NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23: Penghinaan yang Menusuk, Pengakuan yang Menggetarkan

Beberapa hari berlalu sejak malam itu, malam di mana air mata dan gairah bercampur menjadi satu untuk menghapus segala salah paham. Hubungan Arkan dan Nara kini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Benih keraguan yang sempat ditanamkan Sera telah dicabut hingga ke akar-akarnya, diganti dengan kepercayaan yang sedemikian kokoh, seolah tak ada badai apa pun yang mampu menggoyahkannya lagi. Arkan kini semakin terbuka dan berani, ia tidak lagi berusaha menyembunyikan hubungan mereka. Di kantor, di depan para direktur, bahkan di depan Pak Wijaya, ia selalu memposisikan Nara di sisi kanannya, tempat paling terhormat.

Namun bagi Sera Pradipta, pemandangan itu adalah tamparan keras bagi harga dirinya. Setiap kali ia melihat Arkan berjalan beriringan dengan Nara, tertawa kecil saat berbicara, atau sekadar bertukar pandang yang penuh makna, amarahnya membara habis. Baginya, ini adalah penghinaan terbesar. Bagaimana mungkin ia—wanita yang memiliki segalanya, yang dipuja oleh banyak pria, yang dianggap pasangan paling tepat untuk Arkan—kalah oleh gadis desa yang tidak punya apa-apa selain wajah polos dan sederhana itu?

Sera sadar, serangan dari luar, kata-kata manis, atau godaan saja tidak cukup. Arkan terlalu teguh pendiriannya. Maka ia memutuskan untuk mengubah strategi. Ia akan menyerang titik terlemah dalam hubungan itu: rasa rendah diri Nara, dan pandangan masyarakat yang selama ini selalu mendukungnya.

Pagi itu, Arkan harus pergi lebih awal. Ada rapat darurat dengan para investor asing di pelabuhan kota, tempat yang jauh dan memakan waktu seharian penuh. Sebelum berangkat, Arkan berpesan berkali-kali dengan nada serius, sambil menatap mata Nara dalam-dalam.

"Sayang, aku harus pergi seharian. Pak Wijaya akan ikut denganku. Di rumah cuma ada pelayan dan penjaga. Jangan buka pintu untuk siapa pun, ya? Dan kalau ada apa-apa, apa pun itu, langsung telepon aku. Ingat, kamu nyonya rumah di sini. Kamu pemilik rumah ini sama seperti aku. Jangan pernah merasa kecil di rumahmu sendiri."

Nara tersenyum, mengangguk lembut, lalu berdiri berjinjit untuk mengecup pipi Arkan. "Aku tahu. Hati-hati ya. Aku akan tunggu kamu pulang."

Arkan baru saja melangkah keluar, tapi berbalik lagi, menarik Nara ke dalam pelukan erat, seolah takut akan ada sesuatu yang buruk terjadi saat ia pergi. Ia mencium bibir gadis itu lama, dalam, dan penuh rasa memiliki, di hadapan para pelayan yang tersenyum malu.

"Kamu milikku. Hati, raga, nama, semuanya. Jangan lupa itu," bisiknya pelan, lalu benar-benar berangkat.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Nara sedang duduk di ruang tengah, membaca buku di dekat jendela besar, saat pelayan masuk dengan wajah cemas.

"Nona Nara... ada Nona Sera Pradipta di depan. Beliau bilang ada urusan sangat penting dan mendesak, dan mau bertemu dengan Anda. Katanya ini soal nasib perusahaan dan masa depan Tuan Arkan."

Jantung Nara berdebar kencang. Nama Sera selalu membawa suasana tegang. Ia ragu, tapi ia ingat pesan Arkan: Kamu nyonya rumah di sini. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya. Ia tidak boleh lari. Ia harus berani menghadap, karena ia ada di sini bukan karena meminta belas kasihan, tapi karena ia dicintai.

"Silakan persilakan masuk," ucap Nara tenang, meski di dalam hatinya masih ada sedikit getaran.

Pintu besar terbuka, dan Sera masuk dengan langkah yang begitu percaya diri, diikuti oleh dua orang asisten yang membawa tas dokumen tebal. Ia mengenakan pakaian berwarna merah menyala yang sangat mencolok dan mahal, membuat kehadirannya seolah mendominasi seluruh ruangan. Ia berjalan melewati Nara seolah tidak melihatnya, lalu duduk di sofa utama—tempat duduk Arkan—dengan santai dan angkuh.

"Kamu sendirian?" tanya Sera, matanya menatap sekeliling ruangan dengan pandangan mengevaluasi dan sedikit meremehkan.

"Arkan sedang ada urusan luar kota. Tapi apa pun yang ingin Anda bicarakan, Anda bisa bicara pada saya. Saya akan sampaikan," jawab Nara tenang, berusaha menahan gemetar suaranya.

Sera tertawa kecil, suara tawanya terdengar sarkas dan tajam. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Nara dengan tatapan tajam dan dingin, persis seperti singa yang mengincar mangsa kecil.

"Kamu? Menyampaikan? Nona Nara... kamu sadar tidak sih posisimu di sini? Kamu duduk di rumah ini, tidur di kasur yang mahal ini, pakai baju bagus, makan enak, semua karena belas kasihan Arkan kan? Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir kamu berhak mewakili Arkan Adhitama? Kamu cuma gadis desa yang beruntung ditolong dia saat dia jatuh dulu. Sekarang dia sudah bangkit, dia sudah jadi orang besar lagi, dan kamu masih saja menempel di sana seperti parasit."

Kata-kata itu tajam dan kejam, ditusukkan tepat ke tempat yang paling sakit di hati Nara. Wajah Nara memucat, tangannya mengepal erat di atas pangkuan, kuku menancap ke telapak tangan agar ia tidak menangis di depan wanita ini.

"Saya ada di sini karena Arkan menginginkan saya. Bukan karena belas kasihan," jawab Nara pelan namun tegas, berusaha mempertahankan harga dirinya.

"Alah, sama saja!" potong Sera cepat, dengan nada suara yang semakin tinggi dan tajam. "Kamu pikir cinta saja cukup? Kamu pikir dengan wajah polos dan masakan sederhanamu, kamu bisa jadi istri dari pengusaha terbesar di negeri ini? Lihatlah dirimu! Kamu tidak mengerti apa-apa! Kamu tidak paham cara berbicara dengan pejabat, kamu tidak paham tata krama, kamu tidak paham cara berjalan di dunia tempat Arkan berjalan sekarang! Setiap kali dia bawa kamu keluar, orang-orang menertawakan dia di belakang! Mereka bilang Arkan gila, mereka bilang Arkan malu, mereka bilang Adhitama Group akan hancur karena pemimpinnya dikendalikan gadis kampung yang tidak tahu apa-apa!"

Sera berdiri, berjalan mendekat ke arah Nara, menatap dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat merendahkan.

"Dengar ya... aku datang ke sini bukan karena benci kamu, tapi karena aku kasihan. Dan demi kebaikan Arkan juga. Ayahku sudah putuskan. Jika Arkan tidak mau mengakhiri hubungan denganmu dan menikah denganku dalam waktu satu bulan, kerja sama kita berhenti total. Tidak ada lagi proyek, tidak ada lagi modal, dan semua mitra lain yang berhubungan dengan keluarga Pradipta akan ikut mundur. Adhitama Group akan bangkrut, hancur, dan jatuh kembali ke dasar, bahkan lebih parah dari dulu. Dan itu semua... SEMUA ITU, akan jadi salahmu. Kamu yang akan jadi penyebab kehancuran segala hal yang dibangun kakek dan ayahnya. Kamu mau bertanggung jawab untuk itu? Kamu sanggup hidup dengan dosa menghancurkan masa depan pria yang kamu katakan kamu cintai itu?"

Hening. Suara Sera berhenti, tapi kata-katanya berputar berulang kali di kepala Nara. Ancaman itu nyata. Berat. Dan menakutkan. Rasa rendah diri yang semalam telah terkubur dalam-dalam, kembali bangkit dengan kekuatan berkali-kali lipat, didorong oleh rasa takut akan kehancuran kebahagiaan Arkan.

Nara terduduk lemas di sofa, air mata mulai menggenang di mata namun ia berusaha keras menahannya. Sera melihat itu, melihat keraguan yang kembali muncul di mata gadis itu, dan senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Ia tahu, benih racun ini akan tumbuh. Biarkan Nara sendiri yang memutuskan pergi, itu jauh lebih mudah dan bersih.

"Pikirkan baik-baik. Kamu bilang kamu cinta dia? Buktikan cintamu dengan melepaskan dia. Biar dia bahagia, sukses, dan aman. Kamu cuma beban, Nara. Selamanya akan begitu."

Sera berbalik berjalan pergi dengan langkah puas, meninggalkan Nara yang duduk kaku, hancur, dan bingung di tengah ruangan besar yang tiba-tiba terasa begitu dingin dan kosong.

Sore itu, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, Arkan pulang. Ia masuk dengan wajah lelah namun tersenyum lebar, berharap disambut oleh senyum manis Nara seperti biasa. Namun senyum itu hilang seketika saat melihat Nara duduk di sudut ruangan, wajahnya pucat, matanya bengkak, dan tatapannya kosong menatap ke depan.

"Sayang? Ada apa? Siapa yang datang? Apa ada yang berani mengganggumu?" Arkan segera berlari mendekat, berlutut di depan Nara, memegang bahu gadis itu dengan cemas.

Nara menggeleng pelan, tapi air matanya jatuh lagi. Ia menceritakan semuanya. Semua kata-kata kejam Sera, ancaman kebangkrutan perusahaan, pandangan masyarakat, dan tuduhan bahwa ia adalah satu-satunya penghalang kebahagiaan dan kesuksesan Arkan.

"Arkan... dia benar..." isak Nara pelan, suaranya parau dan lemah. "Aku benci diriku sendiri. Kenapa aku tidak lahir kaya? Kenapa aku tidak pintar? Kenapa aku tidak punya nama besar? Kalau aku tidak ada, kamu akan aman. Perusahaanmu aman. Kamu akan dihormati semua orang. Sera benar... aku cuma beban. Aku yang bikin kamu sulit. Aku yang bikin kamu jadi bahan tertawaan orang. Mungkin... sebaiknya aku pergi... sebelum semuanya hancur karenaku..."

Arkan mendengarkan setiap kata itu dengan hati yang remuk redam. Rasa marah yang luar biasa meledak di dadanya—bukan pada Nara, tapi pada Sera, pada dunia, pada nasib yang terus-menerus menginjak-injak harga diri wanita yang paling ia cintai ini. Tapi kali ini, Arkan tidak marah pada Nara. Ia sadar, luka ini terlalu dalam dan sering ditusukkan, sehingga butuh bukti yang paling nyata, paling keras, dan paling terbuka untuk menyembuhkannya.

Tanpa sepatah kata pun, Arkan bangkit berdiri, menarik tangan Nara dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia mengunci pintu, lalu berjalan ke lemari pakaian, mengeluarkan gaun malam yang indah, mahal, dan elegan—gaun yang sudah ia beli beberapa minggu lalu namun belum sempat ia berikan.

"Ganti baju ini," perintah Arkan tegas namun lembut. "Malam ini ada acara makan malam resmi besar di hotel terbesar kota ini. Semua pemegang saham, semua pengusaha besar, termasuk Bapak Pradipta dan Sera, semuanya ada di sana. Dan malam ini... kamu akan ikut aku. Di sampingku. Di depan semua orang."

"Arkan... aku tidak berani... aku tidak tahu caranya..." Nara mundur ketakutan.

"Kamu tidak perlu tahu apa-apa selain satu hal: kamu milik Arkan Adhitama. Dan Arkan Adhitama milikmu. Aku akan ajarimu. Dan malam ini, aku akan buktikan pada seluruh kota ini siapa yang berkuasa di hatiku, dan siapa yang berhak berdiri di sampingku."

Malam itu, di Aula Utama Hotel Grand Imperial, kemewahan dan kemegahan memancar dari setiap sudut. Kumpulan orang-orang paling berkuasa dan berpengaruh berkumpul di sana. Wanita-wanita mengenakan gaun malam indah dengan perhiasan berkilauan, pria-pria mengenakan jas tuksedo hitam yang rapi. Di sudut ruangan, Sera Pradipta berdiri anggun, menjadi pusat perhatian banyak orang. Ia sangat yakin malam ini Arkan akan datang sendirian, atau jika datang pun, ia akan kembali berdebat dengan ayahnya dan akhirnya menyerah.

Namun, suara bisikan perlahan bergemuruh di seluruh ruangan saat pintu utama terbuka lebar.

Arkan Adhitama masuk. Ia tampak sangat tampan, gagah, dan berwibawa dalam balutan jas hitam pas di badan. Namun mata semua orang bukan hanya tertuju padanya, tapi pada sosok wanita cantik yang berjalan beriringan di sisi kanannya, digandeng tangannya erat seolah tak akan pernah melepaskannya.

Nara.

Malam ini, Nara berubah total. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi namun tetap membiarkan beberapa helai rambut jatuh lembut di lehernya. Ia mengenakan gaun berwarna biru malam yang elegan, potongan sederhana namun sangat mahal, memancarkan keindahan alami yang tidak kalah dengan wanita mana pun di sana. Wajahnya bersih, riasan tipis, namun yang paling memukau adalah keberanian dan ketenangan yang kini terpancar dari matanya, didukung oleh genggaman tangan Arkan yang begitu kuat.

Arkan berhenti di tengah ruangan, membiarkan semua mata tertuju pada mereka. Ia tidak melepaskan tangan Nara, malah mengangkat tangan itu sedikit, seolah mempersembahkan wanita itu kepada seluruh hadirin.

"Selamat malam semuanya," suara Arkan berat, jelas, dan berwibawa, menggema memenuhi ruangan hingga ke sudut-sudut paling jauh. "Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya, siapakah wanita yang ada di samping saya ini. Beberapa menyebutnya gadis desa, beberapa menyebutnya orang luar, beberapa bahkan berani bilang dia beban bagi saya dan perusahaan ini."

Arkan menoleh menatap Nara dengan pandangan yang begitu penuh cinta dan kebanggaan, membuat napas Nara tercekat.

"Baik, dengarkan baik-baik. Dan ingat ini sampai kapan pun. Wanita ini bernama Nara. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan saya saat saya jatuh paling dalam, saat saya dikhianati, saat saya dianggap sampah oleh kalian semua. Dia yang memberi saya makan saat saya lapar, dia yang merawat saya saat sakit, dia yang mengajarkan saya arti menjadi manusia yang baik dan jujur. Tanpa dia, Adhitama Group mungkin sudah tidak ada sekarang. Tanpa dia, saya tidak akan berdiri di sini hari ini."

Arkan berbalik menghadap ke arah meja tempat Bapak Pradipta dan Sera duduk, matanya menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Saya mendengar ada yang bilang dia tidak setara. Bahwa dia tidak pantas. Bahwa dia tidak mengerti dunia kita. Kalian salah besar. Dia jauh lebih mulia, jauh lebih berharga, dan jauh lebih kaya daripada kalian semua yang hanya mengukur nilai seseorang dari emas dan nama besar saja. Di mata saya, Nara adalah Ratu saya. Dia adalah nyawa saya. Dan dia adalah satu-satunya wanita yang akan ada di sisi saya, baik saat saya kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai saya mati."

Arkan kembali menatap seluruh hadirin, suaranya meninggi penuh penekanan.

"Siapa pun yang merasa keberadaannya menjadi masalah, siapa pun yang merasa tidak cocok dengan cara saya memimpin dan memilih pendamping hidup, pintu keluar ada di sana. Saya rela kehilangan semua uang, semua mitra, semua kerja sama di dunia ini, asal saya tidak kehilangan Nara. Karena bagiku, satu Nara jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan Adhitama digabungkan sepuluh kali lipat!"

Hening. Keheningan yang tebal dan berat menyelimuti ruangan itu. Mulut Bapak Pradipta terbuka kaget, tak menyangka Arkan akan seberani dan sekeras itu berbicara. Wajah Sera pucat pasi, tangannya mengepal kuat hingga kuku menusuk telapak tangan. Ia malu, sakit hati, dan kalah telak di depan semua orang. Kata-kata Arkan itu adalah tamparan keras yang menghancurkan segala harga diri dan harapannya.

Di sisi lain, air mata Nara mengalir jatuh diam-diam. Bukan lagi air mata sedih, tapi air mata bahagia, bangga, dan haru yang tak terhingga. Di hadapan ratusan orang, di hadapan orang terkaya dan paling berkuasa, Arkan membela, mengangkat, dan memuliakannya setinggi langit. Ia tidak lagi merasa rendah. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung dan paling mulia di dunia.

Arkan berlutut satu lutut di depan Nara, di depan semua orang, mengangkat tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat dan cinta.

"Maafkan aku yang membiarkan dunia menyakitimu, Tuan Putri. Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang yang berani menatapmu rendah lagi. Karena kamu adalah pemilik hati dan hidupku."

Suara tepuk tangan akhirnya pecah, perlahan lalu menjadi gemuruh. Banyak yang terharu, banyak yang mengagumi ketegasan Arkan, dan banyak yang mulai sadar bahwa wanita di sampingnya memang luar biasa istimewa. Sera tak sanggup lagi bertahan, ia berdiri dengan wajah merah padam, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh ayahnya yang tampak menunduk malu.

Malam itu, saat mereka kembali ke rumah besar itu, suasana begitu berbeda. Nara berjalan masuk dengan kepala tegak, senyumnya bersinar, matanya berbinar penuh percaya diri. Arkan menggendong tubuh Nara yang melayang bahagia itu langsung ke kamar utama mereka, meletakkannya perlahan di atas kasur.

"Sudah lihat kan, sayang?" bisik Arkan, menatap wajah Nara yang masih basah oleh sisa air mata bahagia. "Sudah dengar kan? Dunia boleh bicara apa saja, tapi mulutku dan tindakanku sudah bicara siapa pemilik hatiku. Sera tidak akan berani lagi mengganggu kamu. Dan jika dia masih berani... aku akan lakukan hal yang lebih besar lagi. Aku akan nikahi kamu di tengah lapangan luas kalau perlu, biar seluruh negeri tahu."

Nara melingkarkan lengannya erat di leher Arkan, menarik wajah pria itu mendekat. "Terima kasih... Arkan... terima kasih sudah membuatku merasa berharga. Terima kasih sudah membuatku merasa... aku memang berhak ada di sini."

"Kamu berhak atas segalanya. Atas hidupku, atas namaku, atas masa depanku," jawab Arkan serak, matanya menatap bibir Nara dengan penuh keinginan yang tak tertahankan. "Dan malam ini... aku akan merayakan kemenangan kita. Aku akan buktikan padamu bahwa tidak ada satu pun ruang di tubuh dan di hatiku untuk orang lain. Bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang aku puja."

Arkan mulai melepas dasi dan kemejanya dengan gerakan lambat dan menggoda, sementara tangan Nara mulai bergerak membantu, jari-jarinya menyentuh kulit dada Arkan yang hangat dan panas. Di bawah cahaya lampu kamar yang redup dan hangat itu, segala beban, rasa sakit, dan keraguan hari ini akhirnya terhapus sepenuhnya.

Arkan menidurkan Nara perlahan di atas kasur, menumpang di atas tubuh gadis itu tanpa menekan, menatapnya lekat-lekat seolah ingin menghafal setiap inci wajah itu selamanya. Ciuman mendarat, lembut namun penuh gairah, mulai dari bibir, turun ke kening, mata, pipi, hingga ke leher dan dada yang halus. Setiap sentuhan Arkan penuh dengan rasa syukur dan cinta yang meluap-luap.

"Kamu cantik sekali malam ini... kamu cantik setiap hari... tapi malam ini... kamu bersinar lebih dari bintang mana pun di langit..." bisik Arkan di sela-sela ciumannya, tangannya bergerak lembut melepas sisa pakaian yang tersisa, menyatukan kulit mereka dalam kehangatan yang begitu akrab dan nikmat.

Malam itu, penyatuan mereka bukan lagi karena marah, bukan karena salah paham, tapi murni karena cinta yang telah menang atas segala rintangan. Arkan menyatu dengan Nara dengan penuh kelembutan namun penuh gairah, setiap gerakan adalah ungkapan rasa bangga memiliki wanita sehebat ini. Ia membelai, mencium, dan memuaskan Nara dengan sepenuh jiwa, memastikan bahwa setiap inci tubuh dan jiwa gadis itu merasakan betapa luar biasanya dia dicintai.

Di tengah desahan halus dan keringat yang bercampur, di tengah detak jantung yang berpacu dalam satu irama, Nara sadar satu hal: Ujian belum selesai, mungkin masih ada tantangan lain, tapi selama mereka saling percaya dan berjuang bersama seperti ini, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Cinta Arkan adalah tameng terkuatnya, dan kehadiran Nara adalah kekuatan terbesar Arkan.

Saat malam berakhir dan kelelahan membawa mereka ke dalam tidur yang damai dan bahagia, Arkan memeluk Nara erat-erat, membiarkan kepala gadis itu beristirahat di dadanya, mendengarkan detak jantung yang berdetak hanya untuknya.

Kita sudah lewati satu bab sulit ini, batin Arkan. Masih panjang jalan kita sampai Episode 100 nanti, tapi satu hal yang pasti: tangan ini tidak akan pernah melepaskanmu. Kita akan hadapi semuanya berdua.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!