NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Malam Saat Amelia Hampir Hilang

Bab 27 — Malam Saat Amelia Hampir Hilang

Pagi datang pelan di mansion keluarga Moretti.

Tapi suasananya sama sekali tidak terasa seperti pagi.

Tidak ada ketenangan.

Tidak ada rasa santai.

Bahkan para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya.

Beberapa penjaga tambahan terlihat berdiri di halaman depan.

Dan Amelia menyadari semuanya sejak dia membuka mata.

Dia duduk pelan di tempat tidur.

Tatapannya langsung jatuh ke jas hitam Lorenzo yang masih dia peluk semalam.

Wajahnya langsung sedikit panas.

Untung tidak ada yang lihat.

Amelia buru-buru meletakkannya kembali.

Lalu diam.

Pikirannya kembali ke percakapan semalam.

Black Raven.

Bahaya.

Dan Lorenzo yang bilang—

aku tidak bisa menjamin kau selamat.

Semakin dipikir…

semakin Amelia merasa dirinya cuma membawa masalah.

Tok tok.

Pintu terbuka.

Clara masuk.

Namun kali ini ekspresinya sedikit tegang.

“Nona Amelia sudah bangun?”

Amelia mengangguk.

Clara berjalan masuk membawa sarapan.

Tapi sebelum meletakkan nampan, dia melihat jendela lalu menutup tirainya.

Amelia memperhatikan.

“Kenapa ditutup?”

Clara tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Terlalu cepat.

Amelia langsung sadar.

Ada sesuatu.

“Ada apa?”

Clara terdiam sebentar.

Lalu akhirnya berkata pelan,

“Tuan Lorenzo meminta Nona tetap di kamar hari ini.”

Amelia langsung ingat ucapan semalam.

Jadi serius.

“Karena orang itu?”

Clara tampak ragu.

Namun akhirnya mengangguk.

Amelia diam.

Dadanya terasa tidak nyaman.

Semua ini benar-benar nyata.

Dia sekarang hidup di tempat yang orang-orangnya harus dijaga karena ancaman.

Dan penyebabnya…

mungkin dirinya.

Di ruang kerja.

Marco berdiri di depan meja sambil menunjukkan tablet.

“Kita dapat rekaman.”

Lorenzo melihat layar.

Video dari kamera luar mansion.

Seorang pria berdiri cukup jauh dari gerbang.

Wajahnya tidak jelas.

Tapi di tangannya…

ada cincin simbol burung hitam.

Tatapan Lorenzo langsung berubah dingin.

“Kapan?”

“Subuh.”

Marco menatap Lorenzo.

“Bos… mereka mulai berani.”

Ruangan jadi sunyi.

Lorenzo menutup tablet.

“Tambah penjaga.”

“Sudah.”

“Dobel.”

Marco diam sebentar.

Lalu mengangguk.

Karena dia tahu.

Kalau Lorenzo sudah seperti ini—

berarti dia serius.

Sangat serius.

Jam mulai siang.

Amelia mulai bosan.

Dia sudah membaca buku.

Sudah duduk.

Sudah melihat taman.

Tapi tetap gelisah.

Dan makin dipikir…

makin tidak nyaman.

Dia bukan tahanan.

Tapi rasanya seperti dikurung.

Akhirnya dia berdiri.

“Aku cuma ke taman sebentar…”

Pasti tidak apa-apa.

Lagipula siang begini.

Tidak mungkin terjadi apa-apa.

Dia membuka pintu.

Lorong sepi.

Amelia berjalan pelan.

Turun tangga.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke mansion—

dia melihat penjaga berdiri di banyak titik.

Sampai dia merasa sedikit bersalah.

Saat sampai taman belakang—

angin siang terasa cukup nyaman.

Amelia menarik napas pelan.

Setidaknya di sini dia bisa berpikir.

Dia berjalan pelan melewati air mancur.

Lalu duduk.

Namun beberapa menit kemudian—

Suara langkah terdengar.

Amelia menoleh.

Bukan penjaga.

Seorang pria memakai seragam staf berdiri tidak jauh.

Amelia belum pernah melihatnya.

Pria itu tersenyum.

“Nona Amelia?”

Amelia langsung sedikit waspada.

“Iya?”

Pria itu mendekat.

“Tuan Lorenzo meminta saya mengantar Anda.”

Amelia mengernyit.

“Mengantar?”

“Beliau menunggu.”

Amelia ragu.

Karena entah kenapa…

dia tidak mengenali wajah pria ini.

Dan sesuatu terasa aneh.

“Aku bisa pergi sendiri.”

Pria itu tersenyum lagi.

Namun kali ini…

senyumnya terasa dingin.

“Tuan Lorenzo bilang harus sekarang.”

Jantung Amelia tiba-tiba terasa tidak nyaman.

Langkah pria itu makin dekat.

Dan saat Amelia mundur—

dia melihat sesuatu.

Cincin.

Burung hitam.

Tubuh Amelia langsung dingin.

Black Raven.

Pria itu sadar Amelia melihat.

Dan senyumnya langsung hilang.

Brak!

Dia langsung bergerak cepat.

Amelia refleks mundur dan berteriak.

“TOLONG!!”

Pria itu menarik tangannya kasar.

“Diam!”

Amelia memberontak.

Jantungnya kacau.

Tangannya sakit.

Dia mencoba lepas.

Namun pria itu jauh lebih kuat.

“Lepasin aku!!”

Pria itu menariknya menuju arah belakang taman.

Amelia panik.

Penjaga mana?!

Kenapa tidak ada?!

Air mata mulai turun.

Dan saat pria itu hampir berhasil menyeretnya—

Dor!

Suara tembakan menggema.

Pria itu langsung berhenti.

Tangan yang mencengkeram Amelia terlepas.

Tubuhnya membeku.

Peluru menembus tanah tepat di depan sepatunya.

Sunyi.

Lalu suara rendah terdengar.

“Lepaskan dia.”

Amelia langsung menoleh.

Di ujung taman—

Lorenzo berdiri.

Jas hitam.

Pistol di tangan.

Tatapan abu-abunya…

sangat dingin.

Tidak.

Lebih dari dingin.

Marah.

Pria Black Raven tertawa kecil.

“Menarik.”

Dor!

Tembakan kedua.

Pria itu langsung menghindar.

Dan dalam hitungan detik—

anak buah Moretti muncul dari segala arah.

Keadaan langsung kacau.

Pria itu melepaskan Amelia lalu kabur.

Marco mengejar.

Sementara Amelia masih berdiri membeku.

Dan sebelum dia sadar—

Lorenzo sudah ada di depannya.

Tatapannya langsung memeriksa Amelia dari atas sampai bawah.

Tangan.

Leher.

Wajah.

Seolah memastikan dia utuh.

Amelia masih gemetar.

“L-Lorenzo…”

Dan tiba-tiba—

Lorenzo menarik Amelia ke arahnya.

Sangat dekat.

Terlalu dekat.

Tangannya memegang bahu Amelia kuat.

Tatapannya tajam.

“Apa aku tidak bilang jangan keluar?”

Amelia membeku.

Dia belum pernah melihat Lorenzo semarah ini.

“Aku…”

“Kau pikir ini permainan?”

Suaranya rendah.

Namun justru itu yang menakutkan.

Amelia langsung menunduk.

“Aku cuma…”

Lorenzo menatap wajah pucat itu.

Dan rasa marahnya tiba-tiba bercampur sesuatu yang lain.

Takut.

Takut terlambat.

Takut kehilangan.

Tangannya perlahan turun.

Lalu tanpa bilang apa-apa—

dia menarik Amelia ke dalam pelukan.

Amelia membeku.

Lorenzo memeluknya erat.

Terlalu erat.

Dan untuk pertama kalinya—

Amelia bisa merasakan tangan pria itu sedikit gemetar.

Suara Lorenzo terdengar pelan.

“…jangan lakukan itu lagi.”

Jantung Amelia langsung berhenti sesaat.

Dan saat itu juga—

dia sadar.

Lorenzo benar-benar takut kehilangan dirinya.

Amelia diam di dalam pelukan Lorenzo.

Tubuhnya masih sedikit gemetar.

Baru beberapa menit lalu dia hampir dibawa orang asing.

Dan sekarang…

dia baru sadar sesuatu.

Yang paling menakutkan tadi bukan saat pria Black Raven menariknya.

Tapi saat melihat wajah Lorenzo.

Karena untuk pertama kalinya…

pria itu terlihat benar-benar takut.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Takut.

Pelukan itu bertahan beberapa detik.

Lalu Lorenzo perlahan melepaskannya.

Tatapannya langsung kembali dingin seperti biasa.

Namun Amelia sudah melihat sisi lain itu.

Dan dia tidak bisa pura-pura tidak melihat.

Lorenzo menatap Clara yang baru datang terburu-buru.

“Mulai sekarang tidak ada celah.”

Clara langsung menunduk.

“Maaf Tuan.”

Tatapan Lorenzo lalu beralih ke para penjaga.

Suaranya datar.

Tapi membuat semua orang menegang.

“Ganti seluruh jadwal penjagaan.”

Salah satu penjaga langsung menjawab cepat.

“Baik, Tuan.”

Amelia berdiri diam.

Perasaan bersalah mulai muncul lagi.

Semua orang jadi sibuk karena dirinya.

Dan sebelum dia sadar—

dia menarik pelan ujung lengan kemeja Lorenzo.

Pria itu menoleh.

Amelia langsung menunduk.

“…maaf.”

Sunyi.

Lorenzo memperhatikannya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Untuk apa?”

Amelia menggigit bibir kecil.

“Karena aku bikin masalah.”

Tatapan Lorenzo berubah sedikit.

Lalu dia menghela napas pelan.

“Amelia.”

Gadis itu perlahan mengangkat wajah.

Dan Lorenzo berkata dengan suara rendah—

“Kalau ada yang menyentuh orang yang ada di bawah perlindunganku…”

Tatapannya menggelap.

“…itu masalah mereka. Bukan salahmu.”

Jantung Amelia langsung berdebar lagi.

Orang yang ada di bawah perlindunganku.

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa terasa berbeda.

Lorenzo menatap Amelia sebentar lagi.

Lalu tanpa berkata apa-apa—

dia melepas jas hitamnya dan meletakkannya di bahu Amelia.

Amelia membeku.

“Kembali ke kamar.”

Amelia memegang jas itu pelan.

Lalu mengangguk kecil.

Namun saat dia mulai berjalan—

dia mendengar Marco datang dari arah belakang.

Wajah Marco kali ini tidak santai seperti biasanya.

“Bos.”

Lorenzo menoleh.

Marco berhenti beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“…orang itu sengaja datang bukan untuk menculik.”

Tatapan Lorenzo berubah.

“Apa maksudmu?”

Marco menyerahkan benda kecil.

Cincin burung hitam.

“Dia sengaja menunjukkan diri.”

Suasana langsung terasa lebih dingin.

Marco melanjutkan,

“Dan dia meninggalkan pesan.”

Tatapan Lorenzo tajam.

Marco menatap sekilas ke arah Amelia yang mulai menjauh.

Lalu berkata pelan—

“Katanya… mereka akan datang lagi untuk mengambil milikmu.”

Sunyi.

Sangat sunyi.

Beberapa detik kemudian—

suara retakan pelan terdengar.

Lorenzo baru sadar gelas di tangannya pecah karena terlalu kuat digenggam.

Tatapannya perlahan menggelap.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—

Marco melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah Lorenzo Moretti.

Emosi.

Yang sangat berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!