NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak Cahaya Bulan

Saat mereka melangkah masuk ke bawah sorotan kamera, Aurora menggamit lengan Lucien dengan erat. Ekspresinya berubah seketika menjadi sosok yang tenang, anggun, dan tak tersentuh.

Letupan-letupan cahaya dari bohlam lampu kamera wartawan menyambut mereka, menciptakan kilatan putih yang menyilaukan dan meninggalkan aroma samar magnesium yang terbakar di udara.

Namun, Aurora bergerak selaras dengan Lucien. Langkahnya tenang, tatapannya tampak damai. Bagi kerumunan yang menyaksikan, mereka adalah definisi dari pasangan yang penuh kuasa.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula besar, lingkaran pejabat tinggi langsung mengerumuni mereka.

Tangan Lucien bergeser. Telapak tangannya merosot dari lengan Aurora menuju lekukan pinggangnya. Sebuah gestur yang terlihat protektif di mata publik, namun terasa seperti klaim kepemilikan bagi Aurora.

"Tersenyumlah," bisik Lucien. Tekanan telapak tangannya terasa hangat dan tegas di tulang belakang istrinya.

Aurora patuh. Ia mengangkat sudut bibirnya, menciptakan senyum porselen yang lembut—senyuman yang mencerminkan karya seni yang biasa ia kurasi. Indah, namun terasa jauh.

Ia mengarungi lautan champagne dan pujian kosong dengan keanggunan yang tanpa celah.

Selama satu jam, ia menjadi perpanjangan sempurna dari brand Valehart.

Namun, seiring berjalannya malam, suasana mulai berubah.

Seorang investor rival condong ke arah mereka. Matanya tertuju terlalu lama pada garis leher gaun Aurora dengan binar predator yang tidak sopan.

"Museum itu berkembang sangat pesat, Direktur Ashford. Benar-benar pencapaian yang memukau," ujarnya dengan nada yang meremehkan.

Ia condong mendekat, cukup dekat hingga Aurora bisa mencium bau wiski dan tembakau dari napasnya.

"Tapi aku penasaran... apakah masyarakat datang karena ingin melihat koleksi lukisanmu, atau mereka hanya ingin melihat perhiasan tercantik milik Valehart yang sedang dipajang di sana? Sangat cerdas, memanfaatkan kecantikanmu untuk menutupi laporan keuangan yang mungkin sebenarnya merah."

Sebelum Aurora sempat membalas, suhu di sekitar mereka seolah anjlok seketika.

Lengan Lucien di pinggang Aurora mengencang. Pria itu menarik tubuh Aurora hingga menempel rapat di sisinya dengan gerakan posesif yang tiba-tiba. Begitu rapat hingga Aurora bisa merasakan detak jantung Lucien yang stabil di balik jas wolnya.

Lucien tidak meninggikan suaranya. Ia hanya menatap pria itu dengan mata abu-abu yang tampak datar namun mematikan.

"Keberhasilan istriku adalah masalah bakat, bukan hasil dari 'pajangan' seperti yang kau bayangkan," gumam Lucien. Nadanya terdengar seperti peringatan yang sangat tenang namun tajam.

"Dan saranku, sebaiknya kau gunakan waktumu untuk mengurus saham perusahannmu yang sedang merosot tajam, daripada sibuk berimajinasi tentang aset milik istriku. Karena jika aku mendengarmu menghinanya sekali lagi, kau tidak akan punya perusahaan lagi untuk diurus."

Wajah investor itu memucat seketika. Ia tergagap menggumamkan permintaan maaf yang kacau sebelum akhirnya mundur dan menghilang dengan cepat di balik kerumunan.

Aurora bisa merasakan panas yang tertinggal dari cengkeraman tangan Lucien di pinggangnya. Jantungnya berdegup kencang.

Sikap protektif itu muncul begitu tiba-tiba, terasa sangat nyata, dan sama sekali tidak terasa seperti bagian dari naskah sandiwara mereka.

"Kau tidak perlu melakukan itu," bisik Aurora sambil mendongak menatapnya.

Lucien tidak memandang Aurora sedikit pun. Tatapannya masih mengikuti pria yang melarikan diri tadi dengan ketenangan yang dingin.

Ia tidak melonggarkan pegangannya pada pinggang Aurora. Sebaliknya, ia justru menariknya sedikit lebih rapat, seolah sedang menambatkan wanita itu pada dirinya.

"Dia menyebalkan," jawab Lucien singkat. Suaranya terdengar berat dan datar.

"Aku punya toleransi yang rendah terhadap inefisiensi. Dan usahanya untuk merayumu tadi benar-benar membosankan. Itu hanya membuang-buang waktuku—dan menghabiskan ruangmu."

Aurora tertegun mendengarnya. Ia mencari sedikit saja percikan api atau rasa cemburu di mata abu-abu itu, namun yang ia temukan hanyalah logika dingin yang selalu pria itu agungkan.

Namun, meskipun alasannya terdengar sangat teknis, panas dari tangan Lucien yang masih melingkar di pinggangnya mengirimkan sinyal yang berbeda ke seluruh tubuh Aurora.

Lucien akhirnya melepaskan pinggang Aurora, meski ia tetap berdiri cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan.

"Aku sudah muak dengan para burung nazar ini," gumamnya sambil memindai ruangan dengan tatapan bosan.

Tanpa menunggu jawaban, Lucien menuntun Aurora menuju balkon. Udara malam yang dingin menyambut mereka, memberikan kelegaan instan dari aula yang pengap.

Begitu pintu kaca tertutup, suara keributan di dalam langsung terputus. Keheningan kembali hadir—namun kali ini terasa jauh lebih intim.

Aurora bersandar pada pagar marmer. Ia menatap Lucien dengan raut menantang.

"Kenapa kau repot-repot datang kalau orang-orang itu saja sudah membuatmu muak?" tanya Aurora.

"Kau bersikap seolah acara ini adalah beban hidup, tapi kau sendiri yang bersikeras memintaku menemanimu. Kenapa harus menyiksa diri sendiri?"

Lucien melangkah mendekat. Bayangannya menelan sosok Aurora di bawah cahaya bulan.

"Karena citra luar sangat diperlukan untuk menjaga struktur kesepakatan kita," jawab Lucien akhirnya. Suaranya rendah.

"Stabilitas membutuhkan pengorbanan."

Aurora mengembuskan napas pendek yang pahit.

"Segalanya selalu soal stabilitas bagimu. Apa kau pernah melakukan sesuatu murni karena kau ingin melakukannya?"

Lucien terdiam.

Tatapannya jatuh ke bibir Aurora. Topeng dinginnya seolah retak selama sepersekian detik.

Ia merangsek masuk ke dalam ruang pribadi Aurora. Tangannya terangkat, menyingkirkan sehelai rambut dari dahi wanita itu. Ujung jarinya tertahan di sana, menyentuh kulit Aurora dengan cara yang tidak biasa.

"Aku ingin kau memakai gaun ini," gumamnya dengan suara yang sangat rendah. "Apa itu belum cukup sebagai sebuah 'keinginan' untuk satu malam?"

Aurora mematung. Matanya membelalak lebar. Ia mengerjap berkali-kali, ekspresinya campur aduk antara bingung dan cemas yang tulus.

"Kau... kau baik-baik saja?" tanyanya waspada.

"Apa kau terlalu banyak minum? Atau mungkin kerumunan di dalam tadi benar-benar membuatmu gila?"

Aurora bahkan menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Ia mencari tanda-tanda halusinasi di wajah suaminya.

Ia benar-benar bertanya-tanya... apakah Lucien Valehart baru saja mengalami gangguan mental?

Sebab, ini bukan Lucien yang ia kenal.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!