NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Suasana di dalam kabin sedan putih itu terasa begitu kontras. Di balik kemudi, Marco menyetir dengan satu tangan santai, sementara tangan kirinya bertumpu di atas paha dengan ketukan jari yang mengikuti irama lagu jazz lambat dari radio. Sebaliknya, Haura duduk merapat ke sisi pintu penumpang, membuang pandangannya lurus-lurus ke arah deretan ruko dan lampu jalanan Jakarta yang bergerak mundur.

Gadis itu bungkam seribu bahasa, melipat tangannya erat di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri terakhir. Namun, dasarnya Marco adalah makhluk paling jahil sewilayah Menteng, keheningan itu tidak bertahan lama. Di tengah kemacetan lampu merah, tangan kiri Marco yang menganggur perlahan bergerak menjangkau sisi kiri.

Jari telunjuk Marco dengan berani mencolek bahu Haura yang terbalut kemeja satin. Haura tidak bergeming, hanya bahunya yang sedikit menegang. Melihat tidak ada respons, Marco beralih memainkan ujung rambut panjang Haura yang terurai, memutarnya di sela jarinya dengan gemas.

Haura seketika menoleh cepat, sepasang matanya melotot tajam, siap menguliti pemuda di sampingnya hidup-hidup. "Kamu mau aku piting juga kayak Arlo tadi, ya?!!" ancam Haura dengan bisikan yang ditegaskan.

Marco tidak takut, ia justru melepaskan tawa renyahnya yang berat, membiarkan dadanya bergetar halus. "Galak banget, Tan. Piting aja kalau berani, sekalian meluk gue lagi kayak di parkiran tadi juga gue nggak bakal nolak."

"Marco, stop!" Haura memijat pelipisnya yang mendadak pening, berusaha mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang sudah tercecer sejak sore. "Dan satu lagi ya, soal omongan kamu di parkiran tadi. Jangan kepedean deh! Kita itu belum pacaran. Nggak usah ngeklaim-ngeklaim nggak jelas kayak gitu di depan Emilia sama teman-teman aku. Umur kamu itu baru dua puluh tahun, sadar diri sedikit kenapa sih!"

Marco menghentikan tawa kecilnya. Ia memindahkan gigi mobil, perlahan melajukan kendaraan saat lampu berganti hijau. Senyum miringnya masih terpasang, namun matanya menatap jalanan dengan kilat yang begitu serius. "Belum pacaran kan berarti proses menuju ke sana, Haura. Lagian, status di atas kertas itu cuma formalitas buat gue. Yang penting kan tindakan nyata di lapangan, kayak semalam... dan tadi siang di ruang logistik."

"Kamu—" Haura kehabisan kata-kata, wajahnya kembali menghangat hebat hingga ia terpaksa kembali membuang muka ke jendela luar, mengutuk dalam hati kenapa ia bisa kalah telak dalam urusan adu mulut dengan anak kuliahan.

Dua puluh menit membelah jalanan, sedan putih itu akhirnya perlahan melambat dan berhenti tepat di depan pagar besi hitam tinggi menjulang rumah keluarga Permana. Suasana di sekitar perumahan elit itu tampak sepi dan tenang.

Marco mematikan mesin mobil, namun tangannya tidak langsung bergerak menyerahkan kunci. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Haura, menatap lekat wajah wanita itu di bawah temaram lampu dasbor mobil.

"Nggak mau masuk dulu, Tan?" tanya Marco, suaranya melunak, ada nada menawarkan yang tulus di sana. "Tante Anggun paling udah tidur jam segini. Gue bisa bikinin lo teh hangat dulu di dalam biar lambung lo nggak kambuh lagi kayak semalam."

"Nggak," jawab Haura cepat tanpa ragu, bahkan tanpa menoleh ke arah Marco. "Nggak usah aneh-aneh. Buruan keluar, aku mau pulang ke rumah Papa."

Melihat penolakan mutlak itu, Marco hanya mendengus geli. Ia membuka pintu mobil di sisinya, lalu melangkah keluar. Haura tidak membuang waktu; ia segera membuka pintu penumpang, keluar dari mobil, dan berjalan cepat memutari kap depan untuk mengambil alih posisi kemudi.

Begitu mereka berpapasan di depan kap mobil, Haura langsung menyodorkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Marco. "Siniin kunci aku."

Marco tersenyum tipis, menjatuhkan gantungan kunci mobil itu tepat di atas telapak tangan Haura, namun jarinya sengaja mengusap punggung tangan Haura sekilas sebelum menjauh. Haura buru-buru menarik tangannya, membuka pintu kemudi dengan cepat, lalu melompat masuk ke dalam. Ia langsung memutar kunci kontak dan menghidupkan mesin mobil hingga suaranya menderu memecah kesunyian malam.

Haura menurunkan kaca jendela mobilnya hanya sebatas dagu, menatap Marco yang ternyata masih berdiri diam di samping pintu mobil dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kargo gelapnya.

"Udah sana masuk... ngapain masih berdiri di situ kayak satpam?!" seru Haura ketus, tangannya sudah bersiap di atas tuas persneling.

Marco menundukkan kepalanya, sejajar dengan kaca jendela yang terbuka. "Mastiin lo pulang dengan selamat, Tante Sayang. Jangan ngebut-ngebut, inget ada berondong tampan yang masih butuh lo bimbing di ruko besok pagi."

"Dasar gila!" ketus Haura.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Marco untuk mengeluarkan kalimat gombalan maut lainnya, Haura langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sedan putih itu melesat tancap gas, meninggalkan kepulan asap tipis dan deru mesin yang menjauh cepat membelah keheningan kompleks.

Marco yang berdiri di pinggir jalan hanya bisa menatap kepergian mobil putih itu sampai lampunya menghilang di belokan ujung jalan. Bukannya kesal karena ditinggal pergi begitu saja, Marco justru meledakkan tawa cekikikan yang lepas. Bahunya naik-turun menahan geli membayangkan bagaimana paniknya seorang Haura Widjaja malam ini karena terus-menerus ia desak tanpa ampun.

"Lucu banget sih lo kalau lagi panik, Ra," gumam Marco pada diri sendiri, sisa rasa manis dan aroma parfum Haura seolah masih tertinggal di telapak tangannya.

Sambil bersiul kecil, pemuda itu berbalik dan melangkah masuk melewati pagar rumahnya yang dingin. Malam ini, biar saja Haura kabur dan bersembunyi di balik selimut tidurnya, karena Marco tahu pasti, besok pagi di ruko jastip, sang Ratu tidak akan bisa lari kemana-mana lagi dari jeratannya.

***

Deru mesin sedan putih milik Haura meredak seiring dengan berhentinya mobil itu di pelataran parkir luas Mansion Widjaja. Haura mematikan mesin, mencabut kunci, dan menghela napas panjang untuk menstabilkan debaran jantungnya yang masih tersisa akibat ulah tengil Marco di depan pagar tadi.

Dengan langkah yang dihentakkan karena perasaan dongkol yang membakar dada, Haura mendorong pintu utama mansion yang besar dan mewah. Suasana di dalam rumah sangat sunyi, hanya menyisakan gemerlap lampu kristal yang sengaja diredupkan. Namun, langkah Haura seketika membeku begitu ia melewati ruang tamu utama.

Di atas sofa tunggal berbahan kulit buaya, sosok Anggara Widjaja duduk tegak dengan kacamata baca yang bertumpu di hidungnya dan sebuah koran bisnis di tangan. Wajah sang papa tampak begitu keras, sedingin es.

Haura menelan ludahnya pelan, mencoba menguasai rasa gugupnya. "Papa? Kok belum tidur?" tanya Haura, melangkah mendekat dengan suara sedatar mungkin.

Anggara tidak langsung menjawab. Pria tua yang sangat dihormati di dunia bisnis itu perlahan melipat korannya, menaruhnya di atas meja kaca dengan ketukan yang sengaja ditegaskan, lalu menatap putri bungsunya dengan pandangan menusuk.

"Duduk kamu!" perintah Anggara, suaranya berat, mutlak, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.

Haura mengembuskan napas pendek, mendudukkan tubuhnya di sofa seberang sang papa dengan posisi tegang. "Ada apa ya, Pa? Haura capek baru pulang dari ruko, banyak pesanan Eropa yang harus diurus."

"Soal kemarin. Pas makan malam bersama keluarga Permana, dan kejadian setelahnya di ruang tengah saat kamu bersama Anggun," ucap Anggara, langsung menusuk ke inti masalah tanpa basa-basi. Ia memajukan tubuhnya, menatap Haura dengan gertakan rendah. "Maksud kamu apa, Haura? Kamu mau malu-maluin Papa di depan rekan bisnis Papa sendiri?!"

Mendengar tuduhan itu, rasa dongkol yang dibawa Haura dari luar ruko mendadak bermutasi menjadi rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Loh, siapa yang malu-maluin Papa sih, Pa? Haura nggak ngerasa melakukan hal itu."

"Kamu menyindir Anggun! Kamu mencampuri urusan domestik keluarga Permana tentang bagaimana mereka mendidik anak mereka!" bentak Anggara, suaranya mulai naik satu oktav, menggema di dalam kesunyian mansion. "Andi Permana itu investor utama untuk proyek baru kakakmu, Elang! Dan kamu dengan lancangnya menguliti istrinya di rumah Papa sendiri! Di mana otak kamu, Haura?!"

"Aku cuma ngebela diri aku, Pa!" balas Haura, suaranya bergetar menahan emosi yang bergejolak. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. "Dia nanya soal urusan yang bukan hak dia tahu, Pa! Dia bawa-bawa umur aku, dia menyindir status aku yang belum menikah, dia mengasihani aku seolah-olah aku ini wanita menyedihkan hanya karena aku masih sendiri di umur tiga puluh delapan tahun! Papa mau aku diam aja diinjak-injak begitu di rumah aku sendiri?!"

"Hanya karena itu?!" Anggara mendengus sinis, menggelengkan kepalanya dengan tatapan merendahkan yang sangat menyakitkan bagi Haura. "Hanya karena pertanyaan seremeh itu kamu merusak hubungan bisnis keluarga kita? Kamu itu sudah matang, Haura! Umur kamu tiga puluh delapan tahun! Apa yang dibilang Anggun itu fakta! Kamu sukses mengurus jastip kamu, tapi kamu gagal dalam urusan domestik wanita! Harusnya kamu berkaca, bukan malah menyerang balik dengan membawa-bawa anak tiri Andi Permana!"

DEG. Kalimat "kamu gagal" yang keluar langsung dari mulut ayah kandungnya sendiri bener-bener seperti belati yang menghunjam tepat di ulu hati Haura. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata kini mulai menggenang, membuat pandangannya mengabur.

"Jadi... di mata Papa, aku ini cuma aset bisnis?" bisik Haura, suaranya parau, bergetar hebat menahan tangis yang siap meledak. "Papa nggak peduli seberapa keras aku kerja, Papa nggak peduli seberapa mandirinya aku sekarang... yang Papa peduliin cuma gimana cara ngejaga muka Papa di depan investor? Papa bahkan nggak nanya gimana perasaan aku pas dihina di meja makan semalam..."

"Haura! Jaga ucapan kamu—"

"Cukup, Pa! Cukup!" Haura berdiri dari sofanya dengan sentakan kasar. Air matanya luruh membasahi pipinya yang memerah. Rasa sesak, lelah, dan terluka yang terpendam bertahun-tahun karena selalu dituntut menjadi sempurna di keluarga ini akhirnya tumpah seutuhnya malam ini. "Aku capek. Terserah Papa mau mikir apa tentang aku!"

Tanpa menunggu kelanjutan makian dari Anggara, Haura berbalik dan berlari menaiki anak tangga mansion dengan tergesa-gesa. Suara ketukan heels-nya terdengar memburu, berkejaran dengan isak tangisnya yang tidak bisa ditahan lagi.

BRAK!

Haura menutup pintu kamarnya di lantai dua dengan bantingan keras, menguncinya rapat-rapat seolah ingin memutus seluruh hubungannya dengan dunia luar. Ia melemparkan tas mewahnya sembarangan ke atas lantai marmer, lalu menjatuhkan seluruh tubuh rampingnya ke atas kasur king size miliknya.

Haura menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan bantal, membiarkan tubuhnya berguncang hebat karena tangis yang pecah seada-adanya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman baginya, ia justru selalu disudutin, selalu dituntut untuk menomorsatukan bisnis dan gengsi di atas kebahagiaannya sendiri. Kata-kata Anggara terus berputar di otaknya, mengikis seluruh rasa percaya diri yang selama ini ia bangun dengan susah payah sebagai Boss Lady.

Di tengah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara isak tangis Haura, ponselnya yang berada di dalam tas di atas lantai tiba-tiba bergetar panjang.

Bzzzt... Bzzzt...

Haura mengabaikannya selama beberapa menit. Namun, getaran itu terus berulang seolah sang pengirim tidak akan menyerah sebelum pesannya dibaca. Dengan langkah lunglai dan mata yang sembab, Haura turun dari kasur, meraih ponselnya, lalu kembali menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan posisi telungkup.

Ia membuka layar ponsel. Ada sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak bernama "Tukang Minta Sumbangan".

Tukang Minta Sumbangan:

Gue tahu lo belum tidur, Tan. Dan gue tahu suasana di mansion lo pasti lagi nggak enak gara-gara kejadian kemarin.

Haura menatap baris kalimat itu. Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas layar tempered glass ponselnya. Mengapa justru berondong berusia dua puluh tahun ini yang selalu bisa membaca situasinya dengan tepat, melampaui kepekaan keluarga kandungnya sendiri? Dengan jemari yang gemetar, Haura mengetik balasan.

Haura:

Marco... tolong, untuk malam ini aja, jangan ganggu saya. Saya bener-bener capek. Saya mau istirahat.

Tukang Minta Sumbangan:

Lo nggak cuma capek, Haura. Lo lagi nangis, kan?

Haura:

Nggak! Siapa yang nangis?! Jangan sok tahu kamu ya!

Tukang Minta Sumbangan:

Gak usah bohong sama gue. Ketikan lo gak bisa bohong, ketikan lo berantakan. Bokap lo marahin lo soal si Anggun, kan? Dia nyalahin lo karena dianggap ngerusak relasi bisnis?

Haura membekap mulutnya sendiri dengan tangan bebasnya, isak tanginya kembali terdengar di kesunyian kamar. Tebakan Marco bener-bener akurat, menghantam telak pertahanan dirinya yang rapuh.

Haura:

Kalau kamu udah tahu, terus kenapa?! Kamu puas?! Ini semua emang gara-gara kamu, Marco! Kalau malam itu saya gak denger cerita kamu, saya gak bakal peduli sama perempuan itu! Tapi sekarang... Papa bilang aku wanita gagal cuma karena aku belum menikah di umur segini! Kamu bener, di rumah ini... aku gak pernah punya tempat yang bener-bener bisa disebut rumah.

Setelah mengirimkan pesan panjang itu, Haura melempar ponselnya ke samping bantal, bersiap untuk kembali menenggelamkan wajahnya dalam tangis. Namun, belum sempat ia memejamkan mata, ponselnya kembali bergetar, kali ini bukan pesan teks, melainkan sebuah panggilan suara dari Marco.

Haura menghapus air matanya dengan kasar, berdehem beberapa kali untuk menstabilkan suaranya sebelum menekan tombol hijau. "Halo... Marco, saya bilang jangan—"

"Buka jendela kamar lo sekarang, Haura."

Suara berat, dalam, dan penuh penekanan dari Marco di seberang telepon seketika memotong kalimat Haura. Nada suaranya tidak lagi tengil atau bercanda, melainkan terdengar begitu mutlak dan protektif.

Haura tertegun, dahinya berkerut dalam di sela sisa tangisnya. "Maksud kamu apa, Marco? Jangan ngaco ya, ini udah jam sembilan lewat—"

"Gue bilang buka jendela kamar lo sekarang. Gue ada di bawah, di dekat pembatas taman samping mansion lo. Buka sekarang, atau gue nekat manjat pilar balkon kamar lo malam ini juga."

Mendengar ancaman gila dari berondong nekat itu, Haura langsung melompat dari kasurnya dengan jantung yang berdegup kencang secara instan. Ia berlari menuju jendela kaca besar kamarnya, menyibak tirai tipis, dan membuka daun jendelanya lebar-lebar.

Ketika angin malam Jakarta berembus menerpa wajah sembabnya, pandangan Haura otomatis jatuh ke area taman samping bawah yang remang-remang. Di sana, di bawah bayangan pohon palem besar, sosok Marco berdiri tegap dengan jaket bomber hitamnya, memegang ponsel di telinga, menatap lurus ke atas—tepat ke arah jendela kamar Haura dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang berkilat penuh keseriusan di tengah kegelapan malam.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!