NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Bayang-Bayang di Balik Sutra Putih

Fajar baru saja pecah di ufuk timur, membasuh atap-atap melengkung Akademi Langit Biru dengan warna keemasan yang hangat. Kabut pagi yang tipis masih mengambang di antara pepohonan spiritual, membawa aroma embun dan ketenangan yang fana. Seminggu telah berlalu sejak misi melelahkan di Lembah Spiritual dan pertemuan dengan ras kuno di dunia terpisah itu. Bagi sebagian besar murid, hari-hari ini adalah waktu untuk bersantai. Seluruh pelajaran formal di akademi telah diselesaikan, meninggalkan koridor-koridor batu yang biasanya bising menjadi agak lengang.

Namun, kata "nganggur" tidak pernah benar-benar ada dalam kamus hidup Yu Fan.

Di dalam kamar asramanya yang sunyi, pemuda itu duduk bersila. Napasnya teratur, ditarik dalam-dalam sebelum diembuskan perlahan. Di dalam pembuluh darahnya, energi spiritual bergolak, mengalir melalui meridian yang telah ditempa ulang dengan susah payah. Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir miliknya sudah sekokoh batu karang, namun dia tahu, di dunia yang kejam ini, berhenti melangkah sama saja dengan mengundang maut.

Setiap kali dia memejamkan mata, ingatan samar-samar tentang pengkhianatan masa lalu sering kali berputar di kepalanya bagai cermin yang pecah. Ada bayangan seorang wanita berbaju putih murni, Altar Langit yang berselimut darah, dan rasa sakit yang teramat sangat seolah jantungnya diremas hingga hancur. Yu Fan tidak tahu siapa wanita itu.

Ingatannya hancur berkeping-keping akibat segel 50.000 tahun di dalam peti es. Dia tidak ingat apa yang terjadi, dia tidak ingat bagaimana dia jatuh. Namun, setiap kali kilasan bunga teratai atau gaun putih itu melintas di bawah sadarnya, dada Yu Fan akan berdenyut hebat. Sebuah gejolak amarah yang pekat, dingin, dan mengerikan mendadak bangkit dari lubuk jiwanya, memicu energi Yin Ashura dalam tubuhnya untuk berontak.

"Ugh..." Yu Fan mencengkeram dadanya, membuka mata yang sempat berkilat merah sejenak sebelum kembali hitam legam. Dia mengembuskan napas berat, menenangkan badai emosi yang tak bernama itu. "Siapa... sebenarnya yang membuat hatiku seberangsek ini?" gumamnya lirih, menyeka keringat dingin di dahinya.

Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir kabut pikiran itu. Ada hal yang lebih nyata yang harus dia lindungi sekarang. Akademi Langit Biru tempatnya bernaung saat ini adalah institusi yang sepenuhnya netral tidak tunduk pada kekaisaran atau kerajaan mana pun di dataran ini. Namun, takdir telah mengikat Yu Fan pada Kerajaan Tianwu.

Dia teringat janjinya pada Leluhur Jin Taixu. Orang tua sakral berambut perak itu, bersama dengan Raja Jin Wu yang perkasa dan Putri Jin Yuexin, telah mengulurkan tangan menyelamatkannya saat dia pertama kali merangkak keluar dari Hutan Terlarang dalam kondisi mengenaskan. Tanpa suaka dan segel perlindungan dari Leluhur Taixu, Yu Fan mungkin sudah diburu oleh kekuatan-kekuatan serakah sejak hari pertama.

“Aku sudah berjanji pada orang tua itu,” batin Yu Fan, berdiri dari posisi silanya. Tatapannya berubah tajam dan penuh tekad. “Aku memegang peran penting bagi kerajaan dan sekte. Aku akan menjadi perisai yang tidak akan bisa ditembus oleh siapa pun yang mencoba mengusik Kerajaan Tianwu. Untuk itu, aku harus melampaui batasku.”

Dengan gerakan lincah tanpa suara, Yu Fan melangkah ke ambang jendela. Dia melompat keluar, membiarkan tubuhnya melayang di udara pagi yang dingin. Energi spiritualnya memancar tipis di bawah telapak kaki, menopang tubuhnya saat dia terbang dengan keanggunan seorang master sejati. Targetnya adalah puncak tertinggi akademi, sebuah pagoda kuno beratap sembilan yang menjulang menembus awan tipis.

Wusss.

Jubah hitamnya berkibar saat kakinya mendarat dengan seringan bulu di atas ukiran naga di sudut atap pagoda paling tinggi. Dari titik ini, seluruh pemandangan akademi terhampar luas di bawah matanya. Yu Fan melipat kedua tangannya di dada, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya.

Di bawah sana, di lapangan latihan utama, beberapa murid yang rajin sudah mulai mengayunkan pedang mereka. Di antara kerumunan itu, sudut mata Yu Fan menangkap kilatan warna kuning keemasan dan merah menyala yang sangat familiar. Itu Putri Jin Yuexin.

Gadis itu menguncir dua rambut cokelat gelapnya tinggi-tinggi dengan pita emas, membuat rumbai-rumbai gioknya bergoyang lincah setiap kali dia bergerak. Yuexin sedang berlatih teknik meringankan tubuh dan tusukan pedang pendek. Gerakannya cepat, gesit, dan penuh tenaga. Namun, baru saja menyelesaikan satu rangkaian jurus, gadis itu tiba-tiba menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.

"Aish! Kenapa ayunan ini rasanya masih kaku sekali?! Menyebalkan!" omel Yuexin keras-keras, wajahnya cemberut maksimal sambil mengelap keringat di lehernya dengan kasar. Dia mulai mengomel sendirian, memprotes pedangnya, memprotes angin pagi, bahkan memprotes rumput yang dia injak.

Di atas pagoda, Yu Fan tidak bisa menahan diri. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. "Dasar putri bawel," bisik Yu Fan menggeleng-gelengkan kepala. "Bahkan saat berlatih dengan giok kerajaan di tubuhnya, sifat cerewetnya tidak pernah berubah." Ada kehangatan tipis yang menjalar di hatinya melihat tingkah lincah gadis yang pertama kali menemukannya itu.

Pandangan Yu Fan kemudian beralih, melirik ke arah taman spiritual yang terletak di sisi barat akademi, dekat dengan kediaman para tetua. Di sana, di antara hamparan bunga-bunga magis yang mekar, dia melihat sesosok siluet mungil yang sedang berlari kecil mengejar kupu-kupu spiritual.

Itu Chen Yang.

Anak perempuan berusia delapan tahun yang mereka selamatkan dari dalam segel giok emas di Lembah Spiritual seminggu lalu. Melihat pipinya yang tembam dan kulitnya yang seputih porselen dari kejauhan, ketegangan di pundak Yu Fan runtuh. Rasa bersalah karena merasa senasib, sama-sama terbangun tanpa memori, membuat Yu Fan merasakan kedekatan emosional yang kuat dengan bocah itu.

Tanpa membuang waktu, Yu Fan melompat dari puncak pagoda. Tubuhnya meluncur turun bagai elang hitam yang menembus kabut, sebelum mendarat dengan lembut di jalan setapak berbatu tepat di tepi taman.

"Kakak Yu Fan!"

Sebuah pekikan nyaring dan penuh kegembiraan langsung menyambut kedatangan Yu Fan. Chen Yang, yang sedang memegang tangkai bunga kecil, langsung berbalik. Matanya yang bulat besar berbinar-binar luar biasa begitu melihat jubah hitam yang sangat dia kenali. Bocah perempuan itu menjatuhkan bunganya dan berlari kencang, kaki kecilnya yang terbungkus sepatu kain menapak lincah di atas rumput.

Buk!

Chen Yang menabrakkan tubuh mungilnya ke kaki Yu Fan, memeluk lutut pemuda itu dengan erat. "Kakak! Kakak Yu Fan! Akhirnya Kakak datang! Chen Yang merindukan Kakak!" serunya dengan suara cempreng yang sangat menggemaskan, mendongak dengan pipi tembam yang merona kemerahan.

Yu Fan berlutut, menyamakan tingginya dengan bocah itu. Tangan kanannya terulur, mengusap rambut hitam Chen Yang dengan lembut. "Maaf ya, Kakak agak sibuk seminggu ini. Bagaimana kabarmu di sini? Apakah tempat ini nyaman?"

"Ehm!" Chen Yang mengangguk bersemangat, tangannya bergerak-gerak lincah saat dia mulai bercerita tanpa henti. "Nyaman sekali, Kakak! Kakek Dekan dan Kakek Wakil Dekan baik sekali pada Chen Yang! Kakek Dekan selalu memberikan Chen Yang kue-kue manis yang enak setiap sore. Tapi... Kakek Wakil Dekan agak galak, dia menyuruh Chen Yang duduk diam dan mengajari latihan-latihan dasar yang aneh. Katanya untuk merasakan 'udara' di sekitar, tapi Chen Yang mengantuk sekali kalau disuruh diam begitu!"

Yu Fan terkekeh mendengar keluhan polos itu. Dua pelindung tertinggi akademi, yang ditakuti oleh ribuan kultivator di luar sana, kini berubah menjadi kakek-kakek yang memanjakan seorang anak kecil. "Itu namanya latihan meditasi batin, Yang Er. Kakek Wakil Dekan ingin tubuhmu menjadi kuat."

Mendengar kata 'kuat', ekspresi menggemaskan di wajah Chen Yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Anak perempuan itu mengepalkan tinju kecilnya ke udara, dadanya membusung kecil. "Benar! Chen Yang harus jadi kuat! Kakek Wakil Dekan bilang, Kakak Yu Fan sering terluka karena bertarung dengan orang-orang jahat di luar sana. Jadi, Chen Yang memutuskan!"

"Memutuskan apa?" tanya Yu Fan, menaikkan satu alisnya, tertarik dengan keseriusan bocah delapan tahun ini.

"Chen Yang akan berusaha keras latihan sampai menjadi sangat, sangat kuat! Nanti, kalau Chen Yang sudah besar, Chen Yang yang akan berdiri di depan untuk melindungi Kakak Yu Fan! Chen Yang tidak mau kehilangan Kakak..." Suara bocah itu mendadak merendah di akhir kalimat, jemari kecilnya meremas ujung jubah hitam Yu Fan. Matanya yang jernih menatap Yu Fan dengan ketakutan yang tulus. "Chen Yang bisa hidup dan melihat tempat indah ini karena Kakak yang membawa Chen Yang keluar dari batu gelap itu. Chen Yang hanya punya Kakak..."

Mendengar kalimat tulus yang keluar dari mulut seorang anak kecil, dada Yu Fan bergetar. Rasa hangat yang asing menyelimuti jiwanya yang selama ini gersang dan penuh amarah. Dia menarik Chen Yang ke dalam pelukan hangatnya, menepuk punggung kecil itu. "Terima kasih, Yang Er. Kakak akan mengingat janjimu. Tapi sekarang, tunjukkan pada Kakak, apa hasil latihan dasarmu dari Kakek Wakil Dekan?"

Chen Yang langsung melepaskan pelukannya, wajahnya kembali ceria. "Lihat ini, Kakak!"

Bocah perempuan itu mundur tiga langkah. Dia menarik napas dalam-dalam, meniru pose meditasi yang diajarkan, lalu dengan sentakan kecil, dia mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Meskipun ranah kultivasinya masih kosong, tiba-tiba sebuah riak udara murni bukan energi spiritual biasa, melainkan tekanan murni dari ketahanan fisiknya yang setingkat Tubuh Dewa berembus maju, membuat kelopak bunga di depan mereka berguguran ditiup angin buatan tersebut.

Yu Fan terkesan. Ketahanan fisik anak ini benar-benar aneh dan luar biasa untuk ukuran anak tanpa fondasi dantian. "Luar biasa. Latihanmu sangat bagus," puji Yu Fan tulus. Hebat, dia berpikir untuk memberikan sesuatu sebagai penghargaan atas kerja keras adik angkatnya ini.

Yu Fan meraba cincin spasialnya. Tangannya menarik sebuah benda yang tersimpan rapi di sana. Sebuah boneka jerami kecil yang dijalin dengan benang sutra berwarna perak kebiruan, hadiah perpisahan dari Yan Er, wanita yang mencintainya, saat mereka berpisah di perbatasan wilayah seminggu lalu sebelum gadis itu kembali ke barat.

"Ini untukmu," Yu Fan mengulurkan boneka jerami itu ke hadapan Chen Yang. "Hadiah karena kamu sudah berlatih dengan giat."

"Wah...!" Mata Chen Yang membelalak lebar. Dia menerima boneka itu dengan kedua tangan gemetar karena senang. Boneka jerami itu mungkin sederhana, tetapi benang sutra perak yang mengikatnya memancarkan aura perlindungan tipis yang menenangkan. "Lucu sekali! Ini untuk Chen Yang, Kakak?"

"Iya. Tapi dengarkan Kakak," Yu Fan menatap mata Chen Yang dengan tatapan dalam. "Chen Yang harus menjaga boneka ini baik-baik. Jangan sampai hilang, dan jaga sampai kapan pun. Mengerti?"

"Mengerti, Kakak! Chen Yang bersumpah akan menjaga boneka ini lebih dari apa pun!" Bocah itu memeluk boneka jerami tersebut ke dadanya, lalu melompat-lompat kegirangan sebelum berlari memutari taman sambil tertawa riang.

Hari itu, Yu Fan menghabiskan waktunya dengan mengesampingkan seluruh beban berat di pundaknya. Dia menemani Chen Yang bermain di taman spiritual, mengejar monster kelinci jinak, dan mendengarkan celoteh tanpa akhir dari bocah menggemaskan itu hingga matahari perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan semburat jingga yang perlahan digantikan oleh kegelapan malam.

...****************...

Saat malam benar-benar jatuh dan bulan sabit menggantung tinggi di langit, atmosfer di sekitar Akademi Langit Biru berubah menjadi sunyi senyap. Namun, di luar batas wilayah akademi yang netral, kehidupan malam di kota perbatasan justru baru saja dimulai.

Yu Fan berjalan sendirian menembus kegelapan malam. Jubah hitamnya menyatu dengan bayang-bayang. Malam ini, dia memutuskan untuk melakukan patroli pribadi. Langkah kakinya membawanya menjauh dari pusat kota yang terang, bergerak menuju area pinggiran distrik-distrik kumuh yang dipenuhi rumah-rumah kayu yang reyot dan gang-gang sempit yang bau. Ini adalah daerah tempat orang-orang miskin dan terlupakan tinggal, termasuk rumah ibu dan anak laki-laki kecil yang pernah ditolong Yu Fan dari jeratan penindas tempo hari.

Yu Fan berjalan dengan langkah konstan, memastikan tidak ada bandit atau kultivator sesat yang mengusik ketenangan warga miskin di sana. Namun, saat dia berbelok di sebuah gang yang lebih dalam, pemandangan di depannya membuat langkah kakinya terhenti.

Di antara deretan gubuk-gubuk kayu yang hampir roboh dan bau sampah yang menyengat, berdiri sebuah bangunan berlantai dua yang lumayan megah. Lentera-lentera kertas berwarna merah menyala tergantung di sepanjang serambinya, memancarkan cahaya remang-remang yang kontras dengan kegelapan sekitarnya. Suara gelak tawa yang vulgar, dentingan cangkir arak, dan suara khas dadu serta papan judi yang dikocok terdengar riuh dari dalam.

Itu adalah tempat perjudian besar tersembunyi yang digabungkan dengan rumah bordil kelas bawah hingga menengah.

Yu Fan menyipitkan matanya. Tempat seperti ini di tengah distrik kumuh adalah sarang tikus yang mencurigakan. Sambil berjalan mendekat, Yu Fan mengangkat tangan kanannya ke depan wajah. Dengan satu usapan lembut telapak tangannya, energi spiritual berdesir tipis, memanifestasikan sebuah topeng perak tanpa motif yang menutupi seluruh wajahnya, hanya menyisakan dua lubang hitam untuk matanya.

Dia melangkah melewati tirai kain merah tebal di pintu masuk.

Saat melangkah ke dalam, gelombang udara hangat yang pekat oleh bau arak murah, asap tembakau, dan wewangian bedak wanita yang menyengat langsung menerpa indra penciumannya. Ruangan itu sangat luas, dipenuhi meja-meja kayu tempat para pria berteriak histeris mempertaruhkan koin-koin emas mereka dalam permainan judi khas daratan timur.

Yu Fan berjalan perlahan di antara kerumunan. Topeng peraknya menarik beberapa perhatian, namun di tempat abu-abu seperti ini, menyembunyikan identitas adalah hal yang lumrah.

Menggunakan ketajaman matanya sebagai Master Tingkat 4, Yu Fan memperhatikan orang-orang yang duduk di meja judi utama. Dia agak terkejut. Di sana, di antara para penjudi yang tampak dekil, ada beberapa pria berpakaian sutra mewah, mereka adalah pejabat korup kota, tetua faksi kecil, dan orang-orang berkepentingan yang memegang kendali administratif di wilayah luar kota ini. Tempat ini jelas merupakan pusat perputaran uang haram dan informasi rahasia.

"Aduh, Tuan Misterius... kenapa berjalan sendirian di tempat yang dingin ini?"

Suara manja yang dibuat-buat tiba-tiba terdengar dari sampingnya. Dua orang wanita penghibur dengan pakaian sutra tipis yang mengekspos bahu mereka berjalan mendekat. Mereka mencoba bersandar pada lengan Yu Fan, menyebarkan bau parfum yang terlalu manis. "Mari duduk bersama kami, Tuan. Kami bisa menghangatkan malammu yang sepi..."

Yu Fan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aura tubuhnya mendadak bergeser menjadi sedingin es. Tekanan spiritual tipis yang dia lepaskan dari tubuhnya membuat kedua wanita itu mendadak merinding ketakutan.

Mereka mundur beberapa langkah dengan wajah pucat, menyadari bahwa pria bertopeng ini bukanlah domba yang bisa digoda, melainkan seorang kultivator berbahaya.

Yu Fan terus melangkah ke bagian tengah ruangan, namun matanya terus mencerna situasi. Ada sesuatu yang aneh. Wanita-wanita penghibur di sini... gerakan tangan mereka saat menuangkan arak, cara mereka berjalan, dan bagaimana mereka menatap mata para pria... tatapan itu tidak kosong seperti wanita bordil biasa. Itu adalah tatapan yang berenergi, seolah-olah mereka sedang menyerap sesuatu dari para pria di sekitar mereka.

“Gerakan ini... ini adalah teknik dasar penyerapan Yin-Yang,” batin Yu Fan mendeteksi keanehan.

Tiba-tiba, aroma wewangian di udara berubah. Bau bedak murahan yang menyengat lenyap, digantikan oleh aroma harum bunga malam yang sangat memikat, halus, namun memiliki daya pikat yang bisa membuat pria mana pun kehilangan akal sehatnya dalam sekejap.

Dari balik tangga kayu di lantai dua, sesosok wanita melangkah turun dengan keanggunan yang mematikan. Dia mengenakan gaun sutra tipis berwarna ungu transparan yang memeluk erat lekuk tubuhnya yang sensual. Setiap langkah kakinya seperti tarian yang memikat jiwa.

Itu Mei Er. Wanita berwajah rubah dari Sekte Penggoda.

Mata Mei Er yang indah berkilat tajam di bawah cahaya lentera merah. Pandangannya menyapu aula judi, sebelum akhirnya berhenti tepat pada sosok pria jangkung berjubah hitam yang mengenakan topeng perak polos di sudut ruangan. Sudut bibir Mei Er terangkat, membentuk senyuman licik yang penuh arti.

Dia berjalan mendekat, membelah kerumunan pria yang menatapnya dengan air liur hampir menetes. Mei Er berhenti tepat dua langkah di depan Yu Fan. Dengan gerakan ala sekte penggoda yang sensual, dia memutar tubuhnya tipis, membiarkan jubah suteranya bergesekan lembut dengan jubah hitam Yu Fan, sementara jemari lentiknya bergerak perlahan di udara seolah ingin menyentuh dada pemuda itu.

"Ah... untuk apa seorang master hebat seperti Tuan Yu Fan berada di tempat kotor penuh dosa seperti ini?" bisik Mei Er dengan nada suara yang bergetar manja, namun penuh dengan intonasi kemenangan.

Yu Fan terkejut di balik topengnya. Otot tubuhnya menegang sejenak. Bagaimana wanita ini bisa tahu?! Dia yakin topeng peraknya telah dilapisi energi spiritual untuk mengaburkan fitur wajah, dan dia telah menekan auranya hingga ke titik terendah agar terlihat seperti orang biasa.

Melihat keterkejutan halus dari bahasa tubuh Yu Fan, Mei Er tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang berdentang di malam hari. "Kenapa bingung, Tuan Muda Yu? Apakah kau meragukan kemampuan sekte kami?" Mei Er mendekatkan wajahnya ke telinga Yu Fan, mengembuskan napas hangat yang wangi. "Sekte Penggoda kami tidak bisa ditipu hanya dengan topeng perak murahan atau teknik menekan aura tingkat Master. Kami adalah pemburu batin. Kami selalu tahu rasa, kehangatan, dan bau dari setiap jiwa mangsa yang sudah kami hafal di dalam kepala kami. Dan bau jiwamu... terlalu kuat untuk disembunyikan, Yu Fan."

Yu Fan menyadari menyamar di depan wanita ini adalah hal yang sia-sia. Dia mengangkat tangannya, mengusap wajahnya, dan melarutkan topeng perak tersebut ke udara, menampilkan wajah tampannya yang dingin dengan tatapan mata hitam yang tajam.

"Apa yang kau lakukan di distrik kumuh ini, Mei Er?" tanya Yu Fan dengan suara berat tanpa nada ramah.

Mei Er mundur satu langkah, memainkan ujung rambutnya dengan manja. "Aduh, galak sekali. Tidak ada urusannya kenapa aku harus memberitahumu alasan aku ada di tempat ini, Tuan Muda. Ini adalah wilayah perburuan sekte kami, tempat yang sangat bagus untuk mengumpulkan... informasi dan energi, bukan?" Dia mengerlingkan matanya. "Daripada berdiri kaku seperti patung batu di sini, bagaimana kalau kau ikut aku bersenang-senang di atas? Duduk sebentar, minum arak hangat, dan menikmati malam bersama?"

"Aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu," jawab Yu Fan dingin. Dia langsung berbalik, berniat melangkah pergi meninggalkan tempat riuh itu.

"Bahkan jika informasi ini menyangkut Lin Xueru?"

Suara Mei Er mendadak berubah menjadi datar namun penuh penekanan, menghentikan langkah kaki Yu Fan seketika. Pemuda itu tidak berbalik, tetapi pundaknya menegang.

Mei Er berjalan memutari tubuh Yu Fan hingga kembali berada di depannya. Senyum rubahnya kembali mengembang melihat umpannya berhasil. "Aku punya informasi yang sangat berharga tentang Xueru. Tentang sekte tempat dia bernaung, dan apa saja rahasia yang sedang dia lakukan di balik layar belakangan ini. Aku tahu kau sangat membutuhkannya, Yu Fan. Hubungan kalian berdua... bukankah sangat menarik setelah turnamen itu?"

Yu Fan menatap Mei Er dengan mata menyipit. Tawaran itu memang sangat menggiurkan. Sejak Lin Xueru bersumpah, bahwa mereka akan menjadi musuh di masa depan, Yu Fan selalu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis es itu. Informasi tentang musuh potensial adalah hal yang sangat dia butuhkan saat ini.

Namun, Yu Fan bukanlah pemuda bodoh yang mudah terpedaya oleh kecantikan. "Kau adalah rubah dari Sekte Penggoda, Mei Er," ucap Yu Fan dengan nada sinis. "Tidak mungkin kau memberikan informasi sepenting itu secara gratis tanpa ada bayaran atau balasan yang setimpal. Apa maumu?"

Mei Er kembali tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan saputangan sutra ungu. "Ahahaha! Kau memang pria yang membosankan, Yu Fan. Sama sekali tidak bisa dipermainkan atau dirayu sedikit pun. Langsung pada intinya, ya?" Wajah Mei Er mendekat, matanya berkilat serakah yang disembunyikan dengan rapi. "Sederhana saja. Aku butuh sesuatu yang hanya bisa didapatkan dari dalam akademi melalui orang dalam sepertimu. Aku menginginkan sebuah Batu Giok Merah Spiritual Purba dan beberapa Pill Pemurni Jiwa Tingkat 4 milik Wakil Dekan."

Yu Fan menatapnya tajam. "Batu Giok Merah dan Pill Pemurni Jiwa dari Wakil Dekan? Untuk apa Sekte Penggoda membutuhkan barang-barang kultivasi murni seperti itu? Apa yang sedang kalian rencanakan untuk dibuat?"

Mei Er menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Yu Fan, memberikan tatapan misterius. "Tuan Muda Yu, ada aturan dalam perdagangan informasi, kau tidak perlu tahu apa yang akan kami buat dengan bayaran itu. Cukup bawa barangnya, dan informasi menjadi milikmu. Bagaimana? Deal?"

Yu Fan terdiam sejenak, menimbang risiko. Batu Giok Merah dan Pill Tingkat 4 dari Wakil Dekan memang barang langka, tetapi sebagai murid yang dihormati dan memegang peran penting di akademi, Yu Fan memiliki beberapa simpanan barang tersebut di cincin spasialnya hasil dari hadiah misi sebelumnya, tanpa perlu mencuri dari Wakil Dekan. Baginya, informasi tentang Sekte Teratai Putih jauh lebih berharga untuk mengantisipasi ancaman di masa depan.

"Baik. Aku setuju," ucap Yu Fan dingin.

"Bagus sekali! Mari ikut ke ruanganku, di sini terlalu bising untuk membicarakan rahasia besar," Mei Er berbalik dengan kibasan gaunnya yang anggun, memimpin Yu Fan naik ke lantai dua melalui tangga rahasia di balik tirai.

...****************...

Ruangan pribadi Mei Er di lantai dua sangat kontras dengan aula bawah yang bising. Ruangan itu sunyi, didominasi oleh dekorasi sutra merah dan ungu, dengan sebuah meja kayu pendek di tengahnya. Bau asap dupa aromaterapi yang menenangkan namun menghanyutkan menguar di setiap sudut.

Mei Er duduk bersimpuh di sisi meja, gerakannya meliuk anggun bagai ular saat dia menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir porselen kecil. "Silakan duduk, Tuan Muda Yu."

Yu Fan duduk di seberangnya dengan posisi tegap, jubah hitamnya tertata rapi. Dia tidak menyentuh cangkir teh yang disuguhkan.

Mei Er memajukan tubuhnya di atas meja, menopang dagunya dengan kedua tangan. Dia mulai melancarkan aksinya. Matanya yang indah tiba-tiba berkedip lembut, pupilnya melebar memancarkan gelombang energi pink tipis. Teknik Pesona Batin Sekte Penggoda. Dia mencoba menembus pertahanan batin Yu Fan, memberikan tatapan yang bisa membuat seorang pria berlutut memohon cintanya.

Namun, sebelum energi pesona itu menyentuh kesadarannya, Yu Fan sudah lebih dulu waspada. Jiwa Asura di dalam tubuhnya mendadak bergetar tipis, memancarkan aura dingin yang membentengi seluruh pikiran dan batinnya dengan dinding pertahanan yang kokoh. Mata hitam Yu Fan tetap jernih, dingin, dan tidak terpengaruh sedikit pun.

Mei Er mengembuskan napas kecewa, menyadari teknik pesonanya mental total. Dia menegakkan tubuhnya kembali sambil cemberut kecil. "Benar-benar pria baja. Baiklah, aku akan memulainya."

Ekspresi Mei Er berubah menjadi sedikit lebih serius saat dia mulai membeberkan informasi. "Kau tahu, Yu Fan... Sekte Teratai Putih yang agung itu... mereka sebenarnya adalah sekte tertua dan paling berakar di seluruh dataran alam ini. Mengapa mereka begitu dihormati dan dianggap sebagai simbol kesucian mutlak? Karena puluhan ribu tahun lalu, sosok legendaris yang mereka sebut Dewi Kebajikan berasal dari sekte tersebut sebelum naik ke takhta tertinggi."

Mendengar kata Dewi Kebajikan, dada Yu Fan tiba-tiba berdenyut sangat keras. Sebuah hantaman rasa sakit yang tak terlihat membuat napasnya tertahan sejenak. Di dalam kepalanya, bayangan wanita berbaju putih di atas altar berdarah itu kembali berputar, memicu kemarahan yang amat sangat pekat dari garis darah Ashuranya. Yu Fan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang berontak karena ingatan masa lalunya yang terkunci. Dia tidak tahu mengapa nama itu memicu reaksi sehebat ini di tubuhnya.

Mei Er, yang terlalu asyik bercerita sambil meliuk-liukan tubuhnya mencoba menggoda Yu Fan dari sela-sela kata, tidak menyadari pergolakan batin pemuda itu.

"Namun, di balik semua topeng kesucian itu," lanjut Mei Er dengan nada mencemooh, "aturan di dalam Sekte Teratai Putih sangatlah ketat dan mengerikan. Dan jalan yang sedang ditempuh oleh Lin Xueru saat ini... dia adalah calon tunggal Ketua Sekte selanjutnya. Untuk mencapai posisi itu, kau tahu apa syarat utamanya, Yu Fan?"

Mei Er memajukan wajahnya, berbisik dengan nada dingin yang mengerikan. "Mereka harus menjadi manusia tanpa hati. Doktrin terdalam sekte mereka mengajarkan bahwa demi mencapai kultivasi tertinggi dan tujuan sekte, mereka harus rela mengorbankan apa pun bahkan membantai teman satu sekte mereka sendiri jika diperlukan. Itu adalah salah satu ujian kelayakan mereka."

Yu Fan menajamkan pendengarannya, mencoba meredam amarah batinnya untuk mencerna informasi ini.

"Ketika seseorang secara resmi dipilih dan diangkat menjadi Ketua Sekte Teratai Putih, mereka harus menjalani ritual kuno untuk memotong seluruh emosi fana mereka. Hidup tanpa hati, tanpa rasa kasihan, tanpa cinta, dan tanpa penyesalan. Hanya dengan cara itulah, energi es suci mereka dan kultivasi mereka bisa meningkat tanpa batas tertentu, bahkan membuka jalan untuk menjadi Dewi baru di alam ini. Mereka mengajarkan kasih sayang kepada dunia, tetapi di dalam kuil mereka, mereka adalah monster berdarah dingin yang saling memangsa." Mei Er mengakhiri penjelasannya dengan senyuman miring, menyandarkan tubuhnya kembali ke bantal sutra. "Mungkin hanya ini informasi yang bisa kuberikan kepadamu malam ini, Tuan Muda Yu."

Yu Fan tertegun di tempatnya duduk. Informasi dari Mei Er ini sangat mengejutkan, namun masuk akal. Sekte Penggoda memang terkenal dengan jaringan informasi mereka yang mengerikan karena mereka bisa mengorek rahasia dari tempat tidur para petinggi dunia.

Mendengar kenyataan tentang doktrin "tanpa hati" Sekte Teratai Putih, Yu Fan merasakan sebuah keprihatinan sekaligus kewaspadaan yang mendalam. Dia mengembuskan napas perlahan, menenangkan gejolak amarah aneh di dadanya.

"Kesepakatan adalah kesepakatan," ucap Yu Fan datar.

Dengan satu lambaian tangannya di atas meja, seberkas cahaya spiritual melintas. Sebuah batu giok berwarna merah darah yang memancarkan energi spiritual purba yang pekat, bersama dengan dua botol porselen kecil berisi Pill Pemurni Jiwa Tingkat 4 milik Wakil Dekan yang pernah dia dapatkan sebagai hadiah, muncul di atas meja.

Mata Mei Er langsung berbinar serakah melihat barang-barang itu. Dia dengan cepat menyapu barang-barang tersebut ke dalam kantong spasialnya. "Ah, senang berbisnis denganmu, Yu Fan."

Yu Fan berdiri dari duduknya, merapikan jubah hitamnya tanpa menyentuh teh sedikit pun. "Selamat tinggal, Mei Er. Kuharap informasi ini sepadan." Dia berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan tersebut.

Mei Er menatap punggung tegap Yu Fan yang menghilang di balik pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding, tersenyum kecut. "Pria itu... aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengendalikannya lewat pesona sekteku, tapi dia benar-benar tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Jiwanya... terlalu mengerikan di balik ketenangannya itu."

...****************...

Yu Fan berjalan membelah keheningan malam dalam perjalanan pulang menuju Akademi Langit Biru. Angin malam yang menusuk tulang perlahan membantu mendinginkan kepalanya yang dipenuhi oleh informasi dari Mei Er.

Langkah kakinya lambat, seiring dengan pikirannya yang berputar keras. “Pantas saja... pantas saja Lin Xueru berkata dengan begitu dingin bahwa dia akan membunuhku dengan tangannya sendiri setelah kami lulus dari akademi,” batin Yu Fan, menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. “Ternyata itu bukan sekadar gertakan atau kebencian pribadi. Itu adalah tuntutan mutlak dari doktrin sektenya jika dia ingin naik menjadi Ketua Sekte selanjutnya.”

Membayangkan gadis es yang pernah bertarung di sisinya itu harus memotong seluruh emosinya dan berubah menjadi monster tanpa hati yang tega membantai demi kekuatan, Yu Fan merasakan sebuah penolakan yang kuat di dalam dirinya.

Gejolak amarah aneh kembali berdesir di meridiannya setiap kali dia memikirkan tradisi Sekte Teratai Putih. “Manusia tanpa hati... mengorbankan teman demi tujuan... kenapa konsep ini rasanya sangat memuakkan di dalam jiwaku? Apakah masa laluku yang hilang juga dihancurkan oleh tradisi sialan seperti ini?” gumam Yu Fan, mengepalkan tinjunya dengan erat hingga energi Yin hitam tipis merembes keluar dari sela-sela jarinya, meninggalkan jejak hangus di udara malam.

Sebuah tekad baru mendadak lahir di dalam lubuk hati Yu Fan. Dia tidak tahu apa hubungan masa lalunya dengan bunga teratai, tapi dia tahu satu hal: dia tidak akan membiarkan tradisi berdarah dingin itu merenggut atau mengancam orang-orang di sekitarnya di masa depan.

“Aku memiliki keinginan kuat untuk menghentikan tradisi busuk sekte itu,” batin Yu Fan dengan mata yang berkilat tajam menembus kegelapan malam. “Tapi dengan kekuatanku saat ini di Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir... itu masih jauh dari cukup untuk menantang fondasi sekte tertua di alam ini. Aku harus menjadi jauh, jauh lebih kuat dari sekarang!”

Dia juga menyadari satu hal lain. Belakangan ini di koridor akademi, dia sudah sangat jarang melihat batang hidung Lin Xueru. Gadis itu seolah menghilang ditelan bumi setelah turnamen berakhir. “Pasti banyak rahasia besar dan persiapan ritual yang sedang dia sembunyikan di balik layar, yang tidak aku ketahui,” pikir Yu Fan ragu.

Yu Fan mempercepat langkah kakinya, melompati pagar pembatas akademi yang netral dan mendarat di area asramanya saat fajar kedua hampir menyingsing. Tantangan di depan matanya sudah jelas, dan waktu tidak akan menunggunya untuk bersiap.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!