saka ketus sambil merapikan kerahnya.
Maudi hanya menunduk, memainkan jari-jarinya yang kasar. "Iya, Kak Saka. Maudi di sini saja."
"Bagus. Ingat ya, di depan Papa Doni, kamu itu bukan siapa-siapa,karena kamu paling jelek, kalau aku akan jadi anaknya Papa Doni beneran." ucap saka melenggang pergi.
Setelah resmi menjadi istri Doni, sifat asli Seina mulai keluar secara perlahan namun pasti. Ia kini memegang kendali atas urusan rumah tangga.
"Don, aku rasa Maudi lebih baik tidak disekolahkan di sekolah internasional seperti Eliza dan Saka. Kasihan dia, dengan wajah seperti itu, dia pasti akan jadi bahan ejekan teman-temannya. Lebih baik dia sekolah di sekolah biasa saja, atau di asrama saja ," ujar Seina saat mereka makan malam.
Doni sempat ragu. "Tapi Seina, bagaimanapun dia anakmu juga. Dia punya hak pendidikan yang sama seperti Eliza dan saka ."
Seina langsung memasang wajah sedih dan menyentuh tangan Doni. "Justru karena aku ibunya, aku ingin melindunginya, Don. Aku tidak mau dia trauma karena di-bully. Biarlah dia fokus membantu urusan paviliun dan dapur, itu akan melatih kemandiriannya."
Doni, yang pikirannya masih sering terdistraksi oleh urusan perusahaan dan duka masa lalu, akhirnya mengangguk pasrah. Ia tidak sadar bahwa istrinya sedang mematikan masa depan anak kandungnya sendiri.
"Baiklah,kamu ibunya,kamu pasti tahu , apa yang terbaik untuk putrimu" jawab Doni pasrah, toh semua urusan rumah, ia berikan tanggung jawab penuh pada Seina, karena ia harus memikul perusahaan peninggalan istrinya seorang diri.
Meski tidak diberikan fasilitas pendidikan yang layak, Maudi tidak menyerah. Di malam hari, saat semua orang sudah tidur, ia sering menyelinap ke perpustakaan pribadi Doni. Dengan bantuan lampu senter kecil pemberian Bik Sum, Maudi melahap buku-buku tebal tentang sains, sejarah, dan bahasa.
Suatu malam, Maudi sedang membaca buku tentang genetika yang dulu milik Ambar. Ia mengerutkan kening saat membaca bab tentang golongan darah dan ciri-ciri fisik.
"Apa golongan darah ku juga sama ya seperti mama " ?' batin Maudi kecil. Ingatannya yang tajam merekam setiap detail kecil. namun ia mencoba tidak memikirkan itu,
Ia kemudian menatap wajahnya di cermin kecil yang retak di paviliun. Ia menghapus paksa sebagian bercak kusam di pipinya dengan air, hingga kulit aslinya yang putih bersih sedikit terlihat.
"Wajah ini... kenapa rasanya aku pernah melihatnya?" gumam Maudi sambil menatap foto Ambar yang pernah ia lihat sekilas di rumah utama.
Di usia balita yang hampir memasuki usia sekolah dasar, Maudi bukan lagi sekadar anak yang penurut. Kecerdasannya mulai membimbingnya untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya, meski seluruh dunia berusaha menutupi kebenarannya dengan sampah dan hinaan.
🤲