Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONSEP Penjualan Trendy
Di dalam kamar dengan pencahayaan yang temaram, Rian duduk santai di meja belajarnya. Hanya ada pendar cahaya dari layar iPad dan laptop yang menerangi wajahnya, ditemani segelas es cokelat yang es batunya sudah mencair setengah. Lewat headphone nirkabel yang terpasang di telinga, mengalun musik indie berirama tenang yang membantunya tetap fokus tanpa perlu merasa stres.
Bagi Rian, urusan konsep, brainstorming, dan edit-mengedit adalah urusan gampang. Sebagai anak Gen Z yang tumbuh besar bersama gempuran algoritma media sosial, hal-hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Dia tidak perlu membuka berlembar-lembar buku teori pemasaran tahun 90-an untuk tahu apa yang disukai pasar Jakarta tahun 2026. Dia cukup berselancar di lini masa, membaca komentar-komentar yang sedang viral, dan menggabungkannya dengan insting visualnya. Jarinya bergerak dengan sangat lihai dan cekatan di atas permukaan layar iPad, menyusun presentasi, memotong klip referensi video, hingga menyelaraskan palet warna.
Setelah beberapa jam berkutat dengan dunianya sendiri, Rian akhirnya meregangkan otot-otot jarinya hingga terdengar bunyi gemertak halus.
"Oke, done," gumamnya pelan.
Rian selesai dengan konsepnya. Hasil kerjanya malam ini menunjukkan sebuah strategi pemasaran yang sangat trendy untuk produk skincare alami perusahaan tempatnya bekerja. Alih-alih membuat proposal kaku setebal puluhan halaman yang biasa disukai generasi senior, Rian mengemasnya dalam bentuk mind-mapping visual yang interaktif dan contoh draf video pendek yang siap eksekusi.
Dalam konsepnya, Rian tidak menjual produk dengan cara pamer testimoni berlebihan yang membosankan. Dia justru mengangkat konsep "Skincare Jujur". Dia merancang ide kampanye video pendek berupa tantangan melelahkan menjadi pekerja kantoran di Jakarta tahun 2026—lengkap dengan polusi udara korporat dan tekanan kerja—tapi kulit tetap bisa glowing berkat ekstrak bahan alami produk mereka. Konsepnya dikemas dengan komedi satir khas anak muda, transisi video yang dinamis, dan pemilihan musik yang sedang hangat-hangatnya menjadi tren.
Rian membaca ulang hasil kerjanya sekali lagi dari awal sampai akhir. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Dia merasa konsep ini tidak hanya segar, tapi juga sangat bisa meraup angka penjualan yang tinggi karena menyasar langsung ke kecemasan kaum urban.
Dia melirik jam di sudut layar iPad-nya. Masih jam sebelas malam.
"Dikirim sekarang aja kali ya, biar besok pagi Bu Arini tinggal baca," pikir Rian.
Tanpa beban, Rian melampirkan file presentasi tersebut ke dalam sebuah surel profesional, mengetik kalimat singkat yang sopan, lalu mengeklik tombol send.
Selesai dengan tugasnya, Rian melepas headphone-nya, merebahkan diri di kasur, dan langsung bersiap untuk tidur dengan nyenyak. Dia sama sekali tidak tahu bahwa di belahan Jakarta yang lain, surel yang baru saja dikirimkannya itu akan memicu badai kecil di pikiran kepala stafnya sendiri.
Sementara itu, di sebuah sudut apartemen yang tidak kalah rapi, Arini sedang duduk di tepi ranjangnya dengan masker wajah yang hampir mengering. Alih-alih beristirahat, matanya sedari tadi tidak lepas dari layar ponsel. Jari jemarinya terus melakukan gerakan refresh pada aplikasi e-mail kantor, menunggu notifikasi yang tak kunjung muncul.
"Paling juga jam dua pagi baru masuk, itu pun kalau dia nggak minta perpanjangan waktu besok," gumam Arini sinis.
Sebagai seorang Milenial yang meniti karier dari bawah dengan kerja keras berdarah-darah, Arini sangat tahu rasanya begadang demi mengejar tenggat waktu manajer. Dia sudah bersiap mental untuk melihat proposal berantakan khas anak baru yang dikerjakan dengan sistem kebut semalam.
Ting!
Sebuah notifikasi e-mail masuk. Arini mengerjap. Dia melirik jam dinding digital di kamarnya. 23.15 WIB.
"Hah? Serius udah dikirim?" Arini bergumam heran. Rasa penasarannya langsung memuncak. Dengan cepat, dia membuka lampiran file PDF interaktif yang dikirimkan oleh Rian.
Begitu halaman pertama terbuka, alis Arini langsung bertaut. Pola pikirnya yang sudah bersiap untuk mengkritik mendadak buyar. Dokumen yang dikirim Rian sama sekali tidak kaku. Isinya penuh dengan warna, bagan mind-mapping yang langsung menusuk ke inti masalah, dan tautan referensi video yang bisa diklik.
Arini membaca halaman demi halaman dengan saksama. Efek masker di wajahnya sampai terasa retak karena ekspresi mukanya yang berubah-ubah dari heran, tidak percaya, hingga akhirnya... sedikit kagum—meski ego tingginya sebagai Kepala Staf menolak keras untuk mengakuinya.
"Konsep 'Skincare Jujur'... Komedi satir pekerja Jakarta 2026?" Arini membaca baris demi baris strategi yang disusun Rian.
Rian tidak sekadar membuat ide konten kosong. Cowok itu memetakan perilaku audiens Gen Z dan Milenial secara akurat, lengkap dengan jam-jam produktif mereka berselancar di media sosial, hingga jenis musik latar yang paling ramah algoritma saat ini. Strateginya sangat organik, tidak terasa seperti iklan paksaan, namun memiliki call-to-action yang sangat kuat untuk langsung mengarahkan penonton ke keranjang belanja.
Arini menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang mendadak pening.
"Niatnya mau bikin dia frustasi, kenapa malah gue yang makin stres, sih?" bisik Arini pada diri sendiri.
Konsep Rian ini terlalu bagus untuk ukuran staf yang baru masuk kerja. Sialnya lagi, Arini tahu betul kalau Pak Hendra pasti akan langsung jatuh cinta dengan ide eksperimental seperti ini begitu melihatnya besok pagi.
Arini mematikan layar ponselnya lalu menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, sebagai Kepala Staf Pemasaran, dia senang karena timnya punya senjata kuat untuk rapat besok. Namun di sisi lain, harga dirinya merasa tercoreng. Bagaimana bisa anak baru yang sepanjang hari kerjaannya cuma bersantai dan minum es kopi susu, bisa menyelesaikan tugas seberat ini hanya dalam beberapa jam?
"Oke, Rian. Lo boleh menang malam ini," gumam Arini sambil beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. "Tapi besok pagi di depan Pak Hendra, gue bakal lihat gimana cara lo mempertahankan ide ini langsung di depan forum."