Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Luka yang Tidak Terlihat
Pagi itu café Ana sedikit lebih ramai dari biasanya.
Ajeng membantu Ririn melayani pelanggan sambil sesekali sibuk memfoto cake dan minuman untuk dikirim ke grup keluarga kecilnya bersama Dylan dan Sabine yang baru dibuat semalam.
Sementara Ana sedang merapikan pesanan di belakang kasir saat lonceng pintu café berbunyi pelan.
Ting.
Ana refleks mengangkat kepala.
Dan tubuhnya langsung menegang.
Damar berdiri di depan pintu café dengan pakaian serba hitam seperti biasa. Tatapan laki-laki itu langsung tertuju pada Ana tanpa berpindah sedikit pun.
Suasana café mendadak terasa sunyi bagi Ana.
“Abang!”
Ajeng yang melihat Damar langsung melambaikan tangan heboh.
Namun Damar sama sekali tidak mempedulikan adiknya. Matanya tetap terpaku pada Ana yang terlihat gugup.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ana formal sambil mencoba terdengar biasa.
Damar berjalan mendekat perlahan.
“Kak…”
Satu kata itu langsung membuat Ana mematung.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar Damar memanggilnya seperti itu.
Dulu… anak laki-laki itu selalu mengikuti dirinya ke mana-mana sambil memanggil “Kak Ela” dengan wajah cerah.
Namun semuanya berubah seiring waktu.
Ana langsung mengalihkan pandangannya.
“Mau pesan apa?” tanyanya pelan.
Damar mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Aku cuma mau ketemu Kakak.”
Suara laki-laki itu terdengar serak.
Ajeng yang melihat suasana mulai tidak enak langsung menarik Ririn pergi ke dapur dengan alasan membantu.
Kini hanya tersisa Ana dan Damar di dekat kasir.
Beberapa detik berlalu dalam diam yang terasa sangat berat.
“Aku minta maaf…” ucap Damar tiba-tiba.
Ana langsung tersenyum kecil pahit.
“Kenapa semua orang sekarang suka minta maaf ya…”
“Kak…”
“Aku dulu jahat banget sama Kakak.”
Tatapan Damar mulai memerah.
“Aku tau semuanya sekarang.”
Tentang rumah oma.
Tentang kebakaran.
Tentang semua penderitaan yang selama ini Ana sembunyikan.
Dan itu membuat Damar merasa dirinya sangat hina sebagai adik.
Ana menatap laki-laki di depannya lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Kamu nggak jahat, Mar.”
“Aku pernah benci Kakak…” suara Damar mulai pecah. “Dan aku diem aja waktu semua orang nyakitin Kakak.”
Ana terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kamu masih kecil waktu itu.”
“Tapi aku tetep salah.”
Damar menunduk dalam.
“Harusnya aku bela Kakak.”
Melihat laki-laki dewasa itu hampir menangis membuat hati Ana terasa aneh.
Karena di matanya… Damar masih anak kecil yang dulu suka tidur di kamarnya saat hujan deras.
Ana akhirnya mengusap kepala adiknya pelan seperti dulu.
Dan sentuhan kecil itu justru membuat Damar benar-benar menangis untuk pertama kalinya di depan Kakaknya.
Sementara itu, di sekolah Sabine.
Ajeng berdiri di depan gerbang sambil memainkan ponselnya menunggu jam pulang sekolah. Hari ini Ana terlalu sibuk di café jadi dirinya yang menawarkan diri menjemput Sabine.
Namun saat para murid mulai keluar, Ajeng langsung mengernyit melihat Sabine berjalan sambil menunduk dengan wajah kesal.
Dan yang membuat Ajeng marah… beberapa anak perempuan di belakang Sabine sedang tertawa mengejek.
“Anak nggak punya ayah…”
“Pantes aja ibunya kerja di café.”
Sabine langsung mempercepat langkah sambil menahan tangis.
Ajeng yang mendengar itu langsung melepas kacamata hitamnya pelan.
“Eh kalian.”
Suara Ajeng membuat beberapa anak itu langsung diam.
“Ngomong apa tadi?”
Mereka langsung pucat melihat aura Ajeng yang mendadak dingin.
Sabine langsung panik.
“Tante udah…”
Namun Ajeng malah berjalan mendekat ke anak-anak itu sambil tersenyum tipis menyeramkan.
“Kalau iri sama orang bilang aja ya.”
“Daripada mulutnya dipake buat nyakitin orang.”
Anak-anak itu langsung pergi ketakutan.
Sabine hanya diam sambil menatap Ajeng bingung.
Ajeng langsung menghela napas lalu memegang pipi Sabine lembut.
“Mulai sekarang kalau ada yang ganggu bilang sama Tante.”
Sabine langsung memeluk Ajeng tiba-tiba.
“Aku kangen punya keluarga…” bisiknya lirih tanpa sadar.
Dan kalimat itu membuat dada Ajeng terasa sesak.
Malam harinya, rumah Ana kembali ramai.
Kali ini ada Raka dan Mita yang datang membawa banyak makanan dan hadiah kecil untuk Dylan dan Sabine.
Suasana makan malam terasa hangat.
Dylan sibuk bercerita tentang olimpiadenya, Sabine ngoceh soal sekolah, sementara Ajeng terus mengeluh karena kalah main game melawan Dylan.
Ana yang melihat semuanya hanya tertawa kecil sambil menuangkan sup ke mangkuk mereka satu per satu.
Mita diam-diam memperhatikan Ana cukup lama.
Dan wanita itu tersenyum lega.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Dariela Atlanna Zavira Raespati benar-benar terlihat bahagia.