NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Jejak Pengkhianatan

Ruang baca tua itu kembali sunyi.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar.

Leon masih berdiri di depan rak buku.

Di tangannya terdapat alat penyadap berwarna hitam yang baru saja ditemukan.

Tatapannya dingin.

Pikirannya bergerak cepat.

Jika ada satu alat penyadap... Maka kemungkinan besar ada yang lain.

Dan yang lebih penting...

Seseorang telah berhasil memasukkannya ke dalam mansion.

Itu berarti ada dua kemungkinan.

Pertama.

Seseorang dari luar berhasil menembus keamanan keluarga De Arther.

Kemungkinan yang kecil.

Kedua.

Ada orang dalam yang membantu. Dan kemungkinan kedua jauh lebih berbahaya.

Leon menatap alat itu beberapa detik.

Lalu mengeluarkan ponselnya.

Tidak menghancurkannya.

Tidak mencabut baterainya.

Ia justru memotretnya dari berbagai sudut.

Ukuran.

Model.

Nomor seri.

Letak pemasangan.

Semuanya.

Bukti harus dikumpulkan terlebih dahulu.

Itulah yang dikatakan Rachael.

 "Kalau langsung bergerak tanpa bukti, orang yang sebenarnya justru bisa lolos."

Saat itu Leon hanya mendengarkan.

Sekarang...

Ia melakukan persis seperti itu.

Dua puluh menit kemudian.

Leon kembali ke kamarnya.

Layar laptop menyala.

Data keamanan mansion terbuka di depannya.

Ia mulai membandingkan waktu munculnya sinyal dengan catatan aktivitas mansion.

Satu per satu.

Hari demi hari.

Jam demi jam.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Namun semakin lama ia memperhatikan...

Sebuah pola mulai terlihat.

"Hm."

Leon memperbesar data.

Sinyal itu aktif pada waktu tertentu.

Tidak setiap hari.

Tidak teratur.

Namun selalu muncul ketika area sayap timur kosong.

Seseorang tahu kapan ruangan itu tidak digunakan.

Seseorang yang memahami jadwal mansion.

Artinya lingkaran tersangka semakin mengecil.

Pukul sebelas malam.

Leon masih duduk di depan laptop.

Ruangan gelap.

Hanya cahaya layar yang menerangi wajahnya.

Map Moretti berada di samping.

Foto-foto pengawasan berserakan di meja.

Kemudian...

Ia menemukan sesuatu.

Sebuah nama.

Bukan nama yang mencurigakan.

Salah satu petugas perawatan mansion. Orang yang sudah bekerja hampir tujuh tahun. Tidak pernah memiliki catatan buruk. Tidak pernah membuat masalah.

Terlalu bersih. Dan itu justru membuat Leon curiga.

Karena dari seluruh catatan akses...

Hanya orang itu yang beberapa kali berada di area sayap timur tanpa alasan jelas.

Tidak sering.

Hanya beberapa menit.

Namun berulang.

Leon mengetuk meja perlahan.

Tok.

Tok.

Tok.

Matanya terus membaca laporan.

Belum cukup.

Masih terlalu sedikit.

Belum bisa digunakan.

...----------------...

Sampai larut malam, hampir pagi.

Sebagian besar penghuni mansion bahkan belum bangun.

Namun Leon sudah berada di ruang keamanan.

Ruangan itu dipenuhi monitor.

Puluhan layar menampilkan berbagai sudut mansion.

Petugas keamanan langsung berdiri saat melihatnya.

"Tuan Muda."

Leon mengangguk.

"Tunjukkan rekaman area sayap timur dua minggu terakhir."

Petugas itu tampak sedikit terkejut. Namun tetap menurut.

"Baik."

Rekaman mulai diputar.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Leon menontonnya tanpa mengeluh.

Tanpa melewatkan detail.

Sampai akhirnya...

Sesuatu menarik perhatiannya.

Seorang pria.

Membawa perlengkapan pembersih.

Berjalan melewati koridor.

Normal.

Sangat normal.

Terlalu normal.

Namun pria itu sempat berhenti beberapa detik di depan ruang baca tua.

Hanya sebentar.

Lalu melanjutkan pekerjaannya.

Leon menyuruh memutar ulang.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tatapannya semakin dingin.

Karena saat pria itu berhenti... Tangannya bergerak ke saku. Dan ketika berjalan kembali... Gerakan tangannya berbeda.

Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.

Namun cukup bagi seseorang seperti Leon.

"Itu dia."

Petugas keamanan berkedip.

"Tuan?"

"Salin rekaman ini."

"Baik."

Menjelang siang.

Sebuah folder baru telah terbentuk di laptop Leon.

Foto alat penyadap.

Data sinyal.

Catatan akses.

Rekaman CCTV.

Nama-nama yang berkaitan.

Bukti mulai terkumpul sedikit demi sedikit.

Namun Leon tidak terburu-buru.

Karena ia tahu sesuatu.

Orang yang menaruh alat penyadap belum tentu dalangnya. Bisa jadi hanya pion. Dan Moretti tidak pernah bermain hanya dengan satu pion.

Leon menutup laptop perlahan.

Lalu bersandar di kursinya. Matanya tertuju ke luar jendela kamar.

Cuaca pagi terlihat cerah.

Berbeda dengan pikirannya yang semakin gelap.

Namun di tengah semua itu... Pikirannya kembali teringat pada satu orang.

Rachael.

Jika gadis itu ada di sini, mungkin dia akan mengatakan sesuatu seperti:

 "Kalau tikusnya sudah ketahuan, jangan langsung ditangkap. Lihat dulu ke mana dia kembali."

Leon menatap langit beberapa saat.

Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.

Karena untuk pertama kalinya... Ia merasa menemukan petunjuk bukan karena keberuntungan.

Melainkan karena seseorang tanpa sadar telah mengajarinya cara melihat masalah dari sudut yang berbeda.

Dan sekarang...

Perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.

...----------------...

Hari ini libur sekolah.

Tidak ada tugas mendadak. Tidak ada guru. Tidak ada ujian.

Hari yang seharusnya digunakan untuk bersantai.

Namun itu tidak berlaku bagi Leon.

Pukul sembilan pagi.

Mansion keluarga De Arther masih tenang.

Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja pribadi Leon.

Laptop menyala.

Beberapa dokumen terbuka.

Rekaman CCTV diputar berulang kali.

Foto-foto alat penyadap tersusun rapi di layar.

Leon duduk di depan meja sejak malam sampai pagi. Bahkan secangkir kopi di sampingnya sudah dingin.

Namun belum disentuh lagi.

Tatapannya tetap fokus menganalisis, mencocokkan, mencari celah, mencari hubungan dan mencari siapa yang bekerja untuk keluarga Moretti.

Tok.

Tok.

Tanpa menunggu jawaban.

Pintu terbuka.

Axel masuk sambil membawa sebungkus keripik.

"Ck."

Leon bahkan tidak menoleh.

"Gua nggak menyuruh lu masuk."

"Gua tahu."

"Lalu?"

"Ya, gua masuk aja."

Leon tidak terkejut. Memang tidak ada yang bisa menghentikan Axel selain pagar listrik. Dan bahkan itu pun belum tentu berhasil.

Axel menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kemudian mulai memakan keripik.

Kres.

Kres.

Kres.

Lima menit berlalu.

Leon tetap bekerja.

Sepuluh menit berlalu.

Masih bekerja.

Lima belas menit.

Masih.

Axel mulai menatap langit-langit.

"Demi Tuhan."

Leon tidak menjawab.

"Lu membosankan."

Tetap tidak menjawab.

"Lu tahu itu?"

Tidak ada respons.

"Lu bahkan nggak membela diri."

"Gua sibuk."

"Nah. Itu masalahnya."

Leon akhirnya menoleh.

"Apa mau lu?"

Axel langsung duduk tegak.

"Mari keluar."

"Tidak."

Jawaban datang kurang dari satu detik, cepat dan tegas.

Axel bahkan tidak terkejut.

"Sudah gua duga."

Leon kembali melihat laptop.

"Gua sibuk."

"Lu selalu sibuk."

"Ada masalah."

"Ada gua juga yang bosan."

"Itu bukan masalah gua."

"Kejam."

Leon tidak peduli.

Axel memakan keripik lagi.

Kres.

Lalu tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit. Seolah mendapatkan ide. Ide yang sangat berbahaya. Sangat Axel.

Leon yang mengenalnya bertahun-tahun langsung merasa tidak nyaman.

"Kenapa lu lihat gua begitu?"

Axel tersenyum. Senyum yang biasanya mendahului bencana.

"Tidak ada."

"Itu jelas, mencurigakan."

"Tidak kok."

Leon memejamkan mata.

"Gua nggak suka ekspresi lu."

"Gua baru punya ide cemerlang."

"Jangan membuat masalah."

Sepuluh menit kemudian.

Axel berjalan keluar kamar sambil tersenyum sendiri.

Ponselnya sudah berada di tangan.

Leon memperhatikannya dengan curiga.

"Axel."

"Hm?"

"Lu mau ngapain?"

"Tidak ada."

"Bohong."

"Aduh, gua tersinggung."

"Lu bohong, jangan membuat masalah aneh-aneh."

"Baiklah."

Axel terkekeh. Lalu berjalan pergi.

Meninggalkan Leon yang semakin curiga.

Sementara itu.

Di sisi lain kota.

Apartemen sederhana lantai enam terasa jauh lebih tenang.

Karena kedua orang tua Rachael sedang bekerja meskipun hari libur.

Rachael sendiri sedang duduk di lantai ruang tamu.

Mengenakan kaus longgar dan celana pendek rumahan.

Rambut hitam kecokelatannya diikat seadanya.

Di depannya terdapat laptop.

Beberapa buku dan secangkir teh hangat.

Hari libur versinya cukup sederhana.

Belajar.

Membaca.

Menonton sesuatu, lalu belajar lagi.

Bagi sebagian orang itu membosankan. Baginya tidak terlalu.

Bzzz.

Ponselnya bergetar.

Rachael melirik layar.

Axel

Alisnya sedikit terangkat.

Kemudian ia mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

Suara Axel langsung terdengar.

"Chael."

"Hm?"

"Kau sibuk?"

"Sedikit."

"Mau keluar?"

Rachael berkedip.

"Keluar ke mana?"

"Belum tahu."

"Itu bukan jawaban yang meyakinkan."

"Aku cari tahu nanti."

Rachael memijat pelipis.

"Ada apa sebenarnya?"

Axel terdiam sebentar. Lalu menjawab jujur.

"Leon."

"Leon kenapa?"

"Dia berubah menjadi zombie kerja."

Rachael langsung membayangkan Leon duduk di depan laptop selama berjam-jam.

Kemungkinan besar memang benar.

"Oh. Lalu?"

"Aku bosan."

"Itu masalahmu."

"Makanya bantu aku."

"Kenapa aku?"

"Karena kalau aku yang ngajak, dia nolak. Tapi kalau kau ikut..."

Rachael mulai memahami.

"Kau memanfaatkan aku."

"Sedikit."

"Axel."

"Sedikit saja. Ayolah, sekali ini saja."

Rachael menghela napas panjang.

Di ujung telepon, Axel menunggu dengan penuh harapan.

Beberapa detik kemudian.

Rachael akhirnya berkata, "Baiklah, kalau cuma jalan-jalan sebentar."

Mata Axel langsung berbinar.

"YES!"

"Jangan teriak."

"Maaf."

"Dan aku belum bilang pasti."

"Tapi kau mempertimbangkannya."

"..."

"Itu sudah cukup."

Rachael mulai merasa dirinya baru saja masuk ke dalam jebakan.

Dan entah kenapa...

Ia punya firasat kalau Leon pasti akan menyadari siapa dalang di balik semua ini dalam waktu kurang dari lima menit.

...****************...

Bersambung...

1
Ruby
menarik, semangat ya💪😊
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!