NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *15

Malam semakin larut, jarum jam di dasbor mobil sudah menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit saat Reyno akhirnya memarkirkan kendaraannya di depan gedung apartemen tempat Yara tinggal. Angin malam bertiup dingin, menusuk sela-sela kemeja yang ia kenakan, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya. Pikiran dan kekhawatirannya tertuju sepenuhnya pada satu nama. Siapa lagi kalau bukan, Yara.

Ia berjalan cepat menuju lantai tempat gadis itu tinggal, langkahnya terburu-buru. Begitu sampai di depan pintu unit itu, ia tidak perlu lama menunggu. Pintu sudah sedikit terbuka, seolah pemiliknya sudah menunggu kehadirannya sejak tadi.

Lampu ruang tamu masih menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang kontras dengan suasana hati pemiliknya. Dan begitu pintu didorong terbuka lebar, Reyno langsung menemukan sosok Yara yang duduk bersimpuh di atas lantai dekat pintu masuk. Gadis itu sedang memeluk kedua lututnya erat-erat. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat dengan matanya yang bengkak dan sembab habis menangis, dan napasnya pun masih terdengar tersengal-sengal.

"Kak Rey ...."

Suara itu langsung pecah begitu melihat sosok Reyno berdiri di ambang pintu. Tanpa menunggu lama, air mata kembali meluncur bebas dari sudut matanya. Pria itu buru-buru mendekat, berlutut tepat di depan gadis tersebut. Lalu mengusap bahu kurus itu pelan berulang kali.

"Hey, hey ... aku udah di sini. Tenang ya, tenang. Jangan nangis lagi, ya." Bujuknya lembut, nada suaranya terdengar khawatir namun berusaha tetap menenangkan.

Yara langsung memajukan tubuhnya, mencengkeram lengan Reyno dengan kedua tangannya yang gemetar. Cengkeramannya kuat, seolah-olah lengan itu adalah satu-satunya pelampung yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam.

"Aku takut, Kak. Aku beneran takut sendirian di sini. Tiba-tiba aku lemes banget, napas aku sesak, terus aku nggak tau harus ngapain," ucapnya sambil terisak parau. Kepalanya dia sandarkan ke lengan Reyno.

Reyno menghela napas panjang dan pelan. Ia perlahan membantu Yara berdiri, lalu menuntunnya duduk dengan nyaman di atas sofa ruang tamu yang empuk. Ia mengambil selimut tipis yang ada di ujung sofa, lalu menyelimutkan ke tubuh gadis itu yang menggigil kedinginan.

"Udah, jangan dipikirin lagi. Sekarang aku udah ada di sini," ucapnya lembut. Ia menatap wajah pucat itu lekat-lekat. "Kamu udah makan belum dari siang tadi? Katanya kamu lemas banget, pasti gara-gara perut kosong kan?"

Yara hanya menggeleng lemah. Matanya kembali berkaca-kaca. "Nggak ada nafsu makan. Semuanya terasa nggak enak."

"Pantesan aja kamu hampir pingsan, Ara. Kalau aku gak datang, kamu mau sampai kapan diam aja begini?" Nada suara Reyno terdengar sedikit tegas, sedikit memar karena khawatir. Namun tangannya masih mengusap pelan lengan gadis itu, menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar marah.

Reyno pun bangkit berdiri, berjalan menuju dapur kecil yang ada di ujung ruangan itu. Ia membuka pintu kulkas berwarna putih yang sudah agak kusam. Isinya hampir kosong melompong. Hanya ada beberapa botol air mineral, sebutir telur, dan sedikit bumbu dapur yang sudah lama tersimpan. Lemari makan pun tidak jauh berbeda.

Dada Reyno terasa sesak melihat kenyataan itu. Yara benar-benar hidup sendirian sekarang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada keluarga dekat, tidak ada kakak yang biasanya jadi tempat bernaung untuknya. Gadis yang dulu selalu terurus dan bahagia, sekarang harus berjuang menahan sakit dan kesedihan sendirian di ruangan kecil ini. Rasa kasihan dan rasa bersalah kembali menyergap dadanya. Andai saja Lucas ada di sini. Andai saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Iya. Andai, andai, dan andai. Sayangnya, kenyataan tetaplah kenyataan.

Beberapa menit kemudian, Reyno akhirnya berhasil membuat semangkuk mi kuah hangat seadanya dengan bahan yang terbatas itu. Ia membawanya ke ruang tamu, lalu duduk di sebelah Yara, menyodorkan mangkuk itu.

"Makan dikit ya. Nggak usah banyak-banyak, yang penting ada isi di perut. Biar tenaganya balik lagi," kata Rey pelan.

Yara menerimanya dengan tangan gemetar. Ia memakannya pelan-pelan, sesekali berhenti untuk menghapus air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Di tengah keheningan itu, ia kembali membuka suara.

"Kak ...."

"Hm? Ada apa?"

"Makasih ya. Makasih banget udah selalu dateng pas aku butuh," ucapnya lirih, matanya menatap Reyno dengan pandangan yang sulit diartikan.

Reyno menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. "Jangan ngomong makasih terus sama aku. Kan aku udah bilang, anggap aku kayak kakak sendiri. Lucas sahabat aku, jadi kamu juga keluarga aku."

"Kalau gak ada Kak Rey ...." Suara Yara kembali bergetar hebat, ia menunduk dalam menatap kuah di mangkuknya. "Aku bener-bener sendirian di dunia ini. Nggak ada siapa-siapa. Aku nggak tau harus gimana hidup kalau kak Rey juga ninggalin aku."

Kalimat sederhana namun menyayat hati itu membuat Reyno diam beberapa detik. Rasa bersalahnya terhadap Lucas kembali menghantam dadanya dengan keras. Bayangan wajah sahabatnya itu, momen terakhir saat kecelakaan terjadi, dan janji tak terucap untuk menjaga Yara, semuanya berputar cepat di kepalanya.

Dan tanpa sadar, semakin lama ia berada di dekat Yara, semakin ia merasa bahwa menjaga gadis ini adalah kewajiban terbesarnya. Bahwa ia tidak boleh pergi, tidak boleh berhenti hadir, tidak boleh membiarkan Yara terluka sedikit pun.

Sementara itu, di apartemen mereka sendiri, suasana terasa jauh lebih dingin dan sunyi. Merlin masih belum tidur. Namun kali ini, ia tidak lagi duduk menunggu di ruang tamu seperti kebiasaan-kebiasaan malam sebelumnya. Ia sudah berbaring di atas kasur, memunggungi pintu kamar. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya remang dari lampu lorong yang masuk samar-samar lewat celah tirai jendela.

Matanya terbuka lebar menatap kegelapan. Pikirannya kosong, namun hatinya terasa penuh akan sesak.

Ia tahu persis di mana Reyno sekarang. Ia tahu Reyno sedang duduk di samping Yara, menenangkan gadis itu yang ketakutan. Ia tahu suaminya sedang menyuapi makanan, atau setidaknya menemaninya makan. Ia tahu Reyno sedang mendengarkan tangis, keluhan, dan ketakutan Yara.

Dan lucunya, atau mungkin lebih tepat tragisnya, Merlin bahkan tidak merasa marah. Ia sudah terlalu lelah untuk marah. Ia sudah terlalu sering memaklumi sampai rasa maklumi itu berubah menjadi rasa sakit yang tumpul dan konstan. Ia hanya mulai merasa tidak berguna. Tidak dibutuhkan lagi.

Ponsel di atas meja nakas bergetar pelan, memecah keheningan. Sebuah pesan masuk. Dari Naya, sahabatnya sejak masa kuliah dulu.

*Masih bangun?*

Merlin mengangkat tangannya pelan, mengambil ponsel itu, lalu mengetik balasan singkat. *Iya.*

Tidak sampai semenit, panggilan telepon masuk dari nama yang sama. Merlin menggeser tombol hijau, menempelkan benda itu ke telinganya tanpa bersuara dulu.

"Lo kenapa, Mer?"

Suara Naya terdengar langsung curiga dan tajam dari seberang sana. Merlin tersenyum kecil meski sahabatnya itu tidak bisa melihatnya. "Kenapa emang? Kok nanya gitu?"

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!