Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Resepsi pernikahan Raka dan Athira yang meriah akhirnya selesai menjelang sore hari. Satu per satu rombongan tamu, keluarga dari Jakarta, hingga para orang tua mulai berpamitan untuk istirahat ke penginapan yayasan dan bersiap untuk kepulangan mereka.
Zuhair dan Celina melangkah masuk ke dalam Ndalem yang kini kembali sunyi. Celina langsung menjatuhkan dirinya ke atas sofa ruang tengah dengan posisi telentang, melepaskan kain kebayanya yang terasa sangat ketat menempel di tubuh sejak pagi subuh.
"Hahhh... engap banget beneran, Gus! Punggung gue kayak mau patah, terus ini kaki rasanya kayak habis lari maraton pakai high heels," keluh Celina sambil memijat betisnya sendiri yang terasa kaku.
Zuhair mengunci pintu depan Ndalem, lalu berjalan menghampiri istrinya. Ia melepas peci dan jubah abu-abunya, menyisakan baju koko putih yang kancing atasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Zuhair duduk di tepi sofa, tepat di samping kepala Celina, lalu meletakkan kepala istrinya itu di atas pangkuannya yang hangat.
Tangan besar Zuhair perlahan memijat pelipis Celina dengan lembut, membantu meredakan rasa pening istrinya setelah seharian tersenyum menyambut tamu.
"Capek sekali ya, hm?" tanya Zuhair dengan suara baritonnya yang selalu terdengar adem di telinga Celina.
"Banget, Gus. Tapi gue seneng banget akhirnya si Raka udah punya istri. Nggak nyangka bocah somplak yang dulu hobi balap liar, mabuk, party sama gue sekarang mukanya pasrah pas meluk bokapnya," sahut Celina sambil memejamkan mata, menikmati pijatan jemari Zuhair.
Zuhair terdiam sejenak, tatapannya melembut memperhatikan wajah lelah Celina. Tangannya turun, mengusap pipi Celina dengan ibu jarinya, lalu merayap turun menyentuh leher dan dada atas Celina yang naik turun teratur.
"Cel..." panggil Zuhair lirih.
"Kenapa, Gus?" Celina membuka matanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya dari bawah.
Zuhair memberikan senyuman tipis yang sangat manis, jenis senyuman yang selalu berhasil membuat jantung Celina berdesir hebat. "Melihat Raka dan Athira yang besok sudah mau langsung pergi... saya jadi kepikiran sesuatu."
"Kepikiran apa? Jangan bilang lo mau minta jatah sore-sore gini ya? Badan gue remek, Zuhair!" celoteh Celina, yang langsung disambut tawa kecil oleh suaminya.
Zuhair menggeleng pelan, lalu menunduk untuk mengecup kening Celina dengan sangat lama dan penuh perasaan. Setelah menjauhkan wajahnya, ia menatap lekat-lekat mata istrinya.
"Celina, kita selama nikah belum bulan madu sama sekali, kan? Waktu itu langsung sibuk mengurus yayasan, mengajar santri baru, masalah sama Sarah lalu mengawal taarufnya Raka," ucap Zuhair dengan nada serius namun sangat lembut. "Gimana kalau kita bulan madu sekalian umroh? Kebetulan pesantren juga sedang libur panjang ajaran baru sampai beberapa minggu ke depan."
Celina langsung mendadak tegak dari tidurnya, duduk menghadap Zuhair dengan mata melotot saking kagetnya. "Hah?! Umroh, Gus?! Serius lo?!"
"Saya kelihatan sedang bercanda?" Zuhair menaikkan sebelah alisnya, tangannya beralih menggenggam kedua tangan Celina. "Kita ibadah bareng ke tanah suci, memohon doa yang terbaik buat rumah tangga kita, sekalian... kita bisa cari waktu berdua saja di sana tanpa ada yang mengganggu. Bagaimana?"
Celina melongo beberapa detik sebelum akhirnya senyum lebar terukir di wajahnya. Ia langsung menghambur memeluk leher Zuhair dengan erat, menggelayut manja di tubuh suaminya. "Mau banget, Gus! Gila, lo mendadak romantis gini gue jadi makin sayang!"
Zuhair terkekeh rendah, membalas pelukan Celina tak kalah erat, sementara tangannya mulai nakal meraba pinggang belakang Celina di balik baju kebayanya yang sudah setengah terbuka. "Tapi sebelum kita urus paspor dan visanya besok... sepertinya sore ini kita harus merayakan rencana ini dulu di kamar, ya? Biar capek kamu hilang."
Celina cuma bisa mendesah pasrah sambil ketawa, membiarkan dirinya digendong oleh "Zuhair anjir......."menuju kamar mereka yang siap menjadi saksi kemesraan sebelum mereka terbang ke tanah suci.
Mendengar ajakan Zuhair, Celina sudah tidak bisa menolak lagi. Rasa lelah yang tadinya menggelayuti tubuh seolah menguap begitu saja digantikan oleh gairah yang kembali tersulut oleh tatapan suaminya. Sore itu, di dalam kamar Ndalem yang terkunci rapat, mereka kembali menyatu dalam pergulatan yang intim dan panas, menuntaskan hasrat yang sempat tertahan selama sibuk mengurus pernikahan Raka.
Setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar berubah menjadi hangat dan senyap, hanya menyisakan deru napas mereka yang perlahan mulai teratur. Celina berbaring miring berbantalkan lengan kokoh Zuhair, tubuhnya polos di balik selimut tebal yang membungkus mereka berdua hingga sebatas dada.
Celina menengadah, menatap Zuhair yang sedang mengusap bahu polosnya dengan sisa-sisa napas yang masih agak berat. Sambil mengerucutkan bibirnya, Celina menyentil dada bidang suaminya itu pelan.
"Lo tuh kenapa suka banget minta jatah mendadak sih, Gus?" protes Celina dengan suara yang masih agak serak khas orang habis mendesah hebat. "Heran gue, kayak nggak ada aba-abanya banget. Tiba-tiba langsung main gendong aja."
Zuhair terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada bidangnya, terdengar sangat maskulin. Ia merapatkan dekapan tangannya di pinggang Celina, lalu menunduk untuk mengecup sekilas hidung istrinya yang memerah gemas.
"Habis... dada kamu, p*ntat kamu berisi, pas banget buat saya," jawab Zuhair dengan nada santai tanpa dosa, matanya melirik nakal ke balik selimut tempat tangannya sedang bertumpu. "Setiap kali melihat kamu pakai baju rumahan atau kebaya ketat seperti tadi, bawaannya saya selalu ingin cepat-cepat mengunci pintu kamar."
Celina langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, melipat tangan di depan dada sambil pura-pura ngambek. "Ih, mesum ya lo sekarang! Otaknya isinya itu terus. Males ah gue, besok-besok gue pakai daster yang ukurannya triple XL biar lo nggak napsu!"
Melihat tingkat istrinya yang berpura-pura merajuk, senyum miring yang penuh godaan langsung terukir di wajah tampan Gus muda itu. Zuhair tidak membiarkan Celina menjauh; ia justru memajukan tubuhnya, mengurung Celina dan berbisik tepat di depan wajah istrinya dengan suara yang sangat rendah dan seksi.
"Tapi enak kan, Cel?" goda Zuhair, matanya menatap lekat bibir Celina yang masih cemberut. "Tadi saja pas saya jilat bagian bawah... banjir tuh. Sampai kasur kita basah lagi. Mana suara de*ahnya kencang pula sampai manggil-manggil nama saya terus."
Muka Celina seketika meledak merah padam sampai ke telinga mendengar ucapan frontal suaminya yang sama sekali tidak disaring itu. Ia langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya karena saking malunya.
"ZUHAIR! DIEM GAK LO! MULUTNYA GAK ADA AKHLAK BANGET YA SEKARANG!" teriak Celina dari dalam selimut, membuat Zuhair tertawa lepas memeluk tubuh istrinya yang menggeliat malu di dalam dekapannya.